Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Yang Diam-diam Dijaga

Rendra tidak muncul lagi selama beberapa hari. Namun gangguan tidak selalu datang dari orang yang sama.

Bu Yuni mulai membawa ketiga putranya berkeliling kompleks setiap sore. Ia berhenti di rumah siapa pun yang sedang membuka pintu, mengeluhkan harga kebutuhan, atap bocor, dan beratnya menjadi ibu tunggal. Setiap percakapan selalu berakhir dengan kalimat yang sama.

"Untung saya punya tiga anak laki-laki. Rumah miskin tetap ramai. Kalau tidak punya anak, untuk apa menikah?"

Kalimat itu diucapkan lebih keras ketika Laras lewat.

Suatu sore, beberapa ibu sedang menyortir bantuan pakaian di aula. Bu Yuni menyebut pekerjaan Laras di depan mereka.

"Orang cantik memang mudah," katanya. "Baru datang sudah dapat dua tempat kerja. Ada yang antar jemput pula. Kami yang punya anak harus antre bantuan."

Laras meletakkan kotak obat hewan yang dibawanya. "Puskeswan menerima saya setelah melihat penanganan darurat. Peternakan menilai laporan kerja saya. Kalau Ibu merasa prosesnya tidak benar, silakan minta pemeriksaan resmi."

"Saya tidak menuduh. Cuma heran, kok cepat sekali."

"Kalau begitu saya jawab rasa herannya. Keahlian saya diperiksa, pekerjaan saya tercatat, dan hasilnya bisa dilihat. Apakah ada hal lain?"

Bu Yuni memandang ibu-ibu di sekelilingnya, berharap mendapat dukungan. Tak seorang pun menyahut. Beberapa dari mereka justru pernah melihat Laras menyelamatkan Garang.

"Bu Laras memang bekerja," kata seorang ibu. "Kemarin kucing saya demam, beliau menyuruh saya ke Puskeswan, bukan meminta uang di rumah."

Bu Yuni mendengus dan menarik anak-anaknya pergi.

Laras tidak mengejarnya. Ia juga tidak membiarkan ucapan tentang anak menetap di kepalanya. Tubuh perempuan bukan alat untuk memenangkan perdebatan, dan anak-anak Bu Yuni bukan bukti bahwa ibunya berhak menghina orang lain.

Keesokan harinya, seorang peternak dari pinggir desa datang ke Puskeswan dengan sandal putus dan baju penuh debu. Kambing betinanya tidak mau berdiri sejak melahirkan dua hari sebelumnya. Ia tidak punya uang untuk membawa hewan itu dengan kendaraan.

"Saya bisa bayar setelah menjual anak kambing," katanya pelan.

Laras melihat jadwal. Kunjungan resmi berikutnya baru siang. "Kami datang sekarang. Biaya pemeriksaan dicatat sesuai program layanan desa. Jangan menjual anaknya sebelum kondisinya dinilai."

Wati membawa tas dan mengikuti Laras dengan motor Puskeswan. Rumah peternak itu berada di ujung jalan tanah, di antara lahan jagung yang telah mengering. Kandangnya kecil tetapi bersih. Seekor kambing terbaring dengan kepala masih terangkat. Dua anaknya mengembik mencari susu.

Laras memeriksa suhu, denyut, selaput mata, ambing, dan jalan lahir. Tidak ada perdarahan aktif, tetapi tubuh induk gemetar dan telinganya dingin.

"Kemungkinan kekurangan kalsium setelah melahirkan, ditambah kurang makan dan minum," katanya. "Kita tetap periksa tanda infeksi. Wati, siapkan terapi perlahan. Pantau jantungnya."

Peternak itu hendak menuangkan seluruh ember air ke mulut kambing. Laras menahannya.

"Sedikit-sedikit. Jangan dipaksa. Beri daun yang mudah dimakan dan pindahkan anaknya sebentar supaya induk tidak terus kehilangan tenaga."

Wati memberikan penanganan di bawah pengawasan. Selama menunggu respons, Laras memeriksa pakan. Jerami yang tersisa terlalu kasar dan hampir tak memiliki daun. Ia menunjukkan cara mencampurnya dengan bahan lokal yang aman serta menambahkan mineral sesuai takaran.

Setengah jam kemudian, kambing itu mencoba menekuk kaki. Wati menopang tubuhnya dari samping. Pada percobaan kedua, ia berdiri meski masih goyah.

Pemiliknya menutup wajah dengan kedua tangan. "Saya pikir dia akan mati."

"Belum aman sepenuhnya," kata Laras. "Pantau suhu dan nafsu makan. Kalau kembali rebah, ada cairan berbau, atau ambing terasa panas, panggil kami."

Lelaki itu mengeluarkan beberapa lembar uang kusut. Laras hanya mengambil biaya obat yang tercatat dan menolak honor pribadi.

"Simpan sisanya untuk pakan induk. Puskeswan punya layanan kunjungan bagi peternak yang terdata. Besok Wati akan kembali memeriksa."

Dalam perjalanan pulang, Wati berkata, "Ibu bisa saja menerima uang itu. Dia memberikannya dengan ikhlas."

"Kalau saya mengambil uang di luar catatan, orang berikutnya akan mengira pertolongan bergantung pada amplop. Kita boleh dibayar, tetapi harus jelas untuk apa dan melalui jalur mana."

Wati mengangguk sambil menyimpan kalimat itu di buku kecilnya.

Kabar tentang kambing yang kembali berdiri menyebar pada hari yang sama. Dua peternak lain datang membawa air kelapa dan singkong sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan Laras sebelumnya. Laras menerima sedikit untuk dimakan bersama pegawai, lalu meminta sisanya diberikan ke dapur umum kompleks.

Saat ia selesai bekerja, matahari telah turun dan udara mendadak dingin. Angin kemarau menembus baju tipisnya. Sebuah mobil berhenti di depan Puskeswan. Bram turun membawa jaket tebal.

"Pakai."

"Aku tidak tahu kamu akan datang."

"Karena itu aku membawa ini."

Bram menyampirkan jaket ke bahunya tanpa menunggu perdebatan. Di kursi belakang ada kotak berisi pisang rebus dan air hangat. Laras belum pernah mengatakan bahwa ia menyukai pisang rebus setelah bekerja, tetapi Bram rupanya mengingat apa yang paling cepat habis dari piringnya.

"Kamu selalu membawa makanan," kata Laras.

"Kamu selalu lupa makan."

Jawaban itu begitu wajar sampai Laras tidak bisa membantah. Ia masuk ke mobil sambil memegang kotak hangat. Batas yang dulu ia gambar sebagai dua orang yang hanya berbagi rumah terasa semakin tipis.

Di gerbang kompleks, petugas jaga menghentikan mobil untuk memberi laporan kepada Bram. Selama tiga malam terakhir, seorang lelaki tak dikenal dua kali datang ke rumah Bu Yuni setelah lampu padam. Ia tidak mengisi buku tamu dan masuk melalui pagar samping. Bu Yuni juga terlihat membawa tas besar ke luar kompleks, lalu pulang tanpa tas.

"Apakah anak-anaknya selalu di rumah?" tanya Bram.

"Iya, Mayor. Kadang ditinggal tanpa orang dewasa sekitar satu jam."

"Catat waktu dan ciri kendaraannya. Jangan menuduh atau masuk rumah tanpa alasan. Kalau anak-anak ditinggal dalam keadaan berbahaya, hubungi pengurus keluarga dan petugas berwenang."

Laras mendengar tanpa menyela. Kecurigaan Bram tentang Bu Yuni mungkin tidak sepenuhnya salah, meski bentuknya belum jelas.

Ketika mereka tiba di rumah, pesan peringatan cuaca masuk ke ponsel. Angin kencang dan kemungkinan badai lokal diprediksi menyertai kemarau ekstrem. Laras keluar lagi untuk melihat halaman.

Ia segera menghubungi Pak Sutrisno dan meminta pekerja memeriksa tali atap, saluran air, serta persediaan lampu darurat sebelum malam. Pak Yohanes menjawab bahwa angin di peternakan sudah berubah arah dan ternak mulai gelisah. Mereka sepakat mempercepat pemeriksaan pagi tanpa menunggu peringatan kedua.

Di bawah cahaya lampu, tanah telah retak sampai dekat pagar. Dari kejauhan terdengar seng bergetar diterpa angin.

Pada layar ponsel Bram, laporan petugas tentang tamu gelap Bu Yuni belum ditutup. Pada layar Laras, peringatan badai terus berkedip.

Dua bahaya bergerak mendekat dari arah yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!