Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Panah Aura

Keheningan yang mencekam menyelimuti udara setelah cahaya keperakan itu memecah serangan kabut hitam. Makhluk berjubah itu berdiri diam, seolah terkejut mendapati serangannya ditahan begitu saja oleh seorang anak kecil. Di balik tudungnya, sepasang mata pucat itu berkedip-kedip, lalu perlahan ia mengeluarkan suara tawa yang kering dan kasar, bergema di antara pepohonan.

"Kau menyembunyikan kekuatan yang menarik..." ucap makhluk itu. Suaranya bukan lagi sekadar gaung di udara, melainkan terdengar lebih tajam dan mengancam. "Kupikir hanya tanah ini yang memiliki rahasia, ternyata anak kecil seperti kaulah sumbernya."

Makhluk itu melangkah maju selangkah. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, rumput dan tanah gembur itu berubah menjadi abu hitam dan kering seketika. Niatnya untuk sekadar mengambil alih kini berubah menjadi keinginan untuk menguasai sumber kekuatan itu sendiri.

"Kau tidak tahu apa yang kau miliki di dalam tubuhmu itu, Nak. Kekuatan itu akan jauh lebih berharga jika diserap dan menjadi milikku."

Dari balik pohon besar di kejauhan, Tuan Karis mengamati dengan mata berbinar. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi pada makhluk itu atau pada Arlen, selama pada akhirnya ia bisa masuk dan menguasai tanah ini. Baginya, Arlen hanyalah penghalang kecil yang harus disingkirkan.

Namun Arlen tetap berdiri tegak di sana, tidak bergerak mundur sedikit pun. Tangannya yang terangkat perlahan mengepal erat. Cahaya keperakan samar masih melingkari tubuhnya, membuatnya tampak seolah berpakaian jubah cahaya tipis.

"Kau berbicara seolah kau sudah menang," ujar Arlen pelan namun tegas. Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam suaranya, hanya ketenangan yang dingin dan mendalam. "Kau hanyalah bayangan yang terperangkap di dalam cangkang yang bukan milikmu. Kau tidak memiliki tempat di dunia ini, apalagi berniat mengambil apa yang menjadi milik orang lain."

Makhluk itu mendengus kasar. Dia tidak suka dipermalukan oleh anak kecil. Tiba-tiba ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya berkumpul menjadi gumpalan besar yang berputar kencang di atas kepalanya, seolah awan badai kecil yang siap meledak.

"Kalau begitu rasakanlah kehampaan yang kuciptakan!"

Dengan satu ayunan tangan ke bawah, gumpalan itu melesat jatuh ke arah Arlen. Kali ini serangannya jauh lebih besar dan padat, seolah menindih dengan beban gunung yang runtuh. Udara di sekelilingnya menjadi berat hingga membuat napas terasa sesak.

Arlen tahu pertahanan sederhana tidak akan cukup lagi. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan kesadarannya hingga ke dalam jiwanya sendiri—menyentuh aliran Aura yang kini mengalir deras dan murni di setiap pembuluhnya. Saat ia kembali membuka mata, sorot matanya berubah menjadi tajam dan menyala lembut.

Arlen tidak menghindar. Justru dia melangkah maju satu langkah mendekati serangan itu. Dengan kedua telapak tangan yang terbuka ke arah atas, ia mengayunkannya ke samping seolah sedang membelah air.

Cahaya keperakan yang lebih terang memancar keluar, membentuk bilah energi yang tak kasat mata namun nyata. Cahaya itu membelah gumpalan kabut hitam besar itu tepat di tengahnya, memecahkannya menjadi dua bagian yang melayang lewat di sisi kanan dan kirinya tanpa menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya.

Serangan itu berhamburan ke tanah di belakangnya, menciptakan lubang besar yang dalam dan gelap.

Arlen berdiri tegak kembali, tatapannya kini menembus lurus ke arah makhluk itu.

"Kekuatanmu hanya berupa kehancuran," ucap Arlen, suaranya kini terdengar lebih berat dan berwibawa. "Kau tidak menciptakan apa pun, kau hanya merusak. Dan kekuatan yang hanya tahu merusak akan selalu kalah di hadapan kekuatan yang ada untuk melindungi."

Makhluk itu tampak mulai gelisah. Ia merasakan adanya bahaya yang tidak dia pahami. Ia berteriak marah, lalu melepaskan tudung yang menutupi wajahnya.

Wajah yang terlihat di baliknya bukanlah wajah manusia, melainkan sesuatu yang menyerupai topeng daging yang meleleh dan berubah-ubah. Matanya adalah dua lubang kosong yang memancarkan cahaya merah redup. Makluk itu merentangkan kedua tangannya, dan dari balik bayangannya, muncul sepasang lengan tambahan yang terbuat dari asap hitam pekat, siap menyerang dari segala arah sekaligus.

Ia tidak lagi berniat berbicara. Makluk itu melompat maju dengan kecepatan yang menyilaukan, empat lengannya mencengkeram ke arah Arlen.

Namun Arlen sudah siap. Dia bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi anak seusianya. Setiap kali cengkeraman itu menyambar, Arlen sudah tidak ada di tempatnya, berpindah hanya dengan satu langkah pendek. Ia bergerak mengelilingi makhluk itu, matanya terus mengamati setiap gerakan, mencari celah di mana energi makhluk itu terpusat.

Arlen sadar makhluk ini tidak memiliki jantung atau wujud fisik yang nyata. Ia terikat oleh satu titik pusat energi yang tersembunyi jauh di dalam kegelapan tubuhnya.

Saat makhluk itu lengah sejenak setelah serangan bertubi-tubi yang tidak mengenai sasaran, Arlen melompat tinggi ke udara. Kedua tangannya disatukan ke bawah, memadatkan seluruh cahaya keperakannya menjadi satu titik kecil yang sangat terang dan tajam.

"Kembalilah ke dalam ketiadaan!"

Arlen mengayunkan tangannya ke bawah. Cahaya itu melesat lurus seperti anak panah perak, menembus tepat ke tengah dada makhluk itu.

Terjadi keheningan sesaat. Lalu terdengar suara retakan seperti kaca yang pecah. Cahaya itu menembus punggung makhluk itu dan terus bersinar terang dari dalam tubuhnya. Kabut hitam yang menyusun tubuhnya mulai terurai, menyebar ke segala arah seolah ditiup angin kencang. Makhluk itu berteriak panjang, suaranya berubah menjadi deru angin sebelum lenyap sepenuhnya, meninggalkan hanya sebutir batu kecil berwarna hitam pekat yang jatuh berguling ke tanah.

Arlen mendarat dengan kaki sedikit menekuk, lalu berdiri tegak kembali. Ia menghela napas panjang, sedikit kelelahan namun tetap menjaga kewaspadaannya. Matanya kini beralih tajam ke arah pohon besar tempat Tuan Karis bersembunyi.

Tuan Karis berdiri terpaku di tempatnya, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia menyaksikan seluruh kejadian itu tanpa mampu bergerak. Tuan Karis tidak pernah membayangkan bahwa apa yang ia panggil untuk membantunya justru begitu mudah dikalahkan oleh anak itu. Dan lebih dari itu... ia menyadari bahwa Arlen bukanlah anak biasa. Dia adalah bahaya yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia bayangkan.

Tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun, Tuan Karis berbalik perlahan, lalu berjalan mundur dengan langkah gemetar sebelum akhirnya berbalik dan lari secepat mungkin kembali ke arah kediamannya.

Arlen tidak mengejarnya. Dia tahu rasa takut saat ini hanya akan membuatnya menjauh untuk sementara waktu, namun rasa dendam dan keserakahan tidak akan pernah hilang begitu saja. Tuan Karis hanyalah manusia yang lemah yang terjebak dalam keinginannya sendiri. Masalah yang sesungguhnya baru saja dimulai saat ia berani memanggil makhluk dari kegelapan itu.

Arlen berjalan mendekati batu hitam kecil yang tertinggal di tanah itu. Arlen berjongkok dan mengamatinya. Batu itu terasa dingin dan berdenyut pelan seolah masih menyimpan sisa kesadaran makhluk yang telah lenyap itu.

"dari Pintu gerbang mana kau berasal..." gumam Arlen pelan. "Apakah sudah terbuka, atau seseorang yang membukanya?"

Ia mengangkat batu itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Benda ini adalah bukti bahwa ada kekuatan gelap yang bergerak di balik layar, dan Tuan Karis hanyalah pion kecil yang tidak tahu apa-apa.

Saat Arlen berdiri, ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari belakang. Ia berbalik dan melihat ayahnya berdiri di ambang pintu. Cedric tidak melihat seluruh pertarungan itu dengan jelas karena kabut, namun dia melihat cahaya terang dan mendengar suara gaduh yang menggetarkan tanah. Cedric melihat lubang besar di tanah dan sosok anaknya yang berdiri sendirian di sana.

"Semua sudah selesai?" tanya Cedric pelan.

Arlen mengangguk sambil menoleh ke arah jalan yang gelap tempat Tuan Karis menghilang.

"Untuk malam ini, iya. Tapi Ayah, kita tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja. Dia tahu terlalu banyak hal yang tidak seharusnya dia ketahui, dan dia kini ketakutan sekaligus membenci kita lebih dari sebelumnya."

Arlen mengangkat wajahnya menatap ke arah bukit yang gelap di belakangnya. Matanya yang kelabu tampak jauh ke depan, seolah melihat masa depan yang penuh pertikaian.

"Kita harus memperkuat pertahanan kita lebih cepat dari rencana semula. Dan... mungkin sudah waktunya bagiku untuk keluar dari wilayah ini dan mencari tahu siapa yang sebenarnya menggerakkan benang di balik semua kejadian ini."

Matahari belum terbit, namun cakrawala di timur sudah mulai berubah warna menjadi kelabu terang. Malam yang panjang itu berakhir dengan kemenangan, namun Arlen sadar, dia baru saja memenangkan satu pertempuran kecil dalam perang yang jauh lebih besar dan lebih panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!