Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Maukah Kamu Menikah Denganku
"Cepat panggil Bram ke sini."
Wahyu hampir menjatuhkan tas kamera. "Sekarang, Bu?"
"Sekarang. Bilang ada urusan penting."
"Tapi Mayor sedang di satuan."
Ratih menyandarkan punggung ke bantal, lalu menunjuk pergelangan kakinya yang dibebat. "Katakan ibunya nyaris ditanduk domba. Kalau dia masih tidak datang, baru Bunda pertimbangkan mencoret namanya dari kartu keluarga."
Wahyu menahan senyum. "Siap, Bu."
Ketika Laras kembali membawa air mineral, Ratih sudah memasang wajah paling tenang. Ia menepuk kursi di samping ranjang.
"Duduklah, Nak. Sejak tadi kamu mengurus saya, padahal kita bahkan belum saling mengenal dengan benar."
Laras menyerahkan botol air. "Saya hanya memastikan Ibu tidak pusing setelah kejadian tadi."
"Namamu Larasati, dokter hewan, baru bercerai, dan sedang mencari kerja." Mata Ratih melengkung hangat. "Apa lagi yang boleh saya tahu?"
Pertanyaan itu tidak terasa seperti interogasi. Laras menceritakan secukupnya tentang ibunya yang telah meninggal, pekerjaan yang ia tinggalkan setelah menikah, serta keputusannya menetap di NTT. Ia tidak menyebut novel atau hidup yang seharusnya berakhir tragis.
Ratih mendengarkan tanpa memotong.
"Kamu menyelamatkan saya dengan kepala dingin," katanya setelah Laras selesai. "Kamu juga cantik, berpendidikan, dan berani memulai lagi. Lelaki yang membuangmu karena urusan anak jelas tidak tahu nilai orang di hadapannya."
Laras tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu. Tapi saya belum ingin memikirkan lelaki lain."
"Padahal saya belum mengatakan apa-apa."
"Cara Ibu melihat saya sudah seperti orang yang hendak menawarkan sesuatu."
Ratih tertawa, lalu meringis ketika kakinya bergerak. "Baiklah. Saya memang punya seorang anak laki-laki. Usianya matang, pekerjaannya jelas, tidak punya kebiasaan buruk, tapi terlalu keras kepala untuk menikah."
Laras langsung menggeleng. "Saya baru memegang dokumen cerai pagi ini."
"Saya tahu. Karena itu saya tidak akan memaksa." Ratih menggenggam jemarinya. "Anak saya juga diyakini tidak bisa punya anak. Jadi kalau kalian sama-sama tidak mengharapkan keturunan, setidaknya tak ada pihak yang akan menyiksa pihak lain dengan jamu atau dukun."
Laras menatap perempuan itu.
Tidak ada jijik atau rasa iba pada wajah Ratih saat menyebut kemandulan. Hanya keterusterangan yang anehnya menenangkan.
"Namanya Bram," lanjut Ratih. "Mayor TNI AD. Dia bertugas di sini dan punya rumah dinas sendiri. Kalau dia menikahimu, kamu tetap boleh bekerja. Uangmu milikmu. Hidupmu juga tetap milikmu."
"Ibu bahkan belum bertanya apakah anak Ibu mau."
"Itulah sebabnya saya memanggil dia. Kalian bicara sendiri. Kalau salah satu bilang tidak, pembicaraan selesai."
Laras hendak menolak lagi, tetapi seorang perawat masuk membawa surat boleh pulang. Ratih meminta bantuan Wahyu mengurus administrasi, lalu membujuk Laras makan sebagai ucapan terima kasih.
"Cuma makan," tegas Ratih sambil mengangkat satu jari. "Tidak ada akad mendadak di rumah sakit."
Laras akhirnya mengalah.
Rumah makan yang mereka pilih berada di seberang jalan, sederhana dengan kipas berputar lambat dan aroma kuah rempah dari dapur. Wahyu membantu Ratih duduk di kursi dekat dinding. Baru beberapa menit kemudian, suara kendaraan berhenti di depan.
Laki-laki yang turun membuat pintu rumah makan tampak lebih sempit.
Tingginya hampir dua meter. Seragam lorengnya rapi, sepatu botnya masih menyimpan debu lapangan, dan ekspresinya tenang dengan ketegasan yang membuat dua prajurit di luar otomatis memberi jalan.
Bramantyo Adiningrat.
Dalam ingatan novel Laras yang baru pulih sebagian, nama itu hanya muncul sepintas sebagai seorang mayor yang dingin, lelaki dengan luka lama dan keluarga penuh kehilangan. Tidak ada bab yang menjelaskan bagaimana hidupnya berakhir.
Itu berarti Laras tidak bisa mengandalkan cerita untuk menilai lelaki di depannya.
Ia harus menilai sendiri.
Bram langsung berjongkok di samping Ratih. "Bunda terluka di mana?"
"Hanya terkilir. Laras menyelamatkan Bunda."
Tatapan Bram berpindah kepadanya. Tajam, tetapi tidak kurang ajar. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Ratih meminta Wahyu mengambil obat yang tertinggal di mobil. Begitu prajurit itu pergi, ia menatap putranya tanpa berkedip.
"Bunda ingin kamu menikahi Laras."
Sendok seorang pelanggan jatuh di meja sebelah.
Laras menutup mata sebentar. "Ibu Ratih."
"Bunda," koreksi Ratih ringan, lalu kembali kepada Bram. "Dia baru bercerai karena disiksa soal anak. Kamu juga menolak menikah karena kondisi tubuhmu. Kalian bisa saling membantu."
Otot rahang Bram menegang. Ia berdiri dan memberi isyarat kepada ibunya untuk bicara di luar.
Di teras, suara mereka tetap terdengar samar melalui jendela terbuka.
"Bunda tidak boleh mempermainkan hidup orang."
"Justru Bunda sedang serius. Laras tahu keadaanmu. Bunda juga sudah bilang dia bebas menolak."
"Dia baru bercerai."
"Eyangmu terus menanyakan pernikahanmu. Kondisinya tidak semakin baik. Kamu butuh cara menghentikan tekanan keluarga, Laras butuh tempat aman untuk memulai hidup. Bicaralah dengannya, bukan dengan Bunda."
Ratih merendahkan suara. "Dan jangan macam-macam. Kamu sendiri tidak bisa punya anak. Jangan membuat perempuan itu kembali merasa dirinya rusak."
Beberapa detik kemudian, Bram masuk sendirian. Ratih dan Wahyu sengaja memilih meja lain di bagian depan, meninggalkan Laras bersamanya.
Bram duduk tanpa basa-basi. "Saya minta maaf atas sikap Bunda."
"Ibu Ratih tidak berniat buruk."
"Tetap saja ini mendadak."
"Sangat mendadak."
Untuk pertama kalinya, ada bayangan senyum di mata Bram. Cepat sekali menghilang.
"Saya memang tidak bisa punya anak," katanya. "Luka lama saat operasi militer. Dokter tidak memberi banyak harapan."
Laras mengangguk. Ia menghargai kejujuran yang disampaikan tanpa menyalahkan siapa pun.
"Kenapa Mayor bersedia mempertimbangkan saya?"
"Karena keluarga terus mendesak saya menikah. Saya tidak mau memberi harapan palsu kepada perempuan yang menginginkan anak." Bram menautkan tangan di atas meja. "Bunda mengatakan kamu ingin bekerja dan hidup mandiri. Saya tidak akan melarang."
"Lalu apa yang Mayor harapkan dari pernikahan itu?"
"Kita saling menjaga nama baik dan menjalankan kewajiban seperlunya. Tidak perlu berpura-pura saling mencintai. Keuangan bisa dipisah. Kamu bebas bekerja. Saya juga sering bertugas keluar."
Laras memperhatikan wajahnya. "Kalau suatu hari salah satu dari kita ingin keluar?"
"Kita bicarakan baik-baik. Kalau kamu menemukan hidup yang lebih baik, saya tidak akan menghalangi perceraian."
Tidak ada rayuan. Tidak ada janji bahwa semuanya akan indah. Justru batas-batas yang jelas itu terasa lebih jujur daripada seluruh kelembutan Rendra selama dua tahun.
"Saya punya syarat," kata Laras.
"Sebutkan."
"Pekerjaan saya tidak boleh dihentikan. Tidak ada dukun, jamu paksa, atau pemeriksaan kesuburan tanpa persetujuan saya. Semua pengeluaran rumah tangga dicatat. Dan apa pun yang terjadi, kita tidak saling mempermalukan di depan orang lain."
"Saya setuju. Syarat saya satu. Kalau ada masalah yang menyangkut keselamatanmu, beri tahu saya."
"Termasuk gangguan dari mantan suami?"
"Terutama itu."
Laras terdiam sesaat. "Saya tidak mencari orang untuk melawan Rendra atas nama saya."
"Saya juga tidak menawarkan perkelahian." Bram menyandarkan punggung. "Tapi setelah menikah, masalah yang datang ke pintu rumah kita menjadi urusan bersama. Saya perlu tahu sebelum situasi membahayakanmu atau Bunda."
Cara lelaki itu menyebut perlindungan terdengar seperti prosedur, bukan upaya menjadikannya lemah. Laras bisa menerima itu.
"Pernikahannya seperti apa?" tanyanya. "Saya tidak mau nikah siri atau kesepakatan yang hanya sah di antara keluarga."
"Akad nikah resmi. Dokumen lengkap, dicatat KUA, buku nikah untuk kita berdua. Sebagai anggota TNI, saya juga harus mengurus izin dan pemeriksaan administrasi dari satuan. Tidak ada yang disembunyikan."
"Proses izin itu tidak singkat."
"Bisa dipercepat kalau berkas lengkap, bukan dilewati. Wahyu sudah bisa mulai mengurus setelah kamu memberi persetujuan."
Laras menelusuri bibir gelas dengan ujung jari. Rendra selalu menyebut aturan hanya ketika aturan itu menguntungkannya. Bram justru menjelaskan batas yang juga mengikat dirinya.
"Di mana kita akan tinggal?"
"Rumah dinas di asrama. Ada dua kamar. Kamu boleh memakai satu sebagai ruang kerja kalau mau. Bunda tinggal di Jakarta dan hanya sesekali datang. Tidak ada keluarga besar yang akan mengatur dapurmu."
Kalimat terakhir terdengar terlalu tepat.
"Ibu Ratih menceritakan sebanyak apa tentang pernikahan saya?"
"Cukup untuk membuat saya tahu kamu diperlakukan tidak adil. Tidak cukup untuk membuat saya berhak bertanya hal pribadi. Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, saya dengar. Kalau tidak, saya tidak akan memaksa."
Laras mengangkat pandangan. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ketegangan di bahunya berkurang.
Di meja depan, Ratih pura-pura sibuk membaca menu yang sejak tadi terbalik. Wahyu berusaha keras tidak tertawa.
"Satu hal lagi," kata Bram. "Bunda mudah menyayangi orang. Kalau kamu menolak, tolak karena memang tidak mau. Jangan menerima hanya karena merasa berutang telah menyelamatkannya."
Itulah kalimat yang akhirnya membuat Laras percaya bahwa keputusan ini benar-benar boleh menjadi miliknya.
Laras hampir bertanya mengapa keselamatannya masuk dalam syarat lelaki yang baru dikenalnya. Namun tatapan Bram terlalu lurus untuk dianggap basa-basi.
Pernikahan ini bisa memberinya perlindungan sosial, rumah yang aman, dan kesempatan membangun karier tanpa terus dikejar Keluarga Kusnadi. Bram juga tidak membutuhkan anak darinya. Mereka akan masuk dengan mata terbuka, tanpa ilusi cinta.
Mungkin ini gila.
Namun tetap lebih masuk akal daripada kembali menunggu hidupnya ditulis orang lain.
"Baik," kata Laras.
Bram tidak bergerak. "Baik untuk dipertimbangkan?"
Laras menatapnya dan menjawab pelan, tetapi jelas.
Di meja depan, Ratih ikut menahan napas. Bahkan kipas tua di langit-langit terasa berputar lebih lambat.
"Iya. Saya bersedia menikah dengan Mayor."