Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejahilan Pangeran Arogan Berambut Merah
Malam semakin larut, namun ketegangan akibat rahasia tanda lahir bunga plum perlahan melebur kembali ke dalam dinamika keseharian kediaman Xia Qinglan yang sarat akan kekonyolan. Setelah perbincangan serius mengenai takdir dan kutukan leluhur kerajaan, sifat asli kedua pangeran itu rupanya tidak butuh waktu lama untuk kembali kambuh.
Udara dingin pegunungan Desa Caiyun mulai menusuk tulang seiring angin malam yang menderu pelan di luar jendela. Di kamar sebelah yang disediakan bagi para tamu, Feng Huang merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu dengan tangan bersilang di belakang kepala. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara telinganya menangkap suara gemerisik kain dan langkah kaki pelan dari kamar sebelah—tempat Xiao Mingye sedang bersiap untuk tidur.
Feng Huang melirik ke arah tumpukan selimut tebal wol hangat yang tersusun rapi di dekat lemari kayu. Sebuah ide usil mendadak melintas di dalam benak kepala pangeran berambut merah itu. Rasa penasarannya untuk menjahili sang rival abadi jauh lebih besar daripada rasa mengantuknya.
Dengan gerakan seringan bayangan, Feng Huang bangkit dari pembaringannya. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia menyelinap keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah tempat selimut-selimut itu diletakkan. Tangannya dengan sigap menyambar selimut wol tebal milik Mingye, lalu menyeretnya keluar melewati pintu belakang menuju ke teras luar. Tanpa rasa bersalah, ia melempar selimut itu begitu saja ke atas bangku kayu tua di halaman yang basah oleh embun malam, sebelum kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat sambil menahan tawa kemenangan.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki bingung dari arah kamar Mingye. Pemuda berambut gelap itu keluar kamar dengan mengenakan jubah tidur tipis, berniat mengambil selimut tambahan karena suhu udara malam itu terasa begitu dingin menggigit. Namun, begitu ia meraba rak penyimpanan dan mendapati tempat tidur cadangannya kosong melompong, kening Mingye langsung berkerut dalam.
Dengan rasa penasaran bercampur jengkel, Mingye melangkah keluar ke teras rumah dan mendapati selimut kesayangannya tergeletak malang di atas bangku kayu dalam kondisi lembap akibat tersiram embun malam.
Tanpa perlu berpikir dua kali, Mingye langsung tahu siapa pelaku di balik kejahilan tingkat rendah ini. Ia berjalan kembali ke depan pintu kamar Feng Huang, lalu mengetuknya dengan keras dan kasar hingga menimbulkan suara bergedor yang memecah keheningan malam.
“Buka pintu ini, Tuan Muda Arogan! Jangan bersembunyi di dalam seperti pengecut!” seru Mingye kesal.
Sesaat kemudian, pintu kayu berderit terbuka. Feng Huang muncul dengan wajah tanpa dosa, menyandarkan bahunya pada kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Ia menaikkan sebelah alisnya, menatap Mingye dengan senyuman menyebalkan.
“Ada apa, Tuan Muda Manja? Kenapa malam-malam begini kau berisik di depan kamarku? Apakah kau tidak bisa tidur karena merindukan pelukannya, atau selimutmu hilang terbawa hantu?” cerca Feng Huang dengan nada mengejek.
Mingye mendengus keras, menunjuk ke arah halaman dengan wajah masam. “Jangan pura-pura bodoh! Kau kan yang sudah dengan sengaja membuang selimutku ke bangku luar sana hingga basah kuyup tersiram embun? Dasar pangeran arogan, perbuatanmu benar-benar kekanak-kanakan!” sindir Mingye tajam seraya melotot tajam ke arah rivalnya.
“Siapa yang kau sebut anak kecil, hah? Aku hanya ingin menguji ketahanan mentalmu terhadap cuaca dingin musim gugur. Lagipula, udara segar di luar itu bagus untuk kesehatan paru-parumu yang lemah!” balas Feng Huang tidak mau kalah, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Alasan macam apa itu?! Jelas-jelas kau hanya ingin mencari gara-gara karena sejak tadi sore kau iri melihatku dipuji oleh Lanlan!” seru Mingye sengit.
“Ha?! Iri padamu? Jangan bermimpi di siang bolong, Tuan Muda Manja! Untuk apa aku iri pada pria cengeng yang hampir pingsan karena salah makan jamur beracun?” balas Feng Huang dengan suara semakin meninggi.
Pertengkaran kecil itu kian lama kian memanas, memenuhi lorong sempit rumah dengan adu mulut yang sama sekali tidak berfaedah.
Tanpa mereka berdua sadari, beberapa meter dari tempat mereka berdiri, pintu kamar utama terbuka perlahan. Xia Qinglan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di bawah dadanya. Ia mengenakan jubah tidur berwarna putih bersih, sementara rambut panjangnya tergerai longgar di atas bahu.
Qinglan sama sekali tidak berniat melerai atau meneriaki mereka seperti sebelumnya. Ia hanya berdiri terpaku di dalam gelap, memperhatikan bagaimana dua sosok pria yang dielu-elukan sebagai pewaris tahta agung di istana justru kini tengah berdebat kusir mempermasalahkan sehelai selimut basah bak anak kecil yang berebut mainan di halaman belakang.
Sebuah helaan napas panjang yang amat berat terlepas dari bibir Qinglan. Ia memijit pelipisnya yang mendadak kembali berdenyut nyeri, merasakan gelombang kelelahan mental yang luar biasa melanda rongga dadanya.
“Ternyata...” gumam Qinglan pelan pada dirinya sendiri, berbicara dengan suara yang hanya bisa didengar oleh angin malam, “di balik topeng kejam dan status bangsawan tinggi mereka, ketika mereka merasa aman dan menemukan jiwa yang sesuai di tempat ini, sisi kekanak-kanakan mereka justru muncul secara begitu jujur dan tanpa Filter.”
Qinglan menatap kedua pangeran itu bergantian dengan sorot mata penuh dilema. Bayangan tentang tiga kelopak bunga plum berwarna merah muda yang menyimbolkan pengkhianatan tiba-tiba melintas kembali di dalam benaknya, bergesekan kontras dengan pemandangan kekonyolan di hadapannya saat ini.
“Kenapa takdir harus mempertemukan dan mengelilingiku dengan pemuda-pemuda aneh seperti mereka berdua?” gumam Qinglan lirih, menggelengkan kepalanya pelan karena merasa takjub sekaligus pusing setengah mati. “Belum lagi jika nanti ketiga pangeran pemilik tanda bunga plum lainnya datang mencari keberadaanku... Bisa dipastikan kepala ku akan pecah dalam waktu singkat.”
Merasa jika ia terus berdiri di sana, perdebatan tidak penting antara Feng Huang dan Mingye tidak akan pernah usai, Qinglan akhirnya memutuskan untuk mengabaikan mereka sepenuhnya. Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu rapat-rapat tanpa mempedulikan teriakan protes kedua pangeran tersebut.
“Hei, jangan tidur! Kembalikan selimutku!” teriak Mingye dari luar.
“Cari sendiri di rumput, siapa suruh tidur di dekat jendela!” balas Feng Huang mengejek, sebelum akhirnya kedua pria itu kembali saling dorong di lorong gelap, meninggalkan malam di Desa Caiyun dalam keheningan yang bercampur dengan keabsurdan tiada tara.