Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Itu Ciuman Pertamanya!
Apa-apaan ini?
Livia terpaku. Setelah itu, tanpa sadar ia menoleh ke kaca jendela.
Bayangan wajahnya tampak samar dan aneh di sana. Riasan tebal yang sanggup menakuti orang menutupi kulitnya. Beberapa helai bulu mata palsu bahkan menempel miring di pipi kanan, sementara bibir merahnya membuatnya tampak seperti vampir.
Jordan sama sekali tidak berlebihan ketika menyebutnya berwajah hantu.
Jadi, seberapa putus asanya pria ini sampai bisa melihat wajah yang menyakitkan mata tersebut dan mengucapkan kalimat kurang ajar seperti, "Ikut denganku"?
Livia menyapu bulu mata palsu dari pipinya, kemudian mencubit wajah sendiri sekuat tenaga.
Sakit!
Berarti ia tidak bermimpi.
Jadi, Keenan sengaja menunggunya bukan untuk memeriksa identitas dan membungkamnya, melainkan untuk... mengejarnya?
Mustahil!
Livia mengusap mata. Ia memandang noda eyeliner dan serbuk perona ungu berkilau yang menempel di ujung jarinya.
Jelek sekali. Benar-benar menyakitkan mata!
Detik berikutnya, wajah Keenan yang kelewat tampan tiba-tiba membesar di hadapannya.
Pandangan pria itu menyapu wajah Livia dengan santai. Ekspresinya masih sama, seperti sedang melihat seorang gadis bodoh.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku..."
Livia menyilangkan kedua tangan di depan dada dan meringkuk semakin jauh.
"Tuan Keenan, kalau kau punya kebutuhan semacam itu, ada staf khusus di klub. Aku hanya menjual minuman dan bernyanyi. Aku tidak menjual tubuh!"
Suasana hati Keenan tampaknya sedang baik. Setiap kali Livia mundur, ia justru maju dengan senyum nakal.
Sampai Livia meringkuk seperti kelinci kecil di sudut kursi, barulah pria itu kembali mengangkat dagunya.
Tubuhnya yang besar menutupi Livia bagaikan gunung. Aroma musk yang bersih dan tajam mengelilinginya, membawa bahaya serta tekanan yang sulit dilawan.
Livia ingin menghindar, tetapi punggungnya sudah menempel rapat pada pintu mobil. Tidak ada tempat lain untuk mundur.
Ia hanya bisa menatap ketika Keenan membenamkan wajah ke lekuk lehernya dan menghirup aromanya perlahan.
"Aku tidak menginginkan orang lain. Hanya kau."
"Ke-kenapa?"
Livia benar-benar tidak mengerti. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sementara jantungnya berdetak kacau karena takut.
Suara Keenan yang dalam terdengar di dekat telinganya.
"Karena aromamu sangat harum."
Livia membelalak.
Apa?
"Pfft—"
Reza yang sedang minum di kursi depan langsung tersedak. Ia terbatuk keras sampai hampir kehabisan napas.
Tegar yang mengemudi juga tak jauh lebih baik. Wajahnya merah karena menahan tawa, tetapi ia masih sempat memberikan tisu kepada rekannya.
Reza mengusap bibir dan membersihkan air yang tumpah di celananya. Setelah itu, barulah ia diam-diam melirik kursi belakang melalui kaca spion dengan tatapan tak percaya.
Apa yang baru saja ia dengar?
Bos mereka adalah Keenan Adiprana, sosok berbahaya yang nyaris tak seorang pun di kawasan Asia Pasifik berani singgung. Kemampuan bertarung, kekuasaan, kekayaan, dan latar belakang keluarganya berada di puncak.
Namun kepada seorang staf penjual minuman—yang penampilannya bahkan tidak perlu dibahas—Keenan justru mengucapkan kalimat seperti, "Ikut denganku", "Hanya kau", dan "Aromamu sangat harum".
Reza tak tahu harus merasa ngeri atau tertawa.
Mobil tetap melaju. Di bawah cahaya yang bergerak melintasi jendela, tubuh besar Keenan menjatuhkan bayangan luas pada Livia.
Napas panas pria itu mengalir di sekitar lehernya. Hidungnya bergerak perlahan mengikuti garis leher Livia dan sesekali menyentuh kulit.
Livia gemetar secara naluriah, lalu menoleh.
Gerakan itu membuat pandangan mereka bertemu tepat ketika Keenan mengangkat wajah dari lekuk lehernya.
Melihat pipi kecil Livia memerah dalam cahaya malam, sesuatu bergerak di dada Keenan. Panas yang sulit ditahan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.
Ia tampak semakin bersemangat. Tangan besar yang bertumpu pada sandaran bergerak menyusuri rambut Livia yang tebal dan sedikit bergelombang. Telapak itu tiba di tengkuknya, menggenggam, lalu menekan lebih kuat.
Livia terpaksa mendongak.
"Hm!"
Sebelum ia memahami apa yang akan terjadi, Keenan sudah memiringkan wajah dan mencium bibirnya.
Mata Livia membesar.
Apa yang sedang terjadi?!
Ia berkedip cepat. Ketika akhirnya sadar dan mengangkat tangan untuk mendorong, pria itu sudah mencicipi bibirnya tanpa izin.
Manis. Lembut.
Genggaman Keenan di tengkuknya mengencang, memaksa Livia berhenti menghindar.
"Jangan bergerak."
Keenan berbicara tanpa benar-benar menjauh dari bibirnya. Suaranya rendah dan serak, membawa ancaman dingin yang tidak mungkin disalahartikan.
Tatapan biru pucatnya terlihat tenang, tetapi begitu dalam seolah sanggup menelan apa pun.
Livia langsung membeku.
Ia memaksa diri tetap tenang dan berkali-kali mengingatkan dirinya untuk tidak melawan.
Pria ini gila. Ia pembunuh yang tak berkedip saat mengambil nyawa, juga bajingan yang tidak mengenal batas.
Jangan membuatnya marah. Jangan pernah membuatnya marah.
Hanya sebuah ciuman. Demi menyelamatkan nyawa, ia harus menahannya.
Namun itu ciuman pertamanya!
Livia ingin menangis. Jeritan memenuhi batinnya, dan bibirnya gemetar hebat.
Keenan menyadarinya. Ia mengira Livia sudah menyerah dan sudut bibirnya terangkat puas. Sikapnya menjadi semakin tak terkendali.
Cit!
Mobil mendadak berhenti.
Tegar menggaruk kepala dan berbicara dengan ragu.
"Tu-Tuan Keenan, kita sudah tiba di Vila Pir."
Keenan akhirnya melepaskan bibir Livia. Ia menekan emosi gelap di wajahnya, lalu menoleh dan melirik Tegar tanpa ekspresi.
Bibir tipisnya baru saja terbuka ketika Livia memanfaatkan kesempatan.
Ia menjejalkan penghangat tangan berbentuk kelinci ke pelukan Keenan, lalu mendorong pria itu sekuat tenaga. Pada saat bersamaan, tangannya membuka pintu mobil.
Tubuh mungilnya langsung jatuh telungkup ke rumput basah di tepi jalan. Wajahnya nyaris masuk ke genangan yang dipenuhi butiran es, menyisakan kedua sol sepatu kotor yang mengayun di depan mata Keenan.
Sebelum pria itu sempat menariknya, Livia sudah merangkak panik, bangkit dengan tergesa, lalu berlari sambil beberapa kali terpeleset.
Benar-benar menggemaskan.
Keenan tertawa melihat tingkahnya yang kacau. Dengan penuh minat, ia memandang jejak-jejak miring yang tertinggal di halaman basah.
Baru setelah sosok putih Livia menerobos gerbang besi besar berlapis warna emas dan menghilang sepenuhnya ke dalam Vila Pir, Keenan kembali bersandar dengan santai.
Ia memejamkan mata. Telapak tangannya membelai penghangat tangan berbentuk kelinci yang masih membawa aroma manis Livia.
Sisa wanginya masih melayang samar di dalam mobil, membuat suasana hati Keenan semakin sulit ditebak.
"Tegar," katanya dingin. "Kalau tidak bisa mengemudi, pergi saja."
"Tuan Keenan?"
Tegar menatap noda lipstik merah di bibir bosnya. Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami bahwa dirinya baru saja mengganggu.
Padahal, dengan kemampuan Keenan, kalau pria itu benar-benar ingin menahan gadis tadi, delapan kaki pun tidak akan cukup bagi Livia untuk melarikan diri.
Bosnya jelas sengaja membiarkannya pergi.
Melihat wajah Keenan semakin buruk, Reza tak tahan lagi. Ia mengangkat kaki panjangnya dan menendang Tegar, lalu diam-diam memberi isyarat.
Kenapa kau tidak peka sama sekali?
Gerakan kecil itu tertangkap oleh Keenan. Pria tersebut memalingkan wajah dan menatap Reza dengan dingin.
"Kau juga pergi."
"Siap."
Tegar dan Reza serempak membuka pintu dan turun dari mobil.
Keduanya berdiri di tengah gerimis dingin dengan wajah pasrah, memandang Bentley itu melesat pergi dan hanya meninggalkan semburan air dari roda.
Jarak Vila Pir ke kediaman Keenan di Kota Kayan lebih dari empat puluh kilometer.
Tegar dan Reza saling pandang. Setelah meregangkan tubuh sebentar, mereka mulai berlari menerobos angin malam.
Tegar masih tidak mengerti.
"Bukankah Bos bilang begitu menemukan perempuan ini, kita harus menghabisinya? Kenapa malah menciumnya?"
Reza memutar mata.
"Ciuman itu langkah sebelum 'menghabisi', bukan? Jadi ucapan Bos tidak salah."
Tegar terdiam.
Logika macam apa itu?