Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Aku Nggak Perlu Dia Mengenaliku

Jawaban Laras baru muncul hampir satu jam kemudian.

Ke rumah sakit. Jangan cerewet.

Bram membaca pesan itu dua kali. Rasa lega yang datang terlalu cepat membuatnya kesal pada diri sendiri.

Sore itu, Laras tiba di lantai VIP rumah sakit membawa keranjang nutrisi yang dikirim Tiara atas nama kantor Radit. Ia sengaja mengambil tugas tersebut dari Mbak Ranti. Keluar dari rumah Bram bukan berarti pulang menyerah. Ia hanya perlu kembali terlihat di depan keluarga sebelum ketidakhadirannya berubah menjadi skandal yang tidak bisa ia kendalikan.

Di lobi, dua kerabat Adiwangsa sempat menghentikannya. Mereka bertanya mengapa Laras tak ikut berjaga semalam, lalu memuji Radit yang langsung terbang ke Batam setelah kondisi Eyang stabil. Laras tersenyum dan mengulang alasan yang sudah disiapkan Mbak Ranti: jadwal latihannya dipadatkan menjelang konser, sementara demamnya baru pulih. Kebohongan tentang sakit yang dibuat ibunya kini justru memberinya perlindungan.

Salah seorang dari mereka berbisik bahwa musibah Eyang mungkin membuat pembicaraan akad ditunda lagi. Laras menunjukkan wajah prihatin, meski di dalam hati ia menghitung setiap hari tambahan sebagai kesempatan. Ia tidak bangga merasa lega di depan kamar orang tua yang dikabarkan kritis. Namun setelah melihat bagaimana keluarganya menjadikan kesehatan, cinta, dan rasa bersalah sebagai alat, ia tidak lagi mau menolak jalan keluar hanya karena jalan itu datang dalam bentuk yang tidak sopan.

Eyang Sudibyo sudah dipindahkan dari ICU. Ketika Laras masuk, lelaki tua itu duduk tegak di ranjang dengan papan go di meja lipat.

"Katanya Eyang sakit," ujar Laras.

"Memangnya orang sakit tidak boleh berpikir? Duduk."

Pak Gito menerima keranjang, kemudian menutup pintu. Laras duduk berhadapan dengan Eyang dan mengambil batu putih.

Dalam dua puluh menit, pertahanannya hancur.

"Kamu terlalu sibuk menyelamatkan satu sudut," kata Eyang sambil menaruh batu hitam. "Sampai tidak sadar bagian tengah sudah dikepung."

Laras memandang papan. Nasihat itu terasa terlalu tepat untuk hanya membahas permainan.

"Bram lebih buruk dari saya?"

"Jauh lebih buruk. Dia baru datang kalau ada yang mau diminta."

"Bukankah tadi pagi dia di sini?"

"Itu karena dia mau memastikan saya belum cukup mati untuk menolak permintaannya."

Laras hampir tersenyum. Setelah kalah untuk kedua kalinya, ia pamit sebelum anggota keluarga lain datang. Di koridor, langkahnya melambat ketika melihat Bram keluar dari lift.

Kemejanya sudah berganti, rambutnya sedikit berantakan. Tatapan mereka bertemu. Laras langsung bergerak merapat ke dinding agar bisa melewatinya tanpa bersentuhan.

Bram mengaitkan telunjuk pada tali tasnya.

"Kamu sengaja nggak jawab?"

"Saya sedang menyetir."

"Satu jam?"

"Jakarta macet."

"Alasan bagus."

Ia menarik Laras ke sebuah kamar kosong sebelum perawat di ujung koridor menoleh. Pintu menutup, punggung Laras menyentuh dinding, lalu Bram menciumnya tanpa basa-basi.

Kemarahan Laras hanya bertahan beberapa detik. Tangannya naik mencengkeram lengan Bram, bukan mendorong. Ketika Bram menjauh, napas mereka sama-sama tidak teratur.

"Electric cherry," gumamnya di dekat leher Laras.

"Apa?"

"Parfum kamu. Aku suka."

"Hadiah Kirana."

"Bilang ke dia pilihannya lumayan."

Bram memeluknya erat. Tidak ada lelucon selama beberapa detik. Laras bisa merasakan detak jantungnya yang terlalu cepat dan memahami bahwa pesan singkat tadi telah membuat lelaki itu benar-benar cemas.

"Saya tidak pulang ke rumah," katanya lebih pelan. "Saya cuma perlu mengurus beberapa hal."

"Lain kali pakai kalimat lengkap."

"Lain kali jangan tanya soal kabur nikah."

"Itu pertanyaan penting."

Laras melepaskan diri sebelum jawaban yang salah keluar dari mulutnya. Bram mengantar sampai lift, memastikan ia pergi lebih dulu, lalu kembali ke kamar kosong untuk menghapus bekas lipstik merah ceri dari bibirnya.

Namun aroma parfumnya tetap menempel di kerah.

Di kamar Eyang, papan go sudah dirapikan. Bram duduk di kursi yang baru ditinggalkan Laras dan menyerahkan sebuah map kepada Pak Gito.

"Om Bambang menekan biaya tenaga kerja di Batam," katanya. "Tunjangan shift dipotong, kontrak dipaksa berubah, target produksi dinaikkan. Sekarang pekerja mogok dan kiriman tertahan."

Eyang membuka map. "Kenapa baru sekarang kamu bergerak?"

"Saya bergerak sejak awal. Saya cuma nggak menghentikannya."

"Kamu membiarkan dia jatuh."

"Orang sepintar Om Bambang harus diberi ruang untuk membuktikan idenya sendiri."

Radit sudah berangkat ke Batam untuk menghadapi tuntutan pekerja dan ancaman penalti dari mitra luar negeri. Bram bisa saja memadamkan masalah itu seminggu sebelumnya. Ia memilih mengumpulkan setiap memo, persetujuan, dan aliran dana sampai tidak ada orang yang bisa menyalahkan bawahan.

Eyang menutup map. Matanya menyempit ketika menangkap aroma manis yang asing.

"Perempuan tadi memakai parfum ceri."

Bram bersandar. "Hidung Eyang masih sehat."

"Laras baru keluar. Sekarang kamu masuk membawa baunya."

Pak Gito mendadak sangat tertarik pada tirai jendela.

Bram melirik lelaki yang telah mendampingi Eyang selama puluhan tahun itu. Pak Gito biasanya mampu menjaga wajah tetap datar saat kebohongan keluarga, transaksi perusahaan, dan pertengkaran warisan berlangsung di depannya. Fakta bahwa ia sekarang mundur satu langkah memberi tahu Bram bahwa persidangan ini tidak akan berakhir dengan satu pertanyaan.

Eyang mengambil satu batu go dan melemparkannya. Bram menangkapnya sebelum mengenai kening.

"Itu calon istri abangmu!" bentak Eyang. "Kamu sudah kehilangan tata krama?"

"Dia belum jadi istri siapa pun."

"Cincin itu masih di tangannya. Tanggal akad sudah dibicarakan. Kamu pikir keluarga akan diam kalau tahu?"

"Saya nggak minta mereka bicara."

Batu kedua melayang dan menghantam bahunya.

"Kalau bukan saya yang membawa kamu kembali ke negeri ini, kamu sudah mati di New York!" Suara Eyang bergetar antara marah dan sesuatu yang lebih tua. "Setelah semua itu, kamu pulang hanya untuk merusak hidup abangmu?"

Nama kota itu membuat Bram terdiam sesaat.

Tiga tahun sebelumnya masih tersimpan sebagai bau logam, cahaya putih, dan rasa dingin yang tidak pernah benar-benar pergi dari sisi tubuhnya. Namun ia hanya memutar batu go di antara dua jari.

"Kalau Laras menikah dengan Mas Radit, memangnya kenapa?"

"Kamu bahkan tidak tahu apakah dia mengingatmu."

Bram mengangkat kepala. Di balik wajah santainya, ada keteguhan yang membuat kamar itu terasa lebih sempit.

"Aku nggak perlu dia mengenaliku."

Eyang menatapnya lama. "Kalian tidak akan berhasil."

"Dia nggak akan menikah dengan Mas Radit."

"Percaya diri sekali."

"Saya kenal dia."

"Katanya tidak perlu dia mengenalimu."

Bram tidak menjawab. Eyang tiba-tiba batuk keras ketika seorang perawat melewati pintu. Begitu langkah itu menjauh, batuknya berhenti seketika.

"Akting Eyang jelek," kata Bram.

"Masih cukup untuk membuat orang-orang bodoh panik." Eyang menarik selimut. "Dan lain kali kalau mau mencuri makanan di meja abangmu, bersihkan mulutmu."

Bram menyentuh bibirnya yang sudah bebas lipstik.

Sudah dibersihkan.

Rupanya ada jejak Laras yang tidak dapat dihapus hanya dengan selembar tisu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!