Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Keesokan paginya, matahari terbit dengan kilau yang teramat cerah, seolah-olah badai gaib dan lolongan histeris para lelembut rawa tadi malam hanyalah sebuah ilusi. Burung-burung gereja hinggap di dahan pohon beringin, berkicau riang menyambut guratan cahaya yang menembus celah gorden kamar Cindy.
Namun, kedamaian itu langsung terdistorsi saat mata memandang ke arah jendela luar. Di halaman belakang, barisan tanaman keladi, pucuk merah, dan bunga-bunga hias yang kemarin sore masih segar dan dirawat dengan penuh kasih oleh Cindy, kini telah berubah wujud. Daun-daunnya menghitam legam, mengerut kering seperti habis disiram air keras, dan batangnya terkulai mati di atas tanah yang tampak membeku kelabu. Kehancuran vegetasi itu menjadi satu-satunya saksi bisu yang nyata, membuktikan bahwa malam tadi ada entitas mengerikan yang telah menyedot paksa seluruh saripati kehidupan di atas tanah itu.
Di dalam kamar, hawa sejuk yang tidak biasa masih terasa pekat. Cindy melenguh pelan, kelopak matanya mengerjap perlahan berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk. Tubuhnya terasa luar biasa lelah, pegal di persendiannya terasa begitu nyata, namun ada rasa hangat dan penuh yang menggelitik di ulu hatinya.
Saat ia membalikkan tubuhnya ke sisi kanan, pandangannya langsung membentur dada bidang berbalut kulit putih pucat sekeras porselen. Damian berada di sana. Pria itu berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan pucatnya, sementara matanya yang sebiru langit pagi menatap Cindy dengan kelembutan yang teramat dalam dan intens.
Tidak ada tanda-tanda mengantuk atau sisa tidur di wajah tampan klasiknya, Damian tampak terjaga sepanjang malam, menikmati setiap detik mengawasi wajah tidurnya.
"Selamat pagi, mijn liefde," sapa Damian, suara serak basahnya mengalun rendah, bergetar lembut di keheningan kamar.
Cindy tersenyum manis, rona merah langsung menjalar di pipinya saat ingatan tentang pergulatan panas dan memabukkan tadi malam kembali berputar di otaknya. Ia merapatkan selimut tebalnya sampai ke dada, lalu menyembunyikan sebagian wajahnya di balik kain katun itu.
"Pagi, Damian..." bisik Cindy parau, suaranya agak habis akibat des*h*n-des*h*n mes*m yang ia keluarkan semalaman. "Kamu... sejak kapan bangun? Kok gak bangunin aku?"
Damian terkekeh rendah, suara tawa gaibnya terasa begitu dekat dan int*m. Ia mengulurkan tangannya yang sedingin es, mengelus puncak kepala Cindy lalu turun merapikan anak rambut yang menempel di dahi gadis itu yang sedikit berkeringat. "Saya tidak membutuhkan tidur seperti manusiamu, Cindy. Bagi saya, melihatmu bernapas dengan tenang di dalam dekapan saya sepanjang malam... itu sudah lebih dari cukup."
Sentuhan dingin tangan Damian di pipinya membuat Cindy sedikit meremang, namun ia justru memajukan wajahnya, menempelkan pipi hangatnya pada telapak tangan kaku Damian. "Badanku rasanya pegal semua, tahu. Kamu semalam... benar-benar gak ada ampun."
"Maafkan saya," ujar Damian, meskipun seringai lebar penuh kepuasan mutlak terukir jelas di bibir tipisnya. Ia memajukan wajahnya, mengecup kilat ujung hidung milik Cindy. "Saya hanya terlalu terlena. Tubuhmu, kehangatanmu... semuanya membuat saya lupa daratan. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menandaimu sebagai milik saya."
Cindy tertawa kecil, memukul pelan dada kaku Damian yang tidak bergeming sedikit pun. "Gombal terus. Oh ya, jam berapa sekarang? Aku harus buat sarapan..."
Saat Cindy mencoba menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah jendela, gerakannya mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan mengerikan di balik kaca jendela kamarnya.
"Loh... Damian, lihat itu!" Cindy menunjuk ke arah halaman samping. "Tanaman-tanamanku... kenapa semuanya jadi hitam dan layu seperti itu? Padahal kemarin sore aku baru menyiramnya, dan mereka baik-baik saja!"
Damian melirik sekilas ke arah jendela, ekspresi wajahnya berubah datar dan tenang, seolah kematian massal tanaman itu adalah hal yang paling lumrah di dunia.
"Mungkin ada perubahan suhu yang ekstrem tadi malam, Cindy," jawab Damian santai, jemarinya kembali menarik pinggang Cindy agar gadis itu kembali tidur terlentang di bawah kungkungannya. "Atau mungkin... tanah di luar sana sedang menolak kehangatan, karena seluruh keindahan dan kehangatan di tempat ini telah berpindah ke dalam kamar ini. Ke dalam diri saya."
Cindy mengernyitkan alisnya, merasa penjelasan Damian tidak masuk akal, namun pelukan erat dan tatapan mata biru Damian yang menghipnotis kembali mengaburkan logika berpikirnya.
"Tapi aneh banget, Damian... masa layunya sampai hitam legam begitu," gumam Cindy lirih, matanya menatap Damian dengan sisa kebingungan.
"Jangan pikirkan hal-hal sepele di luar sana, mijn liefde," bisik Damian tepat di depan bibir Cindy, memotong seluruh kecurigaan gadis itu sebelum berkembang menjadi ketakutan. "Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita selesaikan di atas ranjang ini pagi ini."
Sebelum Cindy sempat memprotes, Damian kembali membungkam bibir manis gadis itu dengan ciuman pagi yang posesif, mengunci kesadaran Cindy dalam dunia gaib mereka berdua, sementara di luar sana, dedaunan hitam yang layu mulai berguguran satu per satu ke atas tanah yang mati.
»»»»
Cindy bergerak dengan langkah yang sedikit kikuk di atas ubin tegel dapur yang dingin. Ia hanya mengenakan daster rumahan berbahan katun tipis berwarna salem dengan motif bunga-bunga kecil, pakaian paling nyaman setelah tubuhnya habis-habisan didekap tanpa ampun oleh Damian sepanjang pagi. Beberapa kali Damian menolak melepaskannya dari atas ranjang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cindy seolah pria itu bisa mati jika terpisah satu detik saja dari sumber kehangatannya.
Kini, Damian berdiri tepat di sampingnya, ikut membantu di dapur yang mulai menghangat oleh uap air yang mendidih. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang hitamnya yang semalam. Kulitnya yang putih pucat laksana porselen tampak kontras dengan suasana dapur yang sederhana. Tangan panjangnya yang kaku memegang sebilah pisau dapur, memotong daun bawang di atas talenan kayu dengan gerakan yang sangat rapi dan presisi, hampir tanpa suara benturan pisau.
Cindy yang sedang mengaduk bumbu instan untuk nasi goreng di atas wajan sesekali melirik profil samping wajah Damian. Pahatan rahangnya yang tegas, hidung mancung klasiknya, dan sepasang mata biru yang selalu menatapnya dengan intensitas yang tidak pernah berkurang.
“Damian,” panggil Cindy, suaranya masih menyisakan sedikit serak yang manis. Ia mengecilkan api kompornya sedikit.
“Ya, mijn liefde? Ada apa?” sahut Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari talenan, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menawan.
“Aku baru sadar… selama beberapa bulan kita kenal, dan bahkan setelah apa yang terjadi semalam…” Cindy menjeda kalimatnya, wajahnya kembali merona merah mengingat pergulatan mereka. Ia berdeham kecil sebelum melanjutkan, “Aku belum tahu apa makanan kesukaanmu. Tiap kali ke sini, kamu cuma menemaniku makan, atau paling banyak cuma menyesap teh yang kubuat. Kamu sebenarnya suka makan apa, sih?”
Gerakan tangan Damian yang memotong daun bawang mendadak terhenti. Pisau dapur itu membeku di atas talenan. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah ventilasi dapur seolah tertahan di sekitar tubuh Damian, menciptakan bayangan yang agak pekat di lantai.
Damian perlahan menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata rubah milik Cindy. Ada kilatan misterius yang sangat dalam di dasar mata birunya, sebuah rahasia ratusan tahun yang tertutup rapat oleh keabadian yang ia miliki. Sebagai entitas yang jiwanya telah lama mati, makanan manusia seolah tidak memiliki rasa lagi di lidahnya. Namun, ia tidak ingin merusak ilusi kebahagiaan domestik yang sedang dinikmati oleh gadis murni di depannya ini.
“Makanan kesukaan saya?” Damian mengulangi pertanyaan itu dengan suara seraknya yang berat, mengalun laksana hembusan angin malam. Ia meletakkan pisau dapur itu, lalu melangkah mendekat hingga tubuh tingginya kembali mengurung Cindy di depan kompor. “Dulu, saat saya masih... dibesarkan di rumah sebelah, juru masak keluarga kami sering membuatkan Stamppot dan Poffertjes hangat saat musim dingin tiba. Saya cukup menyukainya.”
“Wah, kuliner khas Belanda ya?” mata Cindy berbinar tertarik. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Damian, membiarkan spatula di tangannya menganggur sejenak. “Aku pernah dengar soal Poffertjes, itu yang kayak kue cubit tapi pakai gula halus kan? Kalau Stamppot itu apa?”
Damian tersenyum, mengulur
kan tangannya yang sedingin salju untuk mencubit pelan pipi hangat Cindy yang kemerahan, memberikan sensasi kontras yang membuat Cindy sedikit meremang manja. “Itu kentang tumbuk yang dicampur dengan sayuran dan disajikan dengan sosis besar di atasnya. Sangat mengenyangkan.”
“Hmm… kedengarannya enak. Kapan-kapan, kamu harus ajari aku cara membuatnya, ya? Biar aku bisa masakin buat kamu,” ujar Cindy tulus, tangannya yang bebas bergerak membelai dada kaku Damian, merasakan permukaan kulit yang sedingin es namun terasa begitu protektif bagi jiwanya.
Mendengar ketulusan dari bibir Cindy, tatapan Damian perlahan melembut, namun kabut obsesinya justru semakin pekat. Ia menundukkan wajahnya, merapatkan tubuh mereka hingga daster katun tipis Cindy menempel sempurna pada dada telanjangnya.
“Kamu tidak perlu bersusah payah memasak makanan itu untuk saya, Cindy,” bisik Damian tepat di depan bibir gadis itu, napasnya yang beraroma mint tajam menyapu permukaan kulit Cindy. “Karena sejak saya menemukanmu di rumah ini, selera makan saya sudah berubah.”
Cindy mengernyitkan alisnya, agak bingung namun jantungnya sudah berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu intim. “Maksudnya?”
Damian merendahkan wajahnya lagi, mengecup sudut bibir Cindy dengan lumat*n lambat yang penuh penekanan, lalu bergeser membisikkan kata-kata mesum yang membuat seluruh tubuh Cindy meremang hebat. “Makanan terbaik dan satu-satunya yang paling saya damba… adalah kamu, Cindy. Des*h*nmu, kehangatan tubuhmu, dan jiwamu yang manis. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa memuaskan rasa lapar saya yang telah tertahan selama ratusan tahun.”
“Ahhh… D-Damian, ih! Kamu ini mes*m banget dari pagi,” cicit Cindy dengan wajah yang sudah matang sempurna seperti kepiting rebus. Ia mencoba mendorong dada kaku Damian, namun lengan besar pria itu justru melingkar erat di pinggangnya, menahan tubuh mungilnya agar tidak bisa kabur kemana-mana.
“Saya hanya mengatakan kejujuran, mijn liefde,” geram Damian rendah, sebuah tawa gaib yang seksi bergetar di dadanya. Ia kembali mencium leher Cindy, meninggalkan kecup*n-kecup*n dingin yang membuat Cindy melenguh pasrah di depan wajan nasi goreng mereka yang mulai mengeluarkan aroma harum, mengunci pagi itu dalam lingkaran gair*h domestik yang memabukkan di antara dua insan yang kini telah terikat mati.