Indonesia
NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 - Tagihan yang Harus Dibayar

Ketika matahari mulai masuk samar lewat jendela, aku terbangun pelan-pelan. Kepalaku masih sedikit berdenyut, tetapi jauh lebih ringan dibanding malam sebelumnya.

Rasa sakit di tubuhku bukan lagi yang paling parah. Yang paling berat menekan dada justru rasa malu. Aku berbaring di sana, memandangi langit-langit, memikirkan semua yang kulakukan: pergi dari rumah tanpa memberi tahu siapa pun, menyetir dengan kepala penuh amarah, membahayakan nyawaku sendiri, lalu membuat Arkan begitu repot dan khawatir.

Namun Arkan tidak membiarkanku menyalahkan diri terlalu lama. Sepanjang malam, setiap kali aku bergerak, memanggilnya, atau untuk kesekian kalinya bertanya, "Kamu masih marah padaku?", ia selalu menjawab dengan kesabaran yang sama, suara tenang yang sama, sambil membetulkan bantal, membawakan obat, air, dan menggenggam tanganku. Seolah ia tidak pernah lelah. Hanya dengan sikap seperti itu, ia membuatku merasa bahwa meskipun aku telah melakukan kesalahan, aku tetap aman dan dimaafkan.

Saat hari sudah semakin terang, kudengar pintu terbuka perlahan. Aku mengangkat pandangan. Laras masuk sambil menggendong Kirana. Jantungku melonjak karena rindu, sekaligus mencelos karena takut.

"Aku bawa putri kecilmu," katanya, tersenyum pelan sambil mendekat.

Begitu melihat Kirana, aku mengulurkan tangan dengan hati-hati agar tidak menarik kepalaku terlalu keras. Saat tubuh kecilnya yang hangat dan lembut menempel padaku, mata mungilnya berbinar dan tangan kecilnya menggenggam jariku. Rasa rindu itu hampir berubah menjadi tangis, tetapi ketakutanku belum juga pergi. Aku terus duduk di sana, mengusap rambut halusnya, sementara Laras duduk di sisiku.

Ketika hanya tinggal kami berdua, aku tidak sanggup lagi menahan apa yang kurasakan.

"Aku kangen sekali, Laras... tapi di saat yang sama, aku takut sekali," aku mengaku, suaraku rendah dan ragu. "Aku terus berpikir, dia ada di mana? Apa dia sudah ditemukan? Apa dia masih berkeliaran di luar sana, memikirkan sesuatu untuk dilakukan? Tapi aku malu bertanya pada Arkan sekarang... Setelah semua kekacauan yang kubuat, setelah aku tidak menurut dan menyebabkan masalah sebesar ini, aku tidak mau terlihat seperti tidak percaya padanya, atau seperti menuntut sesuatu lagi."

Laras menatapku dengan pemahaman yang selalu ia punya, seakan ia sudah mengerti setiap perasaanku. Tangannya mengusap bahuku pelan.

"Jangan malu, Kak Alya. Wajar kalau kamu takut dan ingin tahu. Arkan tidak akan tersinggung. Sebaliknya, dia pasti lebih suka kamu bicara tentang apa yang kamu rasakan daripada menyimpannya sendiri. Tapi untuk sekarang, tenang dulu, ya? Dia tahu apa yang dia lakukan, dan semuanya sedang diselesaikan."

Saat itu, pintu kamar mandi terbuka dan Arkan keluar. Ia sudah rapi, rambutnya tersisir, siap meninggalkan kamar. Sebelum ia sempat mendekat, Laras berdiri perlahan dan bicara dengan wajar.

"Arkan, Malik dan Rian sudah menunggu di bawah dengan semua laporan pencarian. Sebaiknya kamu segera bicara dengan mereka. Jangan khawatir soal apa pun di sini. Aku akan menemani Kak Alya dan Kirana. Nanti, kalau Kak Alya sudah merasa lebih baik, aku bantu dia turun pelan-pelan ke ruang keluarga, kalau dia mau. Kalau belum, biar dia istirahat sedikit lagi."

Arkan memandangku, berhenti di samping ranjang, lalu menunduk untuk mengecupku sangat ringan, jauh dari perban di dahiku.

"Aku di dekat sini, iparku. Apa pun yang dia inginkan, beri tahu aku. Aku tidak akan lama. Kalau butuh sesuatu, panggil saja, aku akan datang dalam sekejap," katanya lembut, lalu keluar dan menutup pintu pelan.

Aku kembali duduk dengan putriku dalam pelukan dan Laras di sisiku. Meski masih ada takut dan malu, aku tidak sendirian. Sedikit demi sedikit, semuanya akan menemukan tempatnya.

Begitu Arkan keluar dan pintu tertutup, aku kembali menatap Laras. Hatiku masih sesak oleh ketidakpastian, menunggu ia mengatakan apa yang ia tahu. Laras langsung menangkap kecemasanku dan bicara tenang, tanpa berputar-putar.

"Dari yang kudengar semalam dan pagi ini, mereka belum berhasil menemukan Viktor. Dia menghilang begitu saja, tidak meninggalkan jejak sedikit pun, seolah lenyap ditelan bumi."

Rasa dingin merambat di punggungku. Aku memeluk Kirana lebih hati-hati, takut hanya karena mendengarnya. Namun Laras segera melanjutkan dengan tegas, berusaha menenangkanku.

"Tapi kamu tidak perlu memasang wajah sekhawatir itu, mengerti? Fakta bahwa mereka belum menemukannya bukan berarti dia unggul. Justru sebaliknya. Dia sedang bersembunyi, takut muncul, dan tahu betul apa yang menunggunya kalau dia salah melangkah. Di dalam rumah ini, di properti ini, dia tidak akan bisa masuk, sekalipun dia mau dan punya keberanian. Ada keamanan di setiap sudut, gerbang tertutup, orang-orang mengawasi tiap gerakan."

Laras mendekat lagi dan menyentuh ringan tangan yang kutopangkan di tubuh kecil putriku.

"Dan ada satu hal lagi yang tidak boleh kamu lupakan. Kirana sudah terdaftar atas nama Arkan, sebagai putrinya. Permohonan pengakuan ayah biologis yang diajukan bajingan itu? Tidak ada nilainya. Dia tidak punya bukti, tidak punya riwayat keterlibatan, tidak pernah hadir satu hari pun dalam hidup Kirana. Lebih dari itu, dia tahu begitu muncul untuk mencoba sesuatu, dia sama saja menandatangani hukumannya sendiri. Tidak ada seorang pun di sini yang akan membiarkan dia mendekat, dan dia sendiri sudah mengerti bahwa dia sedang melawan kekuatan yang jauh lebih besar darinya."

Aku mendengarkan setiap kata. Perlahan, simpul di dadaku mulai mengendur. Benar. Aku sendiri tahu Viktor tidak pernah mau bertanggung jawab, tidak pernah berusaha tahu apakah aku baik-baik saja, apakah anak itu sudah lahir atau belum. Sekarang ia muncul hanya karena harga dirinya terluka dan karena amarah, bukan karena cinta atau hak.

"Jadi dia sama sekali tidak punya kuasa, kan?" tanyaku pelan, memandangi wajah tenang Kirana.

"Tidak sama sekali," jawab Laras yakin. "Dia hanya pria yang membuat kesalahan sangat besar dan sekarang sedang berlari untuk menyelamatkan diri. Kalau dia tidak muncul, dia tidak bisa melakukan apa pun. Kalau dia muncul, dia membayar harganya. Bagaimanapun, putrimu aman. Tempatnya di sini, bersama kalian, dan tidak ada yang akan mengubah itu."

Aku menarik napas dalam, merasa bahwa meski belum semua pertanyaan terjawab, aku sudah mendapatkan kepastian yang kubutuhkan. Ini bukan lagi situasi seperti dulu, saat aku sendirian dan tidak punya perlindungan. Sekarang ada penjagaan, ada nama, ada satu keluarga utuh di sisiku, dan ada seorang pria yang akan melakukan apa pun untuk menjaga apa yang menjadi milik kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!