Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Badai Kenangan dan Sang Tiran yang Bertekuk Lutut pada Hujan

​Langit sore di atas alun-alun kecamatan itu berubah gelap dengan kecepatan yang menakutkan. Gumpalan awan hitam pekat berarak rendah, menelan sinar matahari yang sejak tadi membakar bumi. Udara yang tadinya pengap mendadak digantikan oleh embusan angin dingin yang menusuk tulang.

​Senja Kirana duduk mematung di kursi kayu dalam Kedai Roti Mbah Uti.

​Gadis itu tidak jadi pergi. Bukan karena ia menyerah, melainkan karena alam semesta seolah berkonspirasi untuk menahannya. Saat ia tiba di terminal bus kecil di ujung desa, badai angin mulai mengamuk. Pihak terminal membatalkan seluruh keberangkatan karena ada pohon tumbang yang memblokir jalan raya antarprovinsi. Dengan langkah gontai dan hati yang masih berkecamuk, Senja terpaksa kembali ke kedai untuk berteduh sementara, disambut pelukan hangat Mbah Uti yang menangis lega karena anak asuhnya kembali.

​JDAAARR!!

​Suara guntur meledak memekakkan telinga, disusul oleh tumpahan air dari langit yang turun bagaikan air bah. Hujan badai mengguyur desa itu tanpa ampun, meredam segala suara menjadi derau air yang menderu deras.

​Di dalam kedai, lampu pijar berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total akibat pemadaman listrik dari pusat. Mbah Uti bergegas menyalakan beberapa lilin dan menaruhnya di atas meja etalase.

​"Hujannya ngeri sekali, Nduk. Untung kamu belum naik bus," gumam Mbah Uti sambil mengusap lengannya yang merinding. "Semoga tidak ada yang terjebak di luar sana."

​Mendengar ucapan Mbah Uti, jantung Senja tiba-tiba berdegup kencang. Firasat aneh merayapi tengkuknya. Gadis itu bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekati jendela kaca kedai yang mengembun, lalu mengusap permukaannya dengan telapak tangan.

​Mata Senja melebar sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​Di luar sana, di tengah alun-alun yang sepi dan diguyur hujan badai yang sangat brutal, berdiri sesosok pria raksasa.

​Arga Danendra.

​Pria itu tidak berteduh. Tidak memakai payung. Jas hujannya adalah guyuran air badai itu sendiri. Kaus hitam usangnya telah basah kuyup menempel pada tubuh kekarnya. Rambutnya lepek menutupi separuh wajahnya. Ia berdiri mematung layaknya sebuah tugu peringatan, menatap lurus menembus tirai hujan, tepat ke arah jendela kedai tempat Senja berdiri.

​Pemandangan itu seketika menghantam dada Senja dengan sebuah kenangan deja vu yang sangat kuat.

​Hujan badai. Guntur yang menyambar. Suhu yang membekukan tulang. Semuanya persis seperti malam pertama kali ia menemukan pria itu tergeletak bersimbah darah di gang sempit kontrakannya. Malam di mana Arga terlihat sangat rapuh dan tak berdaya.

​Namun kali ini, Arga tidak sedang diserang oleh musuh. Ia sedang menghukum dirinya sendiri.

​Apa yang pria bodoh itu lakukan?! Dia bisa mati kedinginan! jerit batin Senja panik. Tangannya gemetar menyentuh kaca jendela yang dingin.

​Sementara itu, di bawah kanopi sempit teras kedai Mbah Uti yang hanya berukuran satu meter, sebuah pemandangan kontras sedang terjadi.

​Raka Narendra berjongkok di atas keset lantai dengan posisi memeluk lutut erat-erat. Ia memakai daun pisang raksasa di atas kepalanya sebagai payung darurat yang jelas-jelas tidak berguna karena angin terus menyapu air hujan ke wajahnya. Giginya bergemeretak kedinginan.

​"BOS!!" teriak Raka dengan suara bergetar, melawan gemuruh hujan. "BOS ARGA!! KAU MAU COSPLAY JADI TUGU PANCORAN YA?! MASUK KE SINI, BOS! DINGINNYA MASUK KE SUMSUM TULANG!"

​Arga tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap terkunci pada siluet Senja di balik jendela.

​Raka mengusap wajahnya yang basah dengan frustrasi. Ia merasa nyawanya ikut terancam jika bosnya ini mati konyol karena hipotermia di tengah alun-alun desa.

​"Astaga naga, dosa apa aku di kehidupan masa lalu sampai punya bos bucin tingkat dewa begini?!" ratap Raka histeris. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan mulut dan kembali berteriak.

​"BOS! AIR HUJAN DESA SAMA JAKARTA ITU BEDANYA JAUH, BOS! NANTI KETAMPANANMU LUNTUR KENA ASAM JAWA! AKU BELUM NIKAH, JANGAN SURUH AKU NGURUS PEMAKAMANMU KARENA MASUK ANGIN!"

​Teriakan Raka yang kesengklekan itu sama sekali tidak dihiraukan. Bagi Arga, dunia di sekelilingnya sudah lenyap. Suara guntur, hujan, dan teriakan asistennya tak lagi terdengar. Di kepalanya, hanya ada satu tujuan: membuktikan pada Senja bahwa ia telah benar-benar melucuti ego dan kekuasaannya.

​Ia ingin menunjukkan bahwa tanpa uang dan pengawal, ia hanyalah pria biasa yang bisa kedinginan, bisa hancur, dan bisa memohon. Ia menyerahkan seluruh harga dirinya di bawah guyuran hujan, membiarkan Senja menjadi hakim atas takdirnya.

​Di dalam kedai, Senja tidak tahan lagi.

​Melihat tubuh besar itu mulai bergetar karena kedinginan yang ekstrem, dinding pertahanan terakhir di hati Senja hancur lebur berserakan. Logikanya yang sedari tadi menyuruhnya untuk mengabaikan pria itu, kini kalah telak oleh rasa cinta dan kekhawatirannya yang menjerit-jerit.

​Senja menyambar sebuah payung hitam besar dari sudut pintu, mengabaikan panggilan kaget Mbah Uti, lalu menerobos keluar kedai.

​"Lho, Nyonya Besar! Mau ke mana?! Nanti terbang terbawa badai!" teriak Raka dari bawah daun pisangnya saat melihat Senja berlari melewatinya menembus hujan deras.

​Senja tidak menjawab. Gadis mungil itu berlari membelah tirai hujan, langkahnya terciprat genangan air lumpur alun-alun. Payung di tangannya nyaris terlepas karena tiupan angin yang ganas, namun ia terus berlari hingga ia berdiri tepat di hadapan pria raksasa tersebut.

​Senja berjinjit, mengangkat payung hitam itu tinggi-tinggi untuk memayungi tubuh Arga. Namun karena bahu Arga terlalu lebar, sebagian tubuh pria itu tetap basah.

​"Kau gila?!" jerit Senja melawan suara derau hujan. Air matanya ikut luruh, bercampur dengan air hujan di wajahnya. "Apa yang kau buktikan dengan menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Arga?! Kau mau mati, hah?!"

​Arga menunduk, menatap wajah gadis yang sangat ia rindukan itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Arga bisa merasakan embusan napas Senja yang hangat.

​Perlahan, tangan besar Arga yang membeku bergerak naik. Bukannya memegang gagang payung itu untuk berlindung, ia justru menyingkirkan tangan Senja, membiarkan payung hitam itu terlepas dan terbang tertiup angin badai.

​Kini, keduanya berdiri tanpa perlindungan, sama-sama basah kuyup di bawah amukan langit.

​"Kenapa kau buang payungnya?!" isak Senja marah, memukul dada Arga.

​Arga menangkap kedua tangan kecil itu, menggenggamnya erat, menempelkannya di dada kirinya, tepat di atas jantungnya yang berdetak memburu.

​"Karena aku pantas mendapatkannya, Senja," suara Arga terdengar parau dan dalam, menembus gemuruh hujan langsung ke sanubari gadis itu. "Aku pantas dihukum oleh alam atas semua kesombonganku."

​Air hujan mengalir deras dari rambut Arga, membasahi wajah tampannya yang kini memancarkan kerentanan absolut.

​"Kau benar," lanjut Arga, suaranya bergetar hebat. "Aku selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan segalanya. Aku mengira dengan membeli keamananmu, aku telah mencintaimu. Tapi aku salah. Aku buta. Cintaku yang arogan justru melukai sayapmu."

​Senja memejamkan mata, membiarkan dadanya sesak oleh gelombang emosi yang tak tertahankan.

​"Kau ingat hujan badai malam itu, Senja?" bisik Arga, matanya memerah. "Malam di mana aku kehilangan segalanya, berlumuran darah, dan tidak punya tempat untuk pulang... kaulah yang membuka pintu untukku. Kau memungutku dari jalanan kotor tanpa tahu siapa aku."

​Arga melepaskan tangan Senja, lalu perlahan menjatuhkan kedua lututnya ke atas aspal alun-alun yang digenangi air hujan.

​Pria yang memegang kendali atas perekonomian Asia Tenggara itu, kini berlutut di bawah kaki seorang gadis yatim piatu.

​Mata Senja membelalak ngeri. "Arga! Apa yang kau lakukan?! Bangun!" Senja berusaha menarik lengan pria itu, namun tenaga Arga terlalu besar.

​"Malam ini, di bawah hujan yang sama," Arga mendongak menatap Senja dari bawah, "aku kembali menjadi pria yang tidak memiliki apa-apa. Arga Danendra si CEO telah mati. Aku membuang dompetku, aku membuang kekuasaanku. Aku berlutut padamu bukan untuk memintamu kembali ke istanaku, Senja."

​Tangan Arga yang gemetar meraih pinggang Senja, memeluknya dengan sangat lembut dari posisi berlutut, menyandarkan wajahnya yang basah ke perut gadis itu.

​"Aku berlutut untuk memohon... izinkan aku tinggal di duniamu," isak Arga, memecah seluruh egonya. "Ajari aku cara mencintaimu tanpa harus mengontrolmu. Ajari aku menjadi pria yang pantas berjalan di sampingmu, bukan di depanmu. Tolong... jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak bisa bernapas tanpamu, Bidadariku."

​Permohonan itu adalah bentuk penyerahan diri yang paling utuh. Bukan lagi obsesi seorang tiran yang ingin mengurung mangsanya, melainkan permohonan seorang pria yang rela menghancurkan dirinya sendiri demi membangun kembali kepercayaan wanita yang ia cintai.

​Mendengar isakan pria raksasa yang memeluk pinggangnya itu, runtuh sudah semua tembok pertahanan, rasa kecewa, dan amarah di hati Senja.

​Dunia di sekelilingnya menghilang. Hujan badai tak lagi terasa dingin.

​Gadis itu ikut menjatuhkan dirinya berlutut di aspal yang basah, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Arga. Tanpa ragu sedetik pun, Senja menangkupkan kedua tangannya di pipi Arga yang membeku, mengusap air hujan dan air mata yang bercampur di wajah pria itu.

​"Kau ini CEO paling bodoh dan keras kepala yang pernah Tuhan ciptakan," isak Senja sambil tersenyum di tengah tangisannya.

​Arga menatapnya, matanya memancarkan seberkas harapan yang menyala terang. "Apakah... apakah kau memaafkanku?"

​"Aku memaafkanmu, Kak Arga," bisik Senja tulus. "Aku memaafkanmu."

​Mendengar kalimat itu, napas Arga seolah ditarik kembali ke dalam paru-parunya. Pria itu tidak menunggu sedetik pun lebih lama. Dengan gerakan posesif namun sangat lembut, Arga menarik tengkuk Senja dan menyatukan bibir mereka di bawah guyuran hujan badai.

​Itu adalah ciuman pertama mereka yang sesungguhnya. Ciuman yang menyalurkan rasa rindu yang menyiksa, keputusasaan, dan pengampunan. Air hujan yang dingin terasa hangat saat kulit mereka bersentuhan, mengalirkan kehidupan baru bagi dua jiwa yang telah lama mati rasa.

​Di bawah kanopi kedai, Raka yang sedari tadi menonton adegan itu dari balik daun pisangnya, ikut menangis sesenggukan.

​"Ya Tuhan... akhirnya sinetron azab bos bucin ini tamat juga," isak Raka sambil mengelap ingusnya dengan daun pisang. "Ayo cepat ciumannya diselesaikan, Bos! Tulangku sudah mau copot kena angin darat!"

​[Pesan Author:]

(Hujan selalu memiliki cara magis untuk membersihkan segala sesuatu. Bagi Arga dan Senja, hujan badai ini bukan sekadar cuaca, melainkan sebuah ritual pemurnian.

​Di malam pertama, hujan menyembunyikan identitas Arga dan mempertemukannya dengan cinta murni Senja. Di hujan kali ini, hujan mencuci bersih seluruh ego, kesombongan, dan luka di antara mereka. Arga berlutut bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai tanda kekuatan terbesar seorang pria: berani mengakui kesalahan dan menyerahkan kendali sepenuhnya pada wanita yang ia cintai. Dan dengan tawa kesengklekan Raka yang selalu merusak momen haru, kita disadarkan bahwa seberat apa pun badai menghantam, cinta akan selalu menemukan ruang untuk tersenyum di akhir cerita. Babak baru hidup mereka berdua, yang setara dan tanpa rahasia, akhirnya dimulai.)

​Ciuman itu terlepas saat mereka berdua kehabisan napas. Kening mereka saling bertaut, napas mereka memburu dalam ritme yang sama.

​Arga menatap mata Senja, mengusap rambut gadis itu yang lepek. "Kita basah kuyup," bisiknya serak sambil terkekeh pelan.

​"Itu karena kau membuang payung yang kubawa, Tuan Bodoh," balas Senja cemberut, namun tangannya tak mau melepaskan cengkeramannya di kemeja Arga.

​Arga tersenyum sangat lebar. Ia berdiri, lalu menarik Senja ke dalam gendongannya dengan sangat mudah. Kali ini, Senja tidak meronta. Gadis itu mengalungkan lengannya di leher Arga, menyembunyikan wajahnya yang merona di perpotongan leher pria itu.

​Arga melangkah tegap membawa bidadarinya kembali ke kedai. Di teras, Raka sudah berdiri menyambut mereka dengan senyum lebar sambil menggigil hebat.

​"Bos... Nyonya Besar... selamat, ya. Sekarang, tolong izinkan aku menyalakan api unggun di dalam kedai sebelum aku benar-benar mati beku," rintih Raka dengan bibir membiru.

​Senja tertawa pelan. "Ayo masuk, Kak Raka. Mbah Uti sudah menyiapkan wedang jahe panas di dalam."

​Malam itu, meski badai masih mengamuk di luar sana, suasana di dalam kedai kecil tersebut dipenuhi oleh kehangatan yang luar biasa. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi jarak. Sang Tiran telah melepaskan jubah kesombongannya, dan Sang Bidadari telah menemukan rumahnya yang abadi di dalam pelukan pria yang rela kedinginan di bawah hujan hanya untuk mendapatkan kembali senyumnya.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!