Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_31
“Kamu tadi bilang tidak akan melepaskanku...” lanjut Rani dengan suara bergetar.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Beberapa tetes membasahi pipi Adrian yang masih pucat dan tidak sadarkan diri.
Rani mengusap pipi itu dengan tangan gemetar.
“Jadi... jangan pergi sekarang,” bisiknya lirih. “Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi.”
Nathan yang duduk di kursi depan menoleh melalui kaca spion. Tatapannya langsung tertuju pada Rani yang memeluk tubuh Adrian erat-erat.
“Bu Rani, tenanglah,” ucap Nathan pelan. Wajahnya terlihat serius, tetapi ia berusaha mempertahankan ketenangan. “Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Tuan Adrian akan segera mendapatkan pertolongan.”
“Aku takut, Nathan...” jawab Rani lirih. Bibirnya bergetar. Ia menundukkan wajah, kembali menatap Adrian yang terbaring lemah di pangkuannya.
“Aku baru saja mengingat semuanya. Aku baru saja menemukannya kembali setelah bertahun-tahun...” Suara Rani semakin serak. “Aku tidak mau kehilangan dia lagi.”
Nathan terdiam. Tangannya mencengkeram kemudi sedikit lebih kuat.
Di sampingnya, Leonard menghela napas panjang. Ia bisa merasakan betapa dalam ketakutan yang sedang dirasakan Rani.
“Tuan Adrian kuat, Bu Rani,” kata Leonard akhirnya. Nada suaranya mantap, seolah berusaha meyakinkan Rani sekaligus dirinya sendiri. “Tuan Adrian sudah melewati banyak hal. Saya yakin beliau tidak akan menyerah semudah itu.”
Rani mengusap rambut Adrian perlahan.
“Dia... selalu seperti ini sejak kecil?” tanyanya tiba-tiba.
Leonard menoleh kepada Nathan. Keduanya saling bertukar pandang selama beberapa detik.
“Bu Rani maksudnya bagaimana?” tanya Leonard, alisnya sedikit berkerut.
Rani menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. Wajahnya dipenuhi kebingungan. “Aku hanya merasa... ada sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku.”
Nathan tidak menjawab.
Leonard pun memilih diam.
Keheningan di dalam mobil justru membuat perasaan Rani semakin tidak nyaman. Ia perlahan mengangkat wajah dan memperhatikan keduanya secara bergantian.
“Kalian tahu sesuatu?” tanyanya.
Nada suaranya kali ini jauh lebih tegas.
Nathan menghela napas pelan sebelum menjawab.
“Ada beberapa hal tentang masa lalu Tuan Adrian yang memang belum pernah kami ceritakan kepada Bu Rani,” ujar Nathan hati-hati. Tatapannya kembali lurus ke depan, seakan tidak ingin melihat ekspresi Rani.
“Apa?” tanya Rani cepat. Tatapannya menajam. “Apa yang kalian sembunyikan dariku?”
Leonard menggeleng pelan.
“Bukan sekarang, Bu Rani,” jawabnya serius. “Untuk saat ini, yang paling penting adalah memastikan Tuan Adrian selamat terlebih dahulu.”
Rani terdiam. Ia kembali menunduk dan menggenggam tangan Adrian erat-erat.
“Baik,” jawabnya akhirnya. Suaranya lirih, tetapi terdengar penuh tekad. “Tapi setelah Tuan Adrian sadar, aku ingin tahu semuanya.”
Leonard dan Nathan kembali saling berpandangan.
Mereka tahu, cepat atau lambat, rahasia yang selama ini mereka simpan tidak akan bisa disembunyikan lagi.
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit.
Nathan bahkan belum sempat mematikan mesin ketika ia langsung membuka pintu dan turun.
“Tolong! Ada pasien pingsan!” teriak Nathan kepada petugas medis yang berada di dekat pintu masuk. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat jelas dipenuhi kepanikan.
Beberapa perawat segera berlari membawa ranjang dorong.
“Tuan Adrian di sini!” seru Leonard sambil membantu membuka pintu belakang mobil.
Rani masih menggenggam tangan Adrian ketika para perawat memindahkannya ke atas ranjang.
“Adrian...” panggil Rani dengan suara bergetar. Ia mengikuti langkah mereka sambil terus menggenggam tangan Adrian. “Adrian, dengar aku. Aku di sini.”
Matanya kembali dipenuhi air mata.
Namun ketika mereka sampai di depan ruang pemeriksaan, seorang perawat menghentikan langkah Rani.
“Bu, tunggu di luar dulu,” ujar perawat itu lembut tetapi tegas. Wajahnya menunjukkan ketenangan profesional.
“Tapi...” Rani menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. “Aku harus bersamanya.”
“Dokter akan segera menangani Tuan Adrian,” jawab perawat itu sambil memberikan senyum tipis untuk menenangkannya. “Ibu tunggu di luar, ya.”
Rani terdiam. Tangannya masih menggenggam tangan Adrian untuk beberapa detik.
Kemudian, perlahan, jari-jarinya terlepas.
“Adrian...” bisiknya.
Ranjang itu mulai didorong masuk.
Rani melangkah satu kali hendak mengejar, tetapi pintu ruang pemeriksaan sudah lebih dahulu tertutup.
Brak.
Rani berhenti. Ia berdiri terpaku di depan pintu, seolah sebagian dirinya ikut tertinggal di balik pintu tersebut.
“Adrian...” gumamnya sekali lagi. Tangannya mengepal di depan dada. Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.
Nathan berjalan mendekat.
“Bu Rani, Tuan Adrian akan baik-baik saja,” ucapnya pelan. Ia berusaha terdengar yakin meskipun kegelisahan terlihat jelas di matanya.
Rani menggeleng.
“Aku tidak tahu kenapa...” katanya lirih. Ia menatap pintu ruang pemeriksaan tanpa berkedip. “Firasatku buruk sekali.”
Nathan terdiam.
Leonard yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya maju. Ekspresinya berubah serius.
“Bu Rani.” panggil Leonard pelan.
Rani menoleh.
“Apa?” tanyanya pelan.
Leonard memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia tampak ragu untuk mengucapkan kalimat berikutnya.
Namun setelah melihat wajah Rani yang penuh kecemasan, ia akhirnya mengambil keputusan.
“Ada sesuatu yang harus Bu Rani ketahui.” katanya
Rani mengerutkan kening.
“Apa itu?” tanya Rani
Leonard tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada pintu tempat Tuan Adrian baru saja dibawa masuk.
“Ini berkaitan dengan masa lalu Tuan Adrian,” katanya akhirnya.
Rani terdiam. Jantungnya berdegup semakin cepat.
“Masa lalu?” ulangnya pelan.
Leonard mengangguk.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian waktu kecil?” tanya Rani bingung
Pertanyaan Rani terdengar sederhana, tetapi wajah Leonard seketika berubah.
Nathan pun menundukkan wajah. Keduanya seperti sedang berhadapan dengan sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun mereka jaga mati-matian.
Leonard menarik napas dalam.
“Bu Rani...” katanya perlahan. Ia menatap mata Rani dengan ekspresi serius. "Orang yang selama ini Bu Rani kenal sebagai Adrian... ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kami ceritakan.”
Rani membeku.
“Apa maksudmu?” tanya Rani makin penasaran
Leonard terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata dengan suara rendah.
“Dan alasan Tuan Adrian tidak pernah menceritakannya kepada Bu Rani... adalah karena dia takut setelah Bu Rani mengetahui semuanya, Bu Rani akan meninggalkannya.” katanya
Dada Rani terasa sesak. Air matanya kembali jatuh. Ia menatap pintu ruang pemeriksaan dengan pikiran yang dipenuhi ribuan pertanyaan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian?
Mengapa masa kecil mereka seolah menyimpan begitu banyak rahasia?
Dan yang paling membuat Rani takut...
Apa yang akan berubah di antara mereka setelah semua rahasia itu terbongkar?
Di balik pintu ruang pemeriksaan, suara langkah kaki dokter terdengar tergesa-gesa.
Kemudian...
Sebuah suara alarm medis tiba-tiba berbunyi.
Rani dan kedua pria itu sontak menoleh. Wajah mereka seketika pucat.
“Tuan Adrian...” bisik Nathan.
Dan untuk pertama kalinya, Nathan terlihat benar-benar kehilangan ketenangannya.