Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekitar rumah Naresa?
“Capeknya…” keluh Naresa begitu mendudukkan tubuhnya ke sofa.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama 4 jam dari pantai, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Ardan yang sejak tadi menyetir pun tentu sama lelahnya, tetapi melihat istrinya sudah lebih dulu tepar di sofa, ia hanya tersenyum tipis sambil mengusap puncak rambut Naresa sebelum berjalan menuju dispenser air di sudut ruangan.
Setelah mengisi segelas air, Ardan kembali dan duduk di samping Naresa. Ia menyentuh lengan istrinya pelan. “Bangun dulu, sayang.”
Naresa hanya bergerak sedikit. Tubuhnya masih terkulai lemas ketika Ardan membantu menopangnya agar duduk lebih tegak, lalu membawa gelas itu ke bibirnya. Ia meminumkan air kepada Naresa perlahan sampai istrinya menggeleng kecil sebagai tanda sudah cukup. Ardan pun menurunkan gelas itu, sementara Naresa kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Aduh, bayi besarnya aku manja sekali, ya,” goda Ardan dengan senyum geli.
Naresa hanya melotot kepadanya tanpa berkata apa-apa.
Ardan terkekeh lalu bangkit dari duduknya. “Aku ganti baju dulu, ya,” katanya sembari melangkah menuju kamar mereka.
Satu jam pun sudah berlalu, tetapi Naresa masih di posisi yang sama. Sedangkan Ardan sudah kembali dengan tubuh yang lebih segar dan berganti pakaian.
“Kenapa ya, rasanya tuh aku selalu lemes, padahal kan aku sehat aja, ya.” Tanya Naresa.
Kini Ardan sedang menyuapi Naresa makan siang yang terlambat, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Setelah menyuapi Naresa, ia mengambil satu suap untuk dirinya sendiri.
“Kan kalau bayi ya kayak gitu,” jawab Ardan santai.
“Ih serius tahu. Soalnya dari dulu emang gitu, sih. Mungkin karena dulu hidupku berat kali ya, jadi efeknya masih ada sampai sekarang.”
Ardan kembali menyuapi Naresa. Kali ini, tatapannya tertahan lebih lama pada wajah istrinya sebelum ia berkata, “Pas pertama kali denger cerita kamu, aku tuh suka amazing, sih. Ibaratnya kalau aku ada di posisi kamu saat itu, kayaknya aku nggak kuat deh. Kamu itu manusia terkuat yang pernah aku temui." Ardan tersenyum tipis, tatapannya tetap lekat pada Naresa. "Dan makasih ya, Resa-ku sayang. Udah mau bertahan sampai akhirnya kita bisa bertemu dan membangun kehidupan bersama.”
Naresa memang berbeda. Seberapa tulus pujian atau kata-kata Ardan kepadanya, bahkan ketika ia terlalu filosofis atau terlalu gombal, hampir tidak pernah ada perubahan berarti pada wajahnya. Tidak ada pipi yang memerah atau senyum malu-malu seperti yang Ardan harapkan. Naresa hanya akan menatapnya dengan ekspresi yang sama, seolah kata-kata manis itu tidak cukup kuat untuk mengusik ketenangan wajahnya. Dulu, ketika pertama kali mereka tinggal bersama, Ardan sering berusaha membuat ekspresi wajah istrinya lebih hidup, tetapi seiring waktu ia mulai memahami bahwa memang begitulah Naresa. Ketenangan itulah yang selalu terlihat dari wajahnya, meskipun kehidupan yang pernah dilaluinya justru jauh dari kata tenang.
Setelah selesai mengunyah, Naresa kembali bersuara. “Aku sih sebenarnya nggak sekuat itu. Kek ditahan-tahan aja biar kuat. Soalnya ya ada Mama, orang yang selalu pengen aku bahagiain." Bibirnya membentuk senyum tipis, seakan pikirannya kembali pada masa-masa sulit yang pernah dilewatinya. "Kek ibaratnya Mama itu penentu hidup dan mati aku. Jadi Kak Ardan harus berterima kasih sama Mama aku. Karena kalau nggak ada Mama, ya Kak Ardan nggak bakal ketemu aku.”
“Bener juga, ya,” Ardan mengangguk-angguk kecil. “Nggak kamu, nggak Mama kamu, kalian sih sama-sama hebat. Keren.”
“Udah ah, aku nggak mau bahas masa lalu.” Kata Naresa yang matanya mulai berkaca-kaca, membuat Ardan tanpa sadar hendak meraih tubuhnya untuk dipeluk.
Namun, baru saja tangannya bergerak, Naresa sudah lebih dulu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai penolakan. “Aku belum mandi.”
“Ya gapapa,” jawab Ardan, masih berusaha mendekat.
“Nggak mau!” Naresa langsung bangkit dari duduknya dan berjalan cepat masuk kamar.
“Sayang! Abisin dulu makanannya.”
“Udah kenyang!” sahut Naresa dari dalam kamar.
.........
“Kebiasaan bener, punya HP tapi nggak bisa ditelpon,” kata Kale begitu Ardan duduk di hadapannya sambil membawa secangkir cokelat panas.
“Bawel bener lo.” Ardan mengalihkan pandangannya pada televisi di depan mereka yang sedang menayangkan berita mengenai betapa hebohnya reaksi warganet terhadap seorang presiden yang menulis sendiri pidato kenegaraan sampai tak keluar kamar.
“Mommy nelpon, bro. Katanya, mau nitip oleh-oleh khas Jogya nggak?”
“Iya. Nanti gue telpon Mommy balik.” Ardan menyesap cokelat hangatnya sebelum pandangannya beralih pada Kale yang kembali sibuk memainkan game di ponselnya. “Mau sampai kapan lo nganggur gini?”
“Cih, nganggur apaan, dah?” Kale bahkan tidak mengalihkan pandangannya. Jemarinya masih sibuk bergerak di atas layar.
“Udah masuk aja ke—”
“Ora sudi!” Kale langsung memotong. “Sampai kapan pun nggak mau. Dan nggak akan pernah sudi! Lagipula gue nggak punya passion di sana.”
“Lo punya dendam apa sih sama Dhaneswara Architects?” Ardan bertanya heran. Sampai sekarang ia tidak pernah benar-benar mengerti kenapa Kale selalu menolak setiap kali ia menyarankan adiknya untuk bergabung dengan perusahaan keluarga. Bahkan, sejak dulu Kale tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sana. “Lo mau balik ke luar negeri lagi?”
“Ngusir nih ceritanya?”
Ardan hanya mendelik. Dari wajahnya sudah jelas ia malas meladeni candaan Kale.
“Just kidding, lol.” Kale akhirnya mematikan ponselnya dan meletakkannya di samping sebelum menatap Ardan. “Kayaknya gue mau bangun usaha di sini aja, deh. Sekarang juga gue lagi nyari tempat yang cocok buat studio gue. Lo tahu nggak kira-kira tempat yang oke di mana?”
Ardan yang sempat menatap televisi kembali mengalihkan pandangannya pada Kale. “Kalau belum laku, ada tuh di sekitar rumah Resa. Tempatnya strategis, keknya cocok tuh sama lo. Cuma kalau nggak salah harganya lumayan mahal lah. Coba tanya langsung aja. Nanti gue kirim alamatnya.”
“Oke, kirim aja.”