Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Patroli di Bayang Kota
Tiga malam sejak pertemuan di Estat Draymoor, Jangkar Kelabu membagi diri jadi giliran patroli mandiri, menyusuri gang-gang sempit dan sudut pasar Aldenmere yang biasanya luput dari perhatian penjaga kota resmi. Dua malam pertama tidak menghasilkan apa-apa selain kaki lelah dan mata mengantuk, hanya pedagang malam dan pemabuk yang pulang sempoyongan. Arden sendiri turun tangan malam ini, ditemani Corym, Petra, dan Yuna, menyusuri distrik pergudangan dekat pelabuhan sungai, tempat cahaya lentera kota paling jarang menjangkau.
Udara malam di dekat pelabuhan lebih lembap dari bagian kota lain, bau ikan asin dan kayu basah menempel di setiap sudut jalan. Suara air sungai yang mengalir pelan di kejauhan jadi satu-satunya latar suara konstan, sesekali dipecah lolongan anjing liar dari arah gudang kosong.
"Kalimat itu terus terngiang," gumam Corym, langkahnya pelan menyusuri lorong sempit di antara dua gudang. "Seseorang di dalam sana."
"Aku tahu," jawab Arden. "Makanya kita di sini. Kalau Ashcloak benar-benar aktif di kota, mereka butuh jalur masuk dan keluar. Gudang tua seperti ini tempat paling mudah bersembunyi."
Petra berjalan di depan, tangannya sudah dekat gagang pedang, matanya menyapu setiap bayangan tanpa berhenti. Sejak Hollowreach ia belajar untuk tidak lagi bergerak lebih dulu dari yang lain, tapi kewaspadaannya sendiri tidak pernah benar-benar mereda.
Yuna berjalan paling belakang, lebih diam dari biasa, tangannya sesekali menyentuh liontinnya sendiri tanpa sadar, matanya terus menatap ke arah siluet Menara Verlanth yang menjulang di kejauhan setiap kali lorong memberi celah pandang ke langit.
Suara langkah kaki tergesa terdengar dari lorong sebelah, disusul bisikan cepat dua orang yang berusaha bicara sepelan mungkin.
Arden mengangkat tangan, isyarat berhenti.
Mereka menempel ke dinding gudang, mengintip lewat celah antara dua bangunan. Dua sosok berjubah gelap bergerak cepat menyusuri tumpukan peti kayu, salah satunya membawa kantong kain besar yang tampak berat, satu lagi memeriksa sekeliling dengan gerakan gugup, kepalanya menoleh ke setiap arah seperti binatang yang merasa diawasi.
Corym mengenali jubah itu lebih dulu, jahitannya, potongannya, warna abu tua yang khas.
"Ashcloak," bisiknya.
Arden mengangguk sekali. "Tangkap. Jangan bunuh kalau bisa."
Petra bergerak lebih dulu, memutar lewat sisi kiri gudang untuk memotong jalur mundur, langkahnya nyaris tanpa suara di atas batu lembap. Corym maju langsung dari depan, perisainya siap. Arden mengambil sisi kanan, dan Yuna tetap di belakang, tangannya sudah bersiap dengan cahaya pemurnian kecil di telapaknya, siap digunakan bukan untuk menyerang, tapi untuk memastikan tidak ada jebakan tersembunyi.
Salah satu sosok berjubah menoleh, matanya melebar melihat Corym muncul dari kegelapan.
"Lari!" teriaknya pada rekannya.
Yang membawa kantong berbalik cepat, tapi Petra sudah memotong jalur di belakangnya. Ia menjatuhkan kantong itu, isinya berdenting jatuh ke tanah, mencabut belati pendek dengan tangan gemetar.
"Jangan bergerak," kata Petra, pedangnya terangkat tapi tidak menyerang.
Sosok itu tidak mendengarkan. Ia menyerang panik, ayunan belati yang kasar dan tidak terlatih, jelas bukan seorang petarung berpengalaman. Petra menepis dengan mudah, membalik pedangnya, menghantam pergelangan tangan dengan sisi datar bilah. Belati jatuh berdenting ke tanah berbatu. Sosok itu mengaduh, memegangi tangannya sendiri, tidak lagi mencoba melawan.
Rekannya mencoba kabur ke arah lain, langsung berhadapan dengan Arden yang sudah menutup jalur keluar sejak awal.
"Berhenti," kata Arden, suaranya tenang tapi tegas.
Sosok itu tidak berhenti, mencoba menerobos lewat celah sempit di samping Arden. Arden menangkap lengannya, memutar tubuhnya, mendorongnya jatuh berlutut tanpa perlu mengeluarkan pedang sama sekali. Gerakannya cepat, terkontrol, tidak ada niat melukai lebih dari yang perlu.
Corym sudah mengikat tangan yang pertama dengan tali cepat, simpul yang kuat tapi tidak menyakitkan, sementara Petra menahan bahu yang kedua ke tanah dengan lututnya sendiri.
Semua berlangsung kurang dari satu menit. Tidak ada darah tertumpah, hanya napas tersengal dan dua sosok yang kini gemetar di tanah dingin, lebih ketakutan daripada terluka.
Yuna melangkah maju, cahaya pemurnian di tangannya masih menyala pelan, memastikan tidak ada jebakan Anima tersembunyi di tubuh kedua tawanan, gerakannya hati-hati menyapu udara di sekitar mereka.
Tudung salah satu dari mereka tersingkap saat ia berusaha meronta lepas dari genggaman Petra.
Wajah di baliknya bukan wajah fanatik yang selama ini dibayangkan siapa pun. Seorang perempuan muda, mungkin belum genap dua puluh tahun, pipinya kurus dan pucat, matanya penuh air mata ketakutan, bukan kebencian.
"Tolong," katanya, suaranya pecah. "Aku cuma mengantar makanan. Aku bersumpah, aku cuma mengantar makanan untuk saudaraku."
Petra membuka kantong yang jatuh tadi, tangannya masih sedikit gemetar dari sisa ketegangan pertarungan singkat itu. Bukan senjata, bukan artefak berbahaya. Hanya roti, beberapa potong daging asap, dan sekantong kecil obat herbal murah.
Corym dan Arden bertukar pandang, sesuatu di dada masing-masing mengendur sekaligus mengencang bersamaan.
Yuna berjongkok di depan perempuan itu, suaranya melembut, jauh dari nada waspada yang biasa ia jaga di depan musuh. "Saudaramu di mana?"
"Aku tidak akan bilang," jawab perempuan itu, meski suaranya semakin gemetar. "Mereka akan membunuhnya kalau aku bicara."
"Ordo?" tanya Arden.
Perempuan itu mengangguk kecil, air mata mulai jatuh di pipinya. "Kami cuma keluarga miskin dari Padang Abu. Ordo memberi kami tempat tinggal, makanan, saat tidak ada orang lain yang mau. Sebagai gantinya, kami membantu apa yang mereka minta. Bawa pesan. Bawa perbekalan. Tidak lebih."
"Berapa lama kau melakukan ini?" tanya Corym, suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan, membuat perempuan itu tersentak kecil.
"Dua tahun," jawabnya, hampir berbisik. "Sejak orang tuaku meninggal. Guild tidak pernah datang ke desa kami. Kerajaan tidak pernah datang. Ordo yang datang."
"Kenapa tidak lari saja? Cari kehidupan lain?" tanya Petra, meski begitu ucapan itu keluar, ia sendiri mendengar betapa naifnya pertanyaan itu terdengar.
Perempuan itu tertawa kecil, getir, sama sekali tidak ada humor di dalamnya. "Lari ke mana? Dengan uang apa? Ordo bukan cuma memberi makan kami. Mereka satu-satunya yang pernah menawarkan sesuatu selain diabaikan."
Tidak ada yang menjawab itu.
Petra berdiri diam memegang kantong berisi roti dan obat herbal itu, matanya bergerak dari isi kantong ke wajah perempuan yang masih berlutut di tanah. Ia teringat caranya sendiri dulu menganggap setiap penjahat berjubah abu sebagai musuh yang layak dikalahkan tanpa pertanyaan lebih jauh.
Yuna berdiri, mundur satu langkah, tangannya melepas cahaya pemurniannya perlahan, wajahnya berubah, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kaget.
Sepanjang hidupnya sebagai pendeta, ia diajarkan Ordo Menara Sunyi sebagai sekte berbahaya, kumpulan fanatik yang mengorbankan siapa pun demi keyakinan buta mereka. Melihat perempuan ini, wajahnya, ketakutannya, alasan sesederhana bertahan hidup, membuat sesuatu di dalam dirinya retak pelan-pelan, seperti fondasi yang selama ini ia anggap kokoh ternyata berdiri di atas tanah yang lebih rapuh dari yang ia kira.
"Kau baik-baik saja?" tanya Corym pelan, memperhatikan diamnya Yuna yang tidak biasa.
"Aku tidak tahu," jawab Yuna jujur, suaranya kecil. "Aku selalu berpikir kita melawan monster berwajah manusia. Sekarang aku tidak yakin lagi wajah siapa yang sebenarnya kulihat."
"Bawa mereka ke Guild," kata Arden akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasa. "Perlakukan baik-baik."
Corym mengangkat pria yang tertangkap lebih dulu, membantunya berdiri dengan hati-hati, jauh dari cara ia biasa memperlakukan musuh dalam pertempuran.
Saat mereka mulai berjalan menuju arah Balai Guild, pria itu tiba-tiba berhenti, tubuhnya gemetar hebat, matanya menatap ke arah Menara Verlanth yang menjulang samar di kejauhan malam.
"Kalian tidak mengerti," bisiknya, suaranya nyaris hilang tertelan angin malam. "Penjaga benar. Lantai itu sudah mulai retak sendiri."
Semua orang berhenti berjalan.
"Apa maksudmu?" tanya Arden, mendekat pelan, suaranya tetap tenang meski dadanya mulai berdegup lebih cepat.
Pria itu menggeleng cepat, matanya masih terpaku ke arah Menara Verlanth, seolah tidak sanggup mengalihkan pandang. "Aku sudah bicara terlalu banyak. Mereka bisa tahu. Mereka selalu tahu."
"Siapa yang selalu tahu?" desak Corym.
Tapi pria itu sudah menutup mulutnya rapat-rapat, rahangnya gemetar menahan diri, matanya berkaca-kaca ketakutan yang jauh lebih dalam dari sekadar takut ditangkap oleh Jangkar Kelabu.
Yuna menatap pria itu lama, tangannya kembali menggenggam liontinnya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan Jangkar Kelabu, ia tidak tahu lagi doa apa yang harus ia panjatkan malam ini.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam menuju Balai Guild, dua tawanan berjalan di antara mereka dengan langkah gontai, lebih seperti orang yang menyerah pada nasib daripada musuh yang dikalahkan. Petra menoleh sekali ke arah perempuan muda yang masih menangis pelan, tangannya terikat longgar di depan tubuhnya sendiri.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka dihukum seperti penjahat biasa," gumam Petra, lebih pada dirinya sendiri, matanya tidak lepas dari perempuan muda yang masih menangis pelan.
"Itu bukan keputusan kita," jawab Corym, meski nadanya sendiri terdengar kurang yakin dengan kata-katanya sendiri, matanya menghindar dari tatapan Petra.
Arden berjalan di depan, pikirannya masih berputar pada kalimat terakhir pria itu, kata yang sama yang pernah diucapkan pemimpin Ashcloak sekarat di Hollowreach, kata yang sama yang tertulis samar di catatan ekspedisi Draymoor. Lantai itu tidak diam. Semakin banyak sumber yang mengulang klaim yang sama, semakin sulit untuk terus menganggapnya sekadar propaganda sekte.
Ia mengingat kembali kata-kata Halden malam sebelumnya di markas, soal kapan sesuatu berhenti jadi kebetulan. Malam ini terasa seperti jawaban lain untuk pertanyaan yang sama, meski jawaban itu tidak membuatnya merasa lebih siap menghadapi apa pun yang menunggu di depan.
Di belakangnya, Yuna berjalan paling lambat, matanya sesekali menoleh ke arah dua tawanan, mencoba mencari kepastian dalam wajah-wajah ketakutan itu, tapi yang ia temukan hanya pertanyaan baru yang belum siap ia jawab, pertanyaan yang terasa jauh lebih berat dari sekadar keraguan sesaat.