Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayangan Dendam dan Obsesi Tanpa Batas
Lampu gantung kristal di dalam private lounge sebuah kelab malam eksklusif di kawasan Jakarta Pusat memancarkan cahaya temaram bernuansa merah keemasan. Bau asap cerutu mahal beradu dengan aroma alkohol berkadar tinggi. Di sudut ruangan bernuansa lantai marmer gelap itu, Clara duduk melipat kakinya yang jenjang.
Gaun malam bernuansa merah darah yang membalut tubuh tinggi semampainya memancarkan kesan elegan namun berbahaya. Jemari rampingnya yang berhias cat kuku merah memutar-mutar gelas kristal berisi whisky. Matanya yang tajam berkilat penuh amarah, dendam, dan obsesi yang telah meracuni akalnya.
Pikiran Clara berputar kembali pada penolakan mentah-mentah yang diterimanya dari Exel. Dari pengusiran secara dingin di ruang kerja eksekutif Dirgantara Group, hingga penghinaan yang diterimanya di kediaman utama keluarga Dirgantara saat gadis SMA mungil cempreng itu menunjuknya sebagai 'kanebo basah' di hadapan seluruh keluarga besar.
“Aku istri sahnya Mas Exel Dirgantara!”
Kata-kata cempreng Alexa malam itu membakar seluruh harga diri Clara hingga menjadi abu.
"Exel cuma milikku..." bisik Clara pada dirinya sendiri, jemarinya meremas gelas kristal itu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia cuma canggung dan marah karena aku pernah meninggalkannya ke Paris. Tidak mungkin pria sekelas Exel Dirgantara benar-benar jatuh cinta pada budak SMA bantet tidak berkelas seperti gadis itu! Exel hanya tersihir sementara. Dan aku akan seret dia kembali ke pelukanku... dengan cara apa pun!"
Pintu ukiran kayu tebal di ujung ruangan mendadak terdorong terbuka. Dua pria berbadan tegap bersetelan hitam melangkah masuk, disusul oleh seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal dengan setelan jas mahal bernuansa abu-abu gelap.
Pria itu adalah Bramantyo Wijaya—CEO dari Wijaya Corp sekaligus rival abadi dan musuh bisnis paling berdarah-darah bagi keluarga Dirgantara selama dua dekade terakhir. Wajah Bramantyo keras, dihiasi kumis tipis dan mata yang selalu memancarkan aura licik nan haus kekuasaan.
Bramantyo menyunggingkan senyum miring, melangkah mendekat lalu duduk di sofa kulit tepat di seberang Clara.
"Senang melihatmu kembali di Jakarta, Clara," buka Bramantyo dengan suara beratnya yang serak. Pria itu menyalakan cerutunya, menyebarkan asap tebal ke udara. "Kudengar kepulanganmu dari Eropa tidak disambut hangat oleh mantan kekasihmu yang agung itu?"
Clara meletakkan gelasnya di atas meja kaca dengan bunyi dentang yang cukup nyaring. Matanya menatap Bramantyo tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jangan membuang waktuku dengan nada mengejek itu, Om Bramantyo," pangkas Clara dingin. "Kita berdua punya satu kesamaan yang sangat jelas saat ini. Kita sama-sama ingin menghancurkan kesombongan Exel Dirgantara dan merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita."
Bramantyo terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan batu kasar. "Menarik. Dulu kamu meninggalkannya karena mengejar karir model di Paris. Sekarang saat dia sudah berada di puncak kejayaan bisnis Nusantara dan dipuja banyak orang, kamu bertekad mendapatkannya kembali? Perempuan memang makhluk yang sangat rumit."
"Exel milikku sejak awal!" bentak Clara, suara tingginya memotong tawa Bramantyo. Matanya berkilat penuh kegilaan obsesif. "Dia hanya sedang dibutakan oleh gadis kecil tidak berguna yang dinikahinya secara rahasia! Kalau Exel bangkrut, kalau posisi sahamnya hancur dan perusahaannya berada di ambang kehancuran, dia tidak akan punya pilihan lain selain berlutut padaku dan meminta bantuan dari jaringan keluargaku di Eropa!"
Bramantyo menyipitkan matanya tajam. Asap cerutu keluar perlahan dari bibirnya. "Jadi... rencana apa yang kamu tawarkan untuk menghantam perusahaannya? Kamu tahu betul sistem pertahanan keamanan Dirgantara Group itu seperti benteng baja. Apalagi pria bernama Achmad—tangan kanannya itu—bagaikan anjing pelacak yang bisa mendeteksi peretasan sekecil apa pun."
Clara menyunggingkan senyum miring yang teramat licik. Ia merogoh tas tangan mewahnya, mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam dan beberapa lembar dokumen rahasia.
"Sistem mereka memang seperti benteng baja... jika diserang dari luar," kata Clara pelan, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tapi bagaimana jika diserang dari celah terbawah yang paling tidak mereka duga?"
Bramantyo mengangkat alisnya. "Maksudmu?"
"Saya baru saja merekrut Siska," bisik Clara penuh intrik. "Mantan Office Girl lantai eksekutif Dirgantara Group yang baru saja dipecat secara tidak hormat oleh Exel. Siska tahu betul alur lalu lintas dokumen fisik di lantai teratas, tahu jam-jam lengah pergantian petugas kebersihan, dan dia menyimpan beberapa kode akses pintu darurat yang belum sempat diperbarui oleh sistem IT mereka."
Mata Bramantyo berkilat penuh ketertarikan. "Lanjutkan."
"Siska butuh uang dan balas dendam karena dipecat, sementara kita butuh jalan masuk," terang Clara mantap. "Dengan bantuan informasi dari Siska, tim peretas dan analis keuanganmu bisa menyuntikkan dokumen palsu serta membocorkan laporan audit internal proyek manufaktur terbaru Dirgantara Group ke publik dan pasar modal. Begitu rumor manipulasi ini meledak di media nasional besok pagi, harga saham Dirgantara Group akan merosot tajam! Pihak investor asing akan panik dan menuntut kepemilikan Exel dicabut!"
Bramantyo menepuk tangannya pelan, senyuman puas terukir jelas di wajah liciknya. "Strategi perang yang sangat jahat, Clara. Kamu benar-benar wanita yang berbahaya jika sedang jatuh cinta... atau kesetanan."
"Ini bukan cuma soal saham, Om Bramantyo," pangkas Clara dengan nada suara yang makin dingin dan gelap. "Begitu saham perusahaannya terguncang dan Exel sibuk mengatasi kebangkrutan di rapat direksi, fokusnya akan terpecah. Saat itulah Siska dan orang-orangmu bisa bergerak menyasar target utamanya."
Bramantyo memiringkan kepalanya. "Gadis SMA itu? Istri rahasianya?"
"Tepat," jawab Clara dengan pandangan mata penuh rasa dengki yang mendalam. "Alexa Pramudya. Gadis mungil itu adalah kelemahan terbesar Exel saat ini. Tanpa gadis itu, Exel akan kembali menjadi pria kesepian yang mudah dikendalikan. Aku akan pastikan Alexa hancur, ditinggalkan, dan ketakutan hingga dia sendiri yang berlari menjauh dari hidup Exel!"
Bramantyo tertawa lebar, mengangkat gelas kristalnya ke udara. "Luar biasa! Aliansi kita resmi dibentuk malam ini, Clara. Kita buat Exel Dirgantara berlutut dan kehilangan segalanya!"
Clara mengangkat gelasnya, menyentuhkan kristalnya ke gelas Bramantyo dengan dentang nyaring. Kring!
"Untuk kehancuran rumah tangga Exel... dan kembalinya Exel ke pelukanku," bisik Clara penuh obsesi gila di balik keheningan malam.
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dirgantara Group...
Pukul 23.00 WIB. Suasana kantor pusat yang megah itu sudah sepi dari aktivitas karyawan biasa. Namun, di dalam ruangan kerja eksekutif yang luas, lampu utama masih menyala terang.
Exel duduk di belakang meja mahoninya dengan kemeja putih yang lengannya sudah tergulung hingga siku. Pria bertubuh tegap itu memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah. Di layar laptopnya, puluhan grafik simulasi pasar modal dan berkas pengamanan sistem internal terus diperbarui.
Di seberangnya, Achmad berdiri seraya memegang dua cangkir kopi hitam pekat. Pria yang biasanya penuh dengan kelakuan absurd dan godaan jenaka itu kini menatap layar tabletnya dengan raut wajah sangat serius.
Achmad meletakkan cangkir kopi di meja Exel. "Cel, ada gerakan mencurigakan di pasar saham malam ini. Ada transaksi akuisisi saham skala menengah yang dilakukan oleh beberapa akun bodong dari luar negeri."
Exel membukanya matanya, tatapan cokelat gelapnya seketika berkilat tajam dan dingin. "Pelakunya?"
"Semua jejak transaksi itu menggunakan rekening perantara dari anak perusahaan Wijaya Corp," jawab Achmad tegas. "Bramantyo Wijaya mulai beraksi. Dan gua rasa... ini ada hubungannya dengan Clara. Tim pelacak kita menemukan kendaraan Clara sempat terparkir di kelab malam milik jaringan Wijaya Corp dua jam lalu."
Exel menyandarkan punggung tegapnya di kursi eksekutif, mengepalkan tangannya di atas meja. "Clara benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Obsesinya membuat dia nekat menggandeng musuh bebuyutan keluarga kita."
Achmad menghela napas panjang, merapikan kerah bajunya. "Gua gak heran sama Clara, Cel. Yang bikin gua khawatir itu kombinasi antara uangnya Bramantyo dan rasa sakit hatinya Clara. Mereka bisa menghalalkan segala cara. Bukan cuma menyerang pergerakan saham perusahaan, tapi juga menyasar kehidupan pribadi lu."
"Bagaimana dengan pengawalan Alexa?" tanya Exel kaku, nada suaranya mendadak dipenuhi proteksi yang teramat sangat tinggi saat menyebut nama istrinya.
"Pengawalan Dek Alexa di sekitar SMA Garuda dan jalur apartemen sudah diperketat dua kali lipat," jelas Achmad mantap. "Tim pengawal rahasia berdiri di setiap sudut gang. Gua sendiri yang memantau laporan posisi Dek Alexa setiap satu jam sekali."
Exel mengangguk pelan, namun rasa cemas yang tak kasat mata tetap berhembus di dadanya. Pria itu merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pribadinya. Layar ponsel menampilkan foto Alexa yang sedang tersenyum cempreng sambil memegang es boba—foto yang diambil diam-diam oleh Exel minggu lalu.
Melihat senyuman polos istri mungilnya, raut kaku nan dingin di wajah sang CEO perlahan melunak. Sebuah desiran hangat dan janji setia bergelora kuat di dalam dadanya.
"Achmad," panggil Exel rendah.
"Ya, Bos?"
"Siapkan seluruh tim hukum dan peretas terbaik kita," perintah Exel dengan nada suara yang memancarkan wibawa dan ancaman mematikan. "Jika Bramantyo dan Clara berani melancarkan serangan rumor besok pagi... pastikan kita tidak cuma bertahan. Kita hancurkan seluruh aset Wijaya Corp dan jebloskan Clara ke penjara atas tuduhan pembocoran rahasia negara dan manipulasi data."
Achmad menyunggingkan senyum tipis—senyuman khas asisten berdarah dingin yang siap mengeksekusi perintah sang CEO. "Siap, Bos. Tim siap bergerak kapan pun lu beri komando."
Di unit penthouse apartemen eksklusif...
Alexa yang baru saja selesai mandi dan mengenakan piyama kartun beruang warna biru muda melangkah keluar menuju ruang tengah. Gadis mungil itu mengeripkan matanya, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Mas Es Batu kok belum pulang ya?" gumam Alexa pelan seraya memayunkan bibirnya.
Gadis mungil itu berjalan mendekati meja makan, menatap kotak makan siang bekas wagyu tadi pagi yang sudah dicuci bersih. Alexa merogoh saku piyamanya, mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat untuk suaminya:
‘Mas Exel ganteng... Masih sibuk di kantor ya? Jangan lupa minum air putih dan jangan lembur kemalaman. Aca nungguin Mas Exel di rumah... cepetan pulang ya! Muah! ❤️’
Di ruang kerjanya, Exel yang baru saja hendak menyesap kopi panasnya merasakan getaran di ponselnya. Begitu membaca pesan manis dari Alexa, rasa lelah di tubuh sang CEO seketika sirna. Sudut bibirnya terangkat tinggi membentuk senyuman hangat yang sangat tampan.
Exel berdiri dari kursinya, menyambar jas mewahnya. "Achmad, sisanya lanjutkan besok pagi. Gua harus pulang sekarang."
Achmad menepuk jidatnya seraya tertawa geli melihat perubahan drastis bosnya. "Walah... yang ditunggu istri di rumah mah langsung tancap gas! Ya udah sana pulang, Bos! Kasihan Nyonya Muda kelamaan nunggu!"
Exel hanya mendengus terkekeh, melangkah cepat menuju lift VIP untuk segera kembali ke pelukan istri tercintanya.
Namun, di balik kegelapan malam kota Jakarta yang tenang, aliansi gelap antara Clara, Siska, dan Bramantyo Wijaya telah selesai menyusun perangkap beracun mereka. Sebuah badai besar manipulasi saham dan teror berbahaya telah siap dihempaskan besok pagi... menguji sejauh mana kekuatan cinta, kesetiaan, dan kepercayaan di antara sang CEO dingin dan Si Gadis Cempreng Mungil.