Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 — Tarian Pembunuh
Li Tianxuan menoleh.
Dari balik lorong altar, seorang pemuda perlahan berjalan mendekat. Pakaiannya masih terlihat bersih dan rapi, seolah perjalanan di dalam Reruntuhan Kuno sama sekali tidak memberinya kesulitan.
Pemuda itu adalah Jian Wushuang.
Li Tianxuan menatapnya dengan tatapan dingin.
Sorot mata itu begitu tajam hingga Jian Wushuang tanpa sadar merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
Seolah-olah yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang pemuda yang baru mencapai Ranah Inti Roh, melainkan seseorang yang telah melewati ribuan pertarungan hidup dan mati.
Jian Wushuang mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah, baiklah..."
Dia tersenyum kecut.
"Bisakah kau berhenti memasang ekspresi seperti itu? Setiap kali melihat tatapanmu, aku merasa seperti sedang ditatap oleh orang yang ingin membunuhku."
Li Tianxuan tidak menjawab. Dia hanya menatap Jian Wushuang dengan tenang.
"Ada apa, Senior?"
Jian Wushuang menghela napas. Dia berjalan mendekat, kemudian menepuk pundak Li Tianxuan dengan santai.
"Ini adalah kedua kalinya aku memasuki Reruntuhan Kuno. Aku sedikit memahami tempat ini."
"Langsung saja ke intinya."
Jian Wushuang terdiam. Kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kau benar-benar tidak pandai berbicara."
"Tidak masalah."
"..."
Jian Wushuang hampir tersedak. Namun dia tidak mempermasalahkannya.
"Aku ingin mengajakmu bekerja sama."
Li Tianxuan akhirnya menunjukkan sedikit ketertarikan.
"Kerja sama?"
Jian Wushuang mengangguk.
"Giok Serpihan Jiwa Dewa."
Dalam sekejap, tatapan Li Tianxuan berubah.
Sebelumnya, wajahnya masih terlihat tenang.
Namun ketika mendengar nama tersebut, sorot matanya menjadi sangat tajam.
Jian Wushuang langsung menyadarinya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Aku tahu dimana tempatnya."
Li Tianxuan menatapnya tanpa berkedip.
"Apa syaratnya?"
"Kau memang pintar."
Jian Wushuang tersenyum. "Aku tidak menginginkan Giok Serpihan Jiwa Dewa."
Li Tianxuan sedikit mengernyit. "Lalu?"
"Pil Pelebur Jiwa."
"Pil?"
"Benar."
Jian Wushuang menatap bagian terdalam altar.
"Di tempat dimana Giok Serpihan Jiwa Dewa berada, terdapat sebuah Pil Pelebur Jiwa. Aku menginginkan pil itu."
Li Tianxuan terdiam. Dia tidak terlalu tertarik dengan pil tersebut.
Namun Jian Wushuang mulai menjelaskan.
"Pil Pelebur Jiwa bukanlah pil biasa. Pil itu mampu memperluas dan memperkuat Lautan Jiwa seseorang, membuatnya mampu menampung Energi Spiritual dalam jumlah yang jauh lebih besar. Jika digunakan dengan benar, seseorang bahkan dapat memanfaatkan kekuatan pil tersebut untuk menembus penghalang sebuah ranah."
Li Tianxuan mengangguk. Sekarang dia mengerti mengapa Jian Wushuang menginginkannya.
Namun bagi dirinya, semua itu tidak penting.
Yang dia inginkan hanyalah Giok Serpihan Jiwa Dewa. Jika benda itu benar-benar mampu memberinya petunjuk mengenai sosok Dewa yang menghancurkan Kota Tai, maka dia akan mendapatkannya dengan cara apapun.
"Baiklah." Li Tianxuan langsung menyetujuinya. "Tidak masalah."
Jian Wushuang sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Li Tianxuan akan menyetujuinya dengan begitu mudah.
Namun kemudian Li Tianxuan bertanya.
"Tapi kenapa memilihku?"
Jian Wushuang diam beberapa saat. Kemudian sudut bibirnya terangkat.
"Karena aku bisa merasakannya."
"Apa?"
"Hasratmu."
Jian Wushuang menatap mata Li Tianxuan.
"Hasratmu untuk mendapatkan Giok Serpihan Jiwa Dewa begitu besar. Bahkan ketika aku menyebut namanya, tatapanmu langsung berubah."
Dia menyipitkan matanya.
"Seolah-olah kau mengetahui sesuatu tentang benda itu."
"Aku tidak tahu apa-apa." Li Tianxuan menjawab datar. "Aku hanya ingin mendapatkannya."
Jian Wushuang menatapnya beberapa saat sebelum tertawa kecil.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya." Dia kemudian berbalik. "Kalau begitu, ayo kita mulai."
Li Tianxuan mengikutinya.
Jian Wushuang berhenti di depan beberapa patung raksasa yang berdiri mengelilingi altar.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh tempat. "Pertama, kita harus mendapatkan benda itu."
Tangannya menunjuk ke salah satu patung.
Di tangan patung tersebut terdapat sebuah Gulungan Kuno yang memancarkan aura luar biasa.
Li Tianxuan memandang gulungan tersebut.
"Teknik?"
"Sepertinya begitu."
Jian Wushuang menyipitkan matanya.
"Dan kemungkinan besar bukan teknik biasa."
Tanpa menunggu lebih lama, Li Tianxuan langsung melompat. Tubuhnya melesat seperti anak panah.
Tangannya mengarah tepat ke Gulungan Kuno.
Namun—
BOOOM!
Gelombang Energi Spiritual yang mengerikan tiba-tiba meledak. Tubuh Li Tianxuan langsung terlempar.
DUARRR!
Tubuhnya menghantam dinding altar dengan keras. Retakan menjalar ke seluruh permukaan dinding.
Jian Wushuang terdiam.
Li Tianxuan bangkit perlahan. Tanpa berkata apa-apa, dia kembali melompat.
BOOOM!
Tubuhnya kembali terpental.
DUARR!
Dinding kembali bergetar. Namun Li Tianxuan tetap bangkit. Sekali lagi. Dan sekali lagi. Berkali-kali.
Jian Wushuang hanya bisa memandang dengan sudut bibir berkedut.
"Bocah ini..."
Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Namun Li Tianxuan tidak menyerah. Setelah beberapa kali mencoba, dia akhirnya berhenti.
Tatapannya beralih ke seluruh altar. Ada sesuatu yang terasa aneh. Sebelas patung berdiri mengelilingi ruangan.
Sepuluh patung lainnya mengarahkan senjata mereka kepada satu patung di tengah. Patung yang memegang Gulungan Kuno.
Li Tianxuan mengamati semuanya dengan saksama.
"Sepuluh patung..." Dia menyipitkan matanya.
"Sepertinya mereka semua menyerang patung yang memegang gulungan itu."
Jian Wushuang ikut memperhatikan.
"Benar."
Li Tianxuan melanjutkan. "Namun mereka semua berubah menjadi batu." Tatapannya semakin tajam. "Sepertinya Gulungan Kuno itu memiliki kesadarannya sendiri."
Jian Wushuang sedikit terkejut.
"Kau berpikir gulungan itu memilih pemiliknya?"
Li Tianxuan mengangguk. "Jika seseorang memaksanya, dia akan menolak." Dia berjalan perlahan mendekati gulungan tersebut.
"Artinya..." Li Tianxuan mengangkat tangannya. "...aku harus membuatnya mengakuiku."
Jian Wushuang hendak menghentikannya.
"Tunggu!"
Namun sudah terlambat.
Li Tianxuan telah berdiri tepat di hadapan patung tersebut. Dia tidak menyerang. Tidak menggunakan kekuatan secara paksa.
Dia hanya mengulurkan tangannya. Energi Spiritual perlahan mengalir dari tubuhnya.
Kemudian masuk ke dalam Gulungan Kuno.
Tidak ada ledakan. Tidak ada penolakan. Suasana altar mendadak menjadi sangat sunyi.
Jian Wushuang menahan napas. "Apa yang terjadi?"
Detik berikutnya—
WUSHHH!
Gulungan Kuno tiba-tiba bergetar.
Cahaya keemasan keluar dari sela-sela gulungan.
Lalu—
WUSHHH!
Gulungan tersebut terlepas dari tangan patung dan melayang di udara.
Jian Wushuang langsung membelalakkan matanya.
"Itu..."
Sebuah cahaya keemasan melesat keluar dari gulungan.
SRAK!
Cahaya itu menembus kening Li Tianxuan.
Tubuh Li Tianxuan bergetar. Matanya kehilangan fokus.
Kesadarannya seolah ditarik ke dalam ruang yang tidak diketahui.
Jian Wushuang terpaku.
Dia sendiri telah mencoba mendapatkan gulungan tersebut berkali-kali. Namun setiap kali mencoba, dia selalu dilemparkan oleh kekuatan misterius.
Tetapi Li Tianxuan...
Justru diakui oleh gulungan itu.
"Apa sebenarnya yang tersembunyi dalam tubuhnya?"
Jian Wushuang bergumam.
Di dalam kesadaran Li Tianxuan.
Sebuah ruang putih terbentang tanpa batas.
Di hadapannya, muncul sebuah bayangan.
Bayangan itu memegang pedang.
Tidak ada wajah. Tidak ada suara. Hanya sebuah gerakan. Bayangan tersebut perlahan mengangkat pedangnya.
Kemudian menebas.
WUSHHH!
Satu tebasan. Namun ruang di sekitarnya langsung terbelah.
Bayangan itu bergerak lagi. Satu langkah.
Satu tebasan. Dua langkah. Tiga tebasan.
Setiap gerakannya terlihat sederhana.
Namun semakin Li Tianxuan memperhatikannya, semakin dia merasakan sesuatu yang mengerikan.
Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada Energi Spiritual yang terbuang. Setiap langkah dan setiap tebasan memiliki tujuan yang sama.
Membunuh.
Bayangan itu tiba-tiba bergerak semakin cepat.
Pedangnya berputar.
Tubuhnya melayang.
Kemudian sebuah tebasan terakhir dilepaskan.
BOOOM!
Seluruh ruang putih bergetar.
Dari tebasan tersebut muncul dua aksara kuno yang sangat besar.
TARIAN PEMBUNUH!
Li Tianxuan terdiam.
Dua kata itu seolah tertanam langsung ke dalam jiwanya.
Informasi mengenai teknik tersebut mengalir deras ke dalam pikirannya. Cara menggunakannya. Cara mengendalikan Energi Spiritual. Cara menggabungkan gerakan tubuh dengan pedang. Semuanya masuk ke dalam pikirannya.
Namun yang paling mengejutkan—
Teknik itu bukan sekadar teknik pedang.
Semakin tinggi penguasaannya, semakin mengerikan kekuatan yang dapat dilepaskan.
Jika dikuasai hingga tingkat tertinggi...
Satu gerakan dapat membunuh ribuan makhluk hidup.
Kesadaran Li Tianxuan perlahan kembali.
Matanya terbuka. Cahaya keemasan yang sebelumnya berada di keningnya menghilang.
Gulungan Kuno perlahan jatuh ke tangannya.
Jian Wushuang masih berdiri di tempat yang sama.
Tatapannya penuh keterkejutan.
"Junior..."
Li Tianxuan menoleh.
Jian Wushuang menatap gulungan di tangannya.
"Apa yang kau lihat?"
Li Tianxuan terdiam sesaat.
"Tarian Pembunuh."
Jian Wushuang mengerutkan kening.
"Teknik apa itu?"
Li Tianxuan tidak menjawab.
Dia hanya menutup Gulungan Kuno tersebut.
Kemudian menatap Jian Wushuang dengan ekspresi dingin seperti biasanya.
"Apa yang kita lakukan selanjutnya?"
Jian Wushuang terdiam. Kemudian dia tersenyum pahit. "Kau benar-benar tidak normal..."
Li Tianxuan tidak menghiraukan nya.