⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKALAHAN YANG TERASA SEPERTI KEMENANGAN [POV FRAGMEN KELIMA: FANG KUANG]
Kabar tentang duel di Padang Rumput Selatan menyebar lebih jauh daripada yang pernah Fang Kuang duga.
Dalam tiga bulan, cerita tentang pemuda Suku Fang yang mengalahkan kepala Suku Taring Hitam namun tidak menghabisi mereka sepenuhnya berubah menjadi legenda kecil yang diceritakan di sekitar api unggun sepanjang Padang Yeshou—sebagian mengagumi kemurahan hatinya, sebagian mencemooh kelemahannya, tapi semua orang, tanpa terkecuali, mulai mengingat namanya.
Termasuk Heilong, kepala Suku Naga Hitam, penguasa tak terbantahkan padang rumput utara selama lebih dari dua puluh tahun.
"Mereka bilang kau memilih tidak menghabisi lawanmu," Heilong berkata, suaranya berat seperti guntur jauh, saat mereka pertama kali bertemu di Trial of Fangs—turnamen lima tahunan yang menentukan tribe mana yang memimpin migrasi musim dingin seluruh padang rumput utara. "Aku ingin tahu apakah itu kebijaksanaan, atau hanya keberuntungan yang menyamar jadi kebijaksanaan."
"Cara terbaik untuk mengetahuinya," Fang Kuang menyeringai, "adalah bertarung dengan orangnya langsung."
Heilong tertawa, suara yang menggetarkan tanah di bawah kaki mereka. "Aku menyukaimu, bocah. Sayang sekali aku harus menghancurkanmu di final."
---
Trial of Fangs berlangsung selama tujuh hari, dengan pertarungan eliminasi antar perwakilan setiap suku, disaksikan oleh ribuan orang dari dua belas suku besar Padang Yeshou.
Fang Kuang melewati lima lawan pertamanya dengan kombinasi kekuatan mentah dan teknik Body Dao yang terus ia sempurnakan sejak duel melawan Ao Heng—kulitnya kini bisa mengeras di lebih banyak titik sekaligus, ototnya belajar menyimpan dan melepaskan tenaga dalam ledakan yang lebih terkontrol.
Ia menikmati setiap pertarungan. Tapi tidak satu pun dari lima lawan itu benar-benar membuat darahnya mendidih dengan cara yang ia rindukan sejak malam setelah duel dengan Ao Heng.
Heilong berbeda.
---
Final berlangsung di tengah lapangan luas yang sengaja dibiarkan kosong, dikelilingi ribuan penonton dalam lingkaran yang begitu besar hingga mereka di baris terjauh hanya bisa melihat siluet dua tubuh yang akan segera bertarung mati-matian.
Heilong berdiri dua kepala lebih tinggi daripada Fang Kuang, ototnya bukan hanya besar tapi padat dengan cara yang menunjukkan dua puluh tahun lebih pertarungan nyata, bukan sekadar latihan. Tubuhnya dipenuhi bekas luka yang masing-masing menceritakan pertarungan yang seharusnya membunuhnya, tapi tidak.
"Aku akan memberimu satu peringatan, bocah," Heilong berkata, memutar bahunya. "Aku tidak akan menahan diri sepertimu terhadap Ao Heng. Kalau kau kalah hari ini, kau mungkin tidak akan bangun lagi."
"Bagus," Fang Kuang menyeringai lebar, tubuhnya sudah mulai memanas dengan antisipasi yang jarang ia rasakan seintens ini. "Aku bosan bertarung dengan orang yang takut benar-benar mencoba membunuhku."
---
Serangan pertama Heilong datang seperti gunung yang runtuh—satu hantaman lurus ke dada yang, jika mengenai telak, kemungkinan besar akan meremukkan tulang rusuk Fang Kuang sekaligus.
Fang Kuang tidak mencoba menahannya secara langsung. Ia sudah belajar dari duel sebelumnya bahwa kadang, kekuatan lawan yang jauh lebih besar berarti menghindar lebih penting daripada bertahan.
Ia memutar tubuhnya, membiarkan pukulan itu lewat sejengkal dari dadanya, sambil membalas dengan pukulan ke sisi tubuh Heilong—pukulan yang, pada lawan mana pun sebelumnya, sudah cukup untuk mematahkan tulang.
Heilong hanya bergeming, menyeringai. "Cukup keras."
Pukulan balasannya datang lebih cepat daripada yang bisa diantisipasi Fang Kuang sepenuhnya, menghantam bahunya dengan kekuatan yang membuatnya terlempar lima meter, membanting tanah dengan bunyi yang membuat penonton di baris depan menahan napas.
---
Fang Kuang bangun lebih cepat daripada yang diperkirakan siapa pun, darah menetes dari sudut bibirnya, tapi seringainya justru semakin lebar.
"Itu," ia berkata, meludahkan darah ke tanah, "baru terasa seperti pertarungan sungguhan."
Ia menyerang lagi, kali ini dengan pola yang berbeda—bukan mengandalkan satu pukulan besar, tapi rentetan serangan cepat yang menargetkan titik-titik yang lebih kecil: sendi, urat, bagian tubuh yang bahkan tubuh sekeras Heilong butuh waktu untuk mengeraskan pertahanannya.
Untuk pertama kalinya, Heilong mundur setengah langkah, terkejut oleh perubahan taktik yang tidak ia duga dari lawan yang tadinya hanya mengandalkan kekuatan mentah.
"Kau belajar dengan cepat," Heilong menggeram, kini dengan nada yang lebih menghormati daripada meremehkan.
"Aku hanya tidak suka bertarung dengan satu cara," Fang Kuang menjawab, terus menyerang, menyesuaikan pola setiap kali Heilong mulai beradaptasi, mencari celah yang terus bergeser di antara pertahanan lawan yang jauh lebih berpengalaman.
---
Pertarungan berlangsung lebih lama daripada yang pernah disaksikan siapa pun di Trial of Fangs sebelumnya—hampir sepuluh menit penuh, waktu yang di dunia body cultivation tingkat tinggi setara dengan ratusan pertukaran serangan mematikan.
Fang Kuang berhasil mendaratkan lebih banyak pukulan daripada yang diperkirakan siapa pun mungkin terhadap seorang legenda seperti Heilong. Tapi pada akhirnya, perbedaan dua puluh tahun pengalaman dan puluhan tingkat realm tidak bisa sepenuhnya diatasi hanya dengan keberanian dan kecerdasan taktis.
Pukulan terakhir Heilong—yang sengaja ia kurangi kekuatannya, meski Fang Kuang tidak menyadarinya sampai jauh kemudian—menghantam titik di bawah rusuknya, membuat seluruh tubuhnya mati rasa sesaat, cukup untuk membuatnya jatuh berlutut, tidak sanggup bangkit lagi.
Heilong berdiri di atasnya, tinju terangkat untuk pukulan penentu.
---
Seluruh lapangan menahan napas.
Menurut aturan Trial of Fangs, seperti hukum padang rumput lainnya, pemenang berhak menentukan nasib yang kalah sepenuhnya—termasuk mengakhiri hidupnya jika ia menginginkannya, meski jarang dilakukan kecuali terhadap musuh yang benar-benar dibenci.
Fang Kuang menatap ke atas, ke arah tinju yang siap turun, dan alih-alih rasa takut, yang ia rasakan adalah kepuasan murni—untuk pertama kalinya sejak duel dengan Ao Heng, ia benar-benar merasakan darahnya mendidih dengan cara yang ia rindukan, meski kali ini dari posisi yang kalah.
"Lakukan," ia berkata, menyeringai meski wajahnya penuh darah dan memar. "Kalau kau memang seyakin itu."
Heilong menahan tinjunya di udara selama tiga detik yang terasa sangat panjang.
Lalu ia menurunkannya, tidak memukul, hanya membantu Fang Kuang berdiri dengan tangan yang sama.
---
"Kudengar kau membiarkan Ao Heng hidup, dengan tanah untuk sukunya pindah," Heilong berkata, suaranya kembali seberat guntur, tapi kali ini dengan nada yang lebih hangat. "Aku ingin melihat apakah kau akan melakukan hal yang sama jika posisinya dibalik—apakah kau akan menghargai lawanmu, atau hanya bermurah hati saat kau berada di posisi yang menang."
"Kau menahan diri?" Fang Kuang bertanya, masih terengah, ekspresinya campuran kekaguman dan sedikit rasa tidak percaya.
"Aku tidak menahan diri sepenuhnya," Heilong mengoreksi. "Aku benar-benar berusaha mengalahkanmu, dan aku berhasil. Tapi aku memutuskan sejak awal pertarungan ini, kalaupun aku menang, aku tidak akan mengambil nyawamu—tidak karena kau lemah, tapi justru karena kau menunjukkan sesuatu yang jarang kulihat dari petarung seusiamu: kau bertarung untuk sebuah pertarungan itu sendiri, bukan hanya untuk menang."
Ia membantu Fang Kuang duduk, memanggil tabib suku untuk memeriksa lukanya.
"Kalah dari seseorang sepertiku," Heilong melanjutkan, "bukanlah aib bagi generasi muda. Ini kehormatan yang seharusnya kau bawa dengan bangga."
---
Fang Kuang duduk di tenda perawatan malam itu, tulang rusuknya diperban ketat, memar di sekujur tubuhnya masih berdenyut, tapi ada senyum yang tidak mau hilang dari wajahnya sejak pertarungan berakhir.
Ini pertama kalinya seumur hidupnya ia kalah dalam pertarungan yang benar-benar berarti.
Dan anehnya, ia tidak merasa hancur karenanya.
Ia merasa hidup dengan cara yang bahkan kemenangannya melawan Ao Heng tidak pernah benar-benar berikan padanya.
Jika seseorang memiliki kekuatan untuk mengambil sesuatu, ia teringat pertanyaannya sendiri berbulan-bulan lalu, apa yang memberinya kewajiban untuk tidak mengambilnya?
Malam ini, ia mendapat jawaban baru—bukan dari dirinya sendiri kali ini, tapi dari seseorang yang jauh lebih kuat darinya, yang memilih untuk tidak mengambil nyawanya meski berhak sepenuhnya melakukannya.
Kekuatan, ia mulai memahami, bukan hanya soal apa yang bisa kau ambil.
Tapi juga soal apa yang kau pilih untuk diberikan, ketika tidak ada seorang pun yang bisa memaksamu melakukannya.
---
"Kau masih terjaga?" Heilong muncul di ambang tenda, membawa dua mangkuk arak keras, duduk di sampingnya tanpa diundang.
"Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan untuk tidur," Fang Kuang menjawab, menerima mangkuknya.
"Kau punya bakat langka," Heilong berkata, menyesap araknya. "Bukan hanya kekuatan tubuh. Kemauan untuk terus mencari lawan yang lebih kuat, bukan berpuas diri dengan yang sudah bisa kau kalahkan. Aku sudah bertemu banyak petarung berbakat sepanjang hidupku. Sedikit yang punya rasa lapar semengerikan dirimu."
"Aku sudah mencarinya seumur hidupku," Fang Kuang mengakui, lebih jujur daripada yang biasa ia tunjukkan kepada orang asing. "Seseorang, atau sesuatu, yang benar-benar bisa membuatku merasa kecil untuk sekali saja. Kau yang paling dekat sejauh ini."
Heilong tertawa, suara berat yang menggema di seluruh perkemahan. "Kalau begitu, tumbuhlah lebih kuat, bocah. Aku akan menunggu pertarungan berikutnya. Dan pertarungan setelahnya. Sampai suatu hari, mungkin kau benar-benar akan menemukan sesuatu yang jauh melampaui kita berdua."
---
Setelah Heilong pergi, Fang Kuang berbaring di alas tidurnya, rasa sakit di sekujur tubuhnya bercampur dengan kepuasan yang jarang ia rasakan seutuh ini.
Ia teringat sensasi aneh berbulan-bulan lalu—darah mendidih tanpa pertarungan, tawa jauh yang seolah menikmati sesuatu yang ia lakukan dari kejauhan yang tidak bisa ia jangkau.
Malam ini, sensasi itu tidak datang.
Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya, ia merasa yakin bahwa ke mana pun atau siapa pun sumber sensasi itu, mereka pasti sedang menyaksikan pertarungan hari ini dengan kepuasan yang sama seperti dirinya sendiri.
"Kau lihat itu?" ia bergumam ke langit-langit tenda, menyeringai lebar meski sendirian. "Itu baru permulaan. Tunggu sampai aku cukup kuat untuk mengalahkan Heilong. Setelah itu, giliranmu, entah siapa pun kau."
Ia tertidur dengan seringai itu masih di wajahnya, tidak menyadari bahwa tantangannya, seperti biasa, telah didengar jauh lebih jelas daripada yang ia kira.