Indonesia
NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - WAJAH ASLI DI BALIK TOPENG KAKEK DAN RAHASIA KITAB 9 YIN

Kota Terlarang, Beijing. Balai Naga. Tengah malam.

Lampu naga 1.000 buah menyala, tapi Balai Naga terasa lebih dingin dari Gua Taiji Wudang.

Kaisar Zhuo Tian, 60 tahun, jubah naga emasnya berantakan, melemparkan guci anggur ke lantai. Guci giok pecah, anggur merah mengalir seperti darah di lantai marmer naga.

Di bawah singgasana, berlutut dua orang pembawa pesan dengan baju berlumuran darah. Bukan darah mereka, tapi darah merpati pos yang mereka bawa dari Paviliun Angin Hitam dan dari Hutan Bambu Hitam.

"Lapor... lapor Yang Mulia!" suara pembawa pesan gemetar. "Qin Wuyu... Qin Wuyu dari Paviliun Awan Hitam... kalah... kalah dari Lu Changan, salah satu dari 7 Pendekar Jiangnan di Jembatan Putus! Awan Hitamnya robek oleh cahaya bintang!"

"Dan... dan... Jiang Yu... Pendekar Langit peringkat 4... berduel 1 hari 1 malam dengan biksu kecil Shaolin Hui Chen di Hutan Bambu Hitam... hasilnya... SERI! Hui Chen tidak mati! Jiang Yu kembali dengan pedang retak!"

PRAKK!

Kaisar Zhuo Tian menghancurkan sandaran naga singgasananya dengan pukulan telapak tangan. Kayu naga berusia 100 tahun hancur menjadi serpihan.

"KALAH?! SERI?!"

Matanya merah seperti binatang buas.

"Qin Wuyu itu peringkat 3 Paviliun Awan Hitam! Paviliun nomor 1 di antara 36 Aliran Hitam! Aku memberinya 5.000 tael emas muka untuk membunuh satu Pendekar Jiangnan manja! Dan dia KALAH dari penjual tahu dengan 7 pedang kayu?!"

"Jiang Yu! Anjing yang kubesarkan sejak umur 10 tahun! Kuberi dia makan racun dan emas! Kuberi dia Pedang Bambu Hitam dari gudang senjata Istana! Dan dia SERI dengan biksu 18 tahun yang baru turun gunung 3 hari! BIKsu yang masih memegang mangkuk!"

Kaisar terbatuk keras, darah hitam keluar lagi dari mulutnya. Racun yang ia minum sendiri setiap hari agar kebal racun kini mulai memakan tubuhnya sendiri.

Kasim tua di sampingnya berbisik, "Yang Mulia, tenang..."

"Tenang?! Bagaimana bisa tenang?! 50.000 tael emas untuk kepala Mu Chen! 50.000 tael emas untuk kepala Zhuo Fan! Dan yang kukirim... kalah dan seri!"

Kaisar menunjuk ke arah bayangan di pilar naga, di mana 3 sosok dengan jubah hitam tanpa wajah berdiri — Bayangan Hitam, pasukan pembunuh pribadi Kaisar.

"Perintahkan! Perintahkan sekarang! Bunuh Qin Wuyu! Bunuh Jiang Yu! Mereka berdua sudah mempermalukan Istana! Bunuh mereka! Gantung kepala mereka di Gerbang Tiananmen! Biar 36 Aliran Hitam tahu, jika gagal, mati!"

Baru saja perintah itu keluar dari mulut Kaisar, pintu Balai Naga yang beratnya 1.000 kati dan dijaga 100 penjaga di luar... terbuka sendiri.

KREEEKK...

Angin malam Beijing yang dingin masuk. Tapi angin itu tidak biasa. Angin itu membawa... awan hitam tipis yang masuk ke dalam Balai Naga, padahal di luar tidak ada awan. Langit Beijing malam ini cerah dengan bulan.

100 penjaga di luar tidak bersuara. Tidak ada teriakan. Seolah-olah mereka tertidur.

Dari dalam awan hitam tipis itu, muncul satu sosok.

Jubah hitam bordir awan perak, tapi jubahnya lebih hitam dari malam, lebih luas, seolah-olah jubah itu terbuat dari langit malam itu sendiri. Wajahnya... memakai topeng. Topeng kakek tua dengan jenggot putih panjang sampai dada, alis putih panjang, keriput, mata cekung. Topeng yang dipakai oleh ketua Paviliun Awan Hitam selama 20 tahun.

Hei Yun Lao Ren — Kakek Awan Hitam. Ketua Paviliun Awan Hitam, peringkat 1 dari 36 Aliran Hitam.

Semua orang di Balai Naga berlutut, kecuali Kaisar. Bahkan 3 Bayangan Hitam berlutut, karena mereka tahu, orang ini adalah legenda yang bahkan 8 Pendekar Langit pun takut.

Tapi Hei Yun Lao Ren tidak berlutut pada Kaisar. Ia bahkan tidak membungkuk.

Ia berjalan pelan, setiap langkahnya, lantai marmer naga di bawah kakinya menjadi hitam selama 3 detik, lalu kembali normal. Ia berhenti di tengah Balai Naga, menatap Kaisar Zhuo Tian yang duduk di singgasana.

Suaranya yang keluar dari balik topeng kakek tua itu serak, tua, seperti angin yang keluar dari gua.

"Zhuo Tian... kau mau membunuh orangku? Qin Wuyu?"

Kaisar Zhuo Tian yang tadinya murka, kini sedikit takut, tapi ia masih Kaisar. Ia memaksakan diri untuk terlihat berwibawa.

"Hei Yun Lao Ren! Kau... kau berani masuk ke Balai Naga tanpa izin?! Qin Wuyu gagal menjalankan perintahku! Dia harus mati! Itu perjanjian kita! 36 Aliran Hitam tunduk pada Istana!"

Topeng kakek tua itu diam sebentar, lalu... tertawa.

Tawanya bukan tawa kakek tua. Tawanya ringan, seperti pria muda.

"Perjanjian? Tunduk?"

Hei Yun Lao Ren mengangkat tangannya yang keriput — tapi saat ia mengangkat tangan, keriput di tangannya... retak.

KRETEK!

Topeng kakek tua di wajahnya retak. Jenggot putih panjangnya jatuh ke lantai, ternyata hanya jenggot palsu yang ditempel. Alis putihnya jatuh.

Semua orang di Balai Naga membelalak.

Di balik topeng kakek tua yang retak itu, bukan wajah kakek 90 tahun.

Tapi wajah seorang pria berusia sekitar 31 tahun.

Wajah tampan, sangat tampan, tapi pucat seperti bulan. Rambut hitam panjang terurai sampai pinggang, bukan putih. Mata hitam pekat tanpa putih, seperti Qin Wuyu, tapi lebih dalam, seperti jurang tanpa dasar. Di dahinya, ada tanda bulan sabit hitam kecil. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, seperti es.

Bahkan jubahnya yang tadi terlihat tua dan robek, kini terlihat baru, berkibar tanpa angin.

Suasana Balai Naga menjadi sunyi. Bahkan suara napas tidak ada.

"Perkenalkan lagi," kata pria 31 tahun itu, suaranya kini jernih, muda, dingin, tidak ada serak-serak kakek tua sama sekali. "Namaku bukan Hei Yun Lao Ren. Nama itu hanya topeng yang kupakai selama 20 tahun agar kalian, orang-orang Istana yang bodoh, mengira aku kakek tua yang akan mati. Nama asliku... Qin Ye."

Kaisar Zhuo Tian mundur selangkah di singgasananya.

"Qin... Qin Ye..."

"Ya. Qin Ye. Ketua Paviliun Awan Hitam yang sebenarnya. Umur 31 tahun. Dan seperti yang kau lihat, wajah tua dan penampilan kakek itu hanya topeng. Bahkan peringkat 2, Yun Zhong Xian, dan peringkat 3, Qin Wuyu, dan 33 anggota lainnya... tidak tahu wujud asliku dan kungfuku yang sebenarnya. Mereka hanya tahu aku adalah Kakek Awan Hitam."

Qin Ye tersenyum. Senyum yang sangat tipis, tapi membuat 3 Bayangan Hitam yang berlutut gemetar.

"Karena jika mereka tahu... mereka akan tahu bahwa Paviliun Awan Hitam tidak pernah menjadi Aliran Hitam."

Tiba-tiba, dari balik pilar naga, keluar satu sosok lagi.

Jubah biru tua, pedang bambu hitam retak di pinggang, wajah sarjana pucat. Jiang Yu, peringkat 4 dari 8 Pendekar Langit, yang seharusnya sudah diperintahkan untuk dibunuh.

Kaisar menunjuknya. "Jiang Yu! Kau... kau masih berani kembali?! Bunuh dia! Bunuh Kakek Awan Hitam ini!"

Jiang Yu tidak bergerak. Ia hanya berdiri di samping, tapi tidak di samping Kaisar. Ia berdiri agak di belakang Qin Ye.

Tapi sebelum Qin Ye menjawab, dari atap Balai Naga, melayang turun satu sosok lagi.

Jubah emas dengan elang hitam bordir besar, wajah ditutup topeng elang emas, membawa busur besar di punggung. Auranya tajam seperti elang yang melihat tikus dari langit.

Tian Ying — Elang Langit, peringkat 3 dari 8 Pendekar Langit Istana! Salah satu dari 3 terkuat di bawah Naga Langit dan Harimau Langit!

Kaisar melihat Tian Ying datang, tertawa lega.

"Bagus! Tian Ying! Kau datang tepat waktu! Bunuh pengkhianat ini! Bunuh Hei Yun Lao Ren! Bunuh Jiang Yu! Aku angkat kau menjadi peringkat 2!"

Tian Ying, peringkat 3 dari 8 Pendekar Langit, tidak berlutut. Ia menatap Qin Ye dengan mata elangnya.

"Jadi kau yang bernama Hei Yun Lao Ren..."

Qin Ye tersenyum, menatap Tian Ying, peringkat 3 dari 8 Pendekar Langit.

"Kau kira peringkat 3 bisa menahanku?"

Tian Ying marah. Ia adalah Elang Langit. Tidak ada yang pernah meremehkannya seperti itu. Ia mencabut busur emasnya, menarik tali busur tanpa anak panah. *Qi*-nya membentuk anak panah emas yang berkilauan, mengarah ke jantung Qin Ye.

"Anak panah Elang Langit bisa menembus 10 lapis zirah dari jarak 1 li! Mati!"

WUSSS!

Anak panah emas itu melesat, kecepatannya bahkan tidak bisa dilihat mata biasa.

Tapi Qin Ye tidak menghindar.

Ia hanya mengangkat satu jari. Jari telunjuk kanannya. Kukunya panjang dan hitam.

Dari ujung kukunya, keluar... bukan awan hitam.

Tapi kabut putih dingin. Kabut yang sangat dingin, sampai lantai marmer naga di sekitarnya langsung membeku menjadi es. Kabut yang berputar-putar, membentuk tulisan-tulisan aneh yang mirip tulisan di Kitab Tai Chu, tapi terbalik.

Semua orang yang mengenal Wulin langsung mengenali kabut itu. Bahkan Kaisar Zhuo Tian yang bukan pendekar pun pernah mendengar legenda itu dari ayahnya.

"Kitab... Kitab..."

Qin Ye berbisik pelan, satu kalimat yang membuat Balai Naga yang tadinya panas karena amarah Kaisar menjadi sedingin Lembah Es Kunlun.

"Jiu Yin Bai Gu Zhua - Cakar Tulang Putih 9 Yin."

TRANG!

Anak panah emas Elang Langit yang bisa menembus 10 lapis zirah, hancur menjadi debu es saat menyentuh kabut putih dingin itu. Tidak ada ledakan. Hanya... membeku dan hancur.

Tian Ying, peringkat 3 dari 8 Pendekar Langit, mundur 3 langkah, darah keluar dari sudut mulutnya karena serangan balik Qi.

"Kitab 9 Yin?! Kau... kau adalah penerus Kitab 9 Yin?!"

Qin Ye menurunkan jarinya. Kabut putih dingin itu masuk kembali ke dalam kukunya.

"Benar. Banyak yang mengira aku adalah kakek tua yang menguasai Awan Hitam. Ternyata aku hanya pria berusia 31 tahun. Banyak yang mengira aku hanya bisa Awan Hitam. Ternyata..."

Ia membuka telapak tangannya. Di telapak tangannya, ada tato kecil bulan sabit hitam yang berputar.

"...aku adalah penerus Kitab 9 Yin. Kitab yang hilang 100 tahun lalu setelah Huang Chang mati. Kitab yang kalian buru. Kitab yang kalian pikir dimiliki oleh seorang gadis bayangan tanpa wujud."

Kaisar Zhuo Tian jatuh terduduk di singgasananya. Wajahnya pucat seperti mayat.

"9 Yin... 9 Yin... Jadi... jadi selama ini... Paviliun Awan Hitam..."

Qin Ye menatap Kaisar, matanya yang hitam pekat tanpa putih kini berkilau biru es karena Kitab 9 Yin.

"Paviliun Awan Hitam memang tidak tunduk pada Kekaisaran. Kami hanya menjalankan hal yang menguntungkan kami. 20 tahun lalu, Zhuo Fan menitipkan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku harus memakai topeng kakek tua selama 20 tahun. Sesuatu yang membuatku harus berpura-pura menjadi anjing Istana."

Ia berbalik, jubah malamnya berkibar.

"Dan gadis yang kalian buru... gadis pemilik Kitab 9 Yin yang bisa menghilang di dalam bayangan... yang kalian beri harga 30.000 tael emas..."

Qin Ye berhenti di pintu Balai Naga yang terbuka, awan hitam tipis sudah menunggunya di luar.

"...dia adalah anakku. Anak dari Ketua Paviliun Awan Hitam. Namanya Qin Ruyan, umur 16 tahun. Dan dia bukan pemilik Kitab 9 Yin. Dia... adalah Kitab 9 Yin itu sendiri. Karena 9 Yin bukan kitab yang ditulis di kertas. 9 Yin adalah... darah. Darah yang mengalir di tubuh keluarga Qin selama 100 tahun."

Ia melangkah keluar, hilang ditelan awan hitam. Suaranya yang terakhir menggema di Balai Naga, membuat Kaisar Zhuo Tian gemetar sampai terjatuh dari singgasananya.

"Zhuo Tian... jangan pernah lagi menyuruh orang untuk membunuh orangku... Qin Wuyu... karena lain kali... yang datang bukan awan hitamku... tapi Cakar Tulang Putih 9 Yin yang akan merobek jantungmu di singgasanamu sendiri."

"Dan katakan pada 8 Pendekar Langitmu... 7 tahun lagi, di Huashan, Paviliun Awan Hitam akan datang. Bukan sebagai musuh Wulin Putih. Bukan sebagai anjing Istana. Tapi sebagai... penagih janji. Janji yang dibuat Zhuo Fan 15 tahun lalu di Lembah Pedang."

Awan hitam itu hilang. 100 penjaga di luar Balai Naga terbangun, bingung kenapa mereka tertidur.

Tinggal Kaisar Zhuo Tian yang tergeletak di lantai, Tian Ying peringkat 3 yang berlutut dengan darah di mulutnya, dan Jiang Yu peringkat 4 yang masih berdiri di sudut, menatap ke arah awan hitam itu pergi dengan mata yang... lega.

Karena Jiang Yu tahu, malam ini, ia tidak jadi dibunuh. Karena Paviliun Awan Hitam yang sebenarnya sudah bergerak. Dan Kaisar tua itu... pasti tidak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi 15 tahun lalu di Lembah Pedang.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!