Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Clara langsung menahan tangan Akbar dengan cengkeraman yang cukup kuat dan panik untuk ukuran tenaga seorang wanita kota.
"Tunggu Mas Akbar kumohon! Tolong jangan pernah jadikan mangkuk suci ini sebagai tempat pakan burung Anda!" teriak Clara panik memohon dengan wajah memelas.
"Mangkok ini adalah peninggalan bersejarah yang sangat berharga di dunia, ini adalah karya seni murni dari Dinasti Ming kekaisaran China!"
Akbar langsung membelalakkan matanya menampilkan ekspresi kaget yang sangat meyakinkan layaknya orang desa awam pada umumnya.
"Dinasti Ming kata Mbak? Maksud Mbak mangkok kotor seharga seratus ribu ini barang antik sungguhan yang mahal?" tanya Akbar tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka.
"Sangat asli Mas Akbar, saya bahkan berani mempertaruhkan lisensi pekerjaan saya seumur hidup untuk menjamin keaslian mutlak benda ini."
Clara menelan ludahnya yang terasa kering dan menatap langsung ke dalam mata Akbar dengan sorot mata penuh determinasi seorang negosiator bisnis.
"Mas Akbar dengarkan saya baik-baik, saya selaku perwakilan perusahaan ingin membeli mangkok ini dari tangan Anda sekarang juga secara tunai."
"Saya akan menawar mangkok kotor ini dari Anda dengan harga fantastis yaitu lima ratus juta rupiah cash hari ini juga."
Lima ratus juta rupiah dalam bentuk tunai? Nominal itu sudah cukup untuk membuat seratus kepala keluarga di kampung Akbar pingsan berjamaah karena kaget.
Namun di telinga Akbar yang sudah memegang data harga aslinya dari sistem kacamata, tawaran lima ratus juta dari Clara ini terdengar seperti lelucon uang jajan anak SD.
Akbar perlahan tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman meremehkan yang membuat alis lentik Clara sedikit berkerut dilanda keheranan.
Pemuda kampung berjaket kusam di depannya ini sama sekali tidak terlihat kaget atau berteriak kegirangan mendengar angka lima ratus juta rupiah yang baru saja ditawarkannya.
"Lima ratus juta rupiah itu jumlah uang yang sangat banyak lho untuk ukuran orang seperti saya Mbak Clara," ucap Akbar memecah keheningan dengan nada suara luar biasa tenang.
"Tapi sayangnya Mbak keliru menilai satu hal penting, saya ini sama sekali tidak bodoh soal dunia barang antik internasional."
"Mbak Clara pasti tahu betul kan kalau Mangkok Porselen Putih Era Ming dengan kondisi utuh sempurna seperti ini harga pasar kolektornya tidak pernah kurang dari dua miliar rupiah."
Jleb!
Kalimat telak bernada santai dari mulut Akbar itu langsung membuat tubuh ramping Clara menegang kaku seperti disambar petir di siang bolong.
Mata indah di balik kacamatanya itu terbelalak sempurna memancarkan rasa tidak percaya menatap pemuda berpakaian miskin di hadapannya.
Bagaimana mungkin seorang pemuda desa yang penampilannya lebih mirip kuli panggul pasar tahu persis nilai jual rahasia yang hanya beredar di kalangan elit kolektor internasional?
"A... Anda tahu persis nilai aslinya?" tanya Clara terbata-bata karena merasa sangat malu niat busuknya untuk menipu orang awam telah terbongkar mentah-mentah.
"Saya bukan cuma tahu Mbak Clara, tapi saya sangat paham harganya," jawab Akbar tegas sambil menarik paksa mangkuk itu kembali ke dalam pelukannya.
"Niat awal Mbak Clara menawar lima ratus juta tadi sebenarnya sudah cukup pintar untuk menipu keluguan orang awam yang miskin."
"Tapi karena Mbak berani mencoba membodohiku dengan harga semurah itu, transaksi langsung ini resmi saya batalkan detik ini juga."
Akbar langsung memasukkan kembali harta karunnya ke dalam kresek hitam dan memutar tubuhnya bersiap untuk berjalan pergi meninggalkan gadis itu.
Clara seketika dirundung rasa sangat bersalah sekaligus panik setengah mati, karena melepaskan mangkok langka itu sama saja dengan menghancurkan jalan promosi karirnya tahun ini.
"Mas Akbar tolong tunggu sebentar, saya sungguh minta maaf dari lubuk hati terdalam atas kelancangan tawaran saya tadi!" cegah Clara merendahkan suaranya memelas memegang ujung jaket Akbar.
"Tolong beri saya kesempatan negosiasi kedua untuk menebus kesalahan kebodohan saya barusan."
Akbar perlahan menghentikan langkah kakinya dan menoleh sedikit ke arah Clara melalui lirikan ekor matanya yang tajam.
"Balai lelang Kharisma tempat Mbak bekerja itu besok akan mengadakan acara lelang tertutup kan di hotel bintang lima pusat kota?" tebak Akbar mengandalkan informasi yang tidak sengaja dia dengar di warung pinggir jalan tadi.
"Be... benar Mas, Anda tahu dari mana? Besok malam jam delapan kami memang ada acara lelang khusus kolektor VIP," jawab Clara mengangguk cepat mengiyakan tanpa berani berbohong lagi.
"Bagus kalau begitu, masukkan namaku sebagai salah satu penjual resmi di acara lelang VIP tersebut tanpa syarat apa pun."
Akbar membalik badannya menghadap Clara sepenuhnya dengan postur tubuh yang kini memancarkan aura sangat mendominasi layaknya seorang bos besar.
"Bawa mangkok kelahiranku ini ke meja lelang kalian besok malam, saya ingin harganya bersaing secara adil di antara para miliarder bodoh kota itu."
"Dan tentu saja sesuai aturan umum, potongan komisi sepuluh persen dari hasil penjualan akan jadi milik perusahaanmu secara sah."
Clara langsung menghela nafas sangat lega dan matanya kembali berbinar terang benderang mendengar tawaran keputusan bisnis yang sangat saling menguntungkan itu.
Meskipun dia gagal membelinya dengan harga murah, tapi membawa barang kelas kakap legendaris ini ke balai lelangnya dipastikan akan mengangkat nama besarnya di mata para petinggi perusahaan.
"Itu kesepakatan yang sangat adil dan luar biasa cerdas Mas Akbar, saya setuju sepenuhnya!" ucap Clara antusias menjabat tangan Akbar erat.
"Ini kartu nama emas saya, di bagian belakangnya ada alamat kantor cabang utama saya di kota ini untuk menitipkan mangkok tersebut sekarang ke brankas asuransi kami."
Akbar mengambil kartu nama elegan berbahan keras itu dan membacanya sekilas dengan senyum miring.
Tertulis jelas dengan tinta timbul: Clara Wijaya - Penilai Utama Barang Antik Balai Lelang Kharisma.
"Oke Clara, mari kita pergi ke kantormu sekarang untuk menandatangani surat penitipan barang resminya," ucap Akbar santai memanggil nama wanita elit itu tanpa embel-embel Mbak lagi.
Clara sama sekali tidak merasa tersinggung atau direndahkan, dia malah merasa ada karisma kepemimpinan misterius yang sangat kuat menguar dari pemuda ini.
Di balik jaket usangnya yang murahan, Akbar terasa seperti seekor naga yang sedang menyembunyikan taring emasnya dari dunia.
Mereka berdua pun berjalan beriringan sejajar keluar dari lorong pasar loak kumuh tersebut menuju area parkir kendaraan.
Para pedagang yang melihat Clara si penilai elit nan sombong kini berjalan menunduk hormat di samping Akbar hanya bisa menganga kebingungan mematung di tempat.
Pemuda kampung yang tadi pagi mereka remehkan dan mereka usir kini terlihat seratus persen seperti bos mafia yang sedang dikawal oleh sekretaris cantiknya.
Hari pertama Akbar menggunakan Kacamata Penilai Harta Karun telah membawanya masuk dengan elegan ke lingkaran sosial kelas atas kota.
Acara lelang VIP besok malam dipastikan akan menjadi panggung besar yang sangat seru bagi Akbar untuk menunjukkan taring kekuasaannya sebagai dewa hoki sejati.