Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kontrakan Elite
Mata Aynara membulat saat mengenali gadis yang berdiri di hadapannya. "Riva?"
Gadis itu langsung tersenyum lebar. "Nara!"
Aynara spontan menghampirinya dan memeluk Riva. Untuk sesaat mereka saling berpelukan melepas rindu.
Aynara melepaskan pelukannya. "Ke mana aja? Sejak lulus S1 kamu ngilang gitu aja."
Riva mengangkat bahu dengan santai. "Aku cari kerja, Ra. Mau lanjut S2 gak ada biaya. Gak kayak kamu yang dapat beasiswa."
Ia terkekeh kecil. "Otakku yang standar ini udah bersyukur bisa lulus S1."
Aynara menggeleng geli. "Bukan soal beasiswa. Tapi kamu bener-bener ngilang. Nomormu gak aktif, WhatsApp juga gak bisa dihubungi. Aku sampai mikir kamu pergi ke luar negeri."
Riva nyengir lebar. "HP-ku nyemplung ke got."
Aynara mengernyitkan dahi. "Serius?"
"Serius. Ya sudah, aku ikhlasin." Riva mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Mau nyari juga percuma. Gotnya bau, belum tentu HP-nya masih bagus. Layarnya aja sebelum nyemplung udah retak."
Aynara menahan tawa. "Terus kamu gak punya nomor siapa pun?"
"Ya enggak." Riva menjawab enteng. "Aku bahkan gak hafal nomor orang lain. Nomorku sendiri aja kadang harus buka kontak."
Aynara akhirnya tertawa kecil. "Pantesan aku gak pernah bisa menghubungimu."
"Makanya." Riva menepuk bahu Aynara. "Jangan terlalu berharap sama teknologi kalau pemiliknya kayak aku."
Aynara menggeleng sambil tersenyum. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tertawa selepas ini. "Jadi sekarang kamu udah kerja?"
"Sudah dong." Riva mengangkat dagunya dengan bangga. "Tapi cuma staf biasa. Lumayanlah daripada jadi pengacara."
Aynara langsung mengernyit. "Pengacara? Kamu 'kan jurusan bisnis."
Riva menatapnya beberapa detik sebelum terkekeh. "Ya ampun, Nara. Kamu ini pintar tapi kadang lemot."
Ia mendekatkan wajahnya. "Pengacara yang aku maksud itu pengangguran banyak acara."
Aynara terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa. "Ya Tuhan, garing banget."
"Yang penting aku bahagia," kata Riva penuh percaya diri.
Keduanya tertawa bersama. Setelah tawanya mereda, Riva kembali menatap Aynara. "Kamu sendiri lagi ngapain di sini?"
"Aku lagi cari kerja."
Senyum di wajah Riva langsung berubah menjadi antusias. "Kebetulan banget! Tempatku kerja baru buka lowongan."
Aynara menatapnya penuh minat. "Serius?"
"Serius. Kamu coba aja." Riva kemudian mengamati Aynara dari atas sampai bawah.
"Dengan ijazah S2 kamu, harusnya bisa dapat posisi yang lebih bagus. Apalagi kamu memang cerdas."
Aynara tersenyum kecil. "Kalau begitu aku harus coba."
"Harus!" Riva mengangguk mantap. "Kalau kamu diterima, nanti kita bisa kerja bareng."
"Semoga," sahut Aynara. Ia kemudian bertanya, "Kamu sekarang tinggal di mana?"
Riva terdiam sebentar. "Gak jauh dari sini."
Aynara melirik jam tangannya. Hari sudah mulai sore.
Riva mengangkat alis. "Mau ke kontrakanku?"
Aynara tampak ragu. "Boleh? Aku takut malah ngerepotin."
"Tentu aja." Riva menjawab terlalu cepat. Ia memasang wajah sok serius sebelum akhirnya tertawa sendiri. "Tentu aja gak maksudnya. Kalau sahabat sendiri sampai gak boleh numpang, berarti aku gagal jadi temen."
Aynara ikut tergelak. "Kalau begitu aku numpang malam ini."
"Gas!"
Tak lama kemudian, taksi online yang dipesan Aynara berhenti di depan mereka.
Riva melirik kendaraan itu, lalu menatap Aynara. "Kita naik taksi ke kontrakanku?"
"Iya," jawab Aynara.
Riva meringis. "Duh, mehong, Ra."
"Aku yang bayar." Aynara langsung meraih tangan Riva. "Yuk."
"Eh, jangan main tarik!" Riva terkekeh sambil mengikuti langkah Aynara menuju taksi. "Kalau begini caranya, aku mau berteman sama kamu sampai tua."
Aynara hanya tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pernikahannya yang kacau, langkahnya terasa sedikit lebih ringan. Ia belum tahu bagaimana hidupnya akan berjalan setelah ini.
Namun setidaknya, hari itu ia menemukan kembali seorang sahabat yang pernah membuat masa kuliahnya jauh lebih menyenangkan.
Hampir setengah jam kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gang.
Riva turun lebih dulu, kemudian memberi isyarat kepada Aynara untuk mengikutinya.
Mereka memasuki gang sempit yang di kedua sisinya dipenuhi rumah-rumah kontrakan. Beberapa motor terparkir di depan pintu, sementara suara televisi dan percakapan warga terdengar dari balik dinding rumah.
"Sorry, ya," ujar Riva sambil berjalan. "Kontrakanku kelas elite."
Aynara menoleh dengan alis terangkat. "Elite?"
"Ekonomi sulit," jelas Riva.
Aynara langsung terkekeh. "Ya ampun, ada-ada aja kamu."
Riva ikut tertawa. "Tapi memang elite, sih. Masih mending daripada mewah dekat bar, Ra."
Aynara menahan tawanya. "Mewah dekat bar?" Ia menatap Riva penuh curiga. "Apalagi itu?"
Riva mempercepat langkah. Namun baru beberapa meter, ia tiba-tiba berpindah posisi ke depan Aynara ketika sebuah motor muncul dari arah berlawanan. Setelah motor itu lewat, Riva kembali berjalan di sampingnya.
"Mewah dekat bar," ulangnya santai.
Aynara semakin penasaran. "Curiga aku."
Riva terkekeh. "Mewah dekat bar alias mepet sawah, dekat barongan."
Aynara mengerutkan dahi. "Barongan itu apa?"
Riva menyengir. "Di kampungku, rumpun bambu disebut barongan."
Aynara langsung tertawa. "Ya ampun!" Ia menggeleng sambil menahan perutnya yang terasa geli. "Definisi elite, mewah, sama bar versi kamu benar-benar di luar ekspektasi."
Riva ikut tertawa puas. "Yang penting terdengar berkelas."
"Di mulutmu, semua memang bisa terdengar berkelas," balas Aynara.
Mereka kembali tertawa hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kontrakan sederhana.
Riva menunjuk bangunan mungil itu dengan bangga. "Nah, ini istanaku."
"Sorry, ya. Kontrakanku minimalis." Riva membuka pintu sambil terkekeh.
Aynara melihat ke dalam. Ruangannya hanya berukuran sekitar tiga kali tiga meter, cukup untuk sebuah ranjang, lemari kecil, meja, dan beberapa barang pribadi.
"Minimal ukuran dan minimal bayaran per bulan maksudnya," lanjut Riva.
Aynara kembali tergelak. "Dasar kamu."
Mereka masuk dan duduk setelah Riva membereskan beberapa barang yang berserakan.
Setelah mengobrol beberapa saat, Aynara teringat pembicaraan mereka sebelumnya. "Ngomong-ngomong, lowongan di tempat kamu kerja mulai dibuka kapan?"
"Kebetulan baru hari ini." Riva langsung menoleh. "Jadi kamu harus cepat. Kalau bisa besok langsung kirim lamaran."
Aynara mengangguk. "Besok aku coba."
"Harus!" Riva menunjuk Aynara dengan penuh semangat. "Kerja di tempatku juga bisa cuci mata, Ra."
Aynara menatapnya curiga. "Cuci mata?"
"Manager-nya..." Riva sengaja menggantung kalimatnya, lalu mengangkat kedua alis. "Beuh! Ganteng banget."
Aynara spontan tertawa melihat ekspresi sahabatnya.
Riva menggeleng pelan. "Rasanya capek-capek kerja langsung hilang kalau lihat dia lewat."
"Dasar." Aynara menghela napas panjang. "Masih aja kayak dulu."
Riva meletakkan tangan di dada dengan gaya dramatis. "Ra, keindahan mana yang bisa kudustakan?"
Aynara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tingkah Riva ternyata sama sekali tidak berubah sejak masa kuliah.
"Ya sudah, terserah kamu." Aynara kemudian teringat sesuatu. "Oh, ya. Apa nama perusahaan tempat kamu kerja?"
Riva menjawab santai sambil merapikan rambutnya. "Aksara Group."
Aynara mengangguk kecil. "Aksara Group..."
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua kehilangan adalah akhir. Ada yang datang sebagai jalan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah kita miliki, sekaligus membuka pintu menuju kehidupan yang baru.”...
...“Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah langkah kecil akan membawa kita. Bisa jadi, keputusan yang kita ambil hari ini bukan sekadar mengubah hari esok, tetapi juga mempertemukan kita dengan seseorang yang akan mengubah seluruh hidup kita.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Perawat terus berlari, bayi dalam gendongannya menangis kencang.
Perawat gila ngga ada takut-takutnya lari menuju jalan raya.
Tahu yang pada mengejar semakin dekat, perawat nekat menyeberang jalan raya yang padat kendaraan.
Duuuuh gila benar si perawat melempar bayi ke arah jalan raya.
Dokter yang menunggu di depan lift, begitu pintu lift terbuka mendengar tangisan bayi dari dalam.
Perawat membawa salah satu bayi melompat keluar dari lift. Dia berlari tak peduli ada dokter yang bertanya dia mau ke mana.
Dokter mengambil bayi yang satunya terbaring di lantai.
Gila tuh perawat.
Ternyata itu awal dari hilangnya Arsa.
Wicaksono dan Gunadi saat itu baru mengunjungi Asti yang baru melahirkan.
Asti memaksa ingin melihat bayi kembar yang baru dilahirkan di ruang bayi, walaupun sudah dilarang oleh Gunadi.
Mereka bertiga menuju ruang bayi. Langkah Asti mendadak berhenti ketika melihat seorang perawat keluar dari ruang bayi sambil menggendong dua bayi.
Perawat membawa kedua bayi dengan langkah cepat dan masuk ke dalam lift, tidak peduli dengan teriakan mereka.
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?