Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 25: Jamuan Serigala
...MENGULANG LUKA...
...Bab 25: Jamuan Serigala...
Pukul tujuh malam tepat, Valencia melangkah masuk ke dalam rumah utama keluarga Edgar. Gaun malam berwarna krem membalut tubuhnya dengan anggun, tetapi tatapannya dingin tak berseri. Begitu memasuki ruang makan megah berisikan lampu kristal yang berkilau, atmosfer intimidatif langsung menyambutnya.
Di ujung meja makan yang panjang, Mami Sita duduk bersama seorang wanita muda berparas jelita dengan gaun merah merona, didampingi oleh kedua orang tuanya—Keluarga Baskoro, salah satu konglomerat terpandang di ibu kota. Kehadiran Valencia seketika menghentikan gelak tawa yang tadinya memenuhi ruangan.
Mami Sita melirik ke arah belakang Valencia. Begitu menyadari menantunya masuk sendirian tanpa ada sosok Julian di sisinya, raut wajah wanita tua itu langsung berubah keruh dan menajam.
"Di mana Julian?" tanya Mami Sita dengan nada menuntut yang menusuk.
Valencia tetap berdiri tegak, berusaha mempertahankan ketenangannya.
"Julian tidak bisa hadir malam ini, Mami. Beliau ada urusan bisnis yang tidak bisa ditinggalkan."
Brak!
Mami Sita meletakkan sendok peraknya ke atas piring dengan kasar.
"Urusan bisnis atau kamu yang melarangnya datang?!" sergah Mami Sita terang-terangan di hadapan para tamunya.
"Aku sudah menduganya. Kamu sengaja menahan putraku agar dia tidak bisa bertemu dengan Clarissa, kan? Berani-beraninya kamu bermain licik di belakangku!"
Clarissa—wanita berbaju merah itu—tersenyum tipis, menatap Valencia dengan pandangan meremehkan.
"Jika Mami tidak percaya pada saya, Mami bisa telepon Julian sekarang dan tanyakan langsung padanya," sahut Valencia tenang namun tegas, menantang tuduhan itu.
"Tutup mulutmu!" potong Mami Sita murka karena merasa wibawanya diuji.
"Jangan berpura-pura polos, Valencia! Julian itu anak yang berbakti. Dia tidak akan pernah menolak ajakanku kecuali ada istri tidak berguna seperti dirimu yang menghasutnya!"
Sementara itu, di lantai teratas gedung Edgar Group, sebuah rapat penting bersama jajaran direksi sedang berlangsung. Di tengah paparan presentasi, pintu ruang rapat terdorong pelan. Diego, sekretaris pribadinya, melangkah tergesa-gesa dan membungkuk untuk membisikkan sebuah kabar di telinga atasannya.
"Tuan, Nyonya Valencia menghadiri acara makan malam di rumah utama sendirian."
Brak!
Julian mendadak menghentikan jalannya rapat. Rahangnya mengeras pekat. Pria itu pikir Valencia tidak akan datang setelah dia menolak ajakan tersebut tadi sore. Dia tidak menyangka istrinya justru melangkah sendirian ke dalam jebakan ibunya.
"Rapat ditunda sampai besok," potong Julian dingin tanpa memedulikan tatapan bingung para direksi. Pria itu berdiri dari kursi kebesarannya, menyambar jasnya, lalu menatap Diego dengan tajam.
"Siapkan mobil. Kita ke rumah utama sekarang!"
Di ruang makan rumah utama, situasi semakin memanas. Valencia merasa benar-benar terpojok oleh brondongan tuduhan Mami Sita dan tatapan menilai dari keluarga Baskoro. Rasa lelah, kepahitan masa lalu, dan amarah yang tertahan akhirnya membuat benteng kesabaran Valencia retak.
"Saya tidak pernah melarang Julian untuk datang, Mami," ujar Valencia dengan suara datar, matanya menatap lurus sang ibu mertua tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jika Anda begitu menginginkan Clarissa menjadi bagian dari keluarga ini, dan jika Julian juga menginginkannya... saya dengan senang hati akan melepaskan Julian dan mengajukan perceraian."
Ruang makan seketika membeku. Mami Sita tertegun tak percaya dengan keberanian menantunya, sementara Clarissa menyunggingkan senyum kemenangan.
Namun, di ambang pintu ruang makan, langkah sosok pria bertubuh 190 sentimeter mendadak terhenti. Julian baru saja tiba dan mendengar seluruh kalimat yang keluar dari bibir istrinya.
Rahang Julian mengeras pekat, menyembunyikan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Bisa-bisanya istrinya sendiri dengan begitu mudah menyerahkan suaminya kepada wanita lain? Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian mendengar kata 'cerai' terucap dari bibir Valencia. Jujur, pria itu membencinya. Dia tidak akan pernah mau melepaskan Valencia.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN VALENCIA! DIA AKAN TETAP MENJADI SATU-SATUNYA NYONYA EDGAR!"
Suara bariton Julian pecah dan menggema hebat, memotong keheningan ruangan bagai dentuman petir. Semua orang di meja makan tersentak kaget.
Dengan tatapan mata elang yang menyala murka, Julian melangkah lebar menerobos ruangan, mengabaikan ibu dan para tamunya. Pria itu langsung menyambar pergelangan tangan Valencia dengan cengkeraman erat yang tak terbantahkan, lalu menyeret istrinya keluar dari rumah utama untuk dibawa pulang.