Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Kota mulai gelap membawa angin Muson timur yang membuat bumi yang sedang ia pijak terasa begitu dingin. Bagi Cindy Yuvia hawa dingin ini sudah menjadi bagian dari rutinitasnya akhir-akhir ini. Angin yang lama kelamaan meresap ke dalam tulang bersama rasa sepi yang mencekik lehernya. Seolah-olah dia harus mengingat terus kematian kedua orangtuanya dua tahun yang lalu. Meninggalkan rumah kuno peninggalan kolonial yang di beli oleh ayahnya saat dia masih kecil.
Setiap kali ia melangkah, ubin tegel berwarna abu-abu di bawah kakinya terasa begitu dingin hingga bisa menyerap seluruh rasa hangat di dalam tubuhnya.
“Malam ini kenapa dingin banget sih?“
Segera ia memakai sandal berbulu berbentuk beruang yang begitu pas di telapak kakinya. Melangkah dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam yang setiap malam menemaninya.
“Malam-malam begini kalau hujan malah makin dingin nih rumah,” ujarnya sambil merapatkan selimut wol yang ia rajut sendiri ketika waktu senggang.
BRAK!!!
“Astaga! Suara apa itu?“ Cindy langsung menoleh ke arah suara keras yang datangnya dari arah studio nya. Matanya terlihat melotot sekejap namun segera menyipit menatap ke arah ruangan di belakangnya, di mana pintu studio yang biasa ia gunakan live atau membuat konten.
Ia segera menaruh cangkir kopinya di meja dekat jendela tinggi yang menghadap ke rumah kuno lainnya di sebelah kiri. Lalu langkahnya berbalik menuju ruangan studio nya yang pintunya terbuka.
7 langkah untuk ia bisa sampai di ambang pintu dan saat matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu ia di buat keheranan, “perasaan suara nya dari arah sini deh, tapi kok barang-barang nya masih di tempat?“
Perlahan ia masuk sambil makin merapatkan selimut wol di pundaknya. Mendekati meja di mana ia jadikan tempat konten. “Masih tertata rapi,” pikirnya sambil jari-jarinya mengelus permukaan meja kayu itu yang terasa dingin.
Cindy terdiam sejenak lantas mengeluarkan nafas panjang. “Hmmm, mungkin tikus,” ujarnya mengabaikan meskipun ia yakin bahwa suara itu memang berasal dari sini dan ia yakin bahwa ada sosok lain yang hadir menemaninya.
Tak perlu takut, justru ia terlihat biasa-biasa saja. Berjalan kembali ke meja tempat di mana kopinya berada. Lalu duduk manis di sana seorang diri sambil menatap ke halaman samping rumahnya. Di mana di sana ada tembok sebatas pinggul di mana sebelahnya ada rumah kuno lain yang terlihat tak terawat dengan rumput ilalang begitu tinggi-tinggi menutupi kemegahan rumah kuno itu.
Tes….tes….tes
Suara tetesan air yang perlahan-lahan makin padat membuat Cindy menghembuskan nafas panjang. “Padahal musim kemarau, tapi kenapa hujan?“ tanya nya bermonolog pada dirinya sendiri.
Seharusnya ia tidak boleh mengeluh namun rasa sepi yang terlalu mencekik membuat pikirannya buntu dan hanya bisa menatap keluar jendela.
Dalam lamunannya samar-samar ia bisa mendengar suara lain selain suara hujan. “Siapa di sana?“ Cindy menoleh ke arah pintu depan di mana hanya terhalang sofa ruang keluarga yang dan sekat miring tembok, dengan tembok ruang tamu membentuk segitiga lima sisi dengan dinding menjulang tinggi dan pintu jati yang tinggi dan berat.
Tok..tok..tok
Suara ketukan samar itu kembali terdengar. Dengan penasaran ia berjalan melewati sofa-sofa di ruang keluarga lalu menuju ruang tamu dan berhenti di belakang pintu jati berukuran besar itu.
“Siapa di luar?“ lagi-lagi ia bertanya memastikan bahwa di luar adalah manusia bukan sosok menyeramkan yang selama ini kadang mengganggu nya.
“Permisi! Apa saya boleh menumpang berteduh sejenak?“
Suara dingin, serak dan begitu dalam mengalun ke indera pendengaran nya. Suara pria yang tidak ia kenali.
Kakinya melangkah ke arah jendela yang terpasang di sebelah pintu jati itu, menyatu bersama kerangka pintu jati besar itu. Menyibakkan sedikit kelambu dan mengintip sedikit ke arah luar.
Benar, ternyata ada seorang pria berbadan besar dan tinggi sedang meringkuk kedinginan, berdiri menunggu pintu terbuka.
“Tolong….saya hanya ingin menumpang sebentar, saya bukan orang jahat, saya hanya ingin mampir mengecek rumah saya di area sini namun karena rumah saya terlalu rusak jadi saya tak punya tujuan lagi. Saya mohon bantu saya….“ suara beratnya terdengar memohon dan gemetar membuat rasa iba Cindy tergerak untuk membantu.
Cindy berjalan ke arah ganggang pintu, memegang kunci pintu dan memutarnya hingga kunci terbuka sempurna.
Cindy membuka hanya sejengkal memastikan kembali bahwa pria itu bukan orang jahat. “Kenapa gak ke rumah lain saja?“ tanya nya to the point. Ia hanya memperlihatkan matanya saja yang berbentuk rubah dengan pupil berwarna coklat terang.
Pria itu sedikit tersenyum tipis, “maafkan saya jika saya membuat anda ketakutan, sekali lagi saya minta maaf. Saya hanya akan duduk di teras mu saja. Menunggu sampai hujan benar-benar reda. Bolehkah?“ tanya pria itu, wajahnya sangat memelas dengan rambut dan baju yang basah.
Cindy menatap pria itu dari atas sampai bawah. Meskipun lampu terasnya temaram namun ia tau kalau pria di depannya ini sangat tampan. Potongan wajah orang eropa yang sangat menawan.
“Baiklah kau bisa menggunakan teras ku.“ ujar Cindy langsung menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam sebelum sempat pria itu menjawab.
Cindy terdiam sejenak, berfikir rasional sedangkan di sisi lain pria itu hanya bisa menghela nafas lega sekaligus lelah dan memilih duduk di sofa yang tersedia di teras rumah Cindy yang besar dan luas.
“Gue takut dia orang jahat, tapi gue lihat-lihat gak ada tanda-tanda kalau dia orang jahat,” gumamnya bermonolog.
Segera ia mengintip kembali dan melihat pria itu duduk meringkuk di atas sofa sambil menatap ke jalanan sepi yang terguyur air hujan.
Melihat hal itu rasa ibanya kembali mendominasi. Segera ia berbalik ke dapur dan membuatkan secangkir teh hangat dan sandwich sisa yang ia buat dari sore. Niatnya mau ia makan sebagai pendamping kopi malam ini. Namun melihat pria malam itu membuat ia urung menikmati sandwich nya.
Ia kembali lagi membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sandwich yang berisi sayur dan daging deli serta mayones.
Dengan satu tangan ia membuka kunci dan pintu jati yang berat itu lalu melangkah keluar dan menaruh nampan itu di meja di hadapannya.
Saat mendengar kunci pintu terbuka ia langsung menoleh dan mendapati Cindy membawa nampan dengan gaun biru laut dan selimut wol yang masih menutupi pundaknya.
“Aku ada sedikit makanan untuk mu, ku harap ini selera anda.“
Mendengar suara Cindy kembali yang begitu lembut, begitu halus membuat pria itu langsung tersenyum ceria. “Terimakasih banyak, terimakasih banyak! Ini sudah lebih dari cukup!“ katanya lalu segera meraih sandwich itu dan memakannya dalam dua gigitan.
Melihat sandwich nya langsung habis, Cindy syok dan panik. “Apa sandwich nya kurang? Aku bisa membuatkannya lagi, ku lihat anda sangat kelaparan?“ tanya gadis itu merasa takjub dengan kecepatan makan pria di depannya.
Pria itu terkekeh, “maafkan saya, saya sangat lapar, selama perjalanan ke sini saya tidak sempat mencari makan sehingga perut saya begitu lapar. Maafkan saya jika cara makan saya terlalu berantakan.“
Cindy kembali panik, tangannya bahkan tanpa sadar menyentuh jari-jari pria itu yang sedang memegang gelas teh hangat. “Aku hanya takjub saja melihat cara makan anda yang begitu lahap, jarang sekali melihat orang asing makan seperti itu.“
Pria itu menatap tangan Cindy yang menyentuh jari-jari nya lalu tersenyum menatap mata Cindy. “Saya tahu, rata-rata orang luar sering makan dengan cara elegan, karena kondisi saya sedang ringkih dan kelaparan, saya jadi melakukan hal yang berlebihan. Maafkan saya jika itu membuat anda tidak nyaman.“
Cindy menarik tangannya perlahan lalu mulai duduk dengan rileks merasa bahwa pria ini bukan lah pria berbahaya yang ada di pikirannya. “Tidak apa-apa tidak perlu minta maaf, wajar saja anda makan seperti itu karena anda kelaparan, aku memaklumi hal itu dan aku sama sekali tidak keberatan melihatnya. Justru saya senang karena ada orang lain yang mau makan makanan buatan saya.“
Pria itu melotot kecil menatap Cindy kaget dan kagum. “Anda membuatnya sendiri?“ tanya pria itu di angguki Cindy polos.
“Itu sangat luar biasa. Makanan ini sangat enak meskipun sandwich yang sederhana namun benar-benar enak. Saya tak menyangka bisa merasakan masakan buatan anda, saya sangat terharu, mungkin baru kali ini saya benar-benar merasakan ketulusan dari seseorang.“ ungkapnya sambil menatap cangkir teh itu dengan wajah sendu.
Cindy terdiam menatap wajah tampan pria itu. Garis rahangnya begitu tajam, lehernya jenjang, hidungnya bangir, bibirnya merah hampir membentuk love kala dia tersenyum lebar, alisnya yang hitam tebal dan matanya, mata birunya membuat Cindy sempat terlena sejenak.
Tidak ada yang aneh dengan pria di depannya ini. Hanya pria asing yang bertamu untuk menumpang sejenak lalu pergi setelah urusannya selesai. Namun ada sisi dari hati Cindy yang mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada pria di hadapannya karena parasnya.
“Anda terlalu memujiku, seharusnya aku yang senang, tapi….jika anda senang tidak masalah.“ ujar Cindy pada akhirnya usai keterdiaman nya.
Pria itu menyesap teh chamomile, dengan begitu anggun layaknya bangsawan.,