Indonesia
NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Cinta Melampaui Darah

Menjelang tengah hari, dokter datang. Aku berdiri di sisi ranjang, mendengarkan dengan penuh perhatian penjelasannya tentang kondisi Kirana yang membaik, ketika pintu kamar terbuka pelan. Aku mengangkat wajah dan jantungku seketika melonjak. Arkan masuk dengan aura yang sama seperti biasanya: tenang, berwibawa, dan kali ini ditemani dua perempuan.

Yang satu tampak berusia sekitar enam puluh tahun, rambut berubannya tertata rapi, sikapnya anggun, dan tatapannya langsung menunjukkan kebaikan hati. Yang satunya lebih muda, sedikit lebih muda dariku, dengan wajah yang mirip Arkan, senyum ramah, dan kesan bersahabat.

Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Arkan mendekat, menunduk, lalu menyentuh bibirku dengan ciuman lembut yang terasa begitu alami, seolah kami sudah lama menjadi pasangan. Bagiku, semuanya masih baru dan mengejutkan. Namun bagi Arkan, kedekatan itu tampak benar-benar wajar, seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya.

"Selamat pagi," ucapnya rendah.

Kami kembali memandang dokter, yang melanjutkan penjelasannya.

"Demamnya sudah terkendali, napasnya jauh lebih ringan, dan hasil pemeriksaan menunjukkan infeksinya mulai mereda. Kalau terus seperti ini, kemungkinan besar dia boleh pulang besok pagi."

Saat itulah perempuan yang lebih tua melangkah maju dengan suara tenang dan mantap.

"Senang berkenalan, Dokter. Saya Gita Wiratama, nenek anak ini. Saya ingin tahu, apakah ada pantangan makanan atau perawatan khusus yang harus kami ikuti di rumah?"

Kata "nenek" menyentuhku dalam, seperti tangan lembut yang mengusap luka lama. Tidak pernah ada yang menyebut Kirana sebagai cucu. Bahkan tidak ada yang pernah memandangnya dengan kasih sayang sebesar itu. Mataku penuh air mata sebelum aku sempat menahannya.

Dokter tersenyum penuh pengertian.

"Tenang saja, Bu. Pneumonianya sudah masuk tahap pemulihan. Cukup jaga kamarnya tetap memiliki sirkulasi udara yang baik, hindari angin langsung, dan berikan obat sesuai jadwal. Dia akan kembali ke rutinitas normal bayi empat bulan tanpa komplikasi besar."

Ketika dokter menjauh untuk menulis instruksi perawatan, Bu Gita berbalik kepadaku. Ia menyalamiku dengan genggaman lembut, lalu memelukku seperti seorang ibu. Setelah itu ia mendekati ranjang dan memandang Kirana dengan kelembutan yang membuatku semakin terharu. Terlihat jelas ada ikatan yang mulai tumbuh di sana, spontan dan tulus.

Arkan meletakkan tangan di bahuku dan memperkenalkan mereka dengan tenang.

"Alya, ini ibuku, Gita. Sudah bertahun-tahun dia menunggu seorang cucu perempuan dan keluarga yang lebih besar. Dan ini adikku, Safira."

Lalu Arkan menoleh kepada mereka dengan senyum tipis.

"Mama, Safira, kenalkan Alya, penyanyi yang membuatku benar-benar kehilangan akal sejak pertama kali kudengar suaranya. Dan ini Laras, adik Alya, yang selama ini menjadi penopang penting bagi mereka. Mulai sekarang, dia juga calon ipar kita."

Aku berdiri di sana dengan dada sesak, terjepit antara haru dan rasa asing terhadap semua yang terjadi. Namun ketika melihat kilau di mata perempuan tua itu dan kasih sayang yang sudah ia tunjukkan kepada putriku, aku merasa mungkin, untuk pertama kalinya, kami tidak lagi sendirian di dunia.

Interaksi itu mengalir jauh lebih ringan dan alami daripada yang kubayangkan.

Bu Gita membungkuk di dekat ranjang, berbicara dengan suara lembut seolah sudah mengenal Kirana selama berbulan-bulan. Si kecil, yang belum lama tadi masih lemah dan mengantuk, seakan menjawab kasih sayang itu. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gusinya, lalu menggerakkan lengan mungilnya seperti ingin meraih tangan perempuan itu.

Bahkan Laras, yang selalu lebih curiga dan berhati-hati, memandang dengan raut terkejut, seolah tidak percaya betapa mudahnya Kirana mendekati orang-orang yang baru pertama kali dilihatnya.

"Senyumnya cantik sekali!" seru Safira, ikut mendekat dengan hati-hati. "Dia sudah kelihatan seperti merasa di rumah."

Arkan mendekat dan mengangkat Kirana ke pelukannya. Putriku masih tertawa kepada keluarga barunya, lalu menyandarkan kepala di bahu Arkan, seakan menyegel nasib kami.

Beberapa saat kemudian, Bu Gita berbalik kepada kami dengan senyum ramah. Ia tampak sangat bahagia karena berhasil mengambil si kecil dari pelukan putranya, seolah Kirana memang lebih memilih "neneknya".

"Kalian berdua pasti lelah dan merasa tidak nyaman setelah semalaman di sini. Mau mandi dulu? Kami tinggal di sini bersamanya. Jangan khawatir."

Tubuh kami langsung menegang. Aku dan Laras saling bertukar pandang cepat. Meninggalkan Kirana bersama orang-orang yang baru kami kenal beberapa menit? Seberapa pun baiknya mereka terlihat, sulit rasanya menyingkirkan ketakutan begitu saja.

Bu Gita menangkap keraguan kami dan berbicara dengan tenang, penuh keyakinan.

"Pergilah dengan tenang, Nak. Kami akan merawatnya dengan penuh kasih. Dia sudah keluarga. Tidak akan ada yang kurang."

Itu benar. Kami memang sangat membutuhkan mandi, merasa kotor dan terkuras. Setelah berpikir sejenak, kami mengangguk, sedikit lebih lega.

"Baiklah," jawabku dengan senyum lemah. "Terima kasih."

Arkan segera ikut bicara, praktis dan penuh perhatian.

"Di seberang jalan ada mal besar dengan fasilitas lengkap. Di sini juga ada kamar mandi pribadi. Kalau kalian mau, kalian bisa mandi di sini saja, lebih privat dan nyaman."

Kami tersenyum, berterima kasih karena ia memikirkan setiap detail. Arkan memanggil beberapa pria yang menunggu di lorong, lalu mereka masuk ke kamar.

"Mereka adik-adikku," Arkan memperkenalkan. "Rian dan Malik."

Saat itulah aku menyadarinya. Rian memandang Laras tanpa berkedip, dengan rasa ingin tahu yang begitu kuat hingga seolah ia sedang mempelajari setiap detail dirinya. Laras, yang menyadari pandangan itu, memasang wajah tertutup dan curiga, hampir mengernyit. Rian menangkap reaksi itu dan tertawa singkat, berusaha menyamarkan diri, tetapi matanya masih belum lepas dari Laras.

Arkan melihat semuanya pada saat yang sama. Ia menepuk pelan bahu adiknya, nadanya terdengar bercanda, tetapi tetap tegas.

"Berhenti memandangi calon iparku seperti itu, Rian. Safira, temani mereka ke mal. Belikan dua pasang pakaian sederhana, bersih, dan nyaman, juga produk rambut dan perlengkapan mandi supaya mereka bisa mandi cepat dan merapikan diri. Besok mereka mungkin sudah boleh pulang, jadi tidak perlu yang terlalu rumit."

Rian mengangguk, masih tersenyum, lalu keluar bersama Malik dan Safira. Kami tertinggal di sana dengan perasaan bahwa, bahkan di antara orang asing, semuanya mulai bergerak menuju sesuatu yang baru, dan mungkin, siapa tahu, lebih baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!