Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurogane Prince
Hari itu, koridor istana utama tampak berkilau diterpa cahaya matahari yang menembus jendela kaca patri berbingkai emas. Di hadapan pintu besar ruang takhta bergaya Barok, seorang anak laki-laki berusia remaja berdiri tegak dengan balutan seragam pelayan hitam yang rapi. Ia adalah Aragoto, yang kini resmi menginjakkan kaki pertamanya di jantung istana sebagai abdi dalem.
Beberapa langkah di belakangnya, berdiri Goro dan Nyonya Martha dengan pakaian terbaik mereka. Jantung kedua orang tua angkat itu berdegup kencang, menahan rasa sesak dan cemas yang luar biasa.
Pintu besar ruang takhta perlahan terbuka. Di hadapan mereka, berdiri Putri Miyura—kini tumbuh menjadi gadis remaja bangsawan yang anggun dengan gaun rokoko merah muda berenda emas dan pita besar di rambutnya. Ia menatap Aragoto dengan dagu terangkat, memancarkan aura kebangsawanan yang dominan. Di belakang sang putri, Sang Raja dan Ratu duduk anggun di atas singgasana pualam.
"Miyura," suara Sang Raja memecah keheningan ruang yang megah itu, terdengar berat dan berwibawa. "Anak laki-laki ini adalah Aragoto. Mulai hari ini, ia akan resmi menjadi pelayan pribadi yang mengabdi khusus untukmu."
Miyura melangkah mendekat, memperhatikan penampilan Aragoto dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menyelidik. Ada secercah keheningan sesaat ketika mata mereka saling bertatapan—wajah yang begitu mirip, seolah cermin yang berdiri saling berhadapan, meski dipisahkan oleh kasta yang bagai bumi dan langit. Namun, Miyura tidak menyadari ikatan darah itu; ia hanya melihat seorang pelayan baru yang ditugaskan untuknya.
"Aragoto, ya?" suara Miyura terdengar nyaring dan manja, mencerminkan wataknya yang terbiasa mendapatkan segala hal yang ia inginkan. Ia berhenti tepat di depan Aragoto, melipat kedua tangannya di depan dada. "Dengar baik-baik aturanku. Di istana ini, seluruh dunia harus berputar sesuai kehendakku. Apapun yang aku inginkan, kau harus menurutinya tanpa membantah. Paham?"
Aragoto menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh kesopanan, menyembunyikan segala emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Suaranya terdengar tenang, datar, namun mutlak.
"Baik, Yang Mulia Putri Miyura," jawab Aragoto sambil membungkuk semakin rendah, memberikan gestur penghormatan tertinggi seorang pelayan kepada tuannya. "Saya adalah bayangan Anda. Mulai detik ini, titah dan keinginan Anda adalah mutlak bagi saya."
Miyura tersenyum puas mendengar kepatuhan mutlak tersebut. Ia memutar tubuhnya dengan anggun, lalu melirik ke belakang. "Bagus. Kalau begitu, mulailah beradaptasi dan pastikan kau selalu berada di sisiku, ke mana pun aku pergi."
Di sudut ruangan, Goro dan Nyonya Martha menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang teramat campur aduk. Martha menggenggam erat tangan suaminya, air matanya hampir menetes melihat anak kandung yang mereka besarkan dengan penuh kasih kini harus berdiri sebagai pelayan di hadapan saudarinya sendiri. Goro merangkul pundak istrinya, menatap tajam ke lantai marmer, menggertakkan gigi untuk menahan rasa sakit hati yang mendalam. Mereka tahu ini adalah bahaya besar, namun dengan pengalaman bertahun-tahun menutupi rahasia istana, keduanya saling menguatkan, berhasil menahan diri agar tidak menciptakan kecurigaan sedikit pun di hadapan sang penguasa.
Melihat perkenalan itu berjalan lancar, Sang Ratu—ibu kandung mereka berdua, yang kini telah sepenuhnya terbutakan oleh doktrin suaminya—berdiri dari singgasananya. Ia melangkah turun menghampiri Aragoto, menatap remaja itu dengan pandangan dingin namun penuh instruksi.
"Aragoto," ucap Sang Ratu dengan nada suara yang elegan namun tak menyisakan kehangatan sedikit pun. "Kau telah diberi kehormatan besar untuk melayani putri mahkota kerajaan ini. Ingatlah posisimu."
Sang Raja ikut berdiri di samping istrinya, menimpali dengan tatapan tajam seorang tiran. "Kesetiaan adalah harga mati di istana Hikari. Tugasmu bukan untuk berpikir, bukan pula untuk meragukan, melainkan untuk memastikan keselamatan, kenyamanan, dan kepuasan Putri Miyura di atas segalanya. Jika ada satu saja hal yang mengancamnya, nyawamu taruhannya. Jadilah pelayan yang paling setia."
Aragoto kembali membungkuk hormat, meresapi setiap kata-kata nasehat yang terdengar seperti kutukan tak kasat mata itu. "Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan mendedikasikan seluruh hidup saya untuk melayani Putri Miyura."
Di bawah pilar-pilar marmar istana yang bermandikan kemewahan era barok, takdir dua saudara kembar itu resmi terikat kembali—bukan sebagai keluarga, melainkan sebagai Ratu dan pelayan bayangannya, memulai babak baru menuju kehancuran yang tak terelakkan.
Pagi itu, suasana di aula utama Istana Hikari terasa jauh lebih hidup dan berwarna. Bendera-bendera kebesaran berkibar di sepanjang koridor marmer, menyambut kedatangan seorang tamu agung dari negeri tetangga. Pangeran Yoshi dari Kerajaan Kurogane melangkah masuk dengan balutan jas militer bangsawan bergaya Barok berwarna biru tua beraksen emas yang elegan. Kehadirannya yang karismatik dan berwibawa langsung menarik perhatian seluruh isi istana, terutama Putri Miyura.
Miyura, yang terbiasa mendapatkan segala hal yang ia inginkan, seketika terpikat begitu melihat Pangeran Yoshi. Tanpa membuang waktu, sang Ratu muda itu langsung mendekati sang pangeran dengan senyum termanisnya, berusaha merebut perhatian penuh dari pemuda asal Kurogane tersebut.
"Selamat datang di Kerajaan Hikari, Pangeran Yoshi," ucap Miyura dengan suara lembut yang dibuat-buat semanis mungkin, melangkah mendekat hingga berjarak beberapa jengkal saja dari sang pangeran. "Sebuah kehormatan besar bagi kami bisa menyambut kedatangan bangsawan terhormat dari Kurogane di istana ini."
Yoshi sedikit membungkuk sopan, merespons sambutan itu dengan senyuman tipis yang terukur. "Terima kasih atas sambutan yang luar biasa ini, Yang Mulia Putri Miyura. Kemegahan Hikari benar-benar melampaui cerita yang pernah kudengar," jawab Yoshi dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
Miyura tertawa kecil, matanya berbinar penuh ketertarikan. "Cerita saja tidak cukup untuk menggambarkan keindahan kerajaan ini. Bagaimana jika aku sendiri yang menemanimu berkeliling taman mawar istana? Masih banyak hal menarik yang harus kau lihat di sini."
"Sebuah kehormatan yang tidak bisa kutolak," balas Yoshi singkat.
Sejak hari itu, kemana pun Pangeran Yoshi melangkah di area istana, Miyura selalu menempelinya. Mereka menghabiskan waktu bersama di bawah rindangnya pohon-pohon pualam, menikmati jamuan teh sore bergaya rokoko, hingga berbincang akrab di balkon utama, membuat seluruh pelayan istana paham bahwa sang putri tengah jatuh hati sepenuhnya.
Jauh dari keramaian halaman dan kemegahan taman, di sebuah kamar pribadi di lantai atas istana yang menghadap langsung ke arah halaman luar, Aragoto berdiri sendiri di dekat jendela besar. Di tangannya, sehelai selimut sutra merah muda milik Miyura terlipat rapi di atas meja kayu.
Dari ketinggian lantai atas itu, Aragoto menatap ke bawah. Di sana, terlihat jelas sosok Putri Miyura sedang berjalan berdampingan dengan Pangeran Yoshi, tertawa ringan sambil sesekali menyentuh lengan sang pangeran dengan penuh keanggunan.
Aragoto menghentikan gerakannya. Ia mematung sejenak, menatap lekat-lekat punggung saudari kembarnya yang tampak begitu bahagia di sisi pria lain. Di balik kacamata dan seragam pelayan hitamnya, tidak ada ekspresi cemburu ataupun amarah di wajahnya—yang tersisa hanyalah keheningan yang dalam, menyadari batasan tak kasat mata antara posisinya sebagai pelayan bayangan dan sang putri di puncak takhta.
Pintu kamar berderit pelan, membuat Aragoto tersadar dari lamunannya. Seorang pelayan senior melangkah masuk membawa keranjang cucian linen.
"Aragoto? Apa yang sedang kaulakukan di dekat jendela? Pekerjaan melipat pakaian ini masih banyak yang belum selesai," tegur pelayan senior itu dengan nada mengingatkan.
Aragoto mengerjap pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari jendela. Ia menarik napas tipis, kembali memasang topeng ketenangannya, dan merapikan sisa lipatan kain di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Aragoto datar dengan suara yang tenang. Ia mengambil selimut sutra itu, meletakkannya dengan rapi di dalam lemari, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menoleh sedikit pun ke luar jendela.