Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di ruang meeting lantai atas, Aslan sedang duduk di ujung meja panjang dengan wajah serius. Beberapa kepala divisi sedang memaparkan laporan kuartalan, layar proyektor menampilkan grafik yang rumit, dan suara diskusi memenuhi ruangan. Faris duduk di sampingnya, siap mencatat setiap keputusan penting.
Drtt......
Drtt.....
Tiba-tiba ponsel Aslan yang tergeletak di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama Naya yang membuatnya sedikit terkejut.
Sudah beberapa minggu istrinya itu mengabaikan seluruh panggilan dan pesannya. Sekarang, tiba-tiba dia yang menelepon lebih dulu.
Aslan menatap layar itu sepersekian detik, lalu tanpa ragu mengangkatnya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Ris, tolong gantikan saya terlebih dahulu,” ucapnya singkat sambil berdiri. Ia bahkan tidak menunggu jawaban Faris. Dengan langkah cepat ia keluar dari ruang meeting, menutup pintu di belakangnya, dan langsung mengarah ke koridor yang sepi.
Di dalam ruangan, Faris menghela napas panjang. Ia menatap punggung bosnya yang menghilang di balik pintu, lalu berbalik ke arah para peserta meeting yang mulai saling melirik. “Lanjutkan meeting,” ucapnya tegas, mencoba mengambil alih situasi. “Kita bahas poin berikutnya.”
Sementara itu di koridor, Aslan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo, ada apa Naya?” suaranya terdengar sedikit terengah, campur antara harap dan waspada.
Dari seberang, suara Naya terdengar datar, dingin, dan sangat jelas. “Cepat pulang. Selingkuhanmu datang. Jangan sampai aku mengusir mereka berdua dari sini.”
Aslan membeku di tempat. Kalimat itu menghantamnya begitu saja. Ia terdiam beberapa detik, mencoba mencerna setiap kata. “Selingkuhan…?” gumamnya pelan, sebelum akhirnya menyadari. “Shit…Liza beneran datang ke Jakarta.” umpatnya pelan tapi penuh kejengkelan.
Ia mengusap wajahnya kasar dengan tangan bebas, napasnya memburu. Di kepalanya, berbagai kemungkinan buruk langsung berputar.
“Naya, jangan lakukan apa-apa dulu. Aku langsung pulang,” katanya cepat, nada suaranya berubah panik. “Dengar aku—”
Telepon diputus secara sepihak oleh Naya. Hanya nada putus sambungan yang tersisa.
Aslan menatap layar ponselnya yang sudah gelap, lalu mengutuk dalam hati. Ia berbalik cepat menuju ruangannya, mengambil kunci mobil, dan hampir berlari ke arah lift. Di dalam kepalanya, satu-satunya pikiran yang berputar hanyalah. Harus segera sampai di rumah sebelum semuanya benar-benar meledak.
*
Dengan kecepatan penuh, Aslan mengendarai mobilnya menuju rumah. Kaki kanannya menekan pedal gas tanpa ampun, padahal jalanan lumayan ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang untuk mulai beraktifitas. Ia bahkan tidak peduli ketika beberapa kendaraan di belakangnya membunyikan klakson karena ia menyalip terlalu dekat.
Jantungnya berdegup kencang. Telapak tangannya basah oleh keringat, menempel di setir yang ia genggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Aslan menggerutu dalam hati. “Bodoh… bodoh sekali,” gumamnya serak.
Ia tidak menyangka Liza benar-benar nekat datang ke Jakarta, apalagi membawa ibunya. Ia sudah berkali-kali mengingatkan wanita itu untuk tetap di Bandung, menunggu sampai semuanya selesai. Tapi Liza jelas sudah kehabisan kesabaran.
Pikirannya berpacu lebih cepat dari mobilnya sendiri. Apa yang sedang terjadi di rumah sekarang? Apakah mereka bertengkar, atau malah Naya tidak perduli.
Aslan menginjak rem mendadak di sebuah tikungan tajam, mobil oleng sedikit sebelum ia berhasil menguasai kembali. Napasnya memburu. Ia menyalakan radio hanya untuk mengusir keheningan, tapi segera mematikannya lagi karena suaranya justru membuat kepala semakin penat.
Bayangan wajah Naya muncul di pikirannya, tatapan datar yang beberapa hari terakhir selalu ia lihat. Wanita itu sudah bukan Naya yang dulu. Dan justru itulah yang membuat Aslan semakin panik. Naya yang lama mungkin akan diam, menangis, atau memohon penjelasan. Naya yang sekarang… jelas mampu melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk.
Lampu merah di depan memaksa mobilnya berhenti. Aslan mengetuk-ngetuk jari di setir dengan tidak sabar, matanya melirik jam di dashboard. Dia merasa perjalanan ke rumah sangat lama.
“Cepat… cepat sedikit lagi,” bisiknya pada diri sendiri.
Ketika lampu berubah hijau, ia langsung menancap gas lagi. Jalan menuju perumahan semakin dekat. Jantungnya berdetak semakin kencang setiap kali melewati tikungan arah ke rumahnya. Di kejauhan, genteng rumahnya sudah terlihat. Dua mobil asing terparkir di depan pagar, salah satunya mobil yang biasa Liza pakai di Bandung.
Aslan menelan ludah. Ia memelankan laju mobil hanya saat memasuki kompleks, lalu mematikan mesin di garasi dengan tangan yang sedikit gemetar. Sebelum turun, ia duduk diam beberapa detik, mencoba mengatur napas terlebih dahulu.
****
Di dalam rumah, suasana sudah tegang sejak Liza dan Ranti duduk di ruang tamu. Naya tidak menawarkan apa pun. Tidak ada air minum, tidak ada camilan, bahkan tidak ada senyum formal. Ia hanya duduk di sofa tunggal dengan kaki tersilang, mata tertuju pada layar ponsel, seolah dua orang di hadapannya tidak lebih dari udara kosong.
Liza yang sejak tadi menahan rasa tidak nyaman akhirnya membuka suara. “Saya tamu,” ucapnya dengan nada setengah bossy, “saya butuh minum.”
Naya tidak menoleh. Jari-jarinya masih bermain di layar ponsel. “Airnya habis,” jawabnya datar.
Ranti langsung menajamkan suara. “Tidak mungkin di rumah ini tidak ada air. Bilang saja kamu tidak mau melayani kami.”
Naya menghela napas panjang. Sejak kedua wanita itu masuk, ia sudah menahan diri. Tapi kini kesabarannya menipis. Ia mengangkat wajahnya, menatap Liza dan Ranti bergantian.
“Anda benar,” katanya tegas. “Saya memang tidak sudi melayani kalian berdua. Kalau mau tunggu saja Aslan pulang, dan minta dia yang melayani kalian.”
Keheningan mengisi ruang tamu. Liza membelalak, sementara Ranti terlihat tersulut. Tepat di saat itu, bunyi mobil yang melaju kencang lalu berhenti di depan rumah terdengar jelas.
Liza yang sejak tadi duduk tegang tiba-tiba bergerak cepat. Tanpa peringatan, ia menjatuhkan diri ke lantai, lutut tersungkur, sujud di bawah kaki Naya dan air mata langsung mengalir.
Suaranya berubah menjadi isakan yang penuh drama. “Saya tahu… saya salah,” katanya sambil menunduk, bahu bergetar. “Tapi tidak seharusnya kamu memperlakukan kami seperti ini, Naya. Saya istri Aslan… saya juga punya hak di rumah ini, hiks…”
Ranti segera berlutut di samping anaknya, mengusap punggung Liza dengan wajah cemas yang dibuat-buat. “Sudah, Liz… jangan menangis. Mama di sini.”
Naya hanya menatap adegan itu dari sofa. Tidak ada rasa kasihan di matanya. Hanya ironi yang dalam. Ia bahkan sempat mengangkat alis pelan, seolah sedang menonton pertunjukan yang sudah terlalu sering ia duga akan terjadi.
Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka kasar. Aslan masuk dengan napas yang masih terengah, jas terbuka, dan wajah penuh ketegangan. Matanya langsung menangkap Liza sujud di lantai sambil menangis, Ranti di sampingnya, dan Naya yang duduk tenang di sofa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa-apaan ini, Naya?!” suaranya meledak, nada marahnya jelas tertuju pada istri sahnya. Ia melangkah cepat mendekati Liza, seolah prioritas utamanya adalah wanita yang sedang berlutut di lantai.
jadi kenapa kamu harus marah?