Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Restoran fine dining bernuansa temaram di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit Mexico menjadi saksi bisu malam itu. Suasana amat privat, diiringi alunan musik klasik yang lembut.
Clara duduk di seberang Erick, mengenakan gaun malam berwarna merah marun. Senyum tipis terukir di bibirnya. Selama beberapa minggu terakhir, kesabaran dan perhatian Erick telah berhasil mengikis sisa-sisa kewaspadaannya.
Clara benar-benar percaya bahwa pria di hadapannya adalah pelabuhan aman yang akan menyembuhkan luka masa lalunya.
"Untuk masa depan kita, Clara,"
ujar Erick seraya mengangkat gelas wine kristalnya, mengumbar senyum paling hangat yang ia miliki.
"Untuk masa depan,"
balas Clara pelan, mendentingkan gelasnya dan menyesap minuman manis berdosis ringan alkohol tersebut.
Clara tidak pernah tahu bahwa saat ia pergi ke kamar kecil beberapa menit lalu, jemari Erick telah menjatuhkan beberapa tetes cairan bening tanpa rasa dan aroma ke dalam gelas tersebut.
Erick memperhatikan tiap tegukan Clara dengan binar mata yang mendadak berubah, bukan lagi tatapan hangat pria penuh pengertian, melainkan binar predator yang kelaparan dan sarat akan manipulasi.
Selama ini, kepura-puraannya menjadi "pria baik" hanyalah taktik murahan untuk menundukkan Clara. Dendamnya atas penolakan Clara di nightclub waktu itu, ditambah ego maskulinnya yang ingin membuktikan bahwa ia bisa memiliki wanita yang dilepaskan oleh Kenzo, mendesaknya untuk mengambil jalan pintas malam ini.
Sepuluh menit berlalu.
Clara mendadak merasakan gelombang panas aneh yang membakar dadanya. Kepalanya mulai terasa berat dan pusing, sementara jantungnya berdegup liar tanpa ritme yang jelas. Kulit lehernya meremang, memicu dahaga dan desakan aneh di dalam tubuhnya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Erick... aku... aku merasa tidak enak badan,"
bisik Clara parau, memegang pelipisnya seraya mencoba berdiri. Namun kakinya melemas seketika.
Erick dengan sigap berdiri dan menahan tubuh Clara yang hampir ambruk. Senyum miring yang sangat licik kini terpasang penuh di wajahnya. "Tenang, Sayang... Aku sudah menyewa presidential suite di hotel ini. Aku akan merawatmu."
Di dalam kamar presidential suite yang luas dan mewah, Erick melempar Clara ke atas ranjang.
Efek obat perangsang dosis tinggi itu kini menguasai seluruh kesadaran Clara. Tubuhnya bergetar ketakutan, namun otaknya meronta-ronta menahan gelombang gairah buatan yang menyiksa batinnya. Keringat dingin membasahi dahinya, dan gaunnya terasa sangat mencekik.
"E-Erick... tolong... jangan..."
jerit Clara sangat lirih, suaranya pecah oleh keputusasaan saat mencoba merangkak mundur.
Erick membuka kancing kemejanya satu per satu seraya tertawa pelan.
"Kau pikir aku benar-benar tulus padamu, Clara? Kau hanya wanita bekas gilaan Kenzo yang sok suci! Malam ini, apa yang tertunda di club akan kuselesaikan."
Erick melompat ke atas ranjang, mencengkeram kedua pergelangan tangan Clara yang lemah dan menindihnya. Clara menangis histeris, mencoba memalingkan wajahnya saat bibir Erick mendekati lehernya.
Brak!!
Pintu ganda presidential suite yang terbuat dari kayu jati tebal mendadak hancur tertendang hebat hingga terlepas dari engselnya.
Suara dentuman keras itu menggelegar menembus kamar. Erick tersentak kaget dan menoleh ke arah pintu.
Di ambang pintu, berdiri Kevin bersama empat pengawal berjas hitam. Namun bukan keberadaan Kevin yang membekukan darah di dalam kamar tersebut, melainkan sosok pria tinggi tegap yang melangkah masuk dari balik kegelapan lorong.
Kenzo.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, mantel gelapnya tersampir di lengan. Tatapan matanya bukan lagi sekadar dingin, itu adalah pendar mata iblis yang haus darah, memancarkan murka yang sanggup memusnahkan apa saja.
"K-Kenzo?"
pekik Erick panik, wajahnya pucat pasi seketika saat menyadari siapa yang berdiri di sana. "K-kau... bukankah kau di London—"
Kenzo bahkan tidak memandang Erick. Mata gelapnya hanya tertuju pada Clara yang terbaring lelah dan tersiksa di atas ranjang.
"Kevin,"
panggil Kenzo dengan suara berat yang mengalun tenang namun teramat mengerikan. "Bawa pria ini ke basement. Patahkan kedua tangannya, lalu serahkan dokumen kebangkrutan keluarganya ke media malam ini."
"Baik, Tuan Kenzo,"
jawab Kevin dingin.
Dua pengawal langsung menerjang masuk, menarik tubuh Erick dari atas ranjang secara kasar. Erick menjerit histeris dan memohon ampun saat tubuhnya diseret keluar dari kamar, meninggalkan genangan darah kecil dari pukulan perdana di wajahnya.
Pintu rusak ditutup dari luar oleh Kevin, menyisakan keheningan mencekam di dalam kamar mewah tersebut.
Kenzo melangkah perlahan mendekati pembaringan. Setiap ketukan sepatunya di atas karpet tebal terdengar bagai detik jam kematian bagi akal sehat Clara.
Clara meringkuk di atas ranjang, napasnya memburu kasar. Efek obat di dalam darahnya makin menjadi-jadi, membuat tubuhnya kepanasan dan gemetar hebat. Saat melihat Kenzo berdiri di tepi ranjang, rasa takut dan lega bercampur menjadi satu gelombang emosi yang meremukkan jiwanya.
Kenzo melepas mantelnya, melemparkannya sembarangan ke lantai. Pria itu menunduk, menatap Clara yang sedang kesakitan menahan gairah buatan tersebut.
"Aku sudah memberimu waktu untuk bermain-main dengan 'pria baik', Dear"
bisik Kenzo dengan suara parau yang sangat posesif, mendaratkan lututnya di atas kasur seraya merangkak mendekati Clara.
"K-Kenzo... panas..."
bisik Clara parau, air mata menetes dari matanya yang sayu.
Jemari Clara yang gemetar tanpa sadar meraih kerah kemeja Kenzo, mencari kehangatan dari pria yang selama ini menjadi satu-satunya perisai beracun dalam hidupnya.
Kenzo menyunggingkan senyum dingin yang memabukkan. Jemarinya yang tegap mengelus garis rahang Clara yang basah oleh keringat, lalu membelai bibir merah gadis itu dengan lembut.
"Aku membiarkanmu mencoba melari kan diri agar kau sadar..."
bisik Kenzo tepat di depan bibir Clara, napas hangatnya menyapu kulit wajah gadis itu. "...bahwa di luar sana, hanya ada kejahatan yang siap memangsamu. Dan hanya di dalam pelukanku kau akan tetap aman."
Kenzo mendekap tubuh Clara yang bergetar hebat ke dalam dadanya yang bidang. Saat bibir Kenzo akhirnya mendarat di leher Clara, mengklaim kembali hak kepemilikannya yang mutlak, Clara memejamkan mata rapat-rapat, menyerahkan seluruh perlawanannya pada sang predator yang telah resmi kembali ke kehidupannya.
Kenzo mencengkeram pinggang Clara, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat di bawah kungkungannya. Setiap sentuhan dingin jemari Kenzo yang membelai kulitnya justru membakar habis sisa kebebasan yang sempat Clara impikan.
Kenzo mengecup pelipis Clara yang basah oleh keringat, membisikkan janji kepemilikan yang mengunci seluruh jalan napasnya. Clara hanya bisa meremas kemeja Kenzo erat-erat, membiarkan dirinya tenggelam seutuhnya dalam dekapan sang predator, menyerahkan sisa jiwanya pada dominasi mutlak pria itu yang tak lagi memberikan celah untuk melarikan diri. Tak ada lagi tempat berlari. Di dalam dekapan ini, Clara pasrah membiarkan seluruh dunianya dikuasai kembali oleh Kenzo.