Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.
Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin lebih dekat?
Calliope melirik sekitar ruang kerjanya singkat sebelum ia merapalkan mantra dan membentuk perisai yang mencegah suara apapun bocor dari dalam serta mana dari siapapun menembus masuk.
Pria itu lantas membuka komunikasi dengan dua rekan lamanya.
Archmage klan Bintang dari Sorov, serta klan Bulan dari Ophelia. Mereka bertiga dulunya merupakan teman dekat yang bahkan berjuang bersama untuk menduduki puncak tertinggi ilmu sihir.
"Apa yang terjadi, Mabelle?"
Permaisuri kekaisaran Sorov, Mabelle Sorov, salah satu dari 3 Archmage terkuat di Astra saat ini terlihat tengah membantu menggotong beberapa ksatria kerajaannya yang tumbang dengan kekuatannya.
"Wabah penyakit dari air laut huh? Lalu kenapa persediaan minum kami yang murni kami kumpulkan dari embun di hutan Cana ini juga ikut tercemar?!" serunya sarkas.
Wanita dengan rambut cokelat panjang yang bergelombang itu nampak kesal setengah mati kala mendapati para bawahannya mulai tumbang satu-persatu.
Holus menghela napas pelan melihat keadaan sahabatnya yang tetap mendapati kekusahan di perjalanan. "Suruh suamimu, Kallias, untuk beristirahat. Aku yakin itu baru permulaan untuk menguras penuh mana penyembuhan milik suami elf mu."
Netra Mabelle memandang malas. "Aku tahu itu. Makanya Kallias sudah lebih dulu ku kunci di dalam kereta kuda kami di sana."
Sihir yang seperti layar transparan melayang sebagai alat komunikasi 3 Archmage itu beralih pada kereta kuda bewarna biru laut yang megah yang di lilit rantai sihir dengan raut wajah khawatir Kallias Sorov, sang kaisar Sorov, akan para ksatrianya terkapar lewat jendela kereta kuda.
Calliope terkekeh pelan melihat kondisi suami dari sahabatnya yang sedikit beringas itu. "Aku sudah mengirimkan beberapa bola mana ke arah kalian, pakailah untuk memulihkan para ksatria sementara suami elf mu kau kurung itu,
"-mungkin kau bisa menerimanya sekitar 2 jam an dari sekarang, titik koordinat sihirmu masih lumayan jauh dari Aster karena kalian baru memasuki pinggiran hutan Cana."
Mabelle menatap sinis sang kaisar Reis yang masih terlihat sombong dari awal mereka kenal. "Aku akan memaafkanmu yang menertawakanku. Tapi aku tidak akan berterima kasih," ujarnya.
Calliope kembali tertawa kala berhasil menjahili sahabatnya.
Pandangan kaisar Reis itu kini beralih kepada Holus di layar satunya yang terlihat tengah mengusap surai wanita yang tertidur di pundaknya dengan lelap di dalam kereta kuda yang masih berjalan.
"Bagaimana denganmu, Holus?"
Pandangan Holus hanya melirik pelan ke arah proyektor sihir yang menampilkan dua sahabatnya.
"Kami baik-baik saja."
"Berhentilah acuh, Pak Tua Dingin." Mabelle yang masih terlihat sibuk membantu para ksatrianya menyempatkan diri untuk mengomeli rekannya yang selalu berbicara menggunakan nada datarnya itu.
Calliope bersidekap dada, netra emasnya menelisik raut wajah sahabatnya. "Benarkah?" tanyanya tidak percaya pada Holus.
Netra Holus sedikit melirik kearah belakang untuk memberikan tanda kecil bagi kedua sahabatnya. "Sepertinya ada yang berhasil mengikuti kami, bahkan masuk ke portal teleportasi menuju Aster."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kicauan burung yang mengalun merdu serta kepakan sayang kecilnya yang menghiasi udara membuat Arcangella menatap kagum ke arah beberapa burung kecil yang bewarna-warni berterbangan di taman pribadi miliknya yang diberikan oleh kaisar.
"Wah ... Malla, lihat! Mereka sangat cantik."
Malla tersenyum mendengar ocehan riang sang putri bungsu sembari terus mengiringi tuan putri kecilnya itu yang sedang berjalan-jalan dari belakang. "Selain sangat cantik, burung kecil itu sangat menyukai sesuatu yang cantik juga."
Arcangella lantas menoleh ke arah Malla dengan semangat. "Benarkah?!"
Malla mengangguk gemas. "Sepertinya mereka berkeliaran di sini karena taman ini indah, ditambah saat ini ada seorang tuan putri yang sangat cantik sedang berada di taman."
Arcangella tersenyum cerah mendengar ucapan Malla. Netra emasnya yang keruh kini kembali sedikit berbinar. "Apa mereka selalu berterbangan setiap pagi seperti ini Malla?"
Malla berpikir sejenak. "Maksudnya ... apa Tuan Putri akan berjalan-jalan setiap pagi mulai hari ini jika burung-burung itu berkeliaran setiap pagi?"
Arcangella mengangguk tanpa ragu. Hal itu kembali membuat Malla terkekeh kecil menahan gemasnya. "Sepertinya yang diinginkan Tuan Putri akan ter-
"Oh! Tuan Putri Arcangella."
Suara teriakan yang memanggil dari arah barat taman, membuat Arcangella dan Malla yang masih berbincang ria, menoleh.
Malla mengernyit bingung kala mendapati Cescilla Baressa dan kedua pelayan gadis itu yang mengikuti, berjalan semakin mendekat ke arah mereka.
'Apa-apaan ini? Bukankah sudah menjadi peraturan bahwa taman pribadi keluarga kekaisaran tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang? Meskipun mereka bangsawan kelas atas sekalipun jika tanpa seijin pemiliknya atau ada jadwal tertentu yang juga sudah diijinkan oleh pemilik taman, diluar itu tidak boleh! Apa para ksatria penjaga di depan sana sudah bosan bekerja ya?!'
Malla yang merupakan seseorang yang perfeksionis dalam bekerja, kini sudah mulai menyumpah serapahi para ksatria yang melanggar aturan itu dan memastikan bahwa hari ini merupakan hari terakhir mereka bekerja.
Saat jarak mereka semakin dekat, Cescilla lantas memberikan salam dengan anggun, diikuti kedua pelayan wanita dibelakangnya yang juga membungkuk hormat.
"Saya Cescilla Baressa memberikan salam kepada Bintang Kecil Reis," serunya disertai senyuman saat masih menundukkan kepalanya.
"Jika kamu bertemu dengannya lagi, entah itu disengaja maupun tidak, segeralah menjauh. Jangan pernah berada di dekat Baressa!"
Arcangella kembali mengingat pesan sang kakak saat melihat Cescilla.
Namun untuk menjaga nama keluarganya gadis kecil itu lantas mengangguk menjawab salam yang diberikan padanya juga sebagai isyarat bahwa mereka boleh mengangkat pandangan sekarang.
Lagi, Arcangella mulai merasakan aura yang tidak nyaman di sekitarnya. 'Apa aku harus pergi dari sini sekarang? Tapi, bukankah tidak sopan jika langsung pergi begitu saja? Kakak, Ella harus bagaimana ... '
Malla yang mengerti kecanggungan majikan kecilnya lantas mengangkat suara. "Nona Baressa, jika boleh tahu apa yang membuat anda memasuki taman pribadi milik tuan putri sekarang ini?"
Cescilla melirik wanita paruh baya yang melontarkan pertanyaan serta sindiran dan teguran dalam nada bicaranya kepada dirinya saat ini. Segera mengendalikan ekspresi, Cescilla tersenyum riang.
"Permaisuri memintaku untuk menjadi teman Tuan Putri Arcangella. Jadi tadi aku tahu dari beliau bahwa tuan putri tengah menikmati udara pagi di taman ini," jawab Cescilla percaya diri. Seolah mengatakan, permaisuri lah yang mengijinkannya mengakses taman pribadi milik tuan putri Reis.
'Permaisuri? Tidak mungkin permaisuri akan mengijinkan seorang bangsawan mengakses taman pribadi, apalagi taman pribadi yang sudah menjadi milik keluarga kekaisaran. Pasti gadis kecil Baressa inilah yang ... '
Malla berusaha tetap menstabilkan emosinya saat ini. Mau bagaimanapun, Baressa masih mempunyai ikatan dengan Reis karena Caretta Baressa yang merupakan adik perempuan sang kaisar.
"Tuan Putri, kemarin saya sangat sedih karena tidak bisa langsung menemani Tuan Putri bermain." Cescilla kini beralih menatap Arcangella dengan raut wajah yang dibuat semeyakinkan mungkin.
"Bagaimana jika hari ini, Cescilla menemani Anda bermain? Oh! Bagaimana jika Cescilla ajak Tuan Putri yang baru di istana ini untuk melihat tempat-tempat indah lainnya?"
Senyuman Baressa kecil yang ceria itu entah kenapa seperti bahaya yang perlahan mendekat dan ingin mencekik Arcangella.
Namun lagi dan lagi, melihat situasi dimana ada Malla yang merupakan pelayan khusus dari Reis serta dua pelayan Baressa, membuat Arcangella tidak enak untuk menolak karena takut dirinya dicap sombong dan berakhir merusak nama keluarga yang ia sayang.
"Baiklah ... " Arcangella tersenyum menatap Cesciila yang kini terlihat antusias.
"Kalian bisa pergi, ini waktuku untuk menemani dan melayani tuan putri," titahnya kepada dua pelayan dibelakangnya yang sontak membuat mereka menunduk dan pamit undur diri.
Cescilla tersenyum, sedetik kemudian ia menatap lurus ke arah Malla yang masih menatapnya waspada dengan senyum polos di wajahnya.
"Tuan Putri, apakah kita bisa menikmati waktu bermain, hanya berdua? Cescilla juga ingin lebih dekat dengan Tuan Putri yang merupakan keluarga bagi Cescilla."
Kalimat manis yang terlontar dari mulut Baressa kecil itu, lantas membuat Malla sedikit khawatir.
"E-eh ... " Arcangella melirik ragu-ragu ke arah Malla dan Cescilla yang menunjukkan raut memohon secara bergantian.
Gadis kecil itu bertarung dengan pikirannya sebelum kemudian mengangguk kecil dan menoleh ke arah Malla.
"Kamu bisa menungguku untuk jam membaca nanti siang, Malla. Aku akan segera kembali," ucap Arcangella.
Malla sebenarnya ingin menolak, tapi mau bagaimanapun, perintah atasan yang sudah terucapkan tidak bisa ia bantah.
Lagipula apa salahnya jika ia memberikan kepercayaan sedikit pada tuan putrinya untuk bersosialisasi selain dengan anggota istana? Wanita itu terus meyakinkan dirinya sendiri sebelum pamit dan kini meninggalkan dua gadis itu di taman.
Cescilla menatap kepergian pelayan wanita yang bagai tameng kuat yang menghalanginya menembus gadis kecil di depannya ini, telah pergi dengan senyuman kemenangan yang terpatri.
"Jadi, kita akan kemana? Kak Cescilla?"
Suara lembut Arcangella membuat Cescilla kembali menaruh atensinya pada gadis kecil itu. 'Kak? Kau pikir aku sudi mengakui anak rendahan sepertimu merupakan saudaraku?'
Senyum gembira Cescilla perlahan berubah sinis. Ia kini menatap rendah ke arah Arcangella terang-terangan sembari tetap menunjukkan kesan ramah pada gadis kecil itu.
"Aku akan mengajakmu menelusuri istana utama, tempat kaisar dan permaisuri. Disana banyak tempat-tempat indah yang tidak bisa dimasuki sembarang orang, aku tahu karena permaisuri yang menyukaiku memberikan akses padaku."
Arcangella memperhatikan Cescilla yang tengah menjelaskan tujuan mereka hari ini, tanpa menyadari kalimat gadis Baressa itu yang tengah menunjukkan posisi.
Arcangella hanya mengangguk patuh tanpa menghiraukan apapun.
Melihat raut wajah biasa saja dari Arcangella membuat Cescilla semakin merasa tertantang.
'Lihat saja, aku akan membuatmu merasa tidak pantas berada di sini dan membuatmu merasa lebih baik kembali ke tempat yang memang sepantasnya kau berada kemarin.'