Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: DSKKR

Suara deru mobil di luar rumah bikin aku terperanjat dari tepi ranjang. Setelah menenangkan Arka dan Arki yang ketiduran lagi karena capek menangis, aku bergegas turun. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

"Tidur yang nyenyak ya sayang" ucapku menepuk pelan paha anak ku.

Tiba-tiba terdengar suara bel pintu dengan suara gedoran pintu depan.

Saat aku membuka pintu depan, Ibu mertuaku ibu Ratna dan intan adik Fandi, Maya, sudah berdiri di sana. Jangan bayangkan ibu mertua sepuh yang ramah; Ibu Ratna wanita lima puluh tahunan yang gayanya selalu memaksakan diri tampil bak socialita.

"Iih lama banget sih bunyinya, May? Panas tahu di luar," omel Ibu Ratna tanpa basa-basi, langsung menerobos masuk sambil mengibaskan kipas lipatnya.

"Maaf, Bu. Tadi habis nidurin si kembar dulu," jawabku pelan, memosisikan diri seolah segalanya baik-baik saja.

"Sekalian tidur tuh. Jadi perempuan jangan pemalas. Jangan jadikan anak buat alasan" Ucap mertua ku.

Ibu Ratna dan intan duduk di sofa ruang tamu, matanya menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya tertuju padaku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan menilai yang persis sama seperti tatapan Fandi sejam lalu.

"Aduh, Mbak may... kamu ini makin hari kok makin kusam begitu, sih?" celetuk Intan, adik Fandi, yang sibuk memoles lipstik di depan kaca ponselnya. "Masa nyambut mertua cuma pakai daster katun rombeng begitu? Mbak kan dulunya model, kok sekarang kayak pembantu di rumah sendiri?"

Dada ini rasanya kempas-kempis menahan sesak. "Aku belum sempat ganti baju, Tan. Dari siang ngurus tiga anak sendirian."

"Ya elah, alasan melulu," potong Ibu Ratna sinis. "Istri itu harus pandai merawat diri biar suami betah di rumah. Kamu lihat tuh Fandi, makin sukses, makin ganteng. Kalau kamunya kayak begini, pantes aja Fandi akhir-akhir ini sering curhat capek pulang ke rumah."

'Curhat capek pulang ke rumah? Atau curhat mau nyari suasana baru sama Siska?' pikiran ku terpaku pada pesan bergambar di ponselku, hal itu seolah menari-nari di ingatan. Rasanya ingin sekali aku lempar ponsel itu tepat di depan muka Ibu Ratna, tapi jariku menegang di samping pinggang. Aku menahannya demi menjaga perasaan anak-anak.

"Terus Fandi nya mana? Katanya tadi mau makan bareng?" tanya Ibu Ratna lagi sambil menengok ke arah dapur.

"Mas Fandi ada pemotretan mendadak, Bu. Ada project besar sama brand luar," kataku menyembunyikan kebohongan pria itu.

"Tuh kan! Fandi itu makin sibuk karena dia hebat," puji Ibu Ratna bangga, dadanya menepuk pelan. "Lagian, model-model yang difoto Fandi sekarang cantik-cantik banget. Kemarin Intan diperlihatkan foto model barunya si Fandi tuh, siapa namanya... Siska, ya? Cantik, langsing, bajunya modis. Sopan lagi, sering ngirim barang-barang branded ke rumah Ibu."

Intan menimpali sambil tersenyum miring. "Iya, Bu. Kemarin Siska juga ngasih Intan tas import. Katanya salam kenal buat calon... eh, maksudnya buat keluarganya Mas Fandi."

Senyum Intan mendadak tertahan, tapi kilat di matanya jelas menunjukkan mereka sudah tahu sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku. Mereka bukan cuma tahu soal Siska mereka menikmati kehadiran wanita itu!

Darahku serasa berhenti mengalir. Tenggorokanku kering kerontang.

"Oh... jadi Ibu sama Intan udah kenal dekat sama Siska?" suaraku bergetar, berusaha tetap terdengar tenang meski tanganku di dalam saku daster sudah mengepal erat hingga kuku-kukuku menancap ke telapak tangan.

Ibu Ratna tertegun sejenak, lalu mendengus meremehkan. "Ya kenal lah. Dia kan model utama studio Fandi sekarang. Anak baik, tahu cara menghargai orang tua. Enggak kayak orang yang cuma bisa ngabisin uang anak Saya tapi enggak bisa jaga penampilan."

"Ibu tahu kan kalau aku berhenti dari panggung runway itu demi nemenin Mas Fandi dari nol?" suaraku akhirnya naik satu nada. Air mata yang ku tahan sejak tadi mulai mendesak di sudut mata. "Aku hamil tiga kali, ngurus rumah tanpa ART karena Mas Fandi dulu bilang mau hemat buat bikin studio. Dan sekarang Ibu bilang aku cuma bisa ngabisin uang?"

"Halah! Jangan ungkit-ungkit masa lalu!" bentak Ibu Ratna sambil berdiri. "Dulu kamu model juga karena rezeki kamu! Sekarang Fandi udah bisa berdiri sendiri. Jangan merasa paling berjasa! Kamu tuh udah berubah, May. Udah enggak selevel lagi sama Fandi yang sekarang!"

Kata-kata itu runtuh persis di atas kepala. Tak selevel. Sebuah kata yang menghancurkan seluruh sisa rasa sabar yang ku pertahankan bertahun-tahun.

Di tengah kesunyian yang mencekik itu, pintu depan mendadak terbuka lagi. Fandi melangkah masuk, tapi langkahnya terhenti begitu melihat ketegangan di ruang tamu.

Bukannya menanyakan ada apa, mata Fandi justru tertuju padaku dengan tatapan penuh kekesalan. "Maya! Kamu bikin ulah apa lagi sih sama Ibu?!"

**

"Bikin ulah apa?" Aku tertawa kecil—sebuah kekehan hambar yang rasanya menusuk tenggorokanku sendiri. "Kamu tanya aku bikin ulah apa, Mas?"

Fandi melangkah mendekat, mengabaikan pertanyaanku. Dia berdiri tepat di sebelah ibunya, seolah secara otomatis mengambil posisi berlawanan denganku.

"Udah malam, May. Kamu enggak malu dengar tetangga kalau teriak-teriak begini?" suaranya tertahan, tajam dan penuh tekanan. "Ibu sama Intan datang baik-baik ke sini."

"Baik-baik?" Aku menunjuk ke arah Intan yang berpura-pura sibuk memain-mainkan kuku jarinya. "Mereka datang cuma buat ngehina aku, Mas. Ngeremehin aku yang udah kayak pembantu di rumah ini, dan... memuji-muji Siska di depan mukaku! Apa itu pantas?"

Mata Fandi seketika membelalak. Ada kilat kepanikan yang terlintas sekejap di matanya sebelum tertutup oleh raut wajah dingin.

"Jangan bawa-bawa Siska di sini," potong Fandi cepat. "Dia itu rekan kerja. Profesional."

"Rekan kerja?" Aku merogoh saku dasterku, menarik ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari nomor asing tadi. Aku menyodorkannya tepat di depan wajah Fandi. "Rekan kerja yang meluk pinggangmu di studio? Rekan kerja yang ngirim foto ini sambil ngomong kalau estetikamu hilang gara-gara aku?!"

Suasana ruang tamu mendadak sunyi mencekik. Ibu Ratna dan Intan saling pandang, tapi tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah mereka.

Fandi merebut ponsel itu dengan kasar. Matanya meneliti foto tersebut, lalu mendesis. "Kamu memata-matai aku?"

"Aku enggak perlu mata-matai kamu, Mas! Perempuan itu sendiri yang ngirim ke aku!" suaraku bergetar hebat. Rasa sakit hati yang menumpuk seakan meledak sekaligus. "Kamu lupa siapa yang dulu tidur di kontrakan sempit bareng kamu? Siapa yang rela berhenti dari karier cuma demi dukung kamu beli kamera pertama?!"

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!