Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Sebuah Pintu yang Tertutup
Ekaterina
1 Bulan Kemudian...
Hari ini Lis pulang dari rumah sakit.
Akhirnya.
Sebulan terakhir ini adalah campuran antara ketakutan, harapan, dan malam-malam tanpa tidur setelah operasi jantungnya.
Ada hari-hari baik.
Hari-hari ketika dia tersenyum, bermain, dan bilang ingin segera pergi dari rumah sakit itu.
Tapi ada juga hari-hari buruk.
Hari-hari ketika aku mengira aku akan kehilangan dia.
Dokter berterus terang padaku pagi itu:
"Kondisi Lis sekarang tidak parah... tapi ini seumur hidup. Dia butuh minum obat dengan benar supaya jantungnya tak terbebani."
Aku hanya mengangguk.
Karena setelah semua yang kami hadapi...
itu saja sudah terasa seperti sebuah kemenangan.
Adikku hidup.
Dan itu sudah cukup.
Aku berhenti di ambang pintu kamar, mengamati Lis membereskan sedikit barang-barangnya dengan semangat sedunia.
Kelinci boneka yang usang.
Gambar-gambar corengan.
Baju-baju kecil yang dilipat dengan caranya sendiri.
Dadaku sesak oleh haru.
Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...
sepertinya kami mulai keluar dari dasar jurang.
Lis menyadari aku sedang memandanginya lalu tersenyum lebar.
"Kathy, ayo! Aku mau pulang!"
Aku tertawa pelan, mataku mulai berkaca-kaca.
Gadis kecilku.
Begitu mungil.
Begitu tegar.
Aku melangkah ke arahnya dan menggenggam tangan mungilnya dengan lembut.
"Kita pulang, tuan putri."
Dan sementara kami keluar dari kamar itu bersama-sama...
aku bersyukur dalam diam.
Karena hari ini...
akhirnya aku membawa adikku pulang.
Di dalam taksi, Lis nyaris menempel di kaca jendela.
Mata birunya mengamati segalanya dengan penuh pesona.
Orang-orang yang berjalan di jalanan.
Toko-toko.
Pepohonan yang bergoyang tertiup angin.
Hal-hal sederhana.
Tapi bagi dia terasa baru setelah begitu lama terkurung di rumah sakit itu.
Hatiku meremas dalam diam.
"Kathy... kapan aku bisa balik ke sekolah?"
Aku tersenyum tipis.
"Kita masih harus menunggu dokter mengizinkan, ya?"
Dia mengerucutkan bibir kecilnya, tapi mengangguk.
Meski sakit...
Lis selalu berusaha memahami segalanya.
Ketika akhirnya kami sampai di rumah, aku bahkan belum sempat membuka pintu sebelum dia sudah berlari menyusuri lorong sempit itu.
"Lis! Pelan-pelan!"
Dia sama sekali tak mendengarku.
Aku menyusul di belakang sambil tertawa pelan.
Begitu masuk ke kamar kecil, dia langsung berlari ke ranjang dan memeluk boneka-boneka yang berserakan di sana seolah melepas rindu pada teman-teman lama.
Dadaku menghangat melihat pemandangan itu.
Karena begitu lama aku takut takkan pernah bisa membawa adikku pulang lagi.
Hari ini aku terpaksa bolos kerja.
Tapi besok aku tak bisa.
Tagihan terus berdatangan.
Obat-obat Lis juga.
Jadi aku harus menitipkan dia pada Bu Severina.
Tetangga kami.
Perempuan yang nyaris jadi keluarga sejak ibu kami meninggal.
Bu Severina adalah sahabat terbaik ibuku.
Dan sejak itu...
dia selalu menjaga kami berdua semampunya.
Aku mengamati Lis mengobrol riang dengan boneka-bonekanya lalu menarik napas dalam-dalam.
Lelah.
Tapi lega.
Karena meski dengan segala hal...
adikku hidup.
Dan itu membuat perjuangan apa pun jadi berharga.
Hari berlalu terlalu cepat.
Tanpa kusadari, langit sudah gelap di luar jendela.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, rumah kami terasa hidup lagi.
Meski kecil.
Meski sederhana.
Meski dengan perabot tua dan dinding-dinding yang lusuh.
Tetap saja ini rumah kami.
Sementara Lis mandi, aku menyiapkan makan malam.
Mi sederhana.
Cukup untuk kami berdua.
Dan sejujurnya... hari ini itu saja sudah terasa banyak.
Karena kami bersama di sini.
Di rumah.
Ketika Lis keluar dari kamar mandi, mengenakan piama kebesaran dan rambut yang masih basah, hatiku nyaris meleleh.
Dia duduk di meja penuh semangat.
Dan sebelum menyentuh makanannya, dia menyatukan kedua tangan mungilnya.
"Ayo berdoa."
Aku tersenyum otomatis.
Lis memejamkan mata dengan segenap kepolosan di dunia.
"Tuhan di surga... terima kasih banyak untuk hari ini... terima kasih karena aku sudah di rumah... terima kasih untuk Kathy... bantu kami setiap hari dan jagalah kami. Amin."
Tenggorokanku langsung tercekat.
Karena ini doa yang sederhana.
Kecil.
Tapi menyentuhku dengan cara yang hampir menyakitkan.
Aku terus memandanginya dalam diam sementara kami mulai makan.
Kadang aku lupa bahwa, meski dengan penyakit dan semua yang kami alami...
Lis tetaplah cuma seorang anak kecil.
"Kathy... besok kamu pulang jam berapa?"
Aku menggulung mi di garpu sebelum menjawab.
"Baru malam... sebelum makan malam."
Dia hanya mengangguk.
Tanpa mengeluh.
Tanpa merengek.
Dan itu justru meremukkan hatiku lebih dari apa pun.
Karena tak seorang anak pun seharusnya jadi begitu terbiasa dengan ketiadaan.
Begitu kami selesai makan, aku membereskan piring lalu menatap Lis.
"Sikat gigi sana."
Dia langsung menurut, berjalan menyusuri lorong sambil masih berbicara sendiri tentang suatu kisah bonekanya.
Aku berdiri diam mengamati.
Hanya... mengamati.
Karena setelah semua yang terjadi, melihatnya di sini masih terasa seperti mukjizat.
Sehat.
Di rumah.
Ketika dia selesai, aku menggendongnya tanpa aba-aba.
Lis meledak dalam tawa keras sementara aku berlari membawanya ke kamar.
"Kathy!"
Aku ikut tertawa dan membaringkannya di ranjang perlahan.
Lalu aku berbaring di sampingnya.
Lis memalingkan wajah mungilnya ke arahku dan tersenyum dengan cara murni yang selalu meluruhkan segala kesedihan di dadaku.
"Ini hari terbaik dalam hidupku."
Mataku langsung terasa panas.
Aku mengelus rambut pirangnya perlahan.
"Bagiku juga."
Aku tetap di sana sampai napasnya mulai berat oleh kantuk.
Dan ketika dia akhirnya tertidur...
aku terus memandanginya.
Lis punya hati yang begitu baik.
Begitu penuh iman.
Sama seperti ibu kami.
Kadang rindu itu terasa begitu menyesakkan sampai udara pun serasa lenyap.
Aku ingin jadi seperti mereka.
Lebih ringan.
Lebih kuat.
Lebih mampu percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setetes air mata lolos sebelum sempat kutahan.
Aku cepat mengusapnya.
Lalu aku keluar dari kamar perlahan.
Aku mandi cepat lalu merebahkan diri ke ranjang, karena besok aku harus bekerja pagi-pagi.
Sangat pagi.
Ponsel membangunkanku saat langit masih benar-benar gelap.
Tubuhku sakit karena lelah.
Tapi aku tetap bangun.
Aku mandi air dingin untuk mengusir kantuk.
Bersiap cepat.
Lalu kusiapkan bekalku dari sisa mi kemarin.
Kumasukkan semuanya ke dalam tas dan menarik napas dalam-dalam.
Semua siap.
Aku ke kamar Lis dan menggendongnya hati-hati supaya dia tak benar-benar terbangun.
Dia menggumam pelan, masih mengantuk, menyandarkan kepala di bahuku.
Kuselimuti dia dengan sehelai selimut lalu berjalan ke rumah Bu Severina.
Lampunya sudah menyala.
Begitu aku melewati gerbang kecil, dia langsung membuka pintu.
"Selamat pagi, Nak."
"Selamat pagi."
Aku masuk perlahan dan membaringkan Lis di sofa.
Hatiku meremas melihatnya begitu mungil di sana.
"Terima kasih, Bu Severina."
Dia hanya tersenyum penuh kasih.
"Pergilah kerja dengan tenang."
Aku mengangguk cepat.
Karena aku tak boleh terlambat.
···
Ekaterina
Aku turun dari bus tepat waktu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak terlambat.
Kudekap tasku ke tubuh sementara aku berjalan cepat menyusuri trotoar yang ramai, berusaha mengabaikan lelah yang menumpuk sepanjang minggu-minggu terakhir.
Tapi lalu aku melihatnya.
Alfredo.
Di depan sana.
Mabuk.
Seperti biasa.
Perutku langsung mencelos.
Tidak.
Kumohon, jangan hari ini.
Aku langsung menunduk dan berusaha membaur di antara orang-orang di trotoar.
Mungkin dia tak melihatku.
Mungkin—
"EKATERINA!"
Jantungku berpacu.
"DASAR SIALAN! KETEMU JUGA KAU!"
Kepanikan menguasai seluruh tubuhku.
Aku mempercepat langkah, nyaris berlari ke arah gedung kantor.
Aku berpura-pura tak mendengar.
Berpura-pura itu bukan aku yang dipanggil.
Tapi Alfredo terus berteriak namaku di tengah jalan, menarik tatapan semua orang.
Wajahku terbakar oleh malu.
Aku masuk ke gedung nyaris berlari.
Aku hanya perlu sampai ke lift.
Hanya itu.
Tapi di tengah jalan aku menabrak seseorang.
Tubuhku langsung membeku.
Ketika aku mengangkat wajah...
aku melihat bosku.
Pak Orlov menatapku, sudah kesal.
Dan keadaan makin buruk ketika Alfredo masuk tepat di belakangku, meneriakkan namaku.
"Sungguh luar biasa selalu saja kau." Dia berkata, dingin. "Kalau tak terlambat, kau harus bolos. Dan kalau tak bolos... kau membuat keributan di sini."
"Pak, aku bisa jelaskan—"
"Cukup, Ekaterina."
Suaranya memotongku dengan mudah.
Dingin.
Tanpa kesabaran.
"Kau dipecat."
Hatiku mencelos.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
"Urus ke bagian HRD."
Pintu lift terbuka di belakangnya.
Dan sebelum aku sempat berkata apa pun...
dia masuk.
Pintu tertutup.
Dan aku terpaku di tengah resepsionis.
Kehilangan pijakan.
Sementara Alfredo terus meneriakkan sesuatu di belakangku.
"Ibumu yang sialan itu lebih memilih mati demi melahirkan seorang anak cacat..."
Karena di saat itu...
aku sadar aku baru saja kehilangan satu-satunya penghasilan yang menghidupi kami berdua.
Para pengawal akhirnya menyeret Alfredo keluar dari gedung dengan paksa.
Teriakannya perlahan menjauh, tapi rasa malunya masih membakar kulitku.
Aku tetap terpaku beberapa detik.
Berusaha bernapas.
Berusaha menerima apa yang baru saja terjadi.
Lalu aku menuju bagian HRD.
Seperti seorang terpidana yang berjalan menuju hukumannya sendiri.
Perempuan di balik meja itu nyaris tak memandangku ketika menyerahkan berkas-berkasnya.
Aku menandatangani semuanya dalam diam.
Pemecatan.
Tamat.
Dia menyerahkan sejumlah uang untuk hari-hari terakhir yang kukerjakan.
Beberapa lembar yang dihitung.
Kecil.
Tak cukup.
Aku tetap berterima kasih.
Karena penghinaan terasa makin buruk ketika kita bahkan kehilangan sopan santun.
Ketika aku keluar dari gedung, angin dingin menampar wajahku.
Dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu...
aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa.
Aku terpaku di trotoar, mendekap tas ke dada sementara orang-orang berlalu tergesa di sekelilingku.
Hidup terus berjalan normal untuk semua orang.
Kecuali untukku.
Aku tak punya gelar.
Tak punya pendidikan tinggi.
Tak punya pengalaman selain pekerjaan-pekerjaan serabutan.
Akan sulit sekali mendapat pekerjaan lain.
Terutama sekarang.
Dadaku meremas begitu kuat sampai terasa sakit.
Tapi aku menelan tangis.
Karena menangis tak ada gunanya.
Tak pernah ada gunanya.
Maka aku hanya berjalan ke halte bus.
Naik ke bus pertama yang lewat.
Dan pulang ke rumah sambil putus asa berusaha memikirkan sebuah solusi sebelum semuanya runtuh lagi.