Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan
Jantung kota Solaria telah berubah menjadi neraka jahanam yang membara. Udara malam yang seharusnya dingin kini berubah menjadi hawa panas yang membakar kulit hingga melepuh.
Di tengah kepulan asap dan puing-puing bangunan yang runtuh, pertarungan hidup dan mati itu masih terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda akan usai.
Dari atas langit malam, siluet megah burung Phoenix membelah kegelapan. Di atas punggung makhluk legendaris itu, Tetua Ignis berdiri dengan jubahnya yang berkibar kasar.
Tangannya mencengkeram erat sebuah tongkat sihir yang menyala bagai api. Ia merapalkan mantra kuno, mengalirkan seluruh energi sihirnya demi menghalau setiap jangkauan serangan mematikan dari Erabus.
Namun, kenyataan pahit menghantam garis depan pertahanan mereka. Kekuatan monster iblis itu terlalu kuat.
Setiap gelombang api raksasa yang ditembakkan oleh Klan Api justru langsung terhisap, tertelan mentah-mentah ke dalam pusaran aura kegelapan yang menyelimuti tubuh Erabus.
Mata semua pasukan semakin melotot horor. Tubuh Erabus justru kian membesar, otot-otot hitamnya berdenyut kasar setiap kali melahap sihir murni tersebut.
Kobaran api dari seluruh penyihir Klan Api yang seharusnya mampu melelehkan baja, malam ini justru bertindak sebagai hidangan lezat yang membuat sang iblis semakin perkasa.
"HAHAHAHAHA! Bodoh! Sungguh makhluk-makhluk yang sangat menghibur!" Tawa menggelegar iblis itu mengguncang fondasi kota Solaria, meremukkan gendang telinga siapapun yang mendengarnya.
Erabus membuka rahangnya yang dipenuhi taring runcing. Cairan hitam kental berupa racun berbau busuk bangkai menetes deras dari sela-sela giginya, jatuh menghantam permukaan tanah.
Dalam hitungan detik, tanah Solaria di bawah sana mati, membusuk, dan berubah menjadi hitam pekat yang berbahaya. Semua orang secara reflek langsung menghindar.
"Serang aku lagi, para serangga lemah! Rasa api kalian yang panas justru membuat darah di tubuhku semakin bergejolak penuh semangat! Berikan aku lebih banyak makanan!" teriak Erabus, menantang langit dengan congkak.
"Api kita sama sekali tidak mempan padanya!" teriak seorang pasukan dari Klan Api dengan keputusasaan yang kentara di wajahnya.
"Pantas saja dia dijuluki sebagai sang pelahap inti dunia! Monster iblis itu terbuat dari kehampaan, dan kekuatan api adalah makanan utamanya!" timpal penyihir lain yang mulai menjatuhkan senjatanya karena kehilangan harapan.
Mendengar jeritan frustrasi dari pasukannya, Tetua Ignis menggeram marah. Rahangnya mengatup rapat hingga sendi-sendinya memutih.
Di saat kritis seperti ini, menyaksikan kehancuran di depannya, ia merasa benar-benar tidak berguna sebagai seorang pemimpin klan.
Namun tepat ketika kegelapan Erabus nyaris menelan seluruh alun-alun kota, sebuah suara lantang yang berat dan berwibawa menggema membelah keputusasaan.
"Jika api kalian tidak bisa menghancurkan iblis busuk itu, maka biarkan kekuatan murni dari dalam Bumi yang menyeretnya kembali ke dalam kubur!" teriak suara bariton tersebut.
Seketika, perhatian semua orang teralih. Di sebelah sayap kiri medan tempur, derap langkah kaki yang berat terdengar berirama. Tenang di tengah kekacauan yang terjadi.
Pasukan dengan jubah coklat beriringan tanpa rasa takut. Mereka adalah bala tentara dari Klan Bumi—para pengendali struktur tanah.
Bendera Griffin berkibar sebagai simbol dari Klan Bumi.
Di atas punggung Phoenix-nya, sepasang mata Tetua Ignis menajam. Barisan kokoh itu bergerak cepat dan berhenti tepat di samping barisan depan pasukan Klan Api yang sudah pincang.
"Ignis!" teriak Brown, sang Tetua Klan Bumi, sambil menancapkan kapak batu raksasanya ke permukaan tanah.
Ia menatap ke atas langit, ke arah sang penyihir api. "Api kebanggaanmu itu sudah tidak berguna di sini! Menyingkirlah bersama pasukanmu yang kelelahan itu. Sekarang... ini adalah pertarunganku dan klan ku!"
Ignis menggertakkan giginya hingga bergemeletuk menahan geram. Tangan nya mengepal kuat pada gagang tongkat sihirnya, merasa harga dirinya hancur seketika.
"Seluruh pasukan Bumi! Bersiap di posisi! Serang!" teriak Brown memberikan komando mutlak.
BUMMM!
Tanah di bawah pijakan mereka bergetar hebat layaknya gempa bumi berkekuatan dahsyat. Permukaan tanah hitam yang sebelumnya telah membusuk akibat racun Erabus tiba-tiba terbelah parah.
Dari retakan raksasa tersebut, bongkahan- bongkahan tanah bergeser, saling mengunci, dan berkumpul membentuk bola-bola batu raksasa yang padat. Bukan hanya satu atau dua, melainkan ratusan bola batu berselimut aura kecokelatan yang pekat.
Setiap prajurit Klan Bumi kini telah mengendalikan satu batu raksasa di depan mereka menggunakan energi batin.
Dengan gerakan bela diri yang kompak, mereka melompat, meninju, dan menendang bola-bola batu itu maju ke depan dengan kecepatan yang luar biasa mematikan, membelah udara hingga menciptakan suara gema.
Mata Tetua Ignis melotot sempurna dari atas langit. Efek dari serangan itu di luar kendali; benturan energi murni bumi memantulkan serpihan ke segala arah.
Naas, satu bola batu raksasa yang terlempar menyimpang kini melesat cepat dengan kecepatan penuh, mengarah tepat ke posisinya berada!
"Awas!" teriaknya pada diri sendiri sembari melompat ke bawah, berguling di atas tanah hangus demi menghindari lemparan mematikan tersebut yang langsung menghancurkan bukit di belakangnya.
Sementara di atas sana, melayang di antara awan hitam, mata Erabus berkilat penuh kekejian. Sayap hitamnya yang pekat mengepak kuat, menciptakan badai angin yang meremukkan tulang.
Ia membuka mulutnya lebar-lebar, memuntahkan radiasi energi gelap yang kuat dan berdenyut merusak.
Batu-batu raksasa milik Klan Bumi yang mengarah padanya mendadak berhenti di udara, retak, dan meledak menjadi debu sebelum sempat menyentuh seujung kuku pun dari tubuhnya.
Erabus tertawa menggelegar, suara tawa yang sarat akan penghinaan terhadap kekuatan klan Bumi. "Hanya sebatas ini kemampuan tanah yang diagungkan itu? Sungguh menggelikan!" ejeknya.
Mendengar penghinaan itu, mata Brown semakin berkilat murka, memancarkan warna cokelat pekat sehangat inti bumi. "Jangan senang dulu, makhluk terkutuk... kami belum kalah!" teriak Brown dengan urat-urat leher yang menegang.
Ia segera berlutut, menghempaskan kedua telapak tangannya ke atas permukaan tanah hitam. Retakan baru yang jauh lebih besar menjalar cepat dari arah kakinya, menembus jauh ke dalam dasar bumi.
BUM!
Bumi seakan meledak. Dari dalam jurang retakan tersebut, muncul sesosok monster naga raksasa yang seluruh tubuhnya tercipta dari jalinan batu yang mengeras.
"Naga batu! Hancurkan monster kegelapan itu!" titah Brown, mengarahkan sisa energinya untuk mengunci target.
Naga batu itu mengaum dahsyat, lalu terbang melesat ke atas, menerjang langsung ke arah Erabus.
Pertarungan brutal di antara kedua makhluk raksasa itu seketika mengoyak langit, melahirkan gelombang kejut yang meruntuhkan awan.
"Kami juga tidak akan tinggal diam dan kalah di tempat ini!" teriak Tetua Ignis, bangkit berdiri dengan sisa amarah yang membakar dada. "Formasi tempur! Satukan barisan!" teriaknya bergema ke seluruh sisa pasukan.
Seketika, seluruh anggota Klan Api merapatkan barisan dan merapalkan mantra. Tubuh mereka terbakar oleh kobaran api yang bergulung-gulung.
Jiwa-jiwa mereka melebur menyatu dalam satu frekuensi magis, dan dalam sekejap mata, tubuh mereka berubah menjadi sosok Hewan Api legendaris yang memancarkan hawa sangat panas hingga mampu melelehkan besi.
Makhluk api raksasa itu mengaum, lalu menerjang naik ke langit, ikut bergabung dalam pertarungan sengit antara Erabus dan Naga batu.
DUG!
DUAR!
ZZZZZZZZ!
Langit menjadi saksi pembantaian mengerikan. Cakar tajam Erabus yang diselimuti energi kegelapan bergerak secepat kilat, menghantam telak kepala Naga batu.
Pukulan maut itu membuat sang Naga batu hancur berkeping-keping, berubah menjadi serpihan batu kasar yang jatuh menghujani bumi bagai meteor runtuh.
"Hueekkk!" Di darat, Brown langsung jatuh bertumpu pada lututnya dan memuntahkan darah segar dari mulutnya akibat serangan balik dari hancurnya naga tersebut.
HOOAAAAAA!
DUAR!
Belum sempat Klan Api memberikan serangan balasan, Erabus bergerak lebih cepat. Menyadari serangan Hewan Api mendekat, Erabus membuka rahangnya yang mengerikan.
Dengan satu gigitan rakus, ia mengunyah makhluk Hewan Api tersebut, menghancurkan Formasi Klan Api dalam sekejap.
Ledakan energi sisa formasi meletup di udara, membuat tubuh para pasukan Klan Api terlempar dan berjatuhan ke tanah seperti daun kering yang terbakar.
Tetua Ignis terhempas keras ke tanah hingga memuntahkan darah kental. Seluruh pasokan tenaganya telah terkuras habis tanpa sisa.
"Hahahahahaha!" Erabus tertawa puas, mengepakkan sayapnya di atas tumpukan kekalahan mereka, menatap rendah para pejuang yang kini terkapar tak berdaya. "Ayo! Bangkit dan lawan aku lagi!" teriaknya menantang langit.