Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Keesokan paginya, rumah itu kembali diselimuti keheningan yang sejuk. Raelyn terbangun dengan perasaan yang sedikit campur aduk.
Tidurnya semalam terasa kurang nyenyak. Untuk pertama kalinya, kasur di kamarnya sendiri terasa terlalu dingin, dan dia berkali-kali mengubah posisi tidur karena merasa ada sesuatu yang hilang dari dekapannya.
Setelah mencuci muka dan menguncir rambut panjangnya asal-asalan, Raelyn melangkah ke ruang tengah. Di meja makan bersih, Alvarez sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya yang berwarna biru gelap, sedang menyesap kopi hitam tanpa gula.
Wajahnya datar, sedingin es, kembali ke mode pengusaha kejam yang ditakuti semua orang. Pria itu tampaknya masih memendam kekesalan akibat penolakan Raelyn semalam.
Raelyn mendudukkan diri di kursi bar, berniat mengambil sepotong roti bakar. Namun, baru saja tangannya menyentuh selai, ponselnya yang tergeletak di atas meja kaca mendadak bergetar nyaring. sebuah nomor baru yang tidak dikenal tertera di layar digital.
Raelyn mengerutkan kening. Dia menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo, siapa ya?" tanya Raelyn dengan nada ketus khasnya.
"Halo... Lyn? Ini aku, Elang."
Suara di seberang telepon mendadak membuat gerakan tangan Raelyn membeku. Suara bariton lembut yang lima tahun lalu sangat akrab di telinganya, kini terdengar asing dan aneh.
"Aku dengar dari Tisha kamu kuliah di kampus yang sama. Aku baru balik dari luar negeri, Lyn. Kita bisa ketemu buat ngobrol? Aku kangen banget sama kamu," lanjut suara di seberang sana, terdengar penuh harap.
Raelyn terdiam. Otak cerdasnya langsung memproses situasi. Jika kejadian ini terjadi tiga atau empat tahun lalu, mungkin jantungnya akan berdegup kencang karena rasa sakit atau rindu.
Namun sekarang? Anehnya, hati Raelyn sama sekali tidak merasakan riak emosi apapun. Rasa cintanya pada Elang sudah mati total sejak pria itu memilih memutuskan hubungan sepihak karena menolak LDR demi masa depannya sendiri.
Bagi Raelyn, Elang hanyalah selembar kertas usang dari masa lalu yang sudah dia buang ke tempat sampah sejarah. Walaupun Raelyn dikenal sebagai anak yang liar, nakal, ngeyel, dan sulit diatur oleh papanya, dia memiliki prinsip hidup yang sangat kuat.
Dia paling anti memainkan perasaan seseorang, apalagi sekarang statusnya sudah sah menjadi istri dari Alvarez Arran Danadiaksa. Sekecil apa pun cinta yang mulai tumbuh di hatinya untuk Alvarez, Raelyn tahu batas suci yang tidak boleh dia langgar.
"Sori, lo salah sambung," ucap Raelyn dingin.
Klik.
Tanpa menunggu balasan dari Elang, Raelyn langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Tidak sampai di situ, dengan gerakan cepat dan tegas, dia langsung memasukkan nomor tersebut ke dalam daftar hitam (block list) di ponselnya agar tidak bisa menghubunginya lagi. Bagi Raelyn, urusan masa lalu sudah selesai, dan dia tidak berniat membuka celah untuk drama baru.
Meskipun Raelyn bertindak sangat cepat dan tegas, dia melupakan satu hal: dia sedang berhadapan dengan seorang Alvarez Arran Danadiaksa. Pria yang duduk di sebelahnya memiliki pendengaran dan kepekaan setingkat radar militer. Sejak awal ponsel Raelyn berdering, perhatian Alvarez sudah teralih sepenuhnya.
Mendengar nama 'Elang' disebut dan melihat perubahan raut wajah Raelyn yang mendadak menegang, atmosfer di sekitar meja makan dalam sekejap turun hingga di bawah titik beku.
Alvarez meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang cukup keras, memecah keheningan ruangan.
Alvarez menoleh perlahan, menatap Raelyn dengan pandangan matanya yang tajam, pekat, dan memancarkan aura kegelapan yang sangat mengintimidasi.
"Siapa itu?" tanya Alvarez.
Suaranya terdengar sangat rendah, tenang, namun sarat akan nada mengancam yang membuat bulu kuduk meremang.
Raelyn menelan ludahnya gugup, mencoba bersikap biasa saja sembari mengunyah rotinya.
"Bukan siapa-siapa. Cuma orang gila salah sambung."
Alvarez menyipitkan matanya, mencondongkan tubuh tegapnya mendekati posisi Raelyn hingga bayangan tubuhnya mengurung pergerakan istrinya.
"Aku tidak suka dibohongi, Raelyn. Pelacak dan tim keamananku di kafe kemarin melaporkan bahwa temanmu membahas nama seorang pria bernama Elang. Dan pria itu baru saja meneleponmu, kan?"
Raelyn tersentak, menatap Alvarez dengan pandangan tidak percaya.
"Lo... lo beneran mata-matai semua obrolan gue?! Wah, lo bener-bener diktator psycho ya, Al!"
Alvarez tidak mempedulikan makian Raelyn. Rasa cemburu yang teramat besar yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya kini membakar habis seluruh ketenangan logisnya.
Mengetahui ada pria lain dari masa lalu yang mencoba mendekati milik hakikinya membuat jiwa posesif seorang Danadiaksa bangkit dengan brutal.
Alvarez meraih pergelangan tangan kiri Raelyn, menggenggamnya dengan erat namun tetap berhati-hati agar tidak menyenggol jarinya yang terluka.
"Dengar, Raelyn. Kamu adalah istriku. Di atas kertas maupun di dunia nyata, kamu milikku. Aku tidak akan membiarkan pria mana pun menyentuh atau mendekati apa yang sudah menjadi hak milik seorang Alvarez Arran Danadiaksa. Kalau pria bernama Elang itu berani menampakkan dirinya di depanmu... aku bisa membuat dia menyesal pernah menginjakkan kaki kembali di negara ini," ucap Alvarez dengan nada suara yang teramat dingin, tegas, dan mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
Raelyn terpaku di tempatnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata elang suaminya. Di balik rasa takutnya terhadap ancaman kejam Alvarez yang terkenal bisa melenyapkan karier seseorang dalam sekejap, ada perasaan hangat dan getaran aneh yang kembali menggelitik dadanya.
Pria sedingin es ini... sedang cemburu buta karena dirinya. Dan melihat bagaimana Alvarez begitu posesif melindunginya dari bayang-bayang masa lalu, Raelyn tahu bahwa hatinya kini sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari pesona sang suami.