Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Harapan di Bukit Tandus

Sore itu, Arlen pulang lebih lambat dari biasanya. Saat dia masuk ke rumah, Arlen melihat ayah dan ibunya sedang duduk di meja makan dengan wajah lesu. Tumpukan surat dan catatan hitung-hitungan tergeletak berantakan di sana. Arlen tahu beban di pundak mereka semakin berat seiring berjalannya waktu.

Dia memutuskan untuk tidak membicarakannya hari ini. Arlen akan menunggu saat yang tepat, saat dia sudah siap membawa contoh tanaman itu pulang besok pagi.

Malam harinya, Arlen terbangun karena mendengar percakapan pelan dari ruang tengah. Dia mengintip sedikit dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.

"Kita tidak akan sanggup membayarnya, Elena," suara Cedric terdengar berat dan bergetar. "Satu-satunya jalan mungkin kita harus pindah ke kota besar dan mencari pekerjaan di sana. Meski kita akan kehilangan semua warisan leluhur ini."

Elena menangis pelan, tangannya menggenggam tangan suaminya erat. "Aku rela hidup sederhana ke mana pun kau pergi, Cedric. Tapi aku takut akan masa depan Arlen. Tanpa gelar, tanpa tanah, dan tanpa bakat sihir... betapa sulitnya hidup yang akan dia jalani nanti."

Hati Arlen terasa teriris mendengarnya. Arlen tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Besok pagi, aku harus membicarakan nya.

Keesokan paginya, saat kabut belum sepenuhnya hilang, Arlen sudah berada di bukit itu. Dia memilih sepuluh tanaman yang paling besar dan paling sehat, memetiknya dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan batangnya. Ia menyimpannya di dalam kain bersih yang dia bawa, lalu berjalan pulang dengan langkah mantap.

Sesampainya di rumah, Arlen melihat kedua orang tuanya sedang bersiap pergi ke ladang. Arlen berdiri tegak di depan pintu utama, menghalangi jalan mereka sedikit sambil memeluk bungkusan kain itu erat di dadanya.

"Ayah, Ibu... bolehkah aku bicara sebentar?" tanyanya dengan suara tenang namun tegas.

Cedric dan Elena berhenti melangkah mereka, sedikit terkejut melihat putranya tampak begitu serius pagi itu. Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk.

"Tentu saja, Nak. Ada apa?" tanya Elena sambil berjongkok agar sejajar dengan wajah putranya.

Arlen perlahan membuka bungkusan kain itu, memperlihatkan daun-daun hijau berurat perak yang segar dan beraroma sejuk samar yang langsung menyebar ke udara sekitarnya.

"Aku menemukan sesuatu di bukit yang tandus itu," ucap Arlen pelan namun jelas. "Tanaman ini tumbuh di sana, di celah-celah batu hitam yang keras. Aku sudah mengamatinya cukup lama, dan menurut buku-buku yang pernah Ibu ajarkan padaku... ini adalah tanaman yang sangat berharga."

Mata Elena membelalak saat dia melihat daun-daun itu. Ia mendekatkan wajahnya, mengamati urat keperakan yang khas itu, lalu menyentuhnya perlahan. Jemarinya sedikit bergetar.

"Ini... ini Daun Perak Dingin..." gumamnya tak percaya. Elena mendongak menatap Cedric yang juga tampak terkejut luar biasa. "Tanaman ini sangat langka, harganya sangat mahal di pasar penyihir. Katanya hanya tumbuh di tempat yang memiliki aliran energi bumi yang sangat pekat namun stabil."

"Tapi bukit itu tandus dan mati!" seru Cedric mendekat, matanya tak lepas dari tanaman itu. "Bagaimana mungkin tanaman berharga seperti itu bisa tumbuh di sana? Dan kau menemukannya sebanyak ini?"

Arlen sudah menyiapkan jawabannya. Dia menggeleng sedikit, wajahnya tampak polos namun tulus.

"Awalnya hanya ada satu tanaman kecil saja di sana. Aku sering duduk diam di sana karena tempatnya sepi dan sejuk. Aku hanya menyiramnya sedikit air saat hujan lebat, atau membersihkan rumput liar di sekitarnya. Lama-kelamaan... entah mengapa, tanaman itu tumbuh menyebar menjadi banyak seperti ini. Aku tidak tahu alasannya, tapi aku merasa tanaman itu menyukai tempat itu dan mungkin... menyukai kehadiranku."

Arlen berhenti sejenak membiarkan kata-katanya meresap ke benak kedua orang tuanya sebelum melanjutkan dengan nada lebih rendah.

"Ibu pernah bilang padaku... setiap tempat memiliki rahasianya sendiri. Mungkin orang-orang salah mengira bukit itu tidak berguna karena mereka tidak pernah mau duduk diam dan memperhatikannya seperti aku. Mereka hanya melihat tanahnya yang keras, tapi tidak melihat apa yang tersembunyi di baliknya."

Cedric dan Elena terdiam. Mereka menatap tanaman itu, lalu menatap putra kecil mereka yang berdiri tenang di hadapan mereka. Penjelasan itu terdengar sederhana, namun sulit dipercaya. Namun melihat keberadaan tanaman itu yang nyata ada di hadapan mereka, mereka tidak bisa menolak kenyataan itu.

"Jika tanaman ini bernilai tinggi... mungkin kita bisa menjualnya untuk membayar pajak?" tanya Arlen hati-hati.

Elena mengangguk perlahan, matanya kembali berkaca-kaca namun kali ini karena harapan yang muncul kembali. "Satu ikat daun kering saja nilainya setara dengan hasil panen ladang kita selama dua tahun. Jika kau benar-benar memiliki tanaman ini dalam jumlah cukup banyak... mungkin saja itu cukup untuk menyelamatkan tanah kita."

"Tapi ada masalah lain," tambah Cedric yang mulai berpikir logis. Dia mengusap daun itu dengan telunjuknya. "Kita tidak bisa menjualnya sendiri. Jika orang tahu kita memiliki tanaman langka ini padahal kita dikenal miskin dan tidak berdaya, mereka akan bertanya-tanya asalnya, bahkan mungkin merampasnya dengan paksa. Terutama Tuan Karis..."

Arlen sudah memikirkan hal itu juga.

"Kita tidak perlu memberitahu siapa pun tentang asalnya," jawabnya cepat. "Ibu dulu adalah penyihir, bukan? Kita bisa menjualnya lewat pedagang terpercaya di kota yang jauh, atau meminta bantuan seseorang yang tidak kenal kita untuk menjadikannya obat lalu membagi hasilnya."

Arlen berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah. "Satu hal lagi... jangan ada orang lain yang pergi ke bukit itu. Biarkan hanya aku yang ke sana. Aku tahu tempat persembunyiannya, dan aku bisa menjaganya. Jika ada orang lain yang tahu, aku takut tanaman itu akan rusak atau diambil orang lain."

Cedric menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya, sesuatu yang jauh lebih dewasa dari usianya, namun dia tidak bisa menyebutkan apa itu.

"Baiklah," ujarnya akhirnya. Ia berjongkok lalu mengusap kepala Arlen dengan lembut. "Kita akan menjaga rahasia ini. Kita akan mencari cara menjualnya dengan aman. Dan... terima kasih, Nak. Kau memberi kami harapan kembali saat kami hampir menyerah."

Elena mendekat dan memeluk Arlen erat. "Kau anak yang hebat. Apa pun yang terjadi, terima kasih sudah memikirkan kami."

Arlen memeluk ibunya kembali, merasa lega sekaligus sedikit bersalah karena harus menyembunyikan kebenaran sepenuhnya. Namun Arlen tahu ini jalan terbaik untuk saat ini.

Pagi itu berubah menjadi pagi yang penuh harapan. Cedric segera berangkat ke kota terdekat untuk mencari informasi tentang pedagang yang bisa dipercaya tanpa membocorkan keberadaan tanaman itu. Elena mulai mengeringkan daun-daun itu dengan hati-hati sesuai cara yang dia ingat dulu, agar khasiat dan nilainya tidak berkurang.

Arlen kembali ke bukit itu, namun kali ini dia tidak sendirian dalam perasaannya. Ia tahu ujian terberat belum selesai. Jika tanaman ini terbukti cukup berharga, orang-orang yang serakah akan berusaha mencari tahu sumbernya. Dia harus memperkuat penyamaran di sekeliling bukit itu lebih jauh lagi, dan ia harus mempercepat latihannya agar siap melindungi rahasia itu jika ada yang datang dengan niat buruk.

Arlen berdiri di puncak bukit, menatap hamparan tanaman yang kini tumbuh subur berkat kekuatannya sendiri.

Langkah pertama sudah selesai, batinnya bergumam. Tapi ini baru uang. Uang hanya bisa menunda masalah sebentar saja. Untuk benar-benar membuat mereka takut mengganggu kita... aku harus menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya. Dan saat itu tiba... aku akan memastikan tidak ada yang berani meremehkan keluarga Ashford lagi.

Matahari sudah condong ke arah barat saat bayangan panjang kuda dan tunggangan terlihat berjalan perlahan mendekati kediaman Ashford. Cedric pulang lebih lambat dari yang diperkirakan, wajahnya tampak lelah namun matanya menyiratkan sesuatu yang berat dan serius.

Arlen dan Elena sudah menunggu di depan pintu sejak tadi siang. Begitu Cedric turun dari punggung kudanya yang tampak kelelahan, Elena segera menghampiri dan membantunya melepaskan perlengkapannya.

"Bagaimana hasilnya, Sayang? Apakah kau bertemu orang yang tepat?" tanyanya cemas namun berharap.

Cedric mengangguk pelan, lalu melirik sekilas ke arah Arlen yang berdiri tenang di samping ibunya. Dia mengajak mereka masuk ke dalam rumah dan menutup rapat pintu kayu itu seolah takut ada yang mendengar dari luar.

"Aku tidak sembarangan bertanya pada pedagang biasa," ujar Cedric sambil duduk di kursi kayu tua, napasnya masih sedikit berat karena perjalanan jauh. "Aku ingat ada kenalan lama, seseorang yang dulu pernah berdagang bersama ayahku sebelum menghilang ke kota. Namanya Tuan Valian. Dia memiliki kedai yang tidak terlihat mencolok di sudut kota, namun katanya dia berurusan dengan barang-barang langka atau sulit didapat."

Cedric berhenti sejenak, menatap ke arah tumpukan daun Daun Perak Dingin yang sudah dikeringkan rapi di atas meja.

"Aku berani menunjukkan sedikit sempel saja. Begitu dia melihatnya, ia terkejut luar biasa. Dia tahu betul jenis tanaman ini dan nilainya yang sangat tinggi. Ia bersedia membeli sebanyak yang bisa kami berikan dengan harga yang sama persis dengan harga pasar tertinggi—bahkan dia berjanji tidak akan bertanya asal-usulnya selama kualitasnya terjaga."

Mata Elena berbinar lega mendengarnya. "Kalau begitu itu kabar baik! Jika dia membeli semua yang kita miliki, kita pasti bisa melunasi hutang pajak itu berkali-kali lipat."

Namun Arlen memperhatikan perubahan raut wajah ayahnya. Cedric tampak tidak sepenuhnya gembira. Ada kerutan khawatir yang masih terlihat di dahinya.

"Ada syaratnya, bukan?" tanya Arlen pelan namun tepat sasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!