Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Tak Senilai
Sore itu, pelataran Hani’s Atelier tampak sedikit berbeda. Sebuah mobil sedan hitam mengilap terparkir rapi di depan butik, memantulkan kilau lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Di dalam butik, Pak Hendra berdiri anggun dengan setelan kemeja formal berbahan katun impor. Di tangannya, ia memegang sebuah buket bunga mawar putih berukuran sedang dan kotak hadiah berbalut pita merah muda.
"Ini untuk Keyra, Vita," ujar Pak Hendra dengan nada suara yang hangat, teratur, dan penuh percaya diri. Ia meletakkan kotak hadiah berisi boneka mahal itu di atas meja kasir. "Saya tahu dia suka sekali mainan dari merek ini. Sekalian, bunga ini untuk mempercantik meja kerjamu."
Evita berdiri di balik meja. Wajahnya yang biasa kaku dan berjarak kini memperlihatkan raut yang jauh lebih tenang. Ia menatap buket bunga itu sejenak, lalu mengulas senyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali diperlihatkannya kepada pria mana pun.
"Terima kasih banyak, Pak Hendra," sahut Evita, suaranya terdengar ramah dan menerima. "Bunganya sangat cantik. Keyra pasti senang sekali dapat hadiah ini."
Pak Hendra tersenyum puas. Perubahan sikap Evita yang mendadak melunak selama dua hari terakhir membuatnya merasa di atas angin. "Sudah saya katakan, Vita. Kamu tidak perlu terus-terusan menanggung semuanya sendiri. Kerjasama bisnis kita akan segera berjalan, dan saya siap membantu segala kebutuhan butik ini... termasuk kebutuhanmu dan Keyra."
Evita mengangguk pelan, tidak menarik diri maupun membantah ucapan tersebut. Ia membiarkan Pak Hendra berdiri di dekatnya, menciptakan suasana yang tampak harmonis dan serasi, sebuah pemandangan dua orang dewasa yang matang dan berkelas.
Denting bel pintu kaca berbunyi, memecah percakapan mereka.
"Mbak Vita! Aku pulang!"
Yunita melangkah masuk ke dalam butik seraya menghembuskan napas lega. Di belakangnya, Arvino berjalan menyusul. Vino mengenakan kaus polos berbalut jaket kain sederhana, memegang dua koper kecil berisi sisa berkas dan dokumen pendaftaran kuliah Yunita yang baru saja mereka selesaikan di kampus.
"Pak Hendra?" gumam Yunita terkejut saat melihat pria itu berdiri sangat dekat dengan kakaknya.
Langkah Vino terhenti di dekat pintu. Matanya yang tajam seketika menangkap buket mawar putih di meja kasir, kotak hadiah mewah, serta senyuman di wajah Evita yang belum sepenuhnya pudar. Ada sesuatu yang menghantam dadanya, sebuah rasa sesak yang hadir begitu mendadak.
Pak Hendra menoleh, lalu menyunggingkan senyum patronizing—senyuman seorang pria dewasa yang merasa posisinya jauh lebih unggul dari segala sisi.
"Ah, Yunita. Baru selesai urus berkas kuliah?" panggil Pak Hendra ramah. Pandangannya kemudian beralih pada Vino yang berdiri memegang koper. Pak Hendra menatap jaket lusuh dan sepatu kets Vino dengan kilat mata yang meremehkan, namun dibungkus dengan nada bicaranya yang tetap sopan. "Terima kasih ya, siapa namamu kemarin? Vino, ya? Terima kasih sudah bantu bawakan barang-barang Yunita. Kamu sangat rajin."
Vino menatap Pak Hendra lurus. Tidak ada ledakan emosi di matanya, tetapi raut jenaka yang biasa hadir di wajahnya sirna sepenuhnya. "Sama-sama, Pak Hendra. Saya cuma membantu teman seangkatan."
"Baguslah," lanjut Pak Hendra seraya merangkul pelan jasnya sendiri, dengan sengaja memamerkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Anak seusiamu memang harus banyak membantu orang lain. Mumpung masih muda dan belum punya beban tanggung jawab besar seperti kami yang sudah dewasa ini."
Pak Hendra lalu berpaling kembali pada Evita, menatap wanita itu dengan binar posesif yang halus. "Vita, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bertiga bersama Keyra? Saya tahu restoran keluarga yang sangat bagus di pusat kota."
Evita diam sejenak. Pandangannya sempat beradu dengan mata cokelat terang milik Vino yang berdiri beberapa meter di depannya. Ada tatapan bertanya, terluka, dan penuh keseriusan di mata pemuda itu. Namun, bukannya pasang badan atau memberi jarak pada Pak Hendra seperti biasanya, Evita justru memalingkan wajahnya.
"Boleh, Pak Hendra," jawab Evita pelan namun terdengar sangat jelas di seluruh penjuru butik. "Nanti saya siap-siap dulu bersama Keyra."
Jawaban itu memukul dada Vino tanpa ampun.
Yunita yang berdiri di samping Vino terperanjat pelan. Ia menoleh kaget ke arah kakaknya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Mbak Vita, wanita yang selalu membentengi diri dari pria dewasa mana pun kini menerima ajakan makan malam Pak Hendra dengan begitu mudah di depan mata Vino?
Pak Hendra tersenyum lebar, merasa telah memenangkan persaingan yang bahkan tidak perlu ia usahakan dengan keras. "Luar biasa. Saya tunggu di mobil ya, Vita."
Sebelum melangkah keluar, Pak Hendra sempat menepuk bahu Vino dua kali, sebuah gestur patronizing yang menegaskan perbedaan batas kelas di antara mereka. "Belajar yang rajin ya, Vino. Biar besok kalau sudah dewasa bisa sukses dan membahagiakan pasanganmu."
Pak Hendra berjalan keluar menuju sedan mewahnya dengan langkah mantap.
Suasana di dalam butik mendadak hening dan mencekam. Yunita mengambil koper dokumen dari tangan Vino dengan rasa tidak enak yang membuncah di dadanya. "Vin... kamu..."
Vino menurunkan tangannya perlahan. Ia berdiri tegap, memandangi Evita yang masih enggan menatap matanya. Di hadapannya berdiri realita yang teramat jelas, seorang pria dewasa yang mapan, sukses, sanggup memberi kemewahan, dan kini diterima dengan hangat oleh Evita. Sementara dirinya? Hanyalah koki kedai berusia delapan belas tahun yang hanya sanggup membawa bekal buatan sendiri.
Persaingan ini terasa begitu tidak senilai.
Vino menarik napas panjang, mengembuskannya secara perlahan hingga bahunya yang tegang kembali rileks. Alih-alih meluapkan amarah atau menunjukkan rasa mindernya, Vino memilih untuk mempertahankan martabatnya.
"Yun, barang-barangmu sudah lengkap semua ya," kata Vino pada Yunita dengan suara yang sangat tenang dan terkontrol. "Aku pamit balik ke kedai dulu."
"Vin, tunggu—" panggil Yunita.
Vino menggeleng halus pada Yunita, menyuruhnya untuk tidak merasa bersalah. Kemudian, Vino menoleh pada Evita. Pemuda itu menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan.
"Selamat menikmati makan malamnya, Mbak Vita," ujar Vino, suaranya pelan namun mantap tanpa ada getar keputusasaan. "Permisi."
Vino memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari butik. Pintu kaca berdenting halus saat menutup rapat.
Evita berdiri membatu di balik meja kasir. Jemarinya meremas kain blusnya di bawah meja hingga memutih. Matanya perlahan bergulir menatap punggung tegap Vino yang melangkah makin jauh di bawah temaram lampu jalanan Surabaya.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak hebat di dalam dada Evita, membakar hatinya dengan rasa bersalah yang luar biasa, namun ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri diam di sana.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍