Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kania yang Baik Hati
Dua bulan telah berlalu.
Dan, hari adalah hari yang selama ini ditunggu Cynara. Akta Cerai yang berada di dalam map cokelat, kini telah berada di dalam pelukannya erat.
Resmi.
Tidak ada lagi nama Anugrah Pratama sebagai suaminya. Tidak ada lagi kewajiban untuk menunggu kepulangannya.
Tidak ada lagi alasan untuk kembali ke rumah yang selama tiga tahun membuatnya merasa seperti orang asing.
Cynara keluar dari gedung pengadilan dengan langkah pelan. Ia berhenti sejenak di trotoar. Menatap map yang ada di tangannya.
Senyuman tipis merekah di bibirnya. “Akhirnya selesai.”
Hanya dua kata.
Tetapi rasanya seperti baru saja melepaskan beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun.
Cynara mulai berjalan. Namun, baru beberapa meter, langkahnya mendadak melambat. Kepalanya terasa berputar.
Ia memejamkan mata. Tangannya segera berpegangan pada tiang di dekat trotoar.
“Kenapa kepalaku pusing sekali?”
Napasnya menjadi lebih berat. Pandangan di depannya mulai berkunang-kunang.
Cynara mencoba berdiri tegak. Namun, tubuhnya justru kehilangan keseimbangan.
Sebuah mobil mewah yang melaju tidak jauh darinya tiba-tiba memperlambat kecepatan.
Kemudian berhenti di pinggir jalan. Pintu belakang terbuka. Seorang perempuan turun.
Perempuan itu terlihat sedang hamil. Perutnya sudah cukup terlihat, meskipun belum terlalu besar.
Ia segera menghampiri Cynara. “Mbak?”
Cynara mengangkat wajah.
“Kamu tidak apa-apa?”
Cynara tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja.”
Perempuan itu justru semakin khawatir. “Kamu pucat sekali.”
“Tidak apa-apa. Mungkin hanya kurang tidur.”
“Aku lihat tadi kamu hampir jatuh.”
Cynara hendak menjawab, tetapi kepalanya kembali terasa berputar.
Perempuan itu segera memegang lengannya. “Nah, kan.”
Cynara akhirnya membiarkan dirinya ditopang. Perempuan itu memperhatikannya beberapa saat. Kemudian matanya jatuh pada map cokelat yang masih digenggam Cynara.
“Apa itu?”
Cynara menunduk. “Oh…" Ia tersenyum getir. “Akta cerai.”
Perempuan itu terdiam. “Cerai?”
Cynara mengangguk. “Aku baru saja resmi bercerai dengan pria yang kemarin menjadi suamiku.”
Tatapan perempuan itu berubah lembut. “Jadi, kamu sendirian?”
“Iya.”
“Tidak ada keluarga?”
Cynara menggeleng. “Keluargaku jauh di desa.”
Mata perempuan itu tampak berbinar, merasa kasihan pada Cynara “Jadi tak ada siapa pun yang menemanimu?”
Cynara menggeleng pelan, tetapi bibirnya berusaha mengulas senyum meski sangat terpaksa. “Aku tak memiliki siapa pun di sini.”
Perempuan itu langsung memahami dan menghela napas berat. “Kalau begitu, ikut kami aja. Biar aku antar ke rumah sakit.”
Cynara menggeleng. “Tidak usah, Mbak. Aku nggak enak membuatmu repot.”
Perempuan itu terus memapah Cynara.
“Bagaimana kamu tahu kamu tidak apa-apa? Sementara aku melihatmu hampir jatuh pingsan.”
Cynara tidak bisa menjawab.
Perempuan itu kemudian tersenyum. “Namaku Kania. Kamu tidak perlu khawatir aku akan berbuat jahat. Aku ini wanita hamil, tak mungkin, melakukan hal buruk,” ucapnya lagi berusaha meyakinkan Cynara.
Cynara menatapnya. “Namaku Cynara. Senang bertemu denganmu, Mbak Kania.”
Kania mengangguk. “Mbak Cynara, kita memang tidak saling mengenal, tapi aku tulus ingin membantu. Siapa tau, saat lahir nanti anakku bisa menjadi anak yang baik, kelak.”
Kania menunjuk ke arah mobil mewah yang ia naiki tadi. “Ayo ikut aku.”
Cynara menatapnya. Entah mengapa, perlakuan wanita itu membuat dadanya terasa hangat.
“Mbak…”
“Ya?”
“Kenapa mengkhawatirkanku?” Cynara tersenyum getir. "Bahkan ini pertemuan pertama kita."
Kania membalas senyumannya. “Memangnya membantu seseorang harus menunggu sampai sekian kali bertemu?”
Cynara terdiam, merasa terharu mendengar ucapan Kania.
“Kamu terlihat tidak baik-baik saja.” Kania menggenggam tangannya. “Jadi kita harus segera ke rumah sakit.”
Cynara akhirnya menyerah. “Baik.”
Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria tinggi keluar dari balik kemudi. Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya datar.
Ia berjalan mendekati Kania. “Kenapa?”
Kania menunjuk Cynara. “Mas, kayaknya dia sedang sakit.”
Pria itu menatap Cynara, tak ada rasa kasihan sama sekali dari mata itu.
"Mas, ayo bantu ..." rengek istrinya yang ikut sedih.
Akhirnya Alvin tak tahan dengan kebaikan istrinya ini. Meski, harus membuat semua repot, termasuk dirinya.
“Kalau begitu, kita bawa,” ucapnya datar.
Kania mengangguk, tersenyum menatap suaminya itu.
“Ayo, Mbak Cynara.”
Kania memapah Cynara menuju mobil. Cynara duduk di kursi belakang. Kania ikut masuk dan duduk di sampingnya.
Pria itu kembali ke kursi pengemudi. Mobil kemudian melaju menuju rumah sakit.
Cynara menyandarkan kepala pada jok. Sementara tangannya masih menggenggam map cokelat berisi Akta Cerai.
Ironis.
Hari ini ia resmi bebas dari Anugrah. Tetapi tubuhnya tak segembira hati yang baru saja lepas pernikahan yang tak bahagia.
Setelah sampai di rumah sakit, pemeriksaan langsung dilakukan. Setelah pemeriksaan usai, Cynara duduk di ruang tunggu dengan wajah tegang.
Kania masih menemaninya. “Semoga bukan hal yang buruk,” ucap Kania mengusap punggung Cynara dengan lembut.
Cynara mengangguk. “Terima kasih ya Mbak, sudah mau menemaniku.”
“Jangan sungkan.”
Tidak lama kemudian, perawat memanggil namanya. “Ibu Cynara?”
Cynara langsung berdiri. “Iya, Sus.”
“Silakan masuk.”
Cynara mengikuti perawat, duduk di meja dokter yang memeriksanya tadi.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan raut wajah yang berbeda. Tangannya memegang hasil pemeriksaan.
Kania langsung menghampiri. “Bagaimana?”
Cynara tidak menjawab. Tatapannya kosong.
“Kamu baik-baik saja?”
Air mata mulai memenuhi mata Cynara.
Kania menggenggam tangannya. “Ada apa?”
Cynara akhirnya bersuara. “Dokter bilang…” Suaranya bergetar. “Aku hamil.”
Kania memgerutkan keningnya. “Hamil?”
Cynara mengangguk. “Sudah tiga bulan.” Air mata pertama jatuh. Kemudian disusul tetesan berikutnya.
“Tiga bulan…” Cynara menatap hasil pemeriksaan di tangannya.
Tangannya bergetar. “Bagaimana ini?”
Kania segera memegang bahunya.
Cynara menutup mulut. Tangisnya pecah. “Aku baru saja resmi bercerai…”
Kania memeluknya.
“...dengan ayahnya…” Cynara menggeleng. “Mas Anugrah.” Ia terisak.
Kania tidak tahu harus berkata apa.
Cynara memegang perutnya yang masih rata. Di sana ada kehidupan kecil yang bahkan belum sempat ia ketahui keberadaannya.
Seorang anak. Anak dari laki-laki yang beberapa jam lalu sudah resmi menjadi mantan suaminya.
“Aku harus bagaimana?” Tangis Cynara semakin pecah.
“Aku bahkan tidak tahu harus memberitahunya atau tidak.”
Di balik pintu ruang tunggu, Alvin berdiri diam. Ia tidak sengaja mendengar percakapan itu. Tatapannya sempat jatuh kepada perempuan yang sedang menangis di pelukan istrinya.
Namun, ia tidak mau ikut campur. Ia hanya berkata pelan kepada Kania,
“Kalau sudah selesai, kita pulang.”
Kania tampak sedih, dan ragu. "Tapi, Mbak Cynara sendirian aja," rengeknya.
Alvin tetap memasang muka datar. Tangannya sudah terulur menunggu tangan istrinya. Kania melirik Cynara, beralih ke tangan suaminya.
"Maafkan aku ya, Mbak?" akhirnya Kania tak bisa membantah Alvin, suaminya.
"Nggak apa, Mbak Kania. Terima kasih ya, sudah menemaniku," tangis Cynara sambil memeluk hasil pemeriksaannya.
"Semoga anak-anak kita bisa bertemu dan menjadi teman akrab nantinya ..." Terdengar suara Kania yang semakin menjauh.
*bersambung*