Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan kedua arashi hondo
Setelah berpisah dengan Kiba dan teman-temannya, Rin tidak langsung pulang. Masih ada satu pertemuan lagi yang harus ia jalani hari itu.
Rin membuka aplikasi di ponsel untuk memastikan lokasi. Pertemuan kedua dijadwalkan sore hari di sebuah lapangan olahraga yang cukup luas. Ia membaca profil pria itu sekali lagi: Arashi Hondo, 28 tahun, seorang ASN. Di foto profilnya, Arashi terlihat sangat rapi dengan rambut pendek, wajah tegas, dan pembawaan tenang.
“Kelihatannya serius... Semoga aku tidak bikin malu,” gumam Rin memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melangkah menuju lokasi.
Sore mulai turun ketika Rin tiba di area lapangan. Tempat itu cukup ramai—beberapa orang tampak berlari mengelilingi lintasan, sebagian melakukan peregangan, dan sisanya duduk santai di taman. Rin berjalan menuju titik temu yang disepakati, sebuah bangku taman di tepi lapangan, lalu duduk menunggu.
Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki terdengar dari arah lintasan. Seorang pria berkaus hitam dan celana training memperlambat larinya. Rambutnya sedikit basah oleh keringat dan sebuah handuk kecil melingkar di lehernya.
Pria itu berhenti beberapa meter dari Rin, melirik ponselnya, lalu mengangkat wajah. Tatapan mereka beradu.
Senyum tipis terukir di wajah tegas pria itu. “Apakah kamu Tachibana-san?”
Rin refleks berdiri. “Iya. Kamu arashi-san?”
“Arashi Hondo,” jawabnya mengulurkan tangan.
Rin menyambut uluran tersebut. “ Aku Rin Tachibana.”
“Maaf membuatmu menunggu. Aku tadi sedang jogging,” ujar Arashi sambil mengusap sedikit keringat di dahinya.
“Tidak masalah, aku juga baru sampai,” sahut Rin. “Jadi... kamu memang suka olahraga?”
“Ya, aku berusaha olahraga ringan setiap hari, walaupun hanya sekitar dua puluh menit.”
Rin mengangguk-angguk pelan. Berbeda dengan Kiba, Arashi memiliki gestur yang jauh lebih tenang dan berwibawa. Bahkan setelah selesai berlari, napasnya yang masih sedikit berat tidak membuat pembawaannya terlihat berantakan.
“Kalau begitu... kau mau duduk dulu?” tawar Rin berusaha mencairkan suasana.
“Boleh.” Arashi ikut duduk di ujung bangku setelah memastikan napasnya Sudah lebih teratur. Ia menatap lintasan lari di hadapan mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya menoleh. “Jadi... apa olahraga favoritmu, Tachibana-san?”
Pertanyaan sesederhana itu ternyata cukup membuat kepala Rin kosong seketika. Olahraga favorit? Ia mencoba mengingat-ingat aktivitas yang pernah ia lakukan secara rutin. Berlari? Tidak. Bersepeda? Jarang. Pergi ke gym? Sama sekali tidak.
“Senam,” jawab Rin akhirnya.
“Em...Senam, ya.” Arashi mengangguk kecil.
“Iya.”
Percakapan kembali hening sebentar. Arashi kemudian mengambil botol minumnya, meneguk beberapa kali, lalu menoleh lagi. “Kalau boleh tahu, profesimu apa, Tachibana-san?”
“Aku...” Rin terdiam.
Arashi memperhatikannya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Biar aku tebak. Kau seorang koki?”
Rin malah terkekeh. “Bukan, aku bahkan tidak bisa memasak sama sekali.”
“Oh, begitu.” Arashi tampak berpikir sejenak. “Kalau begitu... kau desainer?”
“Bukan juga, Arashi-san.”
“Berarti kau bekerja di bidang lain?”
Rin menggeleng pelan. “Aku tidak bekerja.”
Arashi sedikit mengangkat alisnya. “Oh... kau masih kuliah?”
“Tidak juga.” Rin tersenyum canggung sebelum akhirnya menjawab dengan jujur, “Tidak kedua-duanya. Aku seorang gamer.”
Arashi yang tadi hendak minum mendadak menghentikan gerakannya. Botol yang sudah hampir menyentuh bibirnya diturunkan kembali. “Maksudmu... kau bermain game?”
“Iya.”
“Streaming? Seperti itu?”
Rin mengangguk. “Ya. Kadang streaming, kadang joki game. Kalau dapat item langka, aku juga bisa menjualnya.”
“Sejak kapan?” tanya Arashi sambil mengangguk pelan, masih terlihat sedikit heran.
“Sejak tamat SMA.”
“Oh.” Arashi kembali meneguk minumnya, menutup botol tersebut, lalu meletakkannya di samping kaki.
Beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam sebelum Arashi kembali membuka suara. “Kalau begitu, boleh aku bertanya satu hal lagi? Apa tujuanmu ikut perjodohan ini, Tachibana-san?”
“Eh... aku...” Rin terdiam.
Pertanyaan itu justru membuatnya bingung sendiri.
Arashi melanjutkan dengan nada tenang, “Apakah ini keinginanmu? Atau orang tuamu yang sudah memiliki standar tertentu mengenai calon suami untukmu?”
Rin menundukkan pandangan. Beberapa detik kemudian, ia menjawab pelan,
“Ini... bukan keinginanku.”
Arashi hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Keheningan kembali memenuhi bangku taman itu. Keduanya memandang orang-orang yang masih berlari mengelilingi lapangan, sementara langit perlahan berubah warna.
Sore mulai bergeser menuju senja. Arashi akhirnya berdiri dan merapikan sedikit bagian celana olahraganya.
“Baiklah, sudah hampir senja. Aku harus melanjutkan lari lagi.” Ia menoleh kepada Rin. “Kau mau ikut?”
Rin spontan melihat pakaiannya sendiri. Celana yang ia kenakan jelas bukan pakaian untuk berlari, dan sepatunya pun hanya sepatu kasual. “Emm... aku tidak memakai sepatu untuk berlari.”
Arashi mengikuti arah pandangan Rin ke sepatunya, kemudian tersenyum kecil. “Baiklah kalau begitu.” Ia membungkuk sopan. “Aku mau mulai berlari lagi. Sampai bertemu lagi, Tachibana-san.”
Rin ikut berdiri dan membungkuk. “Sampai bertemu.”
Arashi berjalan menuju jalan setapak yang mengelilingi lapangan dan mulai berlari kembali. Rin memperhatikannya sampai pria itu semakin jauh.
Rin mengembuskan napas pelan. “Huuff selesai juga...”
Ia kembali duduk di bangku taman. Daripada memikirkan penilaian orang lain, lebih baik ia menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Rin mengambil ponselnya, mengambil foto arashi yang belum terlalu jauh .
“Tinggal satu orang lagi.”
Setelah itu, Rin membuka kembali aplikasi, membaca profil pria berikutnya : Kyo Hideki — 25 tahun (Pengusaha muda).
Rin mengusap dagunya. “Dua puluh lima... masih muda.”
Ia membaca informasi lainnya, melihat jadwal yang tersedia di Kafe Aozora, lalu menatap layar beberapa saat sebelum menghela napas. “Baiklah... ini yang terakhir.”
Rin menekan tombol konfirmasi hingga alamat serta waktu pertemuan muncul di layar. Ia segera berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tiga pria, tiga pertemuan, dan setelah ini semuanya akan selesai—setidaknya, itulah yang Rin harapkan.
Ia mulai berjalan meninggalkan taman olahraga sambil menyemangati dirinya sendiri. “Sedikit lagi... selesaikan saja semuanya.”
Langkahnya dibuat lebih cepat. Kalau pertemuan terakhir ini berhasil ia lewati, mungkin akhirnya ia bisa kembali ke rumah tanpa harus terus memikirkan soal perjodohan. Dan yang paling penting... ia bisa segera pulang.
***
Langit Ishikawa perlahan berubah oranye kemerahan, menandakan malam mulai menjelang. Suara bising kendaraan dan derap langkah orang-orang yang baru pulang kerja memenuhi udara sore.
Sepanjang jalan, pikiran Rin justru kembali melayang pada Arashi. Ada rasa sedikit ganjil yang tertinggal di hatinya. Cara Arashi menghentikan botol minumnya saat mendengar kata 'gamer', cara pria itu manggut-manggut dengan tatapan kurang paham—semuanya mengisyaratkan pandangan skeptis.
Bagi pria mapan dan teratur seperti Arashi, pekerjaan Rin mungkin hanya dianggap sebagai hobi tak berguna untuk menghabiskan waktu.
Rin membuang napas kasar. “Kenapa sih orang-orang selalu memandang sebelah mata pekerjaan gamer? Padahal menghasilkan uang juga...” gumamnya pelan.
Tak terasa, papan nama kayu bertuliskan Kafe Aozora dengan lampu-lampu gantung hangat sudah terlihat di depan mata. Kafe itu tampak estetik dan nyaman, cocok untuk anak muda.
Rin berhenti sejenak di depan pintu kaca, merapikan kemeja merah mudanya, lalu menarik napas panjang.
“Kyo Hideki. 25 tahun, pengusaha,” bisik Rin mengingat profil terakhirnya. Semoga yang ini tidak sekaku Arashi dan tidak serasional Kiba.
Rin mendorong pintu kafe. Suara denting bel kayu menyambut kedatangannya, berpadu dengan aroma kental biji kopi sangrai dan alunan musik jazz pelan. Klien terakhirnya sudah menunggu di dalam. Rin mengedarkan pandangan, siap menyelesaikan misi perjodohan maratonnya hari itu.