Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Menjadi Penjahat yang Berakhir Tragis
Rasa berat luar biasa di kelopak mata membuatku berjuang cukup lama sebelum akhirnya berhasil membuka mata perlahan. Cahaya lampu gantung yang mewah dan berkilauan menyilaukan pandangan sesaat. Saat pandanganku mulai jernih, aku menyadari langit-langit kamar yang tinggi dan dihiasi ukiran rumit ini sama sekali tidak kukenal. Ruangan ini tampak sangat megah, penuh perabotan berharga, namun terasa begitu dingin dan sepi. Ini bukan kamarku. Bukan pula tempat tinggalku.
Dengan perasaan bingung yang mulai bercampur cemas, aku mencoba bangun dari tempat tidur yang empuk itu. Langkahku terhuyung pelan saat mendekati cermin besar yang terpasang di dinding. Saat pandanganku jatuh ke pantulannya, napasku seketika tertahan di tenggorokan.
Wajah yang terlihat di sana sungguh cantik luar biasa — kulit putih bersih, raut wajah tegas dengan hidung mancung dan bibir berbentuk indah. Namun sorot matanya terlihat sombong, dingin, dan tajam seolah memandang rendah segala sesuatu. Itu bukan wajahku. Tapi entah mengapa, aku sangat mengenal wajah ini.
Jantungku seketika berdegup kencang hingga terasa sesak di dada.
Freya.
Itu Freya, tokoh antagonis dalam novel yang baru saja kubaca hingga selesai kemarin sore. Seorang wanita yang dikenal kejam, sombong, penuh kesombongan, dan kerap menyakiti orang lain sesuka hati. Dan aku tahu betul takdir yang menantinya — diceraikan dengan penuh penghinaan di depan umum, diusir dari rumah keluarga suami, diabaikan semua orang, hingga akhirnya berakhir mati muda dalam kesepian dan penderitaan.
Keringat dingin mulai menetes di pelipisku. Yang jauh lebih mengerikan lagi terlintas di pikiranku... jika aku kini menjadi Freya, berarti di masa ini, ia belum bercerai. Artinya — suaminya masih ada.
Tepat saat pikiran itu melintas, pintu kamar terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk dengan langkah tenang dan berwibawa. Wajahnya tampan bagai pahatan dewa, rambutnya tertata rapi, dan tubuhnya tegap berbalut pakaian yang tampak berharga. Namun sepasang matanya yang tajam itu sedingin es, tak memancarkan sedikit pun kehangatan.
Itu dia. Arga. Suami Freya. Pria yang dalam cerita aslinya tak pernah sekalipun menyayangi istrinya. Ia justru ikut mencela, meninggalkan, dan menjadi salah satu alasan utama kehancuran serta kematian Freya.
Arga berhenti tak jauh dari tempatku berdiri, menatapku sekilas dengan tatapan datar tanpa sedikit pun emosi. "Sudah bangun? Jangan berpura-pura sakit hanya untuk mencari perhatian dariku. Itu tidak akan berhasil."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dalam cerita yang kubaca, saat mendengar ucapan seperti itu, Freya akan langsung meledak marah, membentak dengan kasar, melontarkan kata-kata tajam — dan sikap itulah yang justru membuatnya semakin dibenci dan dijauhi semua orang.
Aku menarik napas dalam-dalam, menekan rasa takut yang menyelimuti, dan memilih menunduk pelan. Suaraku terdengar lemah namun tenang. "Maaf... aku mengerti. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Keheningan menyelimuti ruangan seketika. Arga tampak tertegun. Tatapan matanya yang tajam kini meneliti wajahku dari atas hingga bawah, seolah tak percaya dengan jawaban yang baru saja ia dengar. Ia menatapku cukup lama, seolah sedang mencoba memastikan apakah yang ia dengar itu benar.
Tanpa menambahkan sepatah kata pun, ia akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi. Namun sebelum pintu tertutup rapat, samar-samar telingaku menangkap suara pelannya, seolah diucapkan untuk dirinya sendiri.
"Freya... apa yang sebenarnya terjadi padamu hari ini?"
Pintu pun tertutup rapat. Kini hanya tersisa aku sendirian di ruangan luas itu. Kaki lemas tak tertahankan, hingga aku jatuh berlutut di lantai dingin sambil memeluk tubuh yang gemetar hebat.
Takdir tragis itu masih menantiku. Waktu masih berjalan sesuai cerita yang kubaca. Namun kali ini... aku bukan Freya yang bodoh, kasar, dan sombong yang membiarkan dirinya hancur begitu saja. Aku akan berusaha mengubah takdir ini. Aku akan menyelamatkan diriku sendiri, dan mengubah akhir cerita yang menyedihkan itu.
Bahkan jika aku harus menghadapi pria yang seharusnya menjadi musuh terbesarku — suamiku sendiri.
Namun... mengapa saat kulihat punggungnya yang menjauh tadi, ada rasa sakit yang samar namun nyata menyelinap di dalam dadaku? Dan mengapa aku punya firasat yang kuat... kisah kali ini, tak akan berjalan sama persis seperti yang pernah kubaca sebelumnya?
---
bersambung....