Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Kontra Tiara dan Pengawasan yang Ketat

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca apartemen Valerie tidak lagi membawa kehangatan yang sama. Sudah tiga hari sejak kejadian di lobi kampus, dan ketegangan di antara Valerie dan Dean belum juga mereda. Tidak ada pesan ucapan selamat pagi dari Dean, dan Valerie pun menolak untuk menurunkan harga dirinya lagi dengan menghubungi pria itu duluan. Hubungan mereka mendingin, layaknya genangan air di musim hujan yang membeku akibat angin malam.

Di dalam unit studio yang sunyi itu, Tiara duduk bersila di atas karpet bulu, mengelilingi dirinya dengan laptop dan beberapa lembar catatan kecil. Wajah adik kandung Dean itu tampak sangat serius, kontras dengan Valerie yang hanya duduk melamun di sofa sambil memeluk bantal.

"Val, kita tidak bisa terus-menerus pasif seperti ini," ucap Tiara, memecah keheningan dengan ketukan jemarinya di atas keyboard. "Kakakku itu kalau didiamkan, logikanya akan menyimpulkan bahwa diammu adalah bentuk pengakuan kalau kamu yang salah dan kekanak-kanakan. Kita harus bergerak."

Valerie menghela napas panjang, menatap langit-langit apartemen. "Bergerak bagaimana lagi, Ra? Setiap kali aku mencoba bicara jujur, Dania selalu berhasil mengubah dirinya menjadi korban. Di mata Kak Dean, Dania adalah sekretaris teladan yang tertindas, sedangkan aku adalah pacar pencemburu yang tidak punya akal sehat."

"Justru karena itu, kita harus memakai cara yang bersih untuk membongkar topengnya," sergah Tiara dengan mata yang berkilat penuh tekad. "Aku sudah menghubungi Mbak Retno, sekretaris senior Kak Dean yang sekarang sedang mengambil cuti melahirkan. Dia itu sangat dekat denganku karena dulu aku sering menitip makanan untuk Kak Dean lewat dia."

Valerie menoleh, mulai tertarik dengan arah pembicaraan sahabatnya. "Lalu? Apa kata Mbak Retno?"

"Mbak Retno bilang, posisi Dania sebagai sekretaris junior sebenarnya tidak punya otoritas untuk menangani dokumen sensitif secara mandiri. Tapi sejak dia masuk menggunakan nama Kak Timoty, dia mulai sering mengajukan diri untuk lembur dan membantu administrasi sistem pengamanan data log kantor," jelas Tiara, menurunkan layar laptopnya sedikit agar bisa menatap Valerie lurus-lurus. "Mbak Retno merasa ada yang aneh. Dania terlalu bersemangat untuk ukuran karyawan baru yang digaji standar. Dia seperti sedang mencari sesuatu atau... sengaja ingin menancapkan pengaruhnya di sana."

Tiara menggeser duduknya mendekati sofa Valerie. "Aku sudah meminta bantuan Doni, anak magang di divisi IT kantor Kak Dean yang kebetulan adalah teman satu tongkronganku. Aku menyuruhnya untuk mengawasi aktivitas komputer Dania secara diam-diam. Setiap kali Dania mengakses log data atau jadwal Kak Dean di luar jam kerja, Doni akan memberi tahu aku."

Mendengar perjuangan Tiara yang begitu keras untuk membelanya, setitik rasa hangat merayap di dada Valerie. Di saat keluarganya sendiri tidak pernah memedulikan perasaannya dan selalu memprioritaskan Victoria, Valerie bersyukur memiliki Tiara yang rela menentang kakak kandungnya sendiri demi keadilan hubungan mereka.

"Terima kasih ya, Ra. Kamu sampai repot-repot begini," bisik Valerie, matanya berkaca-kaca.

"Jangan menangis, Val. Kamu itu calon kakak iparku, bukan si ular Dania itu. Aku akan melakukan apa pun untuk memastikan dia tendang dari kantor Kak Dean," ujar Tiara tegas, memeluk sahabatnya itu dengan hangat.

Sementara itu, di lantai atas gedung perkantoran Dean, suasana kerja terasa begitu hening namun sarat akan ketegangan yang tersembunyi. Dania duduk di balik meja kerjanya dengan pandangan yang fokus pada layar monitor. Jari-jarinya yang lentik bergerak dengan sangat cepat, menyusun draf laporan mingguan yang akan diserahkan kepada Dean sebelum jam makan siang.

Namun, di bawah tumpukan map kertas di sebelah kanannya, sebuah ponsel pintar kedua yang tidak terdaftar di sistem kantor menyala pelan. Sebuah pesan dari peretas bayaran 'X' masuk.

“Skrip manipulasi log sistem koridor dan enkripsi palsu sudah siap. Saya sudah menanamnya di server bayangan. Begitu kamu memberikan aba-aba, sistem utama akan mendeteksi aktivitas penghapusan berkas proyek dari perangkat luar yang terhubung ke jaringan lokal kantor.”

Dania tersenyum sangat tipis, menyembunyikan binar kelicikan di matanya di balik poni rambutnya yang tertata rapi. Dia melirik ke arah pintu ruangan Dean yang tertutup rapat. Dia tahu bahwa Dean belakangan ini menjadi lebih diam dan sering menatap ponselnya dengan dahi berkerut—sebuah tanda bahwa pria itu sebenarnya terganggu dengan keheningan di antara dirinya dan Valerie.

Pria kaku itu mulai goyah, batin Dania sinis. Aku harus mempercepat eksekusi sebelum mereka berdua sempat meredakan ego masing-masing.

Dania berdiri dari kursinya, merapikan rok pensil hitamnya, lalu melangkah menuju mesin pembuat kopi di pantry lantai atas. Di sana, dia berpapasan dengan Doni, anak magang dari divisi IT yang sedang mengisi ulang air minumnya.

"Pagi, Mbak Dania," sapa Doni dengan ramah, mencoba bersikap natural sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Tiara semalam.

"Pagi, Doni," jawab Dania dengan senyum manisnya yang paling lugu dan ramah. "Bagaimana pekerjaan di divisi IT hari ini? Kudengar minggu depan akan ada pembaruan sistem keamanan server, ya?"

"Iya, Mbak. Pak Dean minta semua log data diperketat karena minggu depan ada penandatanganan proyek besar dengan investor asing," jawab Doni, sambil melirik sekilas ke arah Dania.

"Ah, begitu ya. Hebat sekali Pak Dean. Beliau memang sangat teliti dan tidak suka ada kesalahan sedikit pun," puji Dania dengan nada suara yang penuh kekaguman. "Oh ya, Doni, kalau boleh tahu, apakah sistem keamanan baru itu juga bisa melacak aktivitas perangkat personal yang terhubung ke Wi-Fi kantor secara spesifik? Misalnya... laptop atau ponsel milik tamu yang berkunjung?"

Doni sedikit tertegun mendengar pertanyaan Dania yang terlalu spesifik untuk ukuran seorang sekretaris junior. Namun, dia segera menyembunyikan keterkejutannya. "Bisa, Mbak. Sistem baru nanti bisa melacak alamat IP dan alamat MAC dari setiap perangkat yang terhubung, bahkan bisa melihat aktivitas transfer datanya jika ada berkas yang diunduh atau dihapus melalui jaringan lokal."

"Wah, canggih sekali ya. Terima kasih informasinya, Doni. Aku kembali ke meja dulu, ya," ucap Dania lembut sebelum melangkah keluar dari pantry dengan membawa secangkir kopi hangat untuk Dean.

Doni menatap punggung Dania yang menjauh dengan tatapan penuh selidik. Begitu Dania menghilang di balik belokan koridor, Doni segera merogoh ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Tiara.

“Ra, si sekretaris baru baru saja bertanya sangat spesifik tentang kemampuan melacak perangkat luar di jaringan kantor. Sepertinya tebakanmu benar, dia sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan dengan sistem data kantor.”

Di dalam ruang kerja CEO, Dania meletakkan cangkir kopi hitam pekat di atas meja Dean dengan gerakan yang sangat halus dan santun.

"Kopi Anda, Pak Dean," ucap Dania, mengambil satu langkah mundur dan berdiri dengan sikap patuh.

Dean mendongak dari tumpukan berkas auditnya, menatap cangkir kopi itu sejenak, lalu beralih menatap Dania. "Terima kasih, Dania. Bagaimana persiapan draf final proyek infrastruktur untuk minggu depan? Apakah semua lampiran dari pihak investor Singapura sudah disatukan?"

"Sudah, Pak Dean. Semuanya sudah saya simpan di dalam folder utama komputer meja depan dan salinannya sudah saya masukkan ke dalam flashdisk enkripsi yang Anda berikan kemarin," jawab Dania dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Saya juga sudah memastikan tidak ada staf lain yang mengakses folder tersebut demi menjaga kerahasiaan sebelum hari penandatanganan."

Dean mengangguk puas, logikanya merasa sangat terbantu dengan kinerja Dania yang presisi dan tidak pernah menuntut hal-hal emosional di luar pekerjaan. "Bagus. Pastikan dokumen itu tetap aman. Proyek ini adalah pertaruhan besar bagi stabilitas finansial perusahaan kita untuk sisa tahun ini."

"Baik, Pak Dean. Saya akan menjaganya dengan seluruh kemampuan saya," ucap Dania lembut, membungkuk hormat sebelum membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan.

Saat melangkah kembali ke mejanya, Dania menarik napas dalam-dalam dengan perasaan puas yang membubung tinggi. Informasi dari anak magang IT tadi justru menjadi pelengkap sempurna bagi rencana busuknya. Dia tidak perlu menghapus dokumen itu secara manual dari dalam sistem; dia hanya perlu memanfaatkan kedatangan Valerie berikutnya ke kantor ini untuk meletakkan flashdisk tiruan di dalam tas gadis itu, lalu membiarkan skrip manipulasi log buatan 'X' bekerja seolah-olah perangkat Valerie-lah yang melakukan sabotase melalui jaringan Wi-Fi lokal.

Siasat kontra yang sedang disusun oleh Tiara dan pengawasan ketat yang dilakukan oleh Doni ternyata bergerak selangkah di belakang kelicikan Dania yang sudah berada di tahap akhir eksekusi. Badai besar manipulasi yang akan meruntuhkan seluruh sisa kepercayaan Dean pada Valerie kini tinggal menghitung hari, dan tak ada satu pun dari mereka yang siap menghadapi kehancuran yang akan ditimbulkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!