Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANGAT DAN TENANG
Suasana sore di Kediaman Volis kembali hangat dan tenang, selepas kepulangan Julian dari akademi, ruang keluarga ramai oleh tawa renyah bocah enam tahun itu yang sedang asyik menceritakan kegiatan belajarnya hari ini.
Julian duduk bersila di atas karpet tebal, memamerkan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk kuda kepada Aleta yang duduk santai di sofa.
"Ibu, lihat! Tadi Julian diajari cara membuat ukiran kayu ini sama guru di akademi. Bagus kan?" tanya Julian antusias, menyodorkan ukiran itu tepat di depan wajah Aleta.
Aleta meletakkan cangkir tehnya, lalu menerima ukiran kayu itu dengan senyuman tulus, matanya berbinar kecil melihat hasil karya anak tirinya.
"Wah, anak ibu pintar sekali, ini ukirannya rapi, nanti kita simpan di kamar kamu ya, Sayang," puji Aleta lembut sambil mengelus puncak kepala Julian penuh sayang.
Julian langsung tersenyum lebar, pipinya bersemu merah karena senang dipuji, bocah itu merangkak maju, lalu memeluk pinggang Aleta erat-erat.
"Julian paling suka kalau dipuji Ibu, ibu hebat, cantik, terus baik banget sama Julian," ucap Julian polos dengan suara menggemaskan.
Aleta terkekeh pelan, balas memeluk tubuh mungil Julian sambil mencium gemas rambut anak itu.
"Ibu juga paling sayang sama Julian, kalau ada yang berani ganggu kamu lagi, bilang aja sama ibu, biar ibu jadikan bahan latihan," ucap Aleta bercanda.
Liam yang baru saja keluar dari di ruang kerjanya, berjalan pelan menghampiri ruang keluarga, pria itu berdiri di ambang pintu, melipat kedua tangan di dada sambil mengamati kebersamaan istri dan anak nya itu.
"Ehem," Liam berdehem pelan, sengaja menarik perhatian.
Julian dan Aleta menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Julian langsung melambaikan tangan kecilnya dengan riang.
"Ayah! Sini gabung! Julian baru saja nunjukin ukiran kayu buatan Julian ke Ibu!" seru Julian bersemangat, menepuk-nepuk karpet di sampingnya.
Liam melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di samping Julian sambil melirik sekilas ke arah Aleta.
"Bagus ukirannya," komentar Liam datar, merespons hasil karya Julian dengan singkat namun tulus.
Liam meraih ukiran kayu kecil di tangan Julian, membalikkannya perlahan untuk melihat detail pahatan di bagian bawahnya.
"Pekerjaan tangan yang cukup rapi untuk anak seusiamu," puji Liam datar, lalu menyerahkan kembali ukiran itu kepada Julian dengan ekspresi tenangnya.
Julian menerima ukirannya dengan senyuman lebar, matanya berbinar karena sang ayah jarang sekali memuji hasil kerjanya secara langsung.
"Kata Guru, kalau Julian terus latihan, nanti ukirannya bisa lebih bagus lagi, Yah!" ucap Julian bangga sambil memeluk erat ukiran kayu itu ke dadanya.
Aleta menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kedua tangan di dada sambil tersenyum miring menatap suami dan anak tirinya.
"Asal jangan sampai waktu belajar malah dipakai buat mengukir meja belajar mu saja," goda Aleta dengan nada mengejek ringan.
Julian langsung cengengesan, menggelengkan kepalanya cepat untuk membela diri.
"Tidak akan, Julian kan murid yang rajin dan baik!" ucap Julian cepat, membuat Aleta terkekeh geli.
Liam melirik Aleta dari ekor matanya, lalu merebahkan sedikit punggungnya ke sandaran sofa di sebelah istrinya.
"Bagaimana denganmu, Marchiones? Hari ini tidak ada rencana menyusup ke tempat lain, kan?" tanya Liam dengan nada menyelidik.
Aleta mendengus pelan, memutar bola matanya malas mendengar sindiran halus dari suaminya itu.
"Tenang saja, Jendral, jatah jalan-jalan malamku sudah habis untuk minggu ini, hari ini aku hanya meladeni burung gagak cerewet yang cari masalah di gerbang akademi," jawab Aleta santai, meraih cangkir tehnya yang masih hangat.
Liam mengangkat sebelah alisnya, langsung menegakkan kembali punggungnya dengan tatapan penuh minat.
"Burung gagak cerewet? Siapa yang kamu maksud?" tanya Liam penasaran, suaranya terdengar sedikit berat.
"Siapa lagi kalau bukan Lady Serra yang kurang kerjaan itu," jawab Aleta enteng, menyesap tehnya perlahan.
Mendengar nama Serra disebut, raut wajah Liam langsung berubah masam, pria itu mendengus kasar sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Wanita itu memang tidak pernah bisa diajak bicara baik-baik, abaikan saja, dia cuma cari perhatian," gerutu Liam kesal, merasa risih setiap kali nama wanita itu dikaitkan dengan dirinya.
Aleta terkekeh pelan, melirik suaminya dengan tatapan menggoda yang penuh arti.
"Kenapa, Jendral? Kamu merasa bersalah karena pengagum setiamu itu ngamuk-ngamuk di depan umum?" bisik Aleta tepat di dekat telinga Liam, sengaja memancing emosi pria itu.
Liam mendengus tajam, menoleh cepat dan balas menatap Aleta dengan tatapan tajam tapi geli.
"Jangan mulai mencari gara-gara, Aleta, kamu tahu persis di dalam kepalaku tidak ada tempat untuk wanita, kecuali..." ucap Liam sengaja menggantung kalimatnya, merasa gengsi melanjutkan kata-katanya.
Julian mengerjap-ngerjapkan matanya polos, menatap Liam dan Aleta secara bergantian dengan rasa penasaran yang besar.
"Kecuali apa, Ayah? Kenapa ngomongnya setengah-setengah?" tanya Julian polos, memiringkan kepalanya bingung.
Aleta tertawa renyah, mencubit pelan hidung Julian gemas.
"Sudah, jangan didengarkan, Ayahmu, dia memang suka seperti itu, sangat menyebalkan," ledek Aleta, membuat Liam langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena salah tingkah.
"Ehem!"
Liam berdehem pelan, berusaha mengembalikan wibawanya sebagai seorang jendral perang di hadapan istri dan anak nya.
"Sudah mau malam, Julian, sebaiknya kamu cuci tangan dan bersiap untuk tidur, besok harus bangun pagi lagi," perintah Liam mengalihkan pembicaraan.
Julian mengangguk patuh, segera berdiri dari karpet sambil membawa ukiran kayunya.
"Baik, Ayah! Julian tidur dulu ya, Ibu, Ayah, selamat malam!" seru Julian ceria, lalu berlari kecil menuju kamarnya.
Suasana di ruang keluarga kini menjadi sedikit lebih tenang sepeninggal Julian.
Aleta meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menoleh menatap Liam yang masih duduk diam di sampingnya.
"Garel pasti sekarang sedang pusing menghadapi masalah di istana," ucap Aleta membuka topik pembicaraan baru.
Liam mengangguk pelan, ikut bersandar santai sambil memikirkan situasi politik di ibu kota.
"Sudah pasti, para pejabat mulai mendesaknya untuk mengambil tindakan, tapi Garel tidak punya cukup keberanian untuk bergerak tanpa dukungan ku," jawab Liam datar.
Aleta menyunggingkan senyuman miring penuh misteri, menatap lurus ke depan dengan kilatan licik di matanya.
"Biarkan saja mereka panik sendiri, ini baru permulaan dari balasan yang setimpal untuk orang-orang yang suka meremehkan kita," gumam Aleta pelan.
Liam menoleh, menatap wajah istrinya lekat-lekat dengan sejuta rasa kagum yang tersimpan di balik tatapan datarnya.
"Kamu benar-benar wanita paling berbahaya yang pernah aku kenal, Marchiones," puji Liam untuk kesekian kalinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
Aleta menoleh, balas menatap Liam dengan tatapan penuh percaya diri.
"Tentu saja, dan jangan lupakan aku juga wanita paling cantik di kerajaan ini," jawab Aleta tersenyum sombong.