Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Semangkuk Rujak
Sejak percakapan sore itu dengan Mamah Yana, pikiran Raya tak bisa lagi diajak kompromi. Bayangan cerita tentang Mang Anung yang terkena pelet itu terus berputar di kepalanya, seolah menjadi benang kusut yang tak kunjung usai diurai.
Jack itu begitu perhatian dan baik hatinya, sa seperti Mang Anung yang sayang sama Bi Eroh. Dan ciri-ciri mereka hampir serupa, bedanya Jack tak pernah terlihat seperti orang linglung sebelum pergi tanpa jejak.
Kayaknya aku harus korek keterangan dari Bik Eroh atau Ceu Kokom untuk lebih jelasnya, pikir Raya.
Baru saja pikiran itu terlintas, terdengar suara Ceu Kokom yang menggelegar.
"Rujak... rujak seger, rujak bumbu kacang, rujak pindang, rujak serut! Rujak Ceu Kokom!"
Suaranya memang lantang, bahkan bisa terdengar sampai ke ujung kampung.
Ceu Kokom itu orangnya serba tahu, dia kayak surat kabar berjalan yang membawa berita kemana-mana. Selain jualan rujak, Ceu Kokom juga bisa urut bayi. Kadang bisa ngusir demit yang bikin orok rewel.
Tanpa membuang waktu lagi, Raya memutuskan untuk menemui Ceu Kokom sore itu juga. Ia butuh kejelasan. Daripada terus menebak-nebak sendiri hingga jadi overthinking.
Dengan langkah yang sedikit tergesa, Raya melangkah menuju lapak dekat pos ronda tak jauh dari rumahnya. Di sana sudah terlihat Ceu Kokom sedang duduk di kursi kayu, tangannya sibuk mengiris buah-buahan segar di atas tampah besar. Di sebelahnya ada mangkuk besar berisi bumbu kacang yang warnanya merah menyala menggugah selera.
"Tumben Neng Raya lewat sini, mau beli rujak ya? " sapa Ceu Kokom begitu melihat Raya mendekat, tangannya tak berhenti menggerakkan pis4u kecil yang tajam.
Raya tersenyum canggung namun berusaha tetap santai.
"Iya Ceu... aku mau beli rujak iris satu, jangan pedes-pedes ya. "
" Siap Neng! "
Raya mengawali dengan obrolan santai ngalor ngidul, tentang harga buah yang naik, tentang Bu Nuri yang nggak mau makan rujak lagi, dan tentang Pak Toha yang di uber-uber rentenir.
Setelah suasana mencair, barulah ia memberikan pertanyaan pamungkas.
" Ceu, mau tanya dong. "
Ceu Kokom meletakkan pisau dan potongan bengkoang di tangannya, lalu menatap Raya dengan tatapan yang seolah bisa menembus isi hati orang. Ia mengelap tangannya di celemek kain yang dipakainya.
" Mangga atuh Neng, mau tanya apa?"
" Itu beneran Mang Anung kenapa pelet? kata si Mamah, dia udah nggak pulang sebulan ya? Apa iya di jaman sekarang masih ada sihir kayak gitu?" tanya Raya menekankan volume suaranya.
Ceu Kokom menghela napas panjang, lalu mengaduk bumbu kacang di mangkuk besar itu perlahan. Aroma kacang dan gula merah yang manis bercampur aroma asam dari irisan nanas memenuhi udara di sekitar mereka.
"Percaya atau tidak, di dunia ini memang banyak hal yang tidak bisa diukur dengan nalar pikiran manusia. Ilmu hitam seperti pelet itu sudah ada dari jaman dahulu, tapi sekarang tampilannya lebih manis nggak kayak penyihir.
Di luarnya terlihat manis dan menarik, tapi begitu masuk ke dalam hati dan pikiran, sihir itu akan merusak segalanya pelan-pelan." ujar Ceu Kokom dengan nada serius.
"Terus bagaimana ciri-cirinya kalau seseorang sudah terkena sihir atau pelet, Ceu? Apa mereka langsung berubah jadi seperti orang linglung?" tanya Raya lagi.
Ceu Kokom tertawa kecil sambil ngulek bumbu.
" Ciri utamanya itu, sikapnya bisa berubah secara tiba-tiba. Yang dulu sangat menyayangi keluarganya mendadak cuek, atau malah benci. Yang dulu ingat janji mendadak lupa, sering melamun, bengong sendirian dan matanya terlihat sayu. Dan yang paling jelas... dia akan merasa asing di tempat yang seharusnya paling ia cintai."
Jantung Raya makin bergetar hebat mendengar penjelasan itu. Tapi masalahnya Jack itu tidak berubah sama sekali sebelum menghilang.
"Jika target sudah lupa sama pasangannya, itu tandanya ikatan hatinya sedang dikeraskan atau dikaburkan. Tapi jangan takut dulu Neng, karena pelet atau guna-guna itu ibarat daun kering yang tertiup angin. Kekuatannya akan pudar jika bertemu dengan doa yang sungguh-sungguh. " tambah Ceu Kokom.
Raya mengangguk perlahan meski hatinya masih penuh tanya.
"Jadi si perempuan hanya perlu berdoa dan tetap percaya kalau pasangannya akan kembali?"
"Betul sekali, Neng Raya. Jangan sampai ketakutan itu justru menjadi makanan bagi demitnya, sebab semakin kita lemah dan putus asa, maka sihir itu semakin kuat dan justru makin awet. Jadi kuncinya tetap berdoa dan jangan putus asa, itu yang bisa mengantar dia pulang." kata Ceu Kokom meyakinkan.
" Kalau minta bantuan sama orang pinter gimana, Ceu? "
" Ya bisa aja, tapi jangan ke dukun atau jalur ilmu hitam ya. Kita boleh ikhtiar lewat rukyah atau konsultasi sama Kyai, namanya juga ikhtiar. "
" Kalau Bik Eroh itu ke ikhtiar ke Kyai juga ya, Ceu? "
" Iya Neng, di bantu Kyai dan ada amalan yang harus di jalankan sama dia. "
" Amalan apa Ceu? " Raya mulai penasaran.
" Sholat malam, al-fatihah dan bacaan lainnya yang nggak boleh selama 40 hari. Saya juga nggak terlalu paham Neng, yang Ceu Kokom tau cuma itu doang. Kalau mau jelasnya, boleh tanya sama Bik Eroh. "
Raya tertegun sebentar, Bi Eroh tau jika ada makna tersirat dibalik pertanyaan Raya. Ini bukan soal rumah tangga Bik Eroh dan Mang Adung, tapi ini soal dirinya sendiri.
" Hubungan Neng Raya sama si Akang Namex (merk motor) baik-naik aja kan? " tebak Ceu Kokom.
Raya terhenyak sedikit kaget.
" Ekh... Apa Ceu? " Raya nggak nyimak.
Ceu Kokom cuma tersenyum sambil menyodorkan rujak yang sudah selesai ia buat.
" Ini rujaknya udah jadi, mangga atuh dicicipin dulu. Kalau kurang pedes, nanti Ceu Kokom kasih bubuk Aida. "
" Nggak usah Ceu, saya mah nggak terlalu suka pedes. "
Raya menerima bungkusan rujak tersebut sambil membayar.
"Terima kasih banyak ya Ceu, bukan hanya untuk rujaknya, tapi juga untuk nasihat dan penjelasannya." ucap Raya tulus semakin membuat Ceu Kokom yakin jika gadis dihadapannya sedang mengalami gangguan sihir.
"Sama-sama Neng. "
Dalam perjalanan pulang membawa bungkusan rujak yang segar itu, langkah Raya terasa jauh lebih ringan. Angin sore yang berhembus lembut menyejukkan wajahnya, seolah ikut mengusir segala kegelisahan yang selama ini menyesakkan dadanya.
Ia menyadari bahwa meskipun dunia ghaib dan kekuatan jahat itu ada dan mengerikan, namun Allah Maha Agung jauh lebih besar dari segalanya. Ia tidak perlu bersedih berlarut-larut atau membiarkan ketakutan menguasai hidupnya. Cukup ia perbanyak doa, menjaga kesetiaan hatinya, dan menyerahkan sisanya pada kehendak Yang Maha Kuasa.
Raya berjanji dalam hati, jika nanti Jack benar-benar kembali dan ternyata memang benar dia terkena gangguan seperti yang diceritakan, ia tidak akan marah atau menyalahkannya sedikit pun.
Ia akan merawatnya, menemani pemulihannya, dan membantunya melupakan masa-masa kelam itu. Karena cinta sejati itu bukan hanya hadir saat semuanya indah dan menyenangkan, tapi juga saat pasangannya sedang lemah dan tak berdaya.
" Aku harus rajin doain Aa kalau memang dia kena sihir. " gumam Raya dengan penuh keyakinan.
Sesampainya di rumah, Raya meletakkan bungkusan rujak itu di meja makan. Ia menikmati rujak itu sendirian karena Mamah lagi ke rumah kakak Raya yang nomor 2.
"Aa, di mana pun kamu berada sekarang, lepaskanlah diri dari segala ikatan yang bukan semestinya. Ingatlah jalan pulang, karena di sini ada hati yang setia menunggumu dengan doa yang tak pernah putus."
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target