Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Gelombang Spekulasi dan Bayangan Pemburu

Pagi hari di area kantin terbuka Fakultas Ilmu Komputer terasa jauh lebih bising dari biasanya. Layar televisi bermerek lokal yang terpasang di sudut atas dinding kantin menayangkan siaran berita secara berulang-ulang. Hampir setiap meja diisi oleh mahasiswa yang tidak henti-hentinya menatap layar televisi atau layar ponsel mereka masing-masing, memperbincangkan satu topik tunggal yang mendominasi seluruh platform media massa sejak dini hari tadi.

"Bay, lu lihat layar TV itu!" bisik Dimas seraya menggeser piring nasi gorengnya mendekati Bayu. Matanya berbinar gabungan antara rasa takjub dan cemas. "Tujuh stasiun televisi nasional menyiarkan berita yang sama dari jam lima pagi tadi!"

Bayu menyedot es teh manisnya perlahan, lalu membetulkan letak kacamata tebalnya dengan tenang. Layar TV memperlihatkan rekaman amatir dari ponsel warga, buram namun cukup jelas, menampilkan sosok zirah baja hitam kelabu bergaris biru yang melayang turun membawa empat korban dari lantai delapan Gedung Graha Kirana.

"Presenter TV-nya sampai kehabisan kata-kata, Dim," jawab Bayu datar namun tetap mengamati pergerakan berita di layar.

"...Sosok misterius berzirah baja berteknologi tinggi yang kini dijuluki netizen sebagai 'Ksatria Baja' telah menyelamatkan delapan nyawa dalam tragedi kebakaran Gedung Graha Kirana tadi malam," suara pembawa berita di TV terdengar lantang. "...Hingga saat ini, belum ada pihak mana pun yang mengklaim sebagai pemilik atau pengembang teknologi Zirah tersebut."

Dimas mencondongkan badannya lebih dekat, berbisik lebih pelan. "Ksatria Baja... nama julukan dari netizen langsung viral di Twitter dan TikTok, Bay! Tagar beritanya trending nomor satu di seluruh dunia! Lu beneran jadi fenomena global hanya dalam waktu semalam!"

"Bukan cuma media yang geger, Dim," kata Bayu pelan. Ia menunjuk ke arah layar TV yang mendadak berganti ke tayangan langsung konferensi pers di kantor Kepolisian Daerah.

Di layar, seorang perwira tinggi kepolisian berseragam lengkap berdiri di balik mimbar mikrofon, dikelilingi belasan wartawan dan kilatan lampu kilat kamera.

"...Kami telah membentuk Tim Satuan Tugas Khusus untuk menginvestigasi identitas serta legalitas dari sosok berzirah tersebut," ujar pejabat kepolisian di TV dengan nada suara tegas. "...Meskipun aksi yang dilakukan berdampak positif bagi keselamatan korban, pengoperasian teknologi militer tak terdaftar dan tindakan di luar jalur hukum resmi di wilayah perkotaan tetap melanggar aturan penerbangan dan keamanan nasional. Kami mengimbau individu di balik zirah tersebut untuk berkoordinasi secara terbuka."

Dimas meneguk air mineralnya hingga tandas, dadanya berdebar kencang. "Bay! Kepolisian membentuk Satgas Khusus! Mereka menganggap zirah lu sebagai teknologi militer tak terdaftar! Gimana ini, Bay? Apa mereka bisa melacak keberadaan kita?"

Ponsel Android murah milik Bayu di atas meja berkedip lembut dengan pendar biru yang sangat samar. Melalui earphone di telinga kiri Bayu, suara Jarvis mengalun jernih dan sangat terkontrol.

"Analisis lalu lintas komunikasi instansi kepolisian selesai, Bayu," lapor Jarvis mendetail. "Pernyataan pers tersebut merupakan prosedur standar untuk meredam kepanikan publik dan menjaga kredibilitas otoritas. Satgas Khusus tidak memiliki titik awal pelacakan fisik maupun digital."

Bayu tersenyum tipis, menyahut pelan melalui mikrofon earphone. "Jarvis, bagaimana dengan rekaman kamera CCTV di sekitar gang tempat mobil Dimas parkir tadi malam?"

"Seluruh data rekaman CCTV publik dalam radius satu koma lima kilometer telah dialihkan dan disunting secara otomatis pada saat insiden berlangsung," terang Jarvis presisi. "File asli yang memuat pelat nomor mobil Dimas atau siluet wajah Anda telah dihapus total dari server penyimpanan lokal maupun cloud. Yang tersisa hanyalah rekaman berbasis sinyal derau digital yang tidak dapat dipulihkan."

Dimas yang mendengarkan penjelasan Jarvis dari pengeras suara mikro ponsel Bayu menghembuskan napas lega seraya mengusap dadanya. "Jarvis... lu bener-bener penyelamat jiwa dan raga kita. Gue sempat mikir polisi bakal datang ke kontrakan Bayu jam sepuluh pagi ini."

"Tingkat risiko pelacakan identitas Anda dan Pengguna Bayu berada pada angka nol koma zero zero satu persen, Dimas," timpal Jarvis mantap.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang arogan mendekati meja mereka. Nadeo berjalan melintas bersama Rian dan Fajar, memegang cangkir kopi dingin dan memandang televisi kantin dengan senyum mencibir.

"Halah, palingan itu video rekayasa grafik komputer buatan studio film," celetuk Nadeo keras-keras, sengaja memancing perhatian mahasiswa di sekitarnya. "Zirah baja bisa melayang dan bergerak secepat kilat? Di dunia nyata tidak ada teknologi sekelas itu! Itu cuma trik promosi film superhero baru atau pengalihan isu!"

Rian tertawa menimpali. "Bener banget, Deo! Mana ada orang Indonesia yang sanggup bikin zirah canggih begitu? Apalagi di kampus ini, mahasiswa bimbingan Pak Bambang saja masih pusing bikin program basis data sederhana."

Dimas hampir saja melontarkan kata-kata pedas, namun Bayu memegang tangan Dimas di bawah meja dengan cengkeraman yang sangat tenang.

Bayu menengadah, menatap Nadeo dengan ekspresi yang amat santai dan tidak tersinggung sedikit pun.

"Siapa pun yang membuat teknologi itu, Nadeo," ujar Bayu tenang dengan suara yang tertata rapi, "...yang terpenting adalah delapan nyawa manusia berhasil diselamatkan dari kobaran api tadi malam. Bukankah itu yang paling utama?"

Nadeo melirik Bayu dengan pandangan merendahkan, lalu tertawa kecil. "Lu ngomong sok bijak banget sih, Bay? Lu pikir lu mengerti soal teknologi tingkat tinggi? Lu itu cuma mahasiswa miskin yang kebetulan dapat nilai bagus di lab. Jangan berlagak seperti pakar teknologi zirah!"

"Aku tidak pernah mengklaim diri sebagai pakar, Nadeo," jawab Bayu datar tanpa ada emosi sedikit pun di matanya. "Aku hanya mengapresiasi bahwa teknologi bisa dipakai untuk menyelamatkan kehidupan, bukan untuk kesombongan."

Nadeo mengubah raut wajahnya menjadi agak kesal karena provokasinya sama sekali tidak memancing kemarahan Bayu. "Terserah lu lah! Ayo Rian, Fajar, kita ke kelas. Malas gue ngobrol sama orang sok paham."

Nadeo dan dua temannya berlalu pergi menuju gedung kuliah utama.

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Bay, sumpah... kalau si Nadeo tahu bahwa orang yang dia ejek 'mahasiswa miskin' ini adalah Ksatria Baja yang dicari seluruh polisi se-Indonesia, bisa pingsan di tempat itu anak!"

"Biarkan saja dia berpikir begitu, Dim," sahut Bayu seraya merapikan barang-barangnya di atas meja. "Semakin orang-orang menganggap berita ini sebagai hoaks atau rekayasa CGI, semakin aman posisi kita."

Keduanya berdiri dan melangkah keluar dari area kantin menuju taman tengah kampus yang rindang dan sepi. Di bawah naungan pohon beringin yang rimbun, mereka duduk di bangku kayu untuk membicarakan langkah strategis berikutnya.

"Bay," panggil Dimas serius seraya memperhatikan situasi sekitar. "Media geger, polisi membentuk Satgas Khusus, dan seluruh netizen lagi berburu petunjuk tentang identitas Ksatria Baja. Apa langkah kita setelah ini?"

Bayu membetulkan letak kacamatanya, memandangi jam tangan titanium di pergelangan tangan kirinya.

"Langkah kita tetap sama, Dim," tegas Bayu dengan nada suara yang mantap dan terukur. "Kita tidak boleh jemawa dan tidak boleh terpancing popularitas. Kehidupan sehari-hari kita sebagai mahasiswa tetap berjalan seperti biasa. Ibu harus tetap dirawat sampai pulih total di ruang VIP."

"Dan kalau ada bencana atau bahaya kebakaran lagi?" pancing Dimas antusias.

"Zirah nano-cell ini akan tetap keluar dari sembunyinya saat ada nyawa yang terancam," jawab Bayu penuh keyakinan. "Tapi kita akan bertindak jauh lebih rapi, lebih cepat, dan tanpa meninggalkan satu pun jejak fisik maupun digital."

"Pernyataan disetujui, Bayu," Jarvis menambahkan dari earphone. "Saya telah memperbarui protokol penyamaran operasional. Setiap kali mode zirah diaktifkan di masa depan, sistem pemancar frekuensi akan membiaskan sinyal optik sehingga kamera pemantau hanya akan merekam bayangan abstrak."

Dimas tersenyum puas, menepuk bahu Bayu dengan bangga. "Sempurna! Lu bukan cuma punya zirah baja paling canggih, tapi lu punya strategi paling dingin di dunia."

Bayu tersenyum hangat menatap sahabatnya. Di tengah riuh gelombang spekulasi media dan perburuan kepolisian yang heboh di seluruh negeri, Bayu Anggara tetap berdiri di pijakan bumi yang tenang. Tanpa haus akan pengakuan publik, sang pelindung rahasia siap menjalankan tugas kemanusiaannya dalam senyap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!