"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 - penuh kebencian
Rizki melangkah masuk ke kamar rawat ibunya dengan wajah lega. Melihat ibunya Maya sudah duduk tegak dan tampak jauh lebih segar, hatinya terasa ringan dan bahagia.
"Rizki, kamu sudah datang," sapa ibunya Maya lembut.
"Iya, Mah. Gimana kondisi Mama hari ini?" tanya Rizki sambil mendekat.
"Sudah membaik, Riz. Mama sudah merasa jauh lebih baik."
"Syukurlah... Mama bisa cepat pulang hari ini," ucap Rizki tulus, lalu mulai mengemasi perlengkapan dan barang-barang ibunya dengan teliti.
Ketika mereka berdua berjalan keluar ruangan, di lorong rumah sakit itu Tante Maya berpapasan dengan Indah yang sedang lewat. Wajahnya langsung bersinar menyambut dokter kesayangannya itu.
"Indah, Tante pamit pulang dulu ya!" sapa Tante Maya hangat.
"Iya, Tante. Sudah dijemput Rizki ya?" jawab Indah ramah, tersenyum sopan.
"Iya, Rizki baru saja datang."
"Semoga Tante cepat sembuh ya. Banyak istirahat juga agar pemulihannya makin lancar," ucap Indah tulus.
"Terima kasih, Indah."
Indah tanpa sadar melirik ke arah Rizki. Ternyata Rizki sedang menatapnya lekat-lekat, dengan tatapan yang begitu dalam — seakan ada ribuan hal yang ingin ia sampaikan. Indah merasa malu, jantungnya berdebar tak menentu, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tante Maya yang melihat itu tersenyum penuh arti. "Oh ya, Indah... jangan lupa main ke rumah Tante ya kalau ada waktu. Temani Tante di rumah, biar Tante tidak kesepian."
"Iya, Tante. Nanti kalau Indah sempat, pasti main ke rumah," jawab Indah dengan senyum tipis, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu kencang karena tatapan Rizki tadi.
Tante Maya jelas-jelas ingin mereka lebih dekat, dan tatapan Rizki tadi bukan tanpa alasan — dia mulai menyadari perasaannya. Sementara Indah, setiap kali bertemu Rizki, hatinya semakin terikat padanya.
Di dalam mobil yang melaju perlahan menuju rumah, suasana terasa hangat dan tenang. Tante Maya menatap putranya dengan senyum lembut, lalu membuka pembicaraan yang membuat Rizki sedikit bingung.
"Nak... kamu kenal Indah kan?" tanyanya pelan.
"Iya, kenapa, Mah?" jawab Rizki sambil tetap fokus menyetir.
"Menurut Mama, orangnya seperti apa sih?"
Rizki sedikit menoleh, dahinya berkerut bingung. "Kok Mama tiba-tiba bahas dia?"
"Enggak kok, Mama cuma tanya pendapatmu saja," ucap ibunya santai.
"Dia orangnya baik, Mah. Teliti dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya," jawab Rizki jujur. "Memangnya kenapa?"
Tante Maya tersenyum lebar, matanya berbinar. "Menurut Mama, dia itu lembut sekali dan penyayang. Mama suka sekali sama dia, Rizki."
Rizki terdiam sejenak, merasa aneh dengan pertanyaan ibunya. Kenapa Mama begitu antusias membicarakan Indah? batinnya bertanya-tanya. Memang benar Indah itu baik dan lembut, tapi Mama seolah-olah sudah menyukainya jauh sebelum ia menyadarinya sendiri.
"Mama selalu berharap yang terbaik untukmu, Nak. Dan menurut pandangan Mama, Indah adalah wanita yang tulus hatinya," tambah ibunya Maya pelan, seakan menyampaikan pesan tersirat.
Rizki hanya mengangguk pelan, namun kata-kata ibunya terus berputar di kepala. Selama ini ia tidak pernah terlalu memikirkan perasaannya pada Indah, tapi respon ibunya membuat sesuatu di dalam hatinya mulai bergerak — sesuatu yang selama ini ia abaikan.
"Oh iya... kapan-kapan kamu ajak Indah main ke rumah ya, biar Mama ada temennya," ucap mamanya Maya dengan penuh harap.
Rizki terkejut mendengarnya. "Ajak Indah main ke rumah?"
"Iya, Mama senang sekali kalau ada dia di rumah," jawab ibunya mantap.
"Iya, lain kali Rizki ajak, Mah..." jawab Rizki pelan, namun di dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya. Kenapa Mama begitu dekat dan menyukai Indah? Padahal Hana sudah lama kenal Mama, tapi Mama justru tidak pernah mau dekat apalagi menyapanya dengan hangat seperti ini.
Pikirannya melayang jauh. Andai saja Mama bisa bersikap sebaik itu pada Hana... mungkin hubungan kita akan jauh lebih baik. Mungkin Mama tidak akan terus menolak Hana, dan semua masalah ini tidak akan pernah terjadi. Rizki menghela napas pelan, bingung di antara perasaan pada Hana dan ketertarikan yang perlahan tumbuh pada Indah.
Maya seakan membaca pikiran putranya, lalu menatap ke luar jendela dengan tatapan yang sedikit berubah. "Mama tahu kamu sedang membandingkan mereka berdua, Nak. Tapi percayalah... hati tidak bisa dipaksa. Indah itu tulus, dan Mama merasakannya. Sementara yang lain... Mama punya alasan sendiri untuk tidak bisa menyukainya."
Rizki terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata ibunya semakin membuatnya bimbang — di satu sisi ada Hana yang ia kira menyelamatkannya, di sisi lain ada Indah yang kehadirannya begitu menenangkan dan diterima dengan baik oleh semua orang yang ia sayangi.
Sesampainya di rumah, Rizki membantu ibunya masuk ke dalam. Belum sempat mereka duduk, terdengar suara ketukan pintu, lalu sosok Hana muncul dengan senyum lebar dan bingkisan di tangannya.
"Hai, sayang! Hai, Tante Maya!" sapa Hana ceria, berjalan masuk tanpa ditawari. Ia segera mendekat ke arah Rizki dan menyentuh lengannya dengan penuh keakraban. "Aku bawa bingkisan buat Tante."
Tante Maya hanya menatapnya dingin, tanpa menyembunyikan rasa muak melihat sikap Hana yang berusaha mencari perhatian di depan putranya. Semuanya terlihat begitu jelas — pura-pura manis, pura-pura peduli.
"Kamu mau apa ke sini?" tanya Tante Maya datar, tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Aku cuma mau menjenguk Tante, sekalian lihat Tante sudah pulih dan bisa pulang," jawab Hana manis, berusaha tetap terlihat baik.
Tante Maya tidak menjawab lagi. Ia langsung berbalik badan, meninggalkan mereka berdua. "Mau ke kamar dulu, istirahat," ucapnya singkat.
"Ya sudah, Mah. Hati-hati," ucap Rizki pelan.
Saat berjalan menjauh, Tante Maya berbisik pelan tapi tegas kepada putranya: "Jangan biarkan wanita itu menggangguku. Mama tidak ingin diganggu."
Rizki terdiam di tempat, melihat punggung ibunya yang menjauh, lalu menatap Hana yang masih tersenyum pura-pura di hadapannya. Hatinya terasa berat.
"Maaf ya... perilaku Mama tadi pasti bikin kamu kecewa. Tenang, suatu hari nanti kamu pasti bakal dapat perhatian Mama kok," ucap Rizki pelan, berusaha menenangkan Hana.
Hana tersenyum pura-pura pengertian. "Iya, Rizki. Tidak apa-apa. Aku memang tulus ingin menjenguk Tante Maya, kok."
Rizki mengangguk, namun hatinya tetap terasa berat. "Oh iya... kenapa kamu tidak mengabari aku dulu kalau mau ke sini?" tanyanya sedikit bertanya.
"Aku tadi buru-buru, sayang. Jadi lupa kabarin," jawab Hana santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ya sudah... kamu mau pergi ke mana? Biar aku antar," tawar Rizki, ingin segera mengakhiri suasana yang canggung ini.
"Aku mau makan di luar sepertinya," jawab Hana santai.
"Ya sudah, aku carikan tempatnya ya."
"Baik, sayang."
Hana tersenyum bahagia, merasa berhasil mendapat perhatian dan waktu berdua dengan Rizki. Namun di balik senyumnya, Rizki justru diam-diam membandingkan — sikap Hana yang selalu ingin diutamakan, berbanding terbalik dengan Indah yang tulus dan rendah hati. Bayangan wajah Indah kembali melintas di benaknya, membuatnya semakin bimbang.
Begitu mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, senyum Hana langsung lenyap. Wajahnya berubah masam, penuh kekesalan yang selama ini ia tahan.
"Sudah muak rasanya berlama-lama di rumah ini. Apalagi ada wanita tua itu... bikin kesal saja!" gerutunya dalam hati, menahan agar suaranya tidak terdengar oleh Rizki. "Kalau bukan karena Mama yang menyuruhku bersikap baik dan sabar di sini, aku tidak akan pernah mau datang ke sini dan merendahkan diri seperti ini!"
Ia menatap ke luar jendela dengan tatapan tajam, menahan amarah yang meluap. Selama ini semua yang ia lakukan — bersikap manis, pura-pura perhatian, menelan semua rasa kesal — semata-mata demi rencana besarnya. Demi harta dan kekayaan keluarga Rizki. Demi balas dendam yang sudah direncanakan ibunya dari dulu.
"Tunggu saja... suatu hari nanti aku akan jadi pemilik rumah itu. Dan wanita tua yang sombong itu... akan aku usir dari sana. Semua kekayaan dan kasih sayang Rizki, akan jadi milikku seorang," batinnya penuh tekad jahat, lalu buru-buru menarik napas, menyusun kembali senyum palsunya saat Rizki hendak menoleh.