Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Suasana di ruang pengawas cukup tegang. Beberapa layar monitor menampilkan rekaman dari berbagai sudut. Direktur rumah sakit, Lucas, ayah pasien, dan beberapa petugas keamanan berdiri mengelilingi meja kontrol sambil memperhatikan layar dengan serius.
“Putar ulang bagian itu,” ujar Lucas sambil menunjuk salah satu rekaman.
Petugas segera memundurkan rekaman beberapa menit.
Di layar terlihat Lucas baru saja keluar dari ruangan pasien setelah melakukan pemeriksaan rutin. Setelah itu, koridor sempat terlihat sepi selama beberapa saat.
Hingga seseorang muncul mengenakan pakaian medis lengkap dan berjalan menuju ruang ICU. Wajahnya tertutup masker dan penutup kepala sehingga sulit untuk dikenali.
Tatapan Lucas langsung mengeras.
“Itu bukan staf ICU.”
“Apa kamu yakin?” tanya ayah pasien.
Lucas mengangguk pelan. “Yakin. Cara jalannya juga aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Dia seperti berusaha menghindari kamera.”
Ruangan mendadak hening. Beberapa petugas saling berpandangan. Ayah pasien yang sebelumnya dipenuhi amarah kini mulai terlihat ragu.
Jika memang ada orang lain yang masuk setelah Lucas pergi, berarti kemungkinan sabotase benar-benar ada.
“Periksa semua kamera di sekitar ICU,” ujar direktur rumah sakit dengan nada tegas. “Cari tahu dia pergi ke mana setelah keluar dari sana.”
Petugas segera kembali memeriksa rekaman dari kamera lainnya.
Semua orang kembali fokus menatap layar monitor. Hingga akhirnya Lucas melihat sesuatu yang mencurigakan.
“Berhenti!”
Suaranya membuat petugas keamanan segera menghentikan rekaman.
“Perbesar bagian itu.”
Gambar pada layar perlahan diperbesar. Kening Lucas langsung mengernyit. Matanya menyipit, memfokuskan perhatian pada sosok yang terekam di sana.
“Dia membuang sesuatu.”
“Apa?” tanya ayah pasien.
“Lihat.”
Semua orang mengikuti arah telunjuk Lucas. Terlihat sosok itu sempat berhenti di dekat tempat sampah yang berada tidak jauh dari ruang ICU.
Meski gerakannya cepat, rekaman itu cukup jelas memperlihatkan tangannya menjatuhkan sesuatu ke dalam tempat sampah sebelum akhirnya pergi.
Tatapan Lucas mengeras.
“Periksa tempat sampah itu.”
“Baik.”
Baru saja mereka hendak keluar dari ruangan, pintu ruang pengawas terbuka.
Elara, Leonard, dan Lionel baru saja tiba.
“Kak Lucas.”
Lucas menoleh dengan cepat.
“Elara?”
Ekspresinya terlihat sedikit lega saat melihat kedatangan gadis itu.
“Ikut aku, Kak. Aku menemukan sesuatu.”
Setelah mengatakan itu, Elara langsung berbalik dan berjalan keluar lebih dulu.
Tanpa banyak bertanya, Lucas segera mengikutinya. Disusul oleh direktur rumah sakit, ayah pasien, Leonard, Lionel, beberapa petugas keamanan, serta seorang suster.
Langkah mereka akhirnya berhenti tepat di depan tempat sampah yang beberapa saat lalu hendak diperintahkan untuk diperiksa.
“Lihat!” Elara menunjuk kantong plastik putih yang berada di antara tumpukan gelas plastik dan bungkus makanan.
Tatapan Lucas langsung tertuju ke sana. Saat melihat isinya, ekspresinya seketika berubah.
Kantong plastik itu berisi jarum suntik yang dibungkus asal dengan tisu dan pecahan ampul obat.
“Tidak ada perawat waras yang akan membuang limbah medis di antara sampah makanan dan minuman seperti ini,” geramnya.
Beberapa petugas keamanan segera mengenakan sarung tangan sebelum mengambil barang-barang tersebut.
Sementara itu, ayah pasien terus menatap barang bukti dengan wajah yang sulit dibaca.
Perlahan, tatapannya beralih kepada direktur rumah sakit.
“Pak Direktur.”
Direktur rumah sakit menoleh.
“Anda tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”
Direktur rumah sakit terdiam beberapa saat. Tatapannya kembali beralih pada barang bukti yang kini sedang diperiksa oleh petugas keamanan.
“Baik, Pak. Pihak rumah sakit akan mengusut tuntas kasus ini.”
Tiba-tiba, pintu ruang ICU yang tidak jauh dari keberadaan mereka terbuka. Seorang perawat berlari menghampiri.
“Dokter Lucas!”
Lucas langsung menoleh. “Ada apa?”
“Kondisi pasien berubah!”
Kalimat itu membuat semua orang terkejut. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Lucas segera berlari menuju ruang ICU.
Sesampainya di sana, salah satu perawat sudah berdiri di sisi tempat tidur pasien sambil memperhatikan monitor yang menunjukkan hasil jauh lebih baik.
“Tekanan darah pasien mulai stabil, Dok. Detak jantungnya juga membaik. Respon sarafnya juga meningkat,” ujar perawat itu dengan suara yang jauh lebih tenang.
Lucas menatap layar monitor dengan ekspresi tidak percaya. Beberapa menit yang lalu kondisi pasien masih terus menurun. Namun sekarang, kondisinya justru berangsur membaik.
“Ada tindakan apa yang dilakukan selama kami pergi?” tanya Lucas.
“Tidak ada, Dok.”
Lucas terdiam. Tatapannya beralih kepada pasien yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
Lalu, tiba-tiba ia teringat pada Elara.
“Terus pantau kondisinya. Laporkan setiap perkembangannya pada saya.”
“Baik, Dok.”
Setelah mengatakan itu, Lucas keluar dari ruang ICU.
Ia mendapati Elara yang berdiri bersandar di dinding dengan santai, menatap ke arahnya.
Sebelum menghampiri Elara, Lucas lebih dulu berjalan ke arah direktur rumah sakit.
“Pak Direktur.”
Direktur rumah sakit langsung menoleh.
“Dokter Tirta tidak mungkin izin mendadak lalu menghilang begitu saja.”
Lucas menatapnya dengan serius.
“Saya yakin ini ada hubungannya dengan sabotase yang sedang terjadi. Jadi saya harap Anda bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.”
Lucas berhenti sejenak.
“Atau Papa saya yang akan turun tangan.”
Ekspresi direktur seketika menegang. Wajahnya bahkan terlihat semakin pucat.
Tentu saja ia tidak mau jika Danendra sampai turun tangan sendiri. Ia tahu betul, jika hal itu terjadi, bukan hanya masalah ini yang akan membesar. Jabatannya sebagai direktur rumah sakit juga bisa ikut terancam.
“Baik, Dokter Lucas,” jawabnya akhirnya. “Saya akan mengurus semuanya sampai tuntas.”
Lucas mengangguk singkat, lalu pergi menghampiri Elara dan kedua saudara kembarnya.
“Terima kasih, Elara.”
Elara hanya mengangguk kecil.
“Jadi, siapa pelakunya?” tanya Lionel penasaran.
“Anak dari direktur rumah sakit,” jawab Elara pelan.
Leonard dan Lionel seketika terkejut.
“Wah, tidak disangka.” Lionel menepuk tangannya pelan. “Aku benar-benar tidak bisa membayangkan ekspresi Pak Direktur saat tahu anaknya sendiri yang berulah.”
“Alasannya?” tanya Leonard.
Elara langsung menoleh pada Lucas.
“Tanyakan saja pada Kak Lucas. Kenapa dia menolak pernyataan cinta wanita itu?”
“Astaga.” Lionel menggeleng pelan. “Masalah cinta sampai hampir merenggut nyawa orang yang tidak bersalah.”
Ia kemudian melirik Leonard.
“Leon, hati-hati. Kalau Bianca nekat, jangan-jangan dia juga bakal bertindak gila seperti wanita yang ditolak Kak Lucas.”
“Berisik, Lio.”
“Sudah, sudah.” Lucas menghela napas. “Masalah di sini sudah selesai. Sekarang kalian kembali ke sekolah.”
Lionel langsung memasang wajah keberatan.
“Yah, Kak. Kita sudah terlanjur bolos. Jadi dilanjut saja bolosnya, ya?”
“Kembali ke sekolah,” jawab Lucas tegas. “Atau Kak Faresta yang mengurus kalian.”
Lionel langsung berdecak kesal.
Sementara itu, Leonard segera berbalik dan menarik bagian belakang kerah baju Lionel.
“Ayo.”
“Eh, Leon! Pelan-pelan!”
Elara menatap kedua saudara kembarnya sebentar sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.
“Dokter Tirta ada di apartemen wanita itu.”
Langkah Leonard dan Lionel langsung terhenti.
“Apa?” Lionel menoleh.
“Dia terkurung di sana,” lanjut Elara dengan tenang. “Kondisinya sedikit memprihatinkan. Seperti Arga waktu itu.”
Lucas yang mendengar perkataan tersebut langsung mengernyit.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
Elara hanya menatapnya.
“Karena masalah kakak disini lebih penting. Dan sekarang masalah sudah selesai, jadi baru aku kasih tahu."
Setelah mengatakan itu, Elara berbalik dan menyusul kedua saudara kembarnya untuk kembali ke sekolah.
Sementara itu, Lucas masih berdiri di tempat.
Tatapannya mengikuti kepergian Elara beberapa saat sebelum akhirnya ia mengeluarkan ponselnya.
Ia segera menghubungi Faresta untuk meminta bantuan hukum.
Lucas tidak yakin direktur rumah sakit akan benar-benar menyelesaikan masalah ini, terutama jika pada akhirnya diketahui bahwa putrinya sendiri yang menjadi dalang di balik kasus tersebut.