Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Informasi Gacor

Dua minggu setelah pertemuan besar di kampung, hidup Doni mulai kembali ke ritme biasa kuliah, laporan koperasi bareng Mamat, sesekali nongkrong bareng Herman dan Hadi. Tapi ada satu hal yang berubah sejak hari itu: dengingan sistem sama sekali nggak muncul.

"Udah dua minggu, Sin. Sistemnya diem aja," kata Doni, waktu mereka jalan bareng ke kelas.

"Mungkin lagi istirahat, kayak yang lo bilang dulu," Sinta ketawa kecil, ngingetin candaan lama Doni soal "server maintenance."

"Atau mungkin emang udah kelar tugasnya. Kan katanya, kemarin gue mikir alasan sistem ini muncul buat nyatuin keluarga gue."

"Bisa jadi, Don. Tapi kalau emang kelar, ya syukur. Lo kan udah nggak terlalu butuh lagi sekarang, ada bantuan Kakek juga."

Doni mengangguk, meski ada rasa aneh yang susah dia jelasin entah lega, entah kehilangan sesuatu yang udah jadi bagian dari rutinitasnya selama tujuh bulan terakhir.

Kamis malam, jam satu dini hari, dengingan itu muncul lagi. Kali ini lebih kuat dari biasanya, sampai bikin Doni langsung kebangun kaget dari tidur.

TING! TING! TING!

Doni duduk tegak, jantungnya berdegup kencang. Herman, yang tidur di kasur sebelah, ikut kebangun.

"Don? Lo kenapa?" tanya Herman, setengah ngantuk.

"Sistemnya balik, Man," bisik Doni, langsung merem buat baca info yang muncul.

[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]

Info 1: Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat meningkat tajam dalam beberapa hari ke depan, berdampak pada rantai pasok kurma impor dari Timur Tengah. Bersamaan dengan mendekatnya bulan Ramadan, harga kurma diperkirakan naik 150-200% dalam tiga minggu ke depan.

Info 2: Sebuah gudang distribusi bahan pokok di kota akan melelang stok lama dengan harga di bawah pasar akibat pergantian manajemen.

Info 3: Kompetisi business plan tingkat nasional yang sempat disebut beberapa minggu lalu resmi membuka pendaftaran, dengan hadiah modal usaha bagi pemenang.

Doni membaca info pertama berkali-kali, matanya melotot. "Kurma? Perang Iran-Amerika?"

"Apaan, Don? Perang beneran?" Herman langsung kebangun sepenuhnya, penasaran.

"Katanya bakal ada ketegangan Iran-Amerika, Man. Terus harga kurma bisa naik sampai dua ratus persen, pas mepet Ramadan pula."

"Anjir, itu gede banget, Don. Lo mau eksekusi?"

Doni mikir cepat, otaknya udah mulai muter itung-itungan. "Ini peluang gede, Man. Ramadan sebentar lagi, permintaan kurma pasti tinggi, ditambah kalau harga impor beneran naik..."

"Modal lo cukup?"

"Ada sisa dari saham kemarin, sama bantuan dari Kakek juga belum kepake semua."

Doni langsung buka laptop, mulai searching info soal distributor kurma di kota, sementara Herman merhatiin dari kasur, udah kebiasa liat Doni langsung gercep tiap dapet info baru.

Paginya, Doni telepon Sinta duluan sebelum berangkat kuliah.

"Sin, sistemnya balik semalam."

"HAH? Serius? Info apa?"

"Soal kurma, Sin. Katanya bakal naik gede banget, gara-gara ketegangan Iran-Amerika, ditambah mepet Ramadan."

"Itu... itu serius, Don? Perang beneran?"

"Gue juga kaget, Sin. Tapi kalau infonya akurat kayak biasanya, ini peluang gede banget."

"Lo mau mulai dari mana?"

"Gue mau cari distributor kurma grosir di kota. Kalau bisa beli banyak sekarang sebelum harganya naik, terus jual pas udah mepet Ramadan, untungnya bisa berkali-kali lipat."

"Hati-hati, Don. Jangan asal borong tanpa itung-itungan mateng. Kurma kan gampang rusak juga kalau nyimpennya salah."

"Iya, Sin. Gue bakal riset dulu soal cara nyimpen yang bener."

Siang itu, Doni ketemu Mamat di kos, cerita soal rencana barunya.

"Mat, gue ada proyek baru. Kurma."

"Kurma? Serius, Don? Kok tiba-tiba?"

"Info dari... firasat gue, Mat," Doni buru-buru nutup dengan alasan lama, meski Mamat belum tau soal sistem sepenuhnya.

"Oke deh, gue percaya aja. Butuh bantuan apa?"

"Gue butuh bantuan itung-itungan modal sama proyeksi untung. Lo kan jago Excel."

"Siap, Don. Kasih data yang lo punya, nanti gue bikinin simulasinya."

Doni ngasih detail info yang dia dapet perkiraan kenaikan harga, waktu, sama modal yang dia punya. Mamat langsung sibuk buka laptop, ngetik rumus-rumus di spreadsheet.

"Kalau proyeksi ini bener, Don," kata Mamat, setelah beberapa menit, "dengan modal yang lo punya sekarang, potensi untungnya bisa tembus dua sampai tiga kali lipat modal awal, tergantung berapa banyak yang bisa lo beli sebelum harga naik."

Doni menatap layar itu, dadanya berdegup kencang. Angka yang Mamat tunjukin jauh lebih besar dari apapun yang pernah dia dapat dari info sistem sebelumnya.

"Ini gede banget, Mat."

"Iya, Don. Tapi inget, ini juga resikonya gede. Kalau ternyata prediksinya meleset, lo bisa rugi banyak."

"Gue percaya sama info ini, Mat. Selama ini selalu akurat."

Sore itu, Doni langsung berangkat ke salah satu distributor grosir kurma terbesar di kota, hasil riset semalaman, siap negosiasi harga buat pembelian pertama sebelum gelombang kenaikan harga beneran terjadi.

Di perjalanan, dia sempat mikir, entah kenapa info kali ini beda rasanya lebih besar, lebih berani, lebih menegangkan dari semua info sebelumnya. Tapi ada satu hal yang beda dari dulu: kali ini, dia nggak sendirian. ada Sinta, Herman, Mamat, Hadi, bahkan Kakek yang siap bantu kalau dia butuh.

"Kali ini, gue nggak akan main aman doang," gumamnya pelan, motor melaju menuju gudang distributor kurma yang jadi tujuan pertamanya sore itu.

Gudang distributor itu ada di kawasan pergudangan pinggir kota, bangunan besar berdinding seng dengan bau khas rempah dan buah kering yang menyengat begitu Doni masuk.

"Selamat sore, saya cari bagian penjualan grosir," kata Doni ke seorang pegawai yang lagi angkut-angkut karung di dekat pintu.

"Sebentar, saya panggilkan Pak Hendra," jawab pegawai itu, buru-buru masuk ke dalam.

Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya berkemeja lusuh, keringat masih membasahi dahinya, keluar menyambut Doni.

"Selamat sore, Pak Hendra. Saya Doni, mau tanya soal stok kurma grosir."

"Kurma? Mau berapa banyak, Dek?"

"Tergantung harganya, Pak. Kalau bisa, saya mau beli dalam jumlah besar."

Pak Hendra mengangkat alis, sedikit terkejut. "Jumlah besar gimana maksudnya? Biasanya yang beli grosir gini toko-toko besar, bukan mahasiswa."

Doni tersenyum, mencoba kelihatan meyakinkan. "Saya mewakili koperasi, Pak. Kami mau coba diversifikasi usaha, kebetulan dengar kabar harga kurma bakal naik jelang Ramadan."

"Ah, itu udah jadi rahasia umum sih, Dek. Tiap tahun emang naik. Tapi kalau kamu nanya soal kenaikan gede-gedean, itu belum ada yang tau pasti."

"Saya siap ambil resiko, Pak. Boleh tau harga per kilonya sekarang?"

Pak Hendra ngasih daftar harga, beberapa jenis kurma dengan kisaran harga berbeda-beda. Doni mencatat semuanya, mikir cepat kombinasi mana yang paling menguntungkan buat dibeli sekarang.

"Kalau saya ambil lima ratus kilo campuran, Pak, bisa dapat harga khusus?"

Pak Hendra terkejut, menatap Doni lebih serius. "Lima ratus kilo? Itu bukan jumlah kecil, Dek. Modalnya udah berapa itu?"

"Saya sudah hitung, Pak. Modal saya cukup."

"Oke, kalau segitu, saya bisa kasih diskon sepuluh persen dari harga normal. Tapi pembayaran harus lunas di muka."

Doni mikir sebentar, ngitung ulang di kepala. Modal yang dia punya, ditambah sisa bantuan dari Kakek, cukup buat nutup pembelian itu dengan sisa dana darurat yang masih aman.

"Deal, Pak. Saya transfer sekarang, tapi pengiriman bisa diatur bertahap? Saya belum punya tempat penyimpanan yang cukup besar."

"Bisa, Dek. Kami simpan dulu di gudang kami, kamu ambil bertahap sesuai kebutuhan, asal ada kesepakatan tertulis."

"Siap, Pak. Terima kasih banyak."

Doni pulang dari gudang itu dengan perasaan campur aduk antara puas karena berhasil deal harga bagus, dan sedikit was-was karena ini jumlah modal terbesar yang pernah dia pertaruhkan sekaligus dalam satu keputusan.

Malam itu, di kos, dia cerita hasil negosiasi ke Mamat dan Herman, keduanya langsung heboh denger angka lima ratus kilo.

"Anjir, Don, lima ratus kilo kurma? Itu segunung, Bro," Herman melongo.

"Makanya, gue butuh bantuan kalian buat mikirin strategi jualnya nanti. Nggak mungkin gue jual sendirian."

"Gue bisa bikinin sistem pencatatan penjualan sama proyeksi harga per minggu, Don," kata Mamat, langsung semangat.

"Gue juga bisa bantu promosiin lewat jaringan gue, Bro. Kenalan gue banyak, dari mahasiswa sampai ibu-ibu komplek," tambah Hadi yang kebetulan baru pulang, ikut nimbrung denger cerita.

Doni tersenyum, ngerasa proyek besar ini nggak akan dia hadapi sendirian kali ini benar-benar ada tim di belakangnya, jauh berbeda dari awal-awal dulu waktu dia cuma modal nekat sendirian nyari jaket vintage jam enam pagi.

"Tapi Don," Mamat nyeletuk, ngelirik dari laptopnya, "lo udah mikirin belum soal tempat nyimpen lima ratus kilo kurma itu? Kalau salah nyimpen, bisa apek atau berjamur."

"Belum kepikiran detail, Mat. Kenapa emang?"

"Kurma itu sensitif sama kelembapan, Don. Kalau disimpen sembarangan, kualitasnya bisa turun cepat, terus harga jualnya juga ikut anjlok."

Doni menggaruk kepala, baru sadar ada hal teknis yang belum dia pikirkan. "Jadi harus gimana, Mat?"

"Gue coba cari referensi dulu malam ini. Biasanya sih butuh tempat kering, nggak kena sinar matahari langsung, pakai wadah kedap udara."

"Oke, besok kita cari tempat yang cocok. Mungkin bisa numpang gudang koperasi sementara, sambil kita siapin tempat khusus."

Hadi, yang dari tadi sibuk sendiri di sudut ruangan, tiba-tiba nyeletuk. "Eh, gue baru inget, sepupu gue yang di perkebunan itu, mereka juga punya gudang penyimpanan buat hasil bumi. Mungkin bisa numpang sementara, kalau lo mau."

"Serius, Bro? Itu bisa banget," Doni langsung antusias.

"Gue coba tanya besok. Tapi kemungkinan besar bisa, apalagi sekarang lo kan udah 'keluarga' juga di sana," Hadi nyengir jahil.

Herman, yang dari tadi cuma dengerin sambil rebahan, akhirnya ikut nimbrung. "Gila ya, Don. Dari mahasiswa yang dulu ngutang Indomie, sekarang punya gudang penyimpanan di perkebunan keluarga sendiri."

"Jangan dibawa terbang dulu, Man. Ini baru mulai, belum tentu berhasil."

"Tapi kalau berhasil?" tanya Herman, matanya berbinar penasaran.

Doni tersenyum, menatap ketiga temannya yang udah jadi bagian penting dari perjalanan panjang ini. "Kalau berhasil, gue traktir kalian semua liburan. Beneran, bukan cuma sate doang."

Mereka semua ketawa bareng, suasana kamar kos malam itu penuh dengan semangat dan harapan yang campur aduk sama sedikit rasa was-was, menghadapi babak baru yang jauh lebih besar dari apapun yang pernah mereka jalani bersama sebelumnya.

1
RR
sorry bgt baru bisa update satu bab, karna badan masih belom fit. besok kita gass langsung 3 bab yakk 🔥🔥
RR
sorry banget gaiss update nya malem terus beberapa hari ini, karna lagi kurang fit🙏
RR
siapp suhu, btw saya gaada copas karya orang lain 😁
Gege
padahal setelah 3 hari lebih tapi masih harus 6 harian nunggunya.. otornya kalo copas lupa edit detail
RR
FOR PEMBACA

Jika kalian ada request nama kalian mau saya jadikan salah satu karakter tinggalin aja yaa di kolom komentar, jangan lupa follow dan support terimakasih all buat yg udah stay 😁🙏
rey
kerenn njirrr si Doni😍
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!