Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemurkaan CEO Tampan
Pukul sembilan pagi, layar ponsel di atas meja kerja Xander Wiryawan bergetar hebat. Notifikasi pesan masuk dari berbagai grup WhatsApp bisnis dan sosialita terusmenerus berdering tanpa henti. Dengan kening berkerut dalam dan rasa penat yang luar biasa akibat kurang tidur semalaman, Xander meraih gawai tersebut.
Begitu ia membuka tautan forum anonim yang dikirimkan oleh salah satu rekan bisnisnya, napas Xander mendadak tercekat. Bola matanya membelalak sempurna, menatap nanar serangkaian foto beresolusi tinggi yang menampilkan Evita Desniati—istrinya yang masih sah—berada dalam dekapan yang tampak sangat mesra dan intim dengan Ma Yong Hua di lobi apartemen.
Darah Xander mendadak mendidih seketika. Urat-urat di pelipis dan lehernya menonjol keluar, sementara tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Rasa cemburu buta, amarah yang meledak-ledak, dan rasa terhina bergejolak menjadi satu dalam pusaran emosi yang menghancurkan sisa kewarasannya.
"Evita... Sialan kau!" maki Xander dengan suara menggelegar di dalam ruang kerjanya yang luas, membanting meja kerja hingga suara hantamannya menggema keras. "Jadi ini alasanmu menolakku?! Jadi ini alasanmu meminta cerai dan bersikap sok suci?! Karena kamu sudah tidur dengan taipan Ma Group di belakangku?!"
Di tengah puncak kemurkaan Xander yang nyaris merusak seluruh isi ruangannya, pintu ruangan kerja CEO itu terbuka perlahan. Sosok Viola Sanustika melangkah masuk dengan anggun mengenakan balutan dress ketat berwarna hitam elegan. Di balik senyuman manis yang dipaksakan, tersimpan seringai iblis yang sangat puas.
Viola sengaja datang untuk menjadi "kompor" yang menyiram bensin ke atas bara kemarahan Xander.
"Wah, wah... Pagi-pagi tuan besar sudah tampak sangat bersemangat," ucap Viola dengan suara manja yang dibuat-buat, berjalan mendekati meja kerja Xander sambil melirik layar ponsel yang masih menyala di atas meja. "Ada apa, Xander? Kenapa muka gantengmu kusut begitu? Oh... tunggu, jangan bilang kamu baru saja melihat foto 'istri teladan' yang sedang viral di seluruh penjuru kampus dan grup WhatsApp elite itu?"
****
Xander mendongak, menatap tajam ke arah Viola dengan mata memerah. "Kamu sudah lihat foto ini, Viola?!"
Viola berpura-pura menutup mulutnya dengan sebelah tangan, memasang ekspresi terkejut yang amat palsu namun sangat meyakinkan. "Ya ampun... Jadi benar berita itu? Aku tadinya tidak percaya kalau Evita yang terkenal kaku dan bermoral tinggi itu bisa berani bermain serong di belakang suaminya sendiri. Terlebih lagi... dengan Ma Yong Hua! Pria itu kan terkenal dingin dan tidak tersentuh. Hebat sekali istrimu itu, baru beberapa hari berpisah darimu, dia langsung mencari mangsa konglomerat yang lebih kaya."
Provokasi beracun yang dilontarkan Viola bekerja dengan sangat sempurna. Racun kecemburuan itu meresap cepat ke dalam aliran darah Xander, menutupi seluruh akal sehatnya. Xander tidak tahu—dan sama sekali tidak curiga—bahwa foto-foto intim itu adalah hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) buatan Viola sendiri. Yang ada di dalam kepala Xander saat itu hanyalah rasa dendam dan kebencian yang mendalam pada Evita.
"Wanita jalang..." desis Xander penuh amarah tertahan, mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. "Dia sudah menginjak-injak harga diriku! Aku tidak akan biarkan dia lepas begitu saja!"
Melihat kemarahan Xander yang sudah berada di ambang batas ledakan, Viola menyunggingkan senyuman sadis di balik punggung pria itu, menikmati setiap detik kehancuran mental yang ia ciptakan sendiri.
****
Sementara itu, di lingkungan kampus Universitas Pelita Bangsa, situasi tidak kalah mencekam bagi Evita Desniati.
Begitu Evita melangkah memasuki gerbang fakultas pagi itu, ia langsung merasakan kejanggalan yang luar biasa. Para mahasiswa yang biasanya menyapa dengan sopan dan ramah kini mendadak bergeser menjauh, berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya dengan tatapan penuh cemoohan, rasa jijik, dan penghinaan. Beberapa dosen senior di ruang guru tampak memalingkan wajah saat Evita mencoba menyapa mereka.
Evita mengerutkan kening, bingung dengan perubahan sikap drastis di sekelilingnya.
Ia berjalan cepat menuju ruang ketua jurusan, di mana ketua jurusan ekonomi langsung memanggilnya masuk ke ruangan dengan ekspresi wajah yang amat kaku dan kecewa. Di atas meja sang ketua jurusan, sebuah komputer memperlihatkan halaman web forum anonim yang memuat foto-foto skandal palsu antara Evita dan Ma Yong Hua.
"Bu Evita," ucap ketua jurusan dengan nada suara dingin dan sarat akan teguran keras. "Pihak rektorat sudah menerima banyak laporan mengenai foto-foto viral yang mencatut nama Anda pagi ini. Reputasi institusi kita dipertaruhkan. Sebagai seorang pendidik dan dosen teladan, skandal moral seperti ini adalah pelanggaran berat terhadap kode etik kampus."
****
Dunia Evita seolah runtuh seketika. Ia membelalakkan matanya, menatap nanar foto di layar komputer tersebut.
"Pak... Ini tidak benar! Ini fitnah!" bela Evita dengan suara bergetar hebat, menahan air mata yang mendesak hendak tumpah. "Foto itu tidak nyata! Seseorang sengaja merekayasa dan memfitnah saya untuk merusak nama baik saya!"
"Penjelasan itu bisa Anda sampaikan nanti di hadapan komite etik universitas, Bu Evita," potong ketua jurusan tegas tanpa memberi ruang sanggahan lebih lanjut. "Untuk sementara waktu, demi menjaga kondusivitas perkuliahan, pihak rektorat memutuskan untuk merumahkan Anda terhitung mulai hari ini sampai investigasi selesai dilakukan."
Hantaman telak itu membuat Evita tertegun membeku di tempatnya. Kehormatan akademis yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun runtuh seketika dalam satu malam akibat kebohongan keji yang ditebar oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
****
Jauh dari hiruk-pikuk kampus yang menghakimi Evita, di lantai paling atas gedung pencakar langit Ma Group, suasana di dalam ruang kerja utama terasa sangat dingin dan mencekam.
Feng Zhi, sekretaris pribadi Ma Yong Hua yang terkenal cekatan dan bergerak tanpa suara, berdiri tegak di hadapan meja kerja sang CEO dengan postur sempurna. Di atas meja marmer hitam di hadapan Ma Yong Hua, terpampang cetakan foto-foto skandal palsu yang sedang viral di dunia maya beserta laporan analisis digital mendalam.
Ma Yong Hua duduk menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam berukuran besar. Wajah tampannya yang oriental tampak sangat tenang, namun sepasang mata sipitnya memancarkan ketajaman yang mampu membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Rahangnya mengeras sempurna.
"Tuan Ma," ucap Feng Zhi dengan suara formal dan terukur. "Tim forensik digital kami sudah merampungkan analisis terhadap foto-foto yang beredar di forum anonim pagi ini. Berdasarkan jejak digital dan piksel pencahayaan, dipastikan seratus persen bahwa foto-foto tersebut adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) beresolusi tinggi. Seseorang sengaja memfitnah Nona Evita Desniati dan Anda untuk menciptakan skandal palsu."
"Siapa pelakunya?" tanya Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, dan penuh wibawa mutlak.
"Dari penelusuran alamat IP server unggahan anonim tersebut, jejaknya mengarah pada perangkat pribadi yang terdaftar atas nama Viola Sanustika," jawab Feng Zhi lugas tanpa ragu. "Wanita yang sama yang merupakan kekasih gelap dari suami Nona Evita, Xander Wiryawan. Wanita itu memiliki motif dendam pribadi setelah insiden di kampus beberapa waktu lalu."
Mendengar nama tersebut, sudut bibir Ma Yong Hua terangkat sebelah—membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat mematikan, senyuman seorang penguasa bayangan yang tidak pernah main-main dalam memberikan pelajaran hidup pada musuhnya.
"Viola Sanustika..." gumam Ma Yong Hua pelan, menyebut nama itu bagaikan sebuah vonis mati. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah sekretaris setianya. "Feng Zhi, aku tidak mau tahu caranya. Hancurkan bisnis keluarga wanita itu, tarik seluruh fasilitas finansial yang terafiliasi dengannya, dan seret dia ke hadapanku sekarang juga. Pastikan dia membayar mahal atas setiap tetes air mata fitnah yang ia sebarkan pada Evita."