Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Curhat Kepada Sahabat
Makan siang mereka akhirnya selesai. Setelah cukup lama menikmati kebersamaan, keduanya pun berdiri dari tempat duduk.
Untuk beberapa saat, mereka masih saling berhadapan. Tangan mereka kembali bertaut, seolah belum benar-benar rela mengakhiri pertemuan itu.
"Hati-hati di jalan,!" ujar Mellisa lembut.
Handoko tersenyum. "Kamu juga!"
Sebelum melepaskan genggamannya, Handoko mendekat dan mengecup pipi Mellisa dengan lembut.
Mellisa langsung tersenyum malu. "Mas..."
Handoko hanya terkekeh. "Sampai ketemu lagi, sayang."
Keduanya kemudian berjalan keluar dari private room dan menuju parkiran. Mereka berpisah di sana. Mellisa menuju mobilnya sendiri, sementara Handoko berjalan ke arah mobilnya.
Tak lama kemudian, dua mobil itu meninggalkan area restoran dari arah yang berbeda.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, wajah Handoko masih dihiasi senyum. Ia bahkan beberapa kali bersenandung kecil mengikuti lagu yang terdengar dari audio mobil. Jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi, sementara pikirannya masih dipenuhi bayangan pertemuannya dengan Mellisa.
Entah kenapa, hatinya berdebar tak karuan. Perasaan yang selama ini ia kira telah lama terkubur, ternyata kembali muncul dengan kekuatan yang sama. Bahkan mungkin lebih kuat.
"Sayang..." gumamnya pelan, mengingat bagaimana Mellisa bereaksi ketika pertama kali mendengar panggilan itu. Senyumnya kembali mengembang.
Namun, begitu mobilnya memasuki area parkir kantor, Handoko perlahan kembali pada rutinitasnya. Ia memarkirkan mobil, turun, lalu berjalan menuju ruangannya.
Begitu sampai di depan ruang sekretaris, sekretarisnya langsung menyambut dengan ramah.
"Selamat datang, Pak!"
Handoko mengangguk sambil tersenyum. "Ada tamu buat saya?"
"Nggak ada, Pak. Tapi Pak Fajar masih ada di ruangan Bapak sejak tadi."
Langkah Handoko mendadak terhenti. "Apa?"
Ekspresi bahagianya seketika berubah menjadi kaget. Fajar. Baru sekarang ia teringat bahwa sebelum pergi tadi, ia meninggalkan sahabatnya begitu saja tanpa penjelasan.
"Masih di sana?"
"Iya, Pak."
Handoko menghela napas pendek. "Waduh..."
Tanpa banyak bicara, ia langsung mempercepat langkah menuju ruangannya. Begitu pintu dibuka, Handoko langsung menemukan Fajar duduk di sofa.
Namun, bukannya sedang menunggunya dengan wajah penuh pertanyaan seperti yang dibayangkan Handoko, sahabatnya itu justru bersandar santai dengan mata terpejam.
Handoko berdiri di ambang pintu. Ia menatap Fajar beberapa detik. "Jangan-jangan..."
Fajar ternyata sudah tertidur. Handoko menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.
"Ini orang..." gumamnya.
Baru saja tadi ia meninggalkan Fajar dalam keadaan penasaran setengah mati. Sekarang, bukannya marah atau menginterogasinya, lelaki itu malah tidur dengan begitu nyenyaknya di ruangannya.
Handoko menutup pintu perlahan. Tetapi baru beberapa langkah masuk, Fajar tiba-tiba membuka matanya. ""Nah... akhirnya pulang juga. Udah selesai kencannya?"
Handoko langsung terdiam. Senyumnya lenyap seketika. Fajar menyeringai lebar. Handoko menarik napas kasar. Ia tahu, sekeras apa pun berusaha menyembunyikannya, tidak akan mudah mengelabui Fajar. Sahabatnya itu sudah mengenalnya terlalu lama. Perubahan sekecil apa pun dalam sikapnya pasti akan terbaca.
Fajar bangkit dari sofa, lalu berdiri menyandarkan tubuhnya di tepi meja. "Ceritaka!"
Handoko mengerutkan dahi. "Cerita apa?"
Fajar terkekeh. "Jangan pura-pura bego, Han. Gue tahu lu."
Handoko menghela napas, lalu berjalan menuju mejanya. "Lo ngomong apa sih, Bro?"
Fajar mengikutinya dengan tatapan penuh selidik.
"Siapa wanita itu?"
Handoko berhenti. "Wanita siapa?"
"Yang bikin lu dari tadi senyum-senyum sendiri. Yang bikin lu ninggalin gue begitu aja siang tadi. Yang bikin lu pulang ke kantor dengan muka kayak orang baru menang lotre."
Handoko berusaha menahan senyum. "Lebay lu."
"Enggak. Gue serius."
Fajar melipat kedua tangannya di dada. "Lu nggak pernah kayak gitu kalau cuma habis makan siang biasa."
Handoko terdiam. Fajar semakin yakin.
"Nah, kan. Diam."
"Fajar..."
"Siapa dia?"
Handoko mengusap wajahnya. Ia kemudian duduk di kursinya dan bersandar, menatap langit-langit beberapa saat. "Nggak ada apa-apa."
"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa lu kelihatan bahagia banget?"
Handoko tak menjawab. Fajar mendekat. Dan duduk di sebelah Handoko.
"Teman lama?"
Handoko mengangkat bahu.
"Atau..."
Fajar sengaja berhenti, menatap wajah sahabatnya. "...seseorang dari masa lalu?"
Handoko langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup bagi Fajar untuk menangkap sesuatu dari ekspresi Handoko.
"Benar, kan?"
Handoko kembali menghela napas. "Dia tiba-tiba muncul lagi."
"Siapa?"
"Seseorang yang dulu pernah dekat sama gue."
Fajar mengangguk pelan. "Lalu?"
"Kami ketemu."
"Terus?"
"Ngobrol."
"Terus?"
Handoko melirik tajam. "Lu kayak polisi interogasi orang."
"Karena lu muter-muter!"
Handoko akhirnya terkekeh kecil. Namun senyum itu perlahan menghilang.
"Kami ngobrol banyak hal. Tentang masa lalu. Tentang hidup masing-masing."
Fajar menunggu. "Lalu gue sadar..." Handoko berhenti sejenak. "Ternyata ada perasaan yang dulu gue kira sudah hilang."
Fajar terdiam. "Perasaan itu masih ada?"
Handoko mengangguk pelan. "Dan sekarang malah terasa lebih kuat."
Fajar menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan suara lebih serius. "Siapa wanita tersebut?"
Handoko diam cukup lama. Seolah nama itu saja sudah cukup untuk membuka kembali pintu masa lalu yang selama ini ia coba tutup rapat-rapat.
Akhirnya ia mengembuskan napas. "Mellisa."
Fajar membeku. "Apa?"
Handoko menatap sahabatnya. "Mellisa."
Fajar menggeser tubuhnya lalu menatap sahabatnya dengan lekat, seakan baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
"Mellisa... yang itu?"
Handoko hanya mengangguk.
Fajar mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Gila..."
Ia terdiam beberapa saat, kemudian menatap Handoko dengan ekspresi campuran antara kaget dan tidak percaya. "Jadi... Mellisa yang selama ini lu ceritain itu?"
Handoko mengangguk lagi.
"Iya."
Fajar menarik napas panjang. Kini ia mulai memahami kenapa sahabatnya tadi pergi terburu-buru, kenapa sepanjang siang Handoko terlihat begitu bahagia, dan kenapa sejak kembali ke kantor senyum lelaki itu tak juga hilang.
Namun, bersamaan dengan itu, Fajar juga teringat satu hal yang jauh lebih rumit. Pratiwi.
Tatapannya berubah serius. "Han..." suaranya pelan. "Lu sadar kan, masalahnya bukan cuma soal Mellisa muncul lagi?"
"Masalah Tiwi, kan?" Suara Handoko terdengar berat.
Fajar tidak menjawab. Tatapannya sudah cukup menjadi jawaban.
Handoko mengembuskan napas panjang, lalu bersandar di kursinya. Kedua tangannya saling bertaut di depan dada. "Gue sadar, Jar."
Ia menundukkan wajah. "Gue sadar banget."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. "Tapi gimana?" lanjutnya lirih. "Gue juga bingung."
Handoko mengusap wajahnya, lalu menatap Fajar dengan sorot mata yang penuh kebingungan.
"Perasaan ini nggak bisa dihilangkan begitu saja."
Fajar tetap diam, membiarkan sahabatnya mengeluarkan semua yang selama ini mungkin ia pendam sendiri.
"Gue sudah coba, Jar. Gue pikir dengan menjauh, dengan nggak memikirkan dia, semuanya bakal selesai." Handoko tertawa hambar. "Ternyata malah sebaliknya."
Ia terdiam sesaat. "Makin gue berusaha mengusir bayangan Mellisa, yang ada malah makin merindu."
Fajar menghela napas. Handoko melanjutkan, suaranya semakin pelan. "Dan yang paling bikin gue takut..." Ia berhenti sejenak. "Gue bahagia setiap kali melihat dia."
Tatapannya kosong ke arah jendela. "Kayak ada bagian dari diri gue yang selama ini hilang, terus tiba-tiba kembali."
Fajar akhirnya bersuara. "Han, lu tahu kan perasaan itu bukan satu-satunya hal yang harus lu pikirin?"
Handoko mengangguk. "Gue tahu."
"Lu punya Tiwi."
Handoko terdiam. Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan.
"Iya," jawabnya lirih. "Gue tahu."
Untuk beberapa saat, tak ada suara di antara mereka.
Handoko kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Itu yang bikin gue makin bingung, Jar. Gue nggak mau nyakitin Tiwi. Gue juga nggak pernah berniat mencari masalah."
Ia menatap Fajar. "Tapi gue juga nggak bisa bohong sama hati gue sendiri."
Fajar menggeleng pelan. "Lu tahu nggak, Han? Justru itu yang bikin semuanya jadi berbahaya."
Handoko kembali terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu sahabatnya benar. Masalahnya bukan lagi apakah ia masih mencintai Mellisa.
Masalah sebenarnya adalah...
**seberapa jauh ia akan membiarkan perasaan itu mengambil alih hidupnya?**