Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Misi di Perbatasan Barat
Suasana malam di perbatasan begitu dingin di tambah hembusan angin malam. Cahaya bulan pun tidak begitu terang karena tertutup awan hitam. Tidak ada bintang satu pun di langit. Malam yang begitu mencekam di markas perbatasan itu.
"Nona, malam ini saya akan mengerahkan seluruh pengawal untuk berjaga di sini. Anda bisa beristirahat dulu." ucap Addison menunduk dengan hormat di depan Alexa. Addison keluar dari ruangan tua itu. Alexa berjalan melihat setiap sudut-sudut ruangan di rumah tua tersebut.
Bangunan tua tempat markas Black Bleiz ketika berjaga di perbatasan. Bangunan tua itu di bangun sejak 10 tahun yang lalu. Nuansanya sangat menenangkan, ruangan di hiasi pantulan cahaya lilin. Alexa duduk di tepi ranjang ia membuka topengnya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
Malam ini pengawal sedang memperketat penjagaan. Malam sudah menunjukkan pukul 01.00. Alexa memejamkan matanya.
Sementara diluar Addison dan semua pengawal berjaga. Tiba-tiba saja ada salah seorang prajurit yang berlari ke arah Addison dengan wajah babak belur. Sudut bibirnya sudah berdarah. Pengawal itu jatuh tersungkur di depan Addison.
Addison dengan wajah kaget pun memegangi kedua pundak pengawal itu dan membantunya untuk berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanya Addison dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Tuan, Tuan orang bayaran itu berhasil masuk ke perbatasan. Beberapa semua pengawal yang berjaga di bawa sana sudah di habisi. Untung saja aku berhasil melarikan diri." jelas Pengawal itu dengan nada tersendat-sendat. Tiba-tiba saja pengawal itu jatuh pingsan.
"Pengawal, bawah dia masuk!" ucap Addison.
"Perketat penjagaan terutama di sekitar bangunan tua. Jangan sampai terjadi apa-apa kepada Nona Muda." tegas Addison.
Addison sudah mempersiapkan diri. Penyusup itu bisa masuk kapan saja ke markas mereka.
Dan benar saja tidak perlu menunggu lama suara tembakan pun terdengar. Semua pengawal sudah siaga. Addison bergegas menuju bangunan tua tempat dimana Alexa beristirahat.
"SERANG,,,!" Teriak pengawal.
Akhirnya terjadi pertumpahan darah di perbatasan itu. Perbatasan Barat itu adalah wilayah yang banyak di incar oleh para geng-geng besar. Perbatasan Barat ini bersusah payah di pertahankan oleh Theodore Bleiz. Ini adalah sumber penghasil besar Geng Black Bleiz.
SRREETT.
Penyusup itu berhasil menebas leher pengawal yang berjaga di pintu belakang bangunan tua. Seorang pria mengenakan topeng pun berjalan pelan masuk ke dalam ruangan tua itu.
Alexa yang menyadari telah terjadi kekacauan di luar pun sudah siaga. Ia kembali mengenakan topengnya dan berpura-pura tertidur. Tangannya masih memegang pemantik.
Sesuai perkiraan Alexa, pria bertopeng itu pun masuk ke kamarnya. Di tangan pria itu terdapat pisau tajam. Pria itu mengendap pelan menuju ke arah Alexa.
Ia langsung mengangkat pisau hendak menusuk Alexa yang sedang tertidur.
BRUUKK.
Pria itu terlempar kebelakang, pisau di tangannya juga terpental ke lantai. Alexa melompat dari tempat tidur dan memegangi satu tangan pria itu dari belakang dan satu tangan Alexa di kaitkan ke leher pria itu.
Sementara di luar Addison dan beberapa pengawal sudah bertarung habis-habisan. Beberapa penyusup yang menjadi mata-mata itu sudah di habisi oleh Addison. Addison berbalik hendak menuju kamar Alexa, untuk memastikan gadis itu tetap aman.
Tiba-tiba saja.
DOR!
"AARRGG!" Peluru mendarat di kaki Addison yang membuatnya menjerit menahan sakit. Tetapi Addison tetap berusaha untuk bangkit dan bersembunyi di balik tembok. Ia berusaha untuk berdiri dan berjalan ke arah Alexa.
Seorang pria berbadan kekar mengenakan penutup wajah berwarna hitam menghantam Addison dengan satu pukulan yang membuat Addison kembali tersungkur. Wajahnya sudah berlumuran darah. Kemeja putih yang di kenakan kini sudah tidak putih lagi, melainkan sudah berlumuran darah. Bekas tembakan di kakinya terus mengeluarkan darah.
Pria itu menyeret Addison ke tempat dimana Alexa berada. sementara itu, Alexa juga menyeret salah seorang komplotan penyusup itu.
Penglihatan Addison terasa buyar. Ia menatap ke arah gadis itu.
"Lepaskan dia!" Gertak Alexa yang masih menodongkan pisau di leher pria itu.
"HAHAHAHA,,,! Kamu pikir aku ini bodoh. Pria itu menodongkan pistol ke kepala Addison.
"Aku akan melepaskan pria ini tapi dengan satu syarat." jelas Pria itu lagi.
"Syarat, apa syaratnya?" tanya Alexa.
"Serahkan wilayah perbatasan Barat ini kepada ku!" ucap Pria itu dengan senyum miring di wajahnya.
"Ja,,,jangan Nona. Biarkan mereka membunuhku." ucap Addison dengan nada pelan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Alexa menatap ke arah Addison. Tatapannya tajam dan meneduhkan.
"Baik. Tapi serahkan dulu Addison kepadaku." ucap Alexa.
"Tidak, tidak Nona. Anda tidak boleh menuruti syarat itu. Ini adalah harta terbesar Geng Black Bleiz." ucap Addison.
Pria yang memakai penutup wajah itu pun mendorong Addison ke arah Alexa.
SREETT.
Pisau pemantik yang dipegang Alexa berhasil menebas leher komplotan penyusup yang di sanderanya tadi. Dengan kelincahan yang dimiliki gadis itu, ia berhasil menarik Addison ke arahnya.
"HEII,,,Kamu menipuku?" gertak pria itu.
"Chi,,,mudah sekali kamu tertipu. Hahahaaa,,,!" Alexa tertawa.
Pria itu menodongkan pistol ke arah Alexa. "Jangan bergerak! Jika pelatuk pistol ini aku lepas, kamu akan berakhir disini!" ucap pria itu.
"Kamu pikir aku takut." Alexa berdiri di depan Addison untuk melindungi pria itu.
"Nona, jangan pertaruhkan nyawamu demi aku. Biarkan mereka membunuhku." jelas Addison yang masih berusaha tetap sadar dan menahan sakit.
"Tuan Addison, dengar baik-baik. Aku bukan mempertaruhkan nyawaku untukmu. Semua ini ku lakukan demi menjalankan misi dari Ayahku."
Pria itu menarik pelatuknya. Peluru dari pistol itu melayang ke arah Alexa. Dengan mata tajam yang dimiliki gadis itu pun berhasil melihat setiap detik peluruh itu mengarah kepadanya. Alexa menangkap peluru itu dengan dua jemarinya.
Pria yang mengenakan penutup wajah itu pun menelan ludahnya. "Ha! Ini tidak mungkin."
Sepersekian detik, Alexa sudah berdiri di depan pria itu. Seluruh tubuh pria itu terasa lemas. Pistol di tangannya terjatuh. Alexa menusuk perut pria itu dengan pisau pemantiknya.
Pria itu terjatuh dan sudah tidak bernyawa lagi. Alexa melepas penutup wajah pria itu. Ia melihat di leher pria yang dibunuhnya terdapat tato laba-laba hitam.
"Ternyata ini suruhan Geng Spider Black." batin Alexa.
"Singkirkan mayat-mayat penyusup itu dan bakar!" perintah Alexa. Pengawal segera membawa keluar para mayat penyusup itu.
Alexa memapah tubuh Addison dan membawanya ke tempat tidur. Alexa melepaskan kemeja yang di kenakan Addison. Tubuh Addison terekspos begitu saja di depan mata Alexa. Namun Alexa tidak menghiraukannya. Dia hanya ingin menyelamatkan tangan kanan ayahnya itu.
Tubuh Addison penuh luka goresan pisau. Alexa menggulung celana yang di pakai Addison. Ia mengeluarkan peluru yang tertancap di kaki pria itu dan membalutnya dengan perban.
Alexa melangkah meninggalkan Addison. Ia duduk di sofa dan menghela nafas.
"Ayah, Misi ini sudah selesai. Besok aku akan kembali." Alexa menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia membuka topengnya dan memejamkan matanya.
***
Bantu Like, Coment, Subscribe dan Votenya teman-teman.
Jangan lupa ninggalin jejak yaa!!! 🤗🥰🤗
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...