Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Fajar baru saja hendak menyingsing di ufuk timur ketika keheningan Sayap Barat dihempas secara mendadak. Langkah kaki yang mantap dan teratur bergaung keras di sepanjang koridor, mengagetkan burung-burung malam yang hinggap di jendela luar.

Brak!

Pintu kayu tebal ruang perawatan Pangeran Ocean terdorong kasar dari luar.

Eve dan Snow—yang sedang tertidur ayam di atas sofa kayu panjang—terperanjat kaget. Wajah mereka berdua pucat seketika saat mendapati puluhan orang menerobos masuk ke dalam ruangan yang hangat itu.

Pengawal kerajaan bersenjata lengkap berbaris kaku membentuk barikade di depan pintu. Di tengah ruangan, Yang Mulia Ratu Baxeena berdiri anggun namun dingin bagaikan es, didampingi oleh Raja Alistair yang menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah tanpa ampun.

Di belakang mereka, bertengger tiga orang dokter kerajaan yang membawa tas medis perak berlapis kran steril. Dan di sudut terluar, berdiri Pangeran Arthur.

Savea tidak tampak di antara mereka.

Snow bangkit berdiri dengan sigap, namun sepasang matanya langsung terkunci pada sosok Arthur. Pria tegap berseragam militer itu bertingkah teramat beda pagi ini.

Tidak ada tatapan lembut, tidak ada kerinduan yang memancar, bahkan tidak ada kode senyuman samar seperti biasanya setiap kali pria itu menyapa atau mendapati Snow di dekatnya. Arthur hanya berdiri kaku, membuang pandangannya ke luar jendela dengan napas menegang, menolak keras beradu tatap dengan Snow.

Snow menarik napas halus. Dari perubahan sikap Arthur yang drastis, Snow langsung mengerti: Semua kenyataan akan terbongkar pagi ini.

"Lakukan tes DNA secepatnya!" titah Ratu Baxeena dingin tanpa sepatah kata pun basa-basi, mengibaskan tangannya ke arah boks bayi.

"Baik, Yang Mulia Ratu," jawab sang dokter utama dengan patuh.

Para pengawal segera membatasi pergerakan Eve dan Snow agar tidak mendekati boks bayi. Dua dokter senior sibuk mempersiapkan tabung sampel dan jarum suntik steril, sementara seorang dokter muda melangkah mendekati tempat tidur Pangeran Ocean untuk mengambil sampel darah bayi mungil yang baru terbangun itu.

Tangisan nyaring Pangeran Ocean pecah seketika saat jarum kecil menembus kulit lengannya yang lembut. Suara tangisan bayi yang kesakitan itu menghantam ulu hati Snow bagaikan sabetan belati.

Naluri keibuannya meledak. Snow tidak bisa lagi bersikap dingin saat menyaksikan darah putra kandungnya dihisap masuk ke dalam tabung kaca.

"Bisakah Kau pelan-pelan?!" teriak Snow dengan suara melengking dan mata membelalak marah, meninggikan suaranya di depan Ratu dan Raja. "Pangeran Ocean menangis!"

Suara teriakannya memotong ketegangan ruangan. Dokter muda yang sedang memegang jarum suntik itu tersentak kaget. Ia menghentikan gerakannya sejenak dan mengalihkan fokus pandangannya lurus ke arah Snow.

Raut wajah sang dokter muda membeku begitu mengenali wajah wanita pelayan di hadapannya.

"Nona... Snow...?" lirih sang dokter muda dengan suara bergetar tak percaya.

Dia adalah Dokter David Guetta. Seorang dokter muda dan tampan yang menjadi kepercayaan keluarga Istana Blackwood. Namun selain bertugas di istana, David juga menjabat sebagai kepala bedah di rumah sakit elit milik keluarga besar Hawthorne—keluarga terpandang dari ibu Snow.

Dan David mengenal betul siapa Snow: keponakan kesayangan dari istri pemilik rumah sakit tempatnya berabdi.

Di sudut ruangan, pergerakan David yang mendadak mengenali Snow tidak luput dari pengamatan Arthur.

Meskipun Arthur berusaha keras memasang sikap cuek, dingin, dan berniat mengabaikan Snow jika terbukti wanita itu terlibat dalam permainan racun Savea, Arthur tetap tidak terima atas kenyataan bahwa Snow pernah berhubungan dengan pria lain di masa lalu. Dan kini, api kecemburuan yang membakar dadanya mendadak membludak hebat saat mendengar nada suara halus David yang begitu akrab mengenali wanita pujaannya.

Dari mana pria itu mengenali Snow? batin Arthur geram, sepasang matanya menyipit tajam menatap David dari kejauhan.

Ada hubungan apa di antara mereka?!

Di depan boks bayi, David menuntaskan pengambilan sampel darah dengan jemari yang sedikit bergetar, lalu merapikan peralatan medisnya. Ia melangkah satu tapak mendekati Snow, mengabaikan tatapan intimasi dari para pengawal kerajaan.

"Saya... tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di sini," bisik David dengan nada suara teramat sopan dan hangat. "Apa yang Anda lakukan di istana ini, Nona Snow?"

Snow mengatur raut wajahnya serapi mungkin, menundukkan kepalanya tipis. "Saya bekerja di sini sebagai ibu susu Pangeran Ocean, Tuan David."

David terdiam sejenak, memandangi Snow dengan tatapan prihatin bercampur takjub yang tak mampu disembunyikannya. Namun dengan senyum hangat yang amat tulus, David mengangguk pelan.

"Kalau begitu..." senyum David mengembang samar, "...semoga pekerjaanmu di sini lancar ya, Nona Snow."

"Terima kasih, Tuan David," balasa Snow singkat.

Pemandangan interaksi ramah dan senyuman hangat antara David dan Snow bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api cemburu di dalam dada Arthur. Pria itu mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, bernapas memburu kasar dari hidungnya.

"Sampel sudah didapatkan, Yang Mulia," ulas David berbalik melapor pada Ratu Baxeena. "Hasil tes DNA antara Pangeran Ocean dan Pangeran Arthur akan selesai dalam waktu tiga jam."

"Bagus," pangkas Ratu Baxeena dingin. "Kunci ruangan ini. Tidak ada satu pun pelayan yang boleh keluar sebelum hasilnya keluar!"

Dua jam kemudian, keheningan di Sayap Barat mendadak pecah oleh pergerakan liar.

Memanfaatkan kepanikan para pengawal yang sedang menjaga area utama, Arthur menyusup masuk ke dalam ruang istirahat pelayan melalui pintu samping.

Pria tegap itu menerjang masuk bagaikan badai, merenggut pergelangan tangan Snow yang sedang berdiri sendirian di dekat meja riset, lalu menyeret wanita itu keluar tanpa mempedulikan pekikan terkejutnya.

Brak!

Arthur mendorong tubuh Snow masuk ke dalam kamar megahnya di Sayap Timur, membanting pintu kayu tebal dan menguncinya rapat dari dalam.

Sebelum Snow sempat memproses apa yang terjadi, Arthur menerjang maju. Pria tegap itu menekan tubuh Snow ke daun pintu, menangkup rahang Snow dengan kasar, lalu mendaratkan sebuah ciuman yang luar biasa brutal, liar, dan penuh tuntutan.

Bibir Arthur melumat dan menggeledah bibir Snow tanpa ampun, menyalurkan seluruh emosi, kecemburuan gila, dan rasa dihina yang merusak akal sehatnya sejak semalam.

"Mmph! Hmph...!" Snow berontak hebat. Ia memukul-mukul dada bidang Arthur dengan kedua tangannya, membuang wajahnya ke samping untuk memutus ciuman paksa yang memabukkan itu.

"Kau milikku, Snow!" desis Arthur tepat di depan wajah Snow yang memerah dan terengah-engah. Napas panas pria itu berhembus menampar kulit leher Snow. "Kau hanya milikku!"

"Lepaskan aku, Arthur!" jerit Snow dengan mata membelalak marah, berusaha mengikis jarak. "Aku bukan milikmu! Aku bukan milik siapa pun!"

"Kau MILIKKU!" pangkas Arthur menggelegar, mencengkeram kedua pergelangan tangan Snow dan menguncinya di atas kepala wanita itu ke dinding. Matanya merah membara oleh kegilaan dan rasa kepemilikan yang murni. "Kau berhutang penjelasan padaku! Siapa pria itu?! Dan Siapa Dokter David?! Dan siapa ayah dari anak yang kau lahirkan?!"

Snow menatap lurus ke dalam sepasang mata Arthur dengan dingin tanpa cemas sedikit pun. "Aku tidak berhutang penjelasan apa pun pada pria beristri seperti mu!"

Kalimat itu makin merobek benteng pertahanan Arthur.

Dengan pergerakan yang teramat nekad dan gila, tangan kanan Arthur yang bebas meluncur turun ke bawah. Tanpa ragu, jemari tegapnya meraba pinggang Snow, menyusup masuk melewati belahan celana gaun yang dikenakan Snow, hingga menembus kain dalam wanita itu.

Deg!

Snow tersentak kaku. "Arthur! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?!"

Arthur tidak mendengarkan. Jemarinya yang hangat dan perkasa memajukan posisinya ke bagian paling sensitif dan inti basah milik Snow. Dengan irama yang dalam, kasar, dan penuh intrik kepemilikan, Arthur bermain di sana, memajukan dan memundurkan jemarinya dengan gerakan yang membuat seluruh persendian Snow melemah seketika.

"Apakah pria itu bisa memuaskanmu seperti ini, hm?" bisik Arthur dengan suara serak yang begitu parau di lekuk leher Snow, bibirnya menyesap kulit mulus wanita itu hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Tangannya di bawah sana bergerak makin tidak santai, menuntut respons penuh dari tubuh Snow.

"Hanya aku yang boleh menyentuhmu, Snow..." desis Arthur penuh penekanan gila, jemarinya terus bergerak merambah dalam inti wanita itu tanpa ampun. "Kenapa kau malah bersama pria lain?! Jawab aku... Ocean... apa benar Ocean itu putramu?! Hasil hubunganmu bersama pria lain?!"

"Ah...! Arthur... kau... kau gila...!" desah Snow tak tertahankan. Tubuhnya bergetar hebat menghadapi benturan sensasi nikmat dan amarah yang bergejolak di dadanya. Kedua kakinya serasa tak bertulang saat jari-jari Arthur makin lihai memainkan tempo di intinya.

Arthur menengadahkan wajahnya, menatap sepasang mata bening Snow yang mulai sayu berair akibat rangsangan hebat yang diberikannya.

"Mendesahlah, Snow..." bisik Arthur amat lirih namun penuh tuntutan yang menyiksa. "...mendesahlah untukku. Aku sangat merindukanmu..."

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!