Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT Yang tak jadi di tulis
Keesokan paginya, Raka bangun dengan tekad yang sudah bulat. Ia turun ke ruang makan lebih awal dari biasanya, berharap bisa bicara empat mata dengan ibunya sebelum kesibukan hari itu dimulai.
Namun begitu sampai di ruang makan, ia mendapati ibunya sudah bersiap pergi, mengenakan setelan kerja rapi dengan tas tangan sudah tergenggam di satu tangan.
"Ma, aku perlu bicara," kata Raka, menghalangi langkah ibunya.
"Ibu ada rapat penting pagi ini, Raka. Nanti aja kalau mau bicara."
"Ini penting, Ma. Soal Laras."
Ibu Retno berhenti sejenak, menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Ibu udah bilang semalam, kan? Ibu minta kamu mikir ulang, bukan malah makin ngotot."
"Ma, aku tau soal orang yang Ibu suruh buat nemenin keluarga Laras. Nawarin uang supaya Laras ninggalin aku."
Ekspresi Ibu Retno tidak berubah sedikit pun, seolah sudah menduga Raka akan mengetahui hal ini cepat atau lambat. "Ibu cuma berusaha melindungi kamu, Raka."
"Melindungi aku dengan cara nyakitin orang yang aku sayang?"
"Melindungi kamu dari kesalahan yang bisa kamu sesali seumur hidup." Ibu Retno menjawab tegas, matanya menatap lurus ke arah Raka. "Ibu tau ini terdengar kejam buat kamu sekarang. Tapi suatu saat, kamu bakal ngerti kenapa Ibu ngelakuin ini."
"Aku nggak akan pernah ngerti, Ma. Karena ini bukan soal melindungi aku. Ini soal Ibu yang nggak bisa nerima kalau aku milih sesuatu di luar rencana Ibu."
Ibu Retno terdiam sejenak, rahangnya sedikit mengeras mendengar tuduhan itu. "Terserah kamu mau nganggap ini apa. Tapi Ibu nggak akan minta maaf karena berusaha melindungi masa depan anak Ibu sendiri."
"Ma, tolong hentikan ini. Aku mohon."
"Ibu nggak bisa janjiin apa-apa, Raka." Ibu Retno melangkah melewati Raka, berhenti sejenak di ambang pintu. "Tapi Ibu bisa janjiin satu hal—Ibu nggak akan berhenti sampai kamu sadar sendiri, keputusan mana yang terbaik buat masa depanmu."
Ia pergi meninggalkan Raka yang berdiri terpaku di ruang makan, dadanya sesak oleh amarah dan kekhawatiran yang bercampur aduk. Ia segera meraih ponselnya, menelepon Laras.
"Laras, aku udah bicara sama Ibu."
"Terus?" suara Laras terdengar cemas di seberang telepon.
"Dia nggak nyangkal. Dia bilang itu semua demi 'melindungi' aku."
"Terus apa yang bakal terjadi sekarang?"
"Aku nggak tau," Raka menjawab jujur, frustrasinya jelas terdengar. "Tapi aku janji, aku nggak akan biarin dia berhasil misahin kita."
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ketegangan yang semakin terasa di rumah keluarga Wibisono. Ibu Retno tidak lagi secara terang-terangan membicarakan soal Melati atau perjodohan, namun sikapnya terhadap Raka berubah menjadi lebih dingin, lebih penuh perhitungan, seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan langkah berikutnya.
Sementara itu, di rumah kontrakan sederhana keluarga Laras, suasana juga tidak kalah tegang. Bapak Laras, yang akhirnya mengetahui seluruh kejadian dari istrinya, duduk termenung di ruang tamu dengan wajah penuh beban.
"Bapak nggak tau harus gimana," katanya suatu malam, ketika Laras baru pulang kerja. "Ibumu udah cerita semuanya. Tentang tawaran itu, tentang keluarga yang mau misahin kamu sama Raka."
"Bapak juga mau aku nerima tawaran itu?" tanya Laras, suaranya penuh kekhawatiran.
"Bukan gitu, Nak." Bapak Laras menghela napas panjang, menatap putrinya dengan mata yang penuh kelelahan. "Bapak cuma khawatir. Kalau keluarga sebesar itu udah niat misahin kalian, mereka punya banyak cara buat lakuin itu. Bapak takut kamu yang bakal kena dampaknya paling parah."
"Aku nggak takut, Pak. Aku percaya sama Raka."
"Percaya aja kadang nggak cukup, Laras. Bapak udah lama hidup, udah lihat banyak hal. Orang-orang kaya kayak keluarga itu, kalau udah nggak suka sama sesuatu, mereka bisa lakuin apa aja buat nyingkirin itu—termasuk kalau perlu, ngerusak reputasi, bahkan masa depan orang yang mereka anggap ngehalangin."
Laras terdiam, kata-kata ayahnya menusuk lebih dalam dari yang ia kira. "Jadi Bapak mau aku nyerah begitu aja?"
"Bapak nggak bilang gitu. Bapak cuma minta kamu siap sama segala kemungkinan. Jangan sampai kamu terlalu berharap tinggi, terus akhirnya malah kamu sendiri yang paling sakit."
Malam itu, setelah percakapan dengan ayahnya, Laras duduk sendirian di kamarnya, meraih selembar kertas dan pena. Ia mulai menulis, mencoba menuangkan semua perasaan yang selama ini terpendam—kekhawatirannya, cintanya pada Raka, ketakutannya akan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Raka,
Aku nggak tau harus mulai dari mana. Tapi aku pengen kamu tau, apa pun yang terjadi nanti, perasaanku ke kamu nggak akan berubah...
Ia berhenti menulis, menatap kata-kata yang baru saja ia torehkan dengan perasaan hampa. Entah kenapa, kalimat-kalimat itu terasa seperti perpisahan, meski itu bukan yang ia maksudkan. Ia meremas kertas itu, membuangnya ke tempat sampah, lalu mencoba lagi dengan lembar baru.
Raka,
Aku takut. Aku takut kita nggak akan sanggup ngelawan semua ini...
Lagi-lagi ia berhenti, merasa kalimat itu terlalu jujur, terlalu menyerah. Ia tidak ingin Raka membaca kelemahannya, tidak ingin membuat Raka merasa bersalah atas sesuatu yang bukan sepenuhnya kesalahannya.
Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, Laras akhirnya menyerah, membiarkan kertas-kertas yang gagal itu teronggok di tempat sampah kamarnya. Ia memutuskan bahwa apa pun yang ingin ia sampaikan, lebih baik diucapkan langsung, bukan lewat surat yang mungkin hanya akan menambah kebingungan atau kesalahpahaman.
Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Raka.
"Aku pengen ketemu besok. Ada yang mau aku omongin langsung."
Balasan Raka datang cepat. "Oke. Aku jemput jam berapa?"
"Jam 4 sore, di taman biasa."
"Siap. Aku tunggu di sana."
Laras menatap layar ponselnya lama setelah mengirim pesan itu, hatinya dipenuhi campuran perasaan yang sulit dijelaskan—harapan, ketakutan, dan tekad yang mulai terbentuk untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi esok hari.
Ia tidak tahu, pertemuan yang direncanakannya itu akan menjadi salah satu momen paling menentukan dalam hubungan mereka—momen yang akan diuji lebih keras dari yang pernah ia bayangkan, karena di saat yang sama, Ibu Retno juga tengah menyusun langkah berikutnya yang jauh lebih tegas dan tidak akan memberi ruang bagi keduanya untuk sekadar bicara dan menyusun rencana bersama seperti yang mereka harapkan.
Di ruang kerjanya yang dingin, Ibu Retno membaca laporan terbaru dari Bu Marlina—laporan yang berisi rencana baru yang jauh lebih kejam, dirancang khusus untuk memastikan bahwa kali ini, tidak akan ada ruang bagi Laras untuk menolak atau bertahan lebih lama lagi.
Ia menutup laporan itu dengan wajah tenang, meski di baliknya tersimpan tekad yang sudah bulat sepenuhnya—tekad yang tidak akan tergoyahkan oleh air mata, permohonan, ataupun cinta yang selama ini coba dipertahankan oleh dua anak muda yang menurutnya hanya "terlalu naif" untuk memahami betapa kejamnya dunia yang sebenarnya mereka hadapi.