Indonesia
NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Satu Tebasan untuk Wati

Mata Pak Darmawan menyipit.

"Ceritakan dari awal."

Bu Ratna menjelaskan kedatangan Wati tanpa menambah atau mengurangi. Laras menunjukkan video kamera, pesan kepada pos jaga, serta foto map sebelum disentuh.

Pak Darmawan tidak langsung membuka amplop.

"Apakah Bram tahu?"

"Belum," jawab Laras. "Dia sedang perjalanan tugas. Belum ada ancaman langsung yang memerlukan gangguan komunikasi."

"Keputusan tepat."

Kolonel itu menelepon piket dan meminta seorang perwira staf serta petugas provos datang sebagai saksi. Ia juga menegaskan rumahnya bukan ruang pemeriksaan. Barang akan dicatat di tempat, lalu dibawa ke kantor untuk verifikasi.

"Kita makan dulu?" tanya Bu Ratna.

Pak Darmawan menatap tempe di meja, lalu kantong bukti. "Kalau saya bilang iya, kalian akan menganggap saya tidak punya hati."

"Kalau bilang tidak, tempenya dingin."

Laras hampir tersenyum. "Kita bisa makan sambil menunggu saksi."

Mereka baru menyendok nasi ketika bel berbunyi. Dua petugas datang, mencatat waktu, kondisi map, serta nama para saksi. Setelah semua sepakat, amplop dibuka.

Di dalamnya tidak ada laporan.

Ada tiga lembar surat tulisan tangan dan beberapa tangkapan layar yang dicetak.

Petugas membaca bagian pertama, lalu berhenti karena tidak nyaman.

"Lanjut," kata Pak Darmawan.

Surat itu ditujukan kepada Bram.

Wati menulis bahwa ia sudah lama memahami kesepian Bram, bahwa istri baru tidak cocok dengan lingkungan militer, dan bahwa ia siap menjadi orang yang benar-benar mengerti tugas seorang prajurit. Di bagian terakhir, bahasa rayuan berubah menjadi tuduhan.

`Perempuan itu memakai kejadian memalukan untuk mengikat Kapten. Semua orang tahu dia masuk ke kamar laki-laki sebelum menikah. Kalau Kapten ingin bebas, saya punya bukti bahwa banyak keluarga di kompleks menolaknya.`

Di lembar kedua, Wati menulis daftar hal yang menurutnya membuat Laras tidak cocok: tidak berasal dari keluarga militer, tidak punya pekerjaan tetap, tidak memahami kehidupan penugasan, dan akan mempermalukan Bram di depan atasan.

Laras membaca sampai selesai.

"Dia bahkan belum pernah bicara dengan saya sebelum pagi tadi."

"Orang sering mengisi ruang kosong dengan prasangka yang paling menguntungkan dirinya," kata Pak Darmawan.

Bu Ratna menunjuk kalimat tentang keluarga militer. "Saya juga bukan lahir dari keluarga militer. Jadi selama dua belas tahun ini saya apa? Tamu?"

"Ratna," tegur suaminya pelan.

"Saya tidak marah karena diri saya. Saya marah karena perempuan memakai sistem yang seharusnya menjaga kami untuk menentukan siapa yang pantas menjadi istri."

Pak Darmawan tidak membantah. "Pernyataan itu juga dicatat. Lingkungan satuan tidak boleh menjadi alat persaingan pribadi."

Bu Ratna meletakkan sendok keras.

"Bukti yang dia maksud cetakan ini?"

Tangkapan layar berasal dari grup percakapan tak resmi bernama `Suara Blok`. Nomor tanpa nama menyebarkan pesan tentang Laras, menuduhnya memakai obat untuk menjebak Bram, berbohong soal identitas, dan menyebabkan Tania ditahan karena cemburu.

Beberapa pesan lain mencoba mengajak anggota grup menolak Laras dari kegiatan lingkungan.

"Nomor ini milik siapa?" tanya Pak Darmawan.

Petugas staf memeriksa. "Nomor kedua Serda Wati terdaftar di data darurat, Kolonel."

"Jangan simpulkan hanya dari daftar. Cocokkan perangkat, metadata, dan keterangan anggota grup."

"Siap."

Laras membaca cetakan tanpa menyentuh. Ada satu kalimat yang menyebut ia sengaja memilih hari Bram sendiri di penginapan. Informasi itu tidak pernah diumumkan seperti itu.

"Dia mendapat versi ini dari mana?"

"Akan diperiksa," kata Pak Darmawan. "Kamu tidak perlu membela diri malam ini."

"Saya tidak ingin membela diri. Saya ingin tahu apakah ada kebocoran informasi atau hanya fitnah yang saling disalin."

Pak Darmawan mengangguk. "Itu pertanyaan yang benar."

Petugas memasukkan semua lembar ke kantong terpisah. Salinan digital video dan pesan diserahkan menggunakan media penyimpanan yang dicatat.

"Apa yang akan terjadi kepada Wati?" tanya Bu Ratna.

"Ia dimintai keterangan. Haknya untuk menjelaskan tetap ada," jawab suaminya. "Kalau terbukti menyalahgunakan izin keluar, membawa nama dinas untuk kepentingan pribadi, mengganggu rumah tangga anggota, dan menyebarkan fitnah, tindakan disiplin mengikuti hasil pemeriksaan."

"Jangan hanya dipindahkan agar masalah terlihat hilang."

"Saya tidak akan menentukan hukuman di meja makan. Tapi saya juga tidak akan menutupnya."

Laras menatap Bu Ratna. "Itu cukup untuk malam ini."

***

Pemeriksaan berlangsung empat hari.

Wati awalnya mengaku surat tersebut hanya curahan pribadi. Ia berkata tangkapan layar dikirim orang lain dan ia hendak memperingatkan Bram.

Namun data bercerita lain.

Nomor kedua itu aktif di ponselnya. Beberapa pesan dihapus beberapa menit setelah Bu Ratna memergokinya di 27B. Cadangan percakapan menunjukkan Wati memulai rumor, lalu memakai jawaban anggota grup sebagai `bukti` bahwa lingkungan menolak Laras.

Izin keluar Wati juga tidak sesuai alasan. Ia mencatat mengambil kabel radio, padahal pergi membawa surat pribadi.

Tiga anggota grup mengakui Wati meminta mereka menulis keberatan tentang Laras. Seorang di antaranya menyerahkan pesan pribadi: `Tulis saja kamu khawatir istri baru Kapten membawa masalah. Nanti saya tunjukkan kepada beliau bahwa banyak yang setuju.`

Anggota itu menolak menulis, tetapi tidak melapor karena menganggapnya pertengkaran perempuan.

Pemeriksa menegaskan bahwa label semacam itu tidak menghapus unsur penyalahgunaan tugas. Para saksi juga diingatkan bahwa diam saat data pribadi disebarkan dapat memperbesar bahaya bagi keluarga anggota.

Jejak sumber rumor ternyata bukan data resmi perkara. Wati mengumpulkan potongan obrolan dari Tania sebelum kasus preman, unggahan warga, dan dugaan sendiri. Tidak ditemukan akses langsung ke arsip polisi atau Dukcapil. Hasil ini mengurangi satu kekhawatiran Laras, meski tidak menghapus fitnahnya.

Yang paling berat, Wati mengakses jadwal pergerakan rombongan untuk memastikan kapan Bram meninggalkan kompleks. Ia tidak membocorkan lokasi operasi, tetapi penggunaan informasi tugas untuk mendekati rumah pribadi tetap menjadi pelanggaran.

Laras diminta memberi keterangan satu kali di ruangan administratif. Bu Ratna mendampinginya sebagai saksi sipil, bukan pemberi perintah.

"Apakah Serda Wati mengancam melakukan kekerasan?" tanya pemeriksa.

"Tidak secara langsung. Dia mengatakan kita lihat berapa lama saya bertahan."

"Apakah dia mencoba masuk paksa?"

"Dia meminta masuk berulang kali, tetapi pagar tetap terkunci. Setelah ditolak, dia menggedor."

"Apakah Anda ingin penyelesaian pribadi?"

"Tidak. Saya ingin pemeriksaan dibatasi pada tindakannya, bukan perasaan dia kepada suami saya. Perasaan bukan pelanggaran. Penyalahgunaan akses, fitnah, dan gangguan rumah adalah masalahnya."

"Kalau Serda Wati meminta maaf?"

"Saya bisa menerima kata maaf tanpa meminta proses dihentikan. Keduanya bukan hal yang sama."

"Apakah Kapten Bram memberi arahan sebelum Anda datang?"

"Tidak. Dia baru mendapat ringkasan setelah rombongannya tiba dan jalur komunikasi dibuka. Dia mengatakan saya bebas memilih apakah memberi keterangan, lalu meminta agar dirinya tidak dilibatkan dalam pemeriksaan bawahannya."

Pemeriksa mencatat lebih lama. Sikap itu penting agar tidak ada yang menganggap karier Wati dihancurkan oleh suami yang marah demi istrinya.

Pemeriksa mencatat kalimat itu.

Di luar ruangan, Bu Ratna menepuk tangan Laras. "Kamu masih memberi batas yang adil setelah dia menjelekkanmu."

"Kalau saya meminta dia dihukum karena menyukai Mas Bram, nanti setiap orang bisa dihukum karena isi hati. Saya hanya menuntut apa yang dia pilih untuk lakukan."

"Bram beruntung."

"Saya juga. Tapi jangan bilang kepadanya. Nanti kepalanya besar."

***

Pada hari kelima, hasil awal diumumkan melalui jalur internal.

Wati terbukti melakukan pelanggaran disiplin dan etika. Ia dicopot dari fungsi komunikasi yang memberinya akses pada jadwal, dinonaktifkan dari tugas operasional selama proses hukuman, dan dipindahkan keluar dari lingkungan tempat tinggal itu. Catatan disiplin masuk ke penilaian kariernya. Proses administratif lanjutan menentukan kelayakannya tetap pada penugasan tertentu.

Tidak ada pengumuman yang mempermalukannya di depan barisan. Tidak ada Bram yang pulang untuk membentak. Hanya dokumen, saksi, data, dan konsekuensi.

Wati sempat meminta bertemu Laras sebelum dipindahkan. Permintaan itu disampaikan melalui pemeriksa, bukan langsung.

Laras setuju hanya jika pertemuan dilakukan di ruang terbuka dengan saksi.

Wati datang tanpa senyum. "Kamu puas?"

"Tidak. Saya tidak mendapat keuntungan dari kariermu rusak."

"Tapi kamu menyerahkan semuanya."

"Saya memberimu berkali-kali kesempatan membawa surat itu ke jalur yang benar. Kamu memilih menggedor, menyebar fitnah, dan memakai jadwal tugas. Konsekuensi berasal dari pilihanmu."

"Bram akan bosan kepadamu."

"Kalau itu terjadi, kami selesaikan sebagai suami istri. Bukan urusanmu."

Wati menatapnya lama. Akhirnya ia berkata sangat pelan, "Saya minta maaf karena datang ke rumah."

"Saya dengar permintaan maafmu. Semoga setelah ini kamu berhenti menganggap perempuan lain sebagai musuh hanya karena seorang lelaki tidak memilihmu."

Wati pergi tanpa menjawab. Laras tidak mengejar kemenangan dari punggung yang menjauh.

Namun kabar di kompleks bergerak cepat.

Grup `Suara Blok` dibubarkan. Para anggota diminta menghapus data pribadi korban dan memberi keterangan jika pernah menerima pesan dari Wati. Bu Siska datang ke 27B membawa kue.

"Saya pernah membaca rumor itu," katanya. "Saya tidak meneruskan, tapi saya juga tidak membantah. Maaf."

"Terima kasih sudah jujur," jawab Laras.

"Kamu tidak marah?"

"Marah. Tapi saya memilih apa yang dilakukan dengan kemarahan itu."

Bu Siska menunduk. "Kalau ada pesan lagi, saya akan hentikan."

"Itu lebih berguna daripada meminta maaf berkali-kali."

Setelah Bu Siska pulang, Bu Ratna membantu Laras memasang rak kain.

"Satu pengganggu selesai," katanya.

"Bukan karena kita berteriak lebih keras. Karena buktinya lengkap."

"Kalau saya yang menghadapi sendirian, mungkin sudah saya jambak."

"Lalu Bu ikut diperiksa."

"Makanya saya berteman denganmu. Kamu mengingatkan sebelum tangan saya bergerak."

Laras tersenyum dan merapikan gulungan kain.

"Sekali bertindak, tuntas sampai akar. Kalau hanya memotong daun, rumor tumbuh lagi."

Ponselnya berdering di meja kerja.

Nomor tidak dikenal muncul. Kode wilayahnya lokal, tetapi tidak ada nama.

Bu Ratna langsung menatap waspada. "Rusdi?"

"Nomornya berbeda."

Laras mengaktifkan rekaman sebelum menjawab.

"Selamat sore, apakah benar saya bicara dengan Ibu Larasati Purnama?" tanya suara lelaki yang sopan.

"Benar. Dengan siapa?"

"Saya Joko dari Pabrik Makanan Sari Boga. Kami menghubungi Ibu mengenai contoh desain yang pernah dikirim."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!