"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Bayangan Ancaman
Rabu siang.
Area perpustakaan kampus terasa lebih lengang dari biasanya. Cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh dalam garis-garis keemasan di antara rak buku yang menjulang. Suara pendingin ruangan berdengung pelan, sesekali diselingi bunyi halaman buku yang dibalik atau derit kursi dari mahasiswa yang masih bertahan menyelesaikan tugas mereka.
Di salah satu sudut ruangan, Liora baru saja menutup buku literatur terakhir yang ia butuhkan untuk menyelesaikan bab analisis skripsinya.
Ia mengembuskan napas lega. Setidaknya, satu urusan hari ini telah selesai.
Liora mulai merapikan catatan, memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam map, lalu membenarkan posisi kacamata barunya yang sedikit melorot di batang hidung.
Namun, belum sempat berdiri, cahaya di atas mejanya mendadak terhalang. Sebuah bayangan tinggi menjulang di hadapannya.
Liora mengernyit dan perlahan mendongak.
Kaivan.
Pria itu berdiri tepat di depan mejanya dengan kedua tangan berada di saku celana. Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya siang ini. Tidak ada senyum ramah. Tidak ada tatapan bersahabat yang biasanya membuat Liora merasa aman ketika berbicara dengannya.
Wajah Kaivan tampak kaku.
Dingin.
Bahkan sedikit mengintimidasi.
“Kaivan? Ada apa lagi?” tanya Liora pelan.
Tangannya secara refleks merapikan buku-buku di atas meja, seolah kesibukan kecil itu bisa menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul di dadanya.
“Berdiri. Ikut gue sebentar.” Nada suara Kaivan datar, tetapi justru itulah yang membuat bulu kuduk Liora meremang.
“Ada apa?”
“Ada yang harus kita bicarakan. Di luar.”
Kaivan bahkan tidak menunggu jawaban. Ia langsung berbalik dan berjalan meninggalkan area perpustakaan.
Liora menatap punggungnya selama beberapa detik. Ada perasaan tidak nyaman yang perlahan merayap di dalam dirinya, tetapi rasa penasaran akhirnya membuatnya bangkit.
Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, kemudian mengekor di belakang Kaivan.
Mereka melewati lorong samping gedung utama kampus, menuruni beberapa anak tangga, hingga akhirnya tiba di sisi gedung arsip fakultas yang jarang dilalui mahasiswa. Tempat itu jauh lebih sepi. Hanya ada dinding beton tua, beberapa jendela sempit, dan suara angin yang sesekali menggesek dedaunan di halaman belakang.
Kaivan berhenti.
Liora yang berjalan beberapa langkah di belakangnya ikut berhenti.
“Kaivan?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang berada di sekitar mereka. Setelah merasa cukup aman, Kaivan berbalik secara tiba-tiba.
Tangannya masuk ke saku celana. Sebuah ponsel dikeluarkan. Lalu, tanpa basa-basi, Kaivan menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Liora.
“Penjelasan apa yang mau lu kasih soal ini, Ra?” tanya Kaivan dengan suara rendah, tenang. Namun ada tekanan yang begitu jelas di balik setiap katanya.
Mata Liora langsung tertuju pada layar. Dan dalam sekejap, seluruh tubuhnya seakan kehilangan tenaga.
Wajahnya memucat.
Di sana terpampang sebuah foto yang sangat jelas. Foto dirinya bersama Ravian, di depan gedung Evander Corp tadi malam.
Foto itu diambil dari sudut yang cukup dekat untuk memperlihatkan semuanya dengan gamblang, jemari Ravian yang melingkar hangat di pinggangnya, tubuh mereka yang berdiri berdekatan, serta sang CEO yang dengan sikap penuh perhatian membukakan pintu mobil untuknya.
Tidak ada satu pun detail yang bisa disalahartikan.
Jantung Liora berdegup begitu keras sampai rasanya terdengar di telinganya sendiri.
“K-Kaivan...” suaranya tercekat. “Dari mana kamu dapat foto ini?” tangannya mulai gemetar.
“Dari depan gedung tempat lu kerja.”
Kaivan menatapnya lama sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“Lucu, ya, Ra,” ia mendekat satu langkah. “Dosen paling dihormati di fakultas ini. Si Dosen Killer yang selalu khotbah soal integritas akademik, etika, dan profesionalitas...”
Kaivan mengangkat ponselnya sedikit. “...ternyata punya hubungan gelap sama mahasiswinya sendiri di luar kampus.”
“Ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Kaivan!” Potong Liora panik, suaranya bergetar, sementara air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Tolong hapus foto itu. Gue mohon.”
“Kenapa?” Kaivan tertawa pendek. “Lu takut?”
Ia kembali melangkah maju hingga punggung Liora akhirnya menyentuh dinding beton yang dingin.
Kaivan berhenti tepat di hadapannya, membuat ruang gerak Liora seolah lenyap.
“Gue kurang apa dibanding Pak Ravian, Ra?”
Pertanyaan itu terdengar seperti bisikan, tetapi justru terasa jauh lebih menyakitkan.
“Gue yang selalu ada buat lu dari awal semester. Gue yang dengerin semua cerita lu. Gue yang bantu lu waktu lu kesulitan.”
Tatapan Kaivan mengeras. “Tapi lu malah milih dia.”
“Kaivan, jangan seperti ini.”
“Lu malah milih jual diri demi jabatan dan nilai magang di perusahaan mewah itu?”
Liora terdiam selama beberapa detik. Kalimat itu menghantamnya jauh lebih keras daripada yang Kaivan sadari.
“Jaga ucapan kamu, Kaivan!” suara Liora meninggi, meski terdengar tertahan oleh tangis yang mulai memenuhi tenggorokannya. “Gue nggak pernah menjual diri gue ke siapa pun!”
Kaivan menatapnya tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian, ia menarik ponselnya kembali dan mengunci layar.
Klik.
Suara kecil itu terdengar begitu jelas di tengah lorong yang sunyi.
“Gue punya dua pilihan buat lu, Liora.”
Liora menahan napas.
“Pertama,” lanjut Kaivan, “lu putusin hubungan lu sama Pak Ravian. Jauh dari dia mulai detik ini.”
Ia berhenti sejenak.
“Atau kedua...”
Kaivan mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya turun menjadi begitu rendah hingga terasa seperti racun yang sengaja diteteskan perlahan ke telinga Liora.
“Foto ini beserta berkas pengaduan pelanggaran kode etik dosen akan ada di meja Dekan dan Tim Etik Akademik besok pagi.”
Dunia Liora seakan berhenti berputar. Ia membeku.
Untuk sesaat, bahkan suara angin pun seakan menghilang dari pendengarannya.
Tidak.
Jangan.
Jika foto itu sampai ke tangan Dekan, semuanya akan berakhir.
Bukan hanya dirinya yang akan terseret. Nama Ravian sebagai dosen, sebagai sosok yang selama ini begitu dihormati di lingkungan akademik, bisa hancur dalam sekejap. Dan di luar kampus, reputasinya sebagai CEO Evander Corp pun tidak akan selamat dari skandal sebesar ini.
Lebih dari itu, Ravian bisa kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, dunia pendidikan yang selama ini menjadi bagian penting dari hidupnya.
Liora mengepalkan tangan. Air matanya akhirnya jatuh.
“Kaivan... jangan lakukan ini.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar memohon.
Namun Kaivan tidak bergeming.
“Gue kasih lu waktu sampai besok pagi buat ambil keputusan,” ia berbalik. Langkah kakinya terdengar menggema di sepanjang lorong beton yang kosong.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin jauh.
Liora hanya mampu menatap punggung Kaivan yang perlahan menghilang di ujung lorong.
Begitu sosok itu benar-benar lenyap dari pandangannya, kedua lutut Liora kehilangan kekuatan. Tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai.
Tasnya terjatuh di samping tubuhnya. Beberapa lembar catatan skripsi yang tadi tersusun rapi ikut berhamburan ke lantai, diterpa angin yang masuk dari celah jendela.
Liora tidak lagi peduli.
Tangannya menutup mulut, berusaha meredam isak yang semakin sulit ditahan.
Napasnya memburu. Dadanya terasa sesak. Air mata mengalir deras melewati pipinya.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar tanpa henti.
Bagaimana mungkin satu foto bisa menghancurkan begitu banyak hal?
Dan yang lebih menakutkan lagi, besok pagi, ia harus memilih.
Antara mempertahankan Ravian...
atau menyelamatkan dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, Liora benar-benar merasa bahwa bayangan ancaman telah berdiri tepat di depan pintu hidupnya.
Dan kali ini, ia tidak tahu bagaimana cara melarikan diri.