Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INVASI BENTENG KEEMPAT
Beberapa jam pun berlalu.
Akhirnya, aku keluar dari kedai. Sebelum pergi, aku menghampiri Silvia.
"Terima kasih atas informasi yang kau berikan. Informasi tentang wilayah timur sangat berguna bagiku."
Silvia hanya tersenyum.
"Sama-sama."
Kami kemudian berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.
"Semoga kita bisa bertemu lagi," ucapnya.
Aku mengangguk.
"Semoga."
Setelah itu, kami pun berpisah.
Aku memanggil Maximus.
"Maximus, segera pergi. Kita harus menyusul yang lain di penginapan."
"Baik, Rajaku!"
Maximus langsung berlari.
Sepanjang perjalanan menuju penginapan, pikiranku terus tertuju pada wilayah timur.
Informasi yang diberikan Silvia membuatku semakin penasaran.
Jadi, Kekaisaran pernah mengerahkan 130.000 prajurit ke wilayah timur, tetapi hanya 11.000 yang kembali?
Apa sebenarnya yang ada di sana?
Aku mulai menyusun rencana.
Aku akan melakukan serangan besar-besaran ke Benteng Keempat sampai Benteng Ketujuh.
Menurut informasi yang kudapat, Kekaisaran Varellion pernah membangun tujuh benteng di wilayah timur.
Namun, hampir semuanya kini telah hancur atau dikuasai monster.
Kalau begitu, aku akan memperbaiki semuanya.
Setelah itu, aku akan menyelidiki wilayah timur lebih dalam.
---
Beberapa jam kemudian, aku dan rombongan tiba di sebuah penginapan.
Para prajurit berkumpul di lantai bawah bersama Jaron sambil minum bir dan beristirahat.
Elisa tidur di kamar sebelah.
Sementara Selena tidur bersamaku.
Aku duduk di atas kasur dan membuka hologram sistem.
Aku melihat perkembangan Benteng Kedua dan Benteng Ketiga.
Keduanya telah diperbaiki dengan sangat baik.
Dinding yang rusak sudah diperkuat, bangunan mulai berdiri kembali, dan aktivitas penduduk semakin ramai.
Aku menutup hologram.
Kemudian aku berbaring dan mulai tidur.
Namun, kesadaranku perlahan berpindah.
Aku masuk ke tubuh clone-ku yang berada di wilayah Benteng Ketiga.
Sementara tubuh utamaku tetap tertidur bersama Selena.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Selena terhadap tubuh utamaku ketika aku tidak sadar.
Memikirkan hal itu membuat wajahku sedikit memerah.
Aku tahu sifat asli seorang Succubus... jangan-jangan dia—
Aku langsung menghentikan pikiranku.
Sial. Jangan berpikir macam-macam.
---
Setelah berada di dalam tubuh clone, aku segera memanggil Josep dan Serof.
Beberapa saat kemudian, keduanya datang.
"Ada apa, Tuan?" tanya Josep.
Aku langsung menjelaskan rencanaku.
"Aku akan melakukan serangan ke Benteng Keempat dalam waktu dekat."
Serof dan Josep saling melirik.
Kemudian keduanya mengangguk.
"Baik, Tuan."
---
Beberapa jam kemudian, rapat besar dimulai.
Aku, Serof, Josep, Doroti, Hayabusa, Cikipi, Bob, Kael, dan Kaela berkumpul di ruang rapat Benteng Ketiga.
Aku berdiri di depan mereka.
"Aku akan melakukan invasi ke benteng-benteng yang tersisa."
Kemudian aku menoleh kepada Hayabusa.
"Hayabusa, ceritakan apa yang kau temukan saat mengawasi Benteng Keempat."
Hayabusa menundukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Ia mulai menjelaskan.
"Di Benteng Keempat terdapat banyak monster. Orc, Goblin, dan Ogre."
"Aku juga melihat mereka membangun sebuah markas besar."
Ia berhenti sebentar.
"Yang lebih mengkhawatirkan, mereka memiliki banyak manusia yang dijadikan budak dan dipaksa bekerja."
"Di dalam benteng juga terdapat banyak wanita manusia yang dikurung sebagai budak."
Aku mengerutkan kening.
"Apa ada jalan pintas atau jalan rahasia?"
Hayabusa menggeleng.
"Tidak ada, Tuan. Wilayah tersebut hampir tidak memiliki celah."
Ia melanjutkan dengan nada serius.
"Sepertinya pemimpin para monster itu jauh lebih terampil daripada yang kita bayangkan."
Aku terdiam.
Tidak mungkin.
Kalau hanya Orc, Goblin, dan Ogre, bagaimana mereka bisa membangun pertahanan sebaik itu?
Sebuah pikiran muncul di kepalaku.
Apa ada orang lain sepertiku di dunia ini?
Apakah mungkin ada seseorang yang memiliki kekuatan untuk memanggil pasukan atau mengendalikan monster?
Aku belum memiliki jawabannya.
Hayabusa kemudian melanjutkan.
"Tuan, ada sesuatu yang lebih aneh."
"Apa?"
"Aku melihat beberapa Orc yang sangat mencolok."
Ia mengepalkan tangan.
"Ada Orc berwarna hitam yang mengenakan zirah hitam."
"Dan mereka memiliki bendera sendiri."
Aku mengerutkan kening.
"Bendera?"
Hayabusa mengangguk.
"Warnanya hitam, dengan lambang kepala naga."
Ruangan langsung terasa lebih sunyi.
Serof dan Josep terlihat merinding.
Mereka mulai menyadari bahwa musuh di Benteng Keempat bukanlah monster biasa.
Namun, bagi yang lainnya...
Hal seperti ini sudah bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan.
Aku kemudian mulai menyusun strategi.
"Aku akan melakukan serangan besar-besaran malam ini."
Aku menatap semua orang.
"Penduduk di Benteng Kedua dan Ketiga semakin banyak."
"Aku tidak ingin kedua benteng itu ditinggalkan tanpa perlindungan."
Aku menunjuk kepada Josep, Bob, Kael, dan Kaela.
"Kalian berempat pergi ke Benteng Kedua."
"Aku ingin kalian terus menjaga benteng tersebut."
Kemudian aku menoleh kepada Cikipi, Doroti, dan Serof.
"Untuk Benteng Ketiga, aku serahkan kepada kalian."
Mereka semua mengangguk.
Namun, Josep kemudian bertanya,
"Kalau begitu, siapa yang akan melakukan penyerangan malam ini?"
Aku menjawab santai.
"Aku sendiri."
Mereka langsung menatapku.
Aku melanjutkan,
"Aku sekarang sudah bisa memanggil ribuan Skeleton."
"Jadi, seharusnya tidak masalah."
Mereka akhirnya mengangguk.
"Baik, Tuan."
Rapat pun selesai.
Satu per satu mereka mulai bersiap dan berangkat menuju Benteng Kedua.
---
Setelah semuanya pergi, aku dan Hayabusa meninggalkan Benteng Ketiga.
Kami bergerak menuju Benteng Keempat.
Kami berlari melewati wilayah yang gelap dengan kecepatan tinggi.
"Hayabusa."
"Ya, Tuan?"
"Perhatikan sekeliling. Jangan sampai ada sesuatu yang mengejutkan kita."
"Baik."
Setelah beberapa waktu, kami tiba di sebuah padang rumput yang sangat luas.
Aku berhenti.
Aku menatap ke arah Benteng Keempat yang berada cukup jauh di depan.
"Malam ini..."
Aku mengepalkan tangan.
"...kita akan mengakhiri semuanya."
Aku mulai merapalkan mantra.
WUSSSHHHH!
Asap hitam pekat keluar dari tubuhku dan menyelimuti seluruh padang rumput.
Tanah mulai bergetar.
Aku mengangkat tanganku.
"Bangkitlah."
BOOOM!
Ribuan kerangka muncul dari dalam tanah.
> [Summon berhasil.]
[1.000 Skeleton Rank B dan C berhasil dipanggil.]
Aku menatap pasukan Skeleton yang memenuhi padang rumput.
"Serang Benteng Keempat."
Aku menunjuk ke arah benteng.
"Jangan berhenti sampai pertahanan mereka runtuh."
Para Skeleton langsung bergerak.
KRAK! KRAK! KRAK!
Suara tulang yang bergerak terdengar bersamaan.
"Hiaaaaaaa!"
Ribuan Skeleton berlari menuju Benteng Keempat.
Hayabusa juga ikut bergerak bersama mereka.
Aku berdiri beberapa saat.
Aku mulai memikirkan berbagai cara agar pertempuran malam ini dapat diselesaikan secepat mungkin.
Kemudian sebuah ide muncul.
Aku membutuhkan satu pahlawan yang benar-benar brutal.
Aku menutup mata.
Membayangkan sosok yang sangat besar.
Sangat kuat.
Dan mampu menghancurkan benteng.
Aura hitam keluar dari tubuhku.
Fuuushhh!
Sebuah gerbang hitam muncul di hadapanku.
Kemudian...
DUM!
DUM!
DUM!
Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari dalam gerbang.
Aku perlahan membuka mata.
Sebuah makhluk raksasa keluar.
Aku sampai harus mendongakkan kepala hanya untuk melihat wajahnya.
Gila... besar sekali.
Makhluk itu memiliki tubuh seperti monster pohon.
Seluruh tubuhnya dilapisi kulit kayu yang sangat keras.
Giginya tajam.
Cahaya merah menyala dari sela-sela tubuhnya.
Beberapa pohon kecil bahkan tumbuh di punggungnya.
Ia memiliki cakar yang sangat besar dan bergerak dengan posisi merangkak.
Tanah bergetar setiap kali tubuhnya bergerak.
Tiba-tiba hologram sistem muncul.
[Selamat.]
[Anda berhasil memanggil 1 Pahlawan Rank SS.]
[Penjaga Gunung Agung Legendaris.]
Aku menatap makhluk tersebut dengan takjub.
Ini pahlawan?
Makhluk raksasa itu kemudian menundukkan tubuhnya.
DUM!
Tanah kembali bergetar.
Ia bersujud di hadapanku.
Suaranya bergema ke seluruh padang rumput.
"Hormat kepada Rajaku."
Ia menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Namaku Huloo."
"Aku adalah Penjaga Gunung Legendaris."
Aku sedikit terkejut mendengar suaranya.
Suaranya sangat berat dan dalam.
Aku kemudian membuka statusnya.
[STATUS]
Nama: Huloo
Gelar: Monster Penjaga Gunung Legendaris
Usia: 10.000 Tahun
Rank: SS
Level: 100
Skill: Gempa Bumi, Menghidupkan Pasukan Pohon
Aku menatap Huloo.
Monster pohon raksasa...
Aku kemudian menunjuk ke arah Benteng Keempat.
"Huloo."
"Ya, Rajaku."
"Segera bergabung dengan pasukan yang lain."
"Terus bergerak ke timur dan bantu mereka menyerang Benteng Keempat."
Huloo tidak bertanya apa pun.
Ia langsung mengaktifkan salah satu kemampuannya.
"Bangkitlah..."
WUSSSHHHH!
Tanah bergetar.
Pohon-pohon di sekitar kami mulai bergerak.
Akar mereka keluar dari tanah.
Batang mereka perlahan berdiri.
KRAK! KRAK!
Aku membelalakkan mata.
Puluhan...
Kemudian ratusan pohon mulai hidup.
Mereka bergerak menuju Benteng Keempat.
Aku hanya bisa menatap pemandangan tersebut.
Sialan...
Bencana besar apa yang baru saja kubuat?
Huloo dan pasukan pohon hidup mulai bergerak ke timur untuk bergabung dengan pasukan Skeleton dan Hayabusa.
Aku kemudian melompat ke punggung Huloo.
Dari atas tubuh raksasa itu, aku bisa melihat medan perang dengan lebih jelas.
---
Pertempuran Benteng Keempat
Beberapa jam kemudian, Hayabusa dan ribuan Skeleton berhasil mendobrak pertahanan luar Benteng Keempat.
Hayabusa bergerak seperti bayangan.
Sring!
Satu Orc tumbang.
Fuuush!
Sebuah shuriken melesat.
Jleb!
Menancap tepat di kepala Goblin.
Kunai kembali dilempar.
Jleb!
Satu lagi Orc jatuh.
Kecepatan Hayabusa bahkan tidak mampu diikuti oleh mata para Orc.
Pembantaian sepihak mulai terjadi.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak.
Diperkirakan terdapat sekitar 10.000 pasukan Orc di dalam benteng.
Dan kemudian...
Muncullah mereka.
Orc-Orc hitam.
Mereka mengenakan zirah hitam lengkap.
Beberapa Skeleton langsung dikeroyok.
Krak!
Tubuh mereka hancur.
Pertempuran menjadi semakin sengit.
Beberapa jam kemudian...
BOOOM!
Sebuah batu besar tiba-tiba melayang dan menghantam barisan Orc.
Hayabusa menoleh.
Dari kejauhan...
Puluhan pohon hidup mulai melemparkan batu ke arah para Orc.
BOOM!
BRAK!
Akar-akar mereka juga bergerak.
SRAK!
Akar menembus tanah dan menusuk tubuh para Orc.
Benteng mulai bergetar.
Huloo bergerak maju.
Dengan tubuh raksasanya, ia menghantam dinding benteng.
DUAAAAARRR!
Sebagian dinding runtuh.
Aku yang berada di atas punggungnya langsung melompat turun.
DUK!
Aku mendarat di tengah medan perang.
Aku mengeluarkan pedang besarku.
Aura hitam mulai menyelimuti tubuhku.
"Baiklah..."
Aku menatap ribuan Orc di hadapanku.
"...sekarang giliranku."
SRAAAK!
Aku menerjang.
Satu tebasan.
Dua tebasan.
Tiga tebasan.
Setiap kali pedangku menghantam musuh, aku merasakan lonjakan kekuatan di dalam tubuhku.
Aku terus maju.
Membantai para Orc satu demi satu.
Hayabusa ikut membantuku dari sisi lain.
"Tuan!"
Aku menoleh.
"Orc-Orc ini jauh lebih kuat daripada Orc biasa!"
Hayabusa melempar beberapa kunai.
"Sepertinya mereka setara dengan monster Rank B, dan jumlah mereka sangat banyak!"
Aku terus menebas.
Untung saja aku tidak mengirim Josep dan Serof.
Kalau musuhnya seperti ini, aku yakin mereka akan kalah telak.
Aku kembali teringat perkataan Silvia.
Jadi... ini penyebab Kekaisaran gagal menaklukkan wilayah timur?
Orc hitam ini memiliki ribuan pasukan seperti ini?
Ribuan Skeleton terus bertempur.
Pasukan pohon Huloo juga menghancurkan para Orc tanpa ampun.
Goblin dan Ogre yang sebelumnya berada di benteng telah lebih dulu binasa.
Kini yang tersisa hanyalah para Orc hitam yang jauh lebih kuat.
Aku mulai merasakan kelelahan.
Kemudian aku melihat hologram sistem.
Jumlah Skeleton milikku turun drastis.
Banyak dari mereka telah hancur.
Aku mengerutkan kening.
"Kalau begitu..."
Aku mengangkat tangan.
"Summon lagi."
WUSSSHHHH!
Asap hitam memenuhi medan perang.
[Summon berhasil.]
[2.000 Skeleton berhasil dipanggil.]
Berbagai jenis Skeleton mulai bermunculan.
Skeleton manusia.
Skeleton Goblin.
Skeleton Orc.
Skeleton Ogre.
Bahkan Skeleton berbentuk beruang dan burung.
Mereka langsung bergabung ke medan perang.
KRAK! KRAK!
Ribuan pasukan Skeleton kembali menyerang.
Kini jumlah pasukanku mulai mampu mengimbangi ribuan Orc.
Pertempuran berubah menjadi perang besar.
---
Dua Belas Jam
Waktu terus berlalu.
Satu jam...
Dua jam...
Lima jam...
Sepuluh jam...
Pertempuran berlangsung tanpa henti.
Hingga akhirnya...
Dua belas jam telah berlalu.
Pasukan Orc akhirnya mulai runtuh.
Sebagian besar telah binasa.
Namun, beberapa masih berhasil melarikan diri.
Hayabusa, pasukan Skeleton, dan monster-monster pohon terus mengejar para Orc yang mundur.
Aku sendiri...
Bruk.
Aku terjatuh dan terkapar di tanah.
Napas terasa berat.
Tubuhku benar-benar lelah.
Aku menatap langit yang perlahan mulai berubah warna.
Sebentar lagi pagi.
Sialan...
Malam ini benar-benar melelahkan.
Aku telah menebas musuh tanpa henti selama hampir dua belas jam.
Tanganku terasa berat.
Tubuhku seperti kehilangan seluruh tenaga.
Aku hanya bisa berbaring di tanah sambil melihat langit.
Setidaknya... Benteng Keempat berhasil kita hancurkan.
Aku menutup mata perlahan.
Untuk sementara... aku tidur dulu.
Di kejauhan, suara pertempuran masih terdengar.
Hayabusa dan pasukan Skeleton masih mengejar para Orc yang berhasil melarikan diri.
Namun, aku sudah tidak peduli.
Tubuhku benar-benar membutuhkan istirahat.
Dan akhirnya...
Aku tertidur di tengah medan perang yang baru saja menjadi saksi pembantaian besar-besaran.