The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King
Malam yang panjang.
Pukul 03.00 pagi, seorang pemuda berusia 28 tahun duduk sendirian di balkon lantai dua apartemennya. Sebatang rokok berada di antara jemarinya, sementara pandangannya tertuju pada bulan yang tampak begitu besar dan terang di langit malam.
“Bulan hari ini cukup cerah sekali... huf.”
Ia mengembuskan asap rokok perlahan.
Malam terus berjalan, seolah waktu sengaja dibuat lebih panjang dari biasanya. Rasa kesepian dan kesendirian yang selama ini ia pendam mulai membuat pikirannya semakin kacau.
Tidak ada semangat untuk menjalani hari esok.
Tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa harus berjuang.
Karena itu, ia lebih sering bermalas-malasan. Baginya, tidak ada alasan untuk memaksakan diri ketika tidak ada sesuatu yang membuatnya bersemangat menjalani hidup.
Ia mengambil ponselnya dan melihat jam.
“Hmm... sudah hampir jam empat pagi, ya. Kenapa mataku tidak bisa tidur?”
Setelah menghabiskan rokoknya, ia berdiri dan masuk kembali ke dalam apartemen.
Ia kemudian menuju kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar.
“Kenapa selama aku hidup, aku selalu kalah dalam hal apa pun?”
Ia terdiam sejenak.
“Aku merasa tidak memiliki bakat apa pun dalam kehidupan yang sedang aku jalani sekarang.”
Pikirannya kembali tertuju kepada teman-temannya.
Ia melihat banyak dari mereka yang sudah bekerja, memiliki kehidupan yang lebih baik, bahkan sebagian sudah menikah dengan wanita impian mereka.
Sementara dirinya masih berada di tempat yang sama.
Masih memikirkan bagaimana kehidupan yang akan dijalaninya di masa depan.
Bahkan, ia merasa takut untuk menjalin sebuah hubungan di zaman sekarang.
Ia kembali menatap langit-langit kamar.
“Sekarang sudah tahun 2035...”
Ia menghela napas panjang.
“Aku merasa hidup berjalan begitu cepat.”
Kelopak matanya mulai terasa berat.
“Aku berharap... aku tidak akan membuka mata lagi saat tertidur.”
Malam yang tenang akhirnya membuatnya tertidur.
Perlahan, ia menutup matanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya benar-benar menjadi sunyi.
Dunia yang Berbeda
Di pagi hari, seseorang membangunkannya.
“Tuan... Tuan... Tuan, Anda harus bangun, Tuan! Ada keadaan darurat!”
Suara seorang perempuan terdengar tepat di sampingnya.
Riyan perlahan membuka mata.
Namun, begitu matanya terbuka, ia langsung terkejut.
Di samping tempat tidurnya berdiri seorang perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Perempuan itu mengenakan pakaian seperti seorang pelayan dan terlihat sangat cemas.
“Haaa?! Darurat? Siapa kau?! Kenapa tiba-tiba ada di kamarku?!”
Riyan langsung bangun dan melihat ke sekeliling.
Ia terdiam.
Tempat ini sama sekali tidak dikenalnya.
“Hah...? Tempat apa ini?”
Ia melihat ke segala arah dengan kebingungan.
“Di mana aku? Hei! Di mana aku sebenarnya?! Dan siapa kau?!”
Perempuan itu terlihat semakin kebingungan.
“Maaf, Tuan. Nama saya Elisa. Saya adalah pelayan di sini. Apa Tuan baik-baik saja?”
Elisa menatap Riyan dengan cemas.
Dalam pikirannya, muncul sebuah dugaan.
Apakah Tuan kehilangan ingatan akibat perang saat mempertahankan benteng kerajaan kemarin?
Riyan semakin terkejut ketika mendengar kata Tuan.
Tuan...? Dia memanggilku Tuan?
Riyan mengamati dirinya sendiri dan ruangan di sekitarnya.
Apa ini hanya mimpi?
Sejak awal, Riyan memang sering mengalami mimpi yang terasa sangat nyata. Bahkan terkadang ia mampu mengendalikan mimpinya sendiri seperti dalam lucid dream.
Karena itu, ia berpikir bahwa mungkin semua ini hanyalah mimpi.
“Ah... ada masalah darurat apa?”
“Tuan, pasukan Orc sepertinya akan menyerbu benteng malam ini. Saya diperintahkan oleh Jenderal Serof untuk memberi tahu Tuan mengenai hal ini.”
“Haaa...?”
Riyan terdiam.
“Serof?”
Tiba-tiba, sebuah hologram muncul di hadapannya.
Riyan terkejut.
“Haa...? Sistem?”
Ia mulai menyadari sesuatu.
Jangan-jangan... ini benar-benar seperti dunia isekai?
Selama ini ia sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di dunia lain.
Dan sekarang, seolah-olah keinginannya benar-benar terkabul.
Hologram tersebut menampilkan informasi mengenai perempuan di hadapannya.
[Status]
Nama: Elisa L. Molinor
Umur: 26 Tahun
Level: 4
Status: Pelayan
Keahlian: Assassin
“Wooo...”
Riyan menatap informasi tersebut dengan takjub.
“Apakah ini benar-benar mimpi?”
Ia kembali melihat Elisa.
“Kenapa seorang Assassin bisa menjadi seorang pelayan?”
Elisa hanya menatapnya dengan bingung.
Riyan kemudian menghela napas.
“Ehemm... baiklah, Elisa. Beritahu Jenderal Serof bahwa aku akan mendatanginya nanti.”
Elisa menundukkan kepalanya.
“Baik, Tuan.”
Elisa kemudian meninggalkan ruangan.
“Huff... akhirnya pergi juga.”
Riyan berdiri dari tempat tidurnya dan mulai melihat-lihat ruangan.
Ia menemukan banyak sekali buku yang tersusun di beberapa tempat. Selain itu, terdapat berbagai peralatan tempur seperti pedang dan perisai.
Yang paling membuatnya heran adalah pakaian-pakaian di dalam ruangan tersebut.
Sebagian besar merupakan pakaian bergaya abad pertengahan, termasuk beberapa pakaian bangsawan.
“Jadi... aku benar-benar berada di dunia lain?”
Riyan kembali memunculkan hologram sistem.
Kali ini, ia melihat status dirinya sendiri.
[Status]
Nama: Riyan Pendragon
Umur: 25 Tahun
Level: Rahasia
Status: Bangsawan Tingkat Bawah
Keahlian: Clone, Summons, Necromancer, Sihir
“Wak...”
Riyan menatap statusnya dengan mata membesar.
“Ternyata aku punya banyak keahlian.”
Ia kemudian bertanya kepada sistem bagaimana cara menggunakan kemampuan Clone.
Sistem memberikan penjelasan.
Untuk menggunakan kemampuan tersebut, Riyan hanya perlu membayangkan apa yang ingin ia ciptakan.
Dalam hal ini, ia cukup membayangkan sebuah clone dengan tubuh yang sama seperti dirinya.
Sistem juga memberitahunya bahwa Riyan dapat mengendalikan clone sesuai dengan keinginannya.
Bahkan ketika kesadarannya kembali ke tubuh utama, clone tersebut tetap dapat bergerak dan bertindak secara mandiri, seolah-olah memiliki kehidupan sendiri.
Namun, clone tersebut tetap memiliki keinginan yang sama dengan Riyan.
“Wah...”
Riyan mulai tersenyum.
“Kalau begitu, aku bisa mengawasi semuanya tanpa harus keluar dari kamar.”
Namun ternyata kemampuan Clone miliknya memiliki beberapa aturan lain.
Riyan tetap dapat merasakan rasa sakit yang dialami oleh clone-nya, meskipun tubuh utamanya tidak mengalami luka.
Selain itu, jika sebuah clone mati, clone tersebut dapat dihidupkan kembali setelah 24 jam.
Hal yang paling mengejutkan adalah...
Jika sebuah clone mendapatkan kekuatan baru, tubuh utama Riyan juga akan mendapatkan kekuatan tersebut.
Riyan terdiam beberapa saat.
“Jadi... semakin kuat clone-ku, semakin kuat juga diriku?”
Ia akhirnya memahami kemampuan Clone miliknya.
Riyan kemudian mencoba memanggil clone pertamanya.
Ia berkonsentrasi.
Dalam sekejap—
FWOOSH!
Sosok yang memiliki wajah dan tubuh yang sama persis dengannya muncul di hadapannya.
Riyan menatap clone tersebut.
Clone itu juga menatap Riyan.
“Wow...”
Riyan juga menyadari bahwa ia dapat memindahkan kesadarannya ke dalam tubuh clone tersebut.
Kemampuan itu membuatnya semakin yakin bahwa hidup di dunia ini mungkin tidak akan terlalu sulit.
Setelah memahami kemampuan barunya, Riyan mulai bersiap.
Ia mengenakan pakaian yang sesuai untuk seorang bangsawan karena sebentar lagi dirinya harus menemui Jenderal Serof.
Setelah selesai mengenakan pakaian, Riyan berdiri di depan cermin dan memandang dirinya sendiri.
Ia menarik napas panjang.
“Baiklah... saatnya melihat dunia seperti apa ini.”
Riyan akhirnya meninggalkan kamarnya untuk menemui Jenderal Serof.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments